Al-Qur’an dan Sekularisme

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Siapa yang menentukan benar atau salah? Masyarakat? Agama? Pemerintah? Atau anda sendiri (individu)? Sekarang ini kita melihat perubahan di masyarakat, dari prinsip benar atau salah ke sebuah pilihan belaka, keputusan dan resiko, oleh karena menjadi sebuah subjek pandangan pribadi, dengan tidak memperdulikan konsekuensi keseluruhan. Tidak lagi “manusia penilai segala sesuatu”, tetapi saya penilai segala sesuatu. Kita perlu memperhatikan perubahan ini secara seksama, karena penilaian ini memiliki banyak dampak, yang salah satunya adalah akar masalah kriminalitas. Oleh karena salah satu cara untuk menyelasaikannya adalah untuk membalik pandangan perubahan yang tersebut diatas.

Sekularisme dan Dampaknya.

Melihat budaya modern di dunia saat ini adalah philosopi dari sekularisme, yang memiliki tujuan, dari banyak tujuan lainnya, melepaskan kehidupan dunia dari agama, terutama dari pemahaman kafah. Sekularisme berdasar pada keimanan tentatif (dapat berubah-ubah), suatu evolusi dimana kesadaran, kemauan, dan manusia dan seluruh ciptaan segajat, yang terjadi tanpa Allah, tanpa alasan, benar-benar tidak ada logikanya, sebuah materi yang tidak ada sama sekali, karena kebetulan belaka. Pada keyakinan palsu ini,  manusia adalah kumpulan kegiatan mekanis sementara, dalam tatanan alam semesta tanpa sebab yang hanya kebetulan belaka. Mari kita lihat implikasi dari keyakinan palsu ini;

  • Tidak ada Allah SWT.
  • Tidak ada dimensi spiritual dari manusia.
  • Manusia tidak memiliki tujuan hidup di akhirat.
  • Hidup adalah apa mau mu, dan akhir dari semua, kematian adalah akhir eksistensi manusia.
  • Tidak ada nilai moral yang objektif, nilai bersifat relatif, dan berubah sesuai dengan keinginan bersama atau individu.

SIAPA SAYA?

Kebudayaan modern yang dominan dengan kuat mengkokohkan implikasi sekularisme tersebut melalui musik, literatur, olah raga, film, TV, dan melalui kehidupan glamor yang menjadi tujuan akhir. Sehingga kini pertanyaannya, jadi apakah saya? Bertrand Russell pada bukunya “Mysticism and Logic”, menggambarkan manusia sebagai, “Free Man’s Worship” atau agama manusia merdeka yaitu; manusia adalah produk dari sebab-sebab yang tidak memiliki rencana dan tujuan akhir yang hendak dicapai, bahwa asal manusia, tumbuh kembangnya, harapan dan rasa takutnya, cintanya dan kepercayaannya hanyalah hasil dari kumpulan-kumpulan atom yang terjadi secara kebetulan. Bahwasanya tidak ada semangat, tidak ada kegigihan, tidak ada curahan pikiran dan perasaan yang dapat melestarikan kehidupan seorang manusia setelah liang lahat, semua kecemerlangan kejeniusan manusia, dimana hasil kerja milyaran tahun, ditakdirkan untuk punah, dalam kematian alam semesta yang tak berbatas, dan semua pancapaian manusia harus dikubur di bawah reruntuhan peradapan . . .  “

Maka disinilah saya

  • hidup, namun tidak memiliki tujuan hidup,
  • hidup, namun ditakdirkan berhenti saat mati,
  • hidup tanpa kepastian eksistensi setelah mati,
  • hidup, dengan apa yang benar dan apa yang salah sayalah yang menentukan apapun pendapat manusia sejagat,
  • hidup di dunia yang bermusuhan, yang tidak memperdulikan saya, yang memaksa saya untuk menjadi yang terbaik, dari keburukan ini, dengan menggunakan kelicikan saya untuk mendapatkan kesenangan fisik maksimal buat saya,
  • hidup, namun dengan nilai-nilai yang saya tentukan.
Pada kebudayaan modern yang berbasis sekularisme, manusia percaya bahwa hidup tak memiliki tujuan, bahwa tidak ada kelanjutan eksistensi setelah mati, maka jika ia dapat mengelak apapun di dunia ini, maka dia pun bebas. Namun mengelak bukanlah masalah besar, karena dia percaya dia ditakdirkan untuk punah, jika tidak hari ini maka besok. Jika dia tidak bisa mengelak dari kegiatan yang memberinya kesenangan dan kenikmatan, dimana dianggap sebagai nista oleh masyarakat, ini bukan merupakan masalah besar baginya, betapa buruk, hina dan nista baginya. Lalu kenapa? Bukankah semua akan berakhir? Cepat atau lambat semua itu akan berakhir.


SAYA BUAHNYA

Ketika otak saya sudah dicuci oleh budaya modern sehingga menjadikan saya, dan hanya saya yang memiliki kuasa menentukan yang benar untuk saya dan saya telah memutuskan bahwa apapun yang memberikan saya kepuasan itu “benar”, lalu mengapa masyarakat tidak terima jika saya telah memilih kehidupan kriminalitas, kekerasan, atau menjadi waria? Saya hanyalah buah dari pohon, dimana benihnya ditanam oleh budaya modern di tanah yang subur, dimana tumbuh kembangnya diperhatikan dan dirawat dengan baik. Dan tragisnya, ketika masyarakat berlanjut untuk menghina buah jelek seperti saya, mereka tetap saja menyiapkan benih yang sama, lahan yang sama, dan tetap melanjutkan untuk menanam dan memelihara pohon yang sama, melalui gaya hidup glamor dan media entertaintment.


SARAN & SOLUSI

Jika masyarakat serius dengan keadaan ini, dan ingin menyelesaikan masalah ini, dan berhenti untuk memetik buah yang jelek seperti yang tersebut diatas. Maka salah satu penyebab buah jelek itu adalah kebudayaan modern yang berdasar kepada sekularisme. Obatnya adalah bahwa kepercayaan palsu ini harus dihapuskan, dan mulai untuk melihat kebenaran akan kehidupan manusia di dunia ini. Memang sangat mudah dikatakan ketimbang dikerjakan marilah kita memulai mengatakan kebenaran sebelum semuanya menjadi bubur.


AL-QUR’AN,  SABDA ALLAH TERAKHIR

ALLAH Yang Maha Esa Yang Nyata, Maha Mengetahui, Maha Mencintai, Maha Bijaksana, mengirimkan panduan kepada manusia di dunia ini melalui perantara manusia yang terpilih – Para Nabi as. Ke sebagian mereka dia mengatakan sabdanya. Kitab Suci Al-Qur’an, Sabda terkhir Allah, dan hanya Qur’an-lah satu-satunya Allah telah memberi jaminan untuk memelihara dan menjaga keasliannya (dalam dua cara, yaitu tulisan dan hafalan oleh milyaran hambanya dari generasi ke generasi). Kepercayaan yang benar, di dalam Qur’an, diantaranya;

  1. Alam semesta diciptakan oleh yang Maha Berdaulat, Maha tak Terbatas, Allah SWT, dengan tujuan yang sangat serius, dan tidak karena kebetulan.
  2. Kehidupan di dunia, walau naik turun, hanyalah bagian terkecil dari seluruh kehidupan manusia, sebagai tempat persiapan untuk kehidupan di akhirat yang tidak bisa dihindari.
  3. Kematian, bukanlah akhir dari kehidupan, hanyalah sebuah gerbang untuk tingkatan selanjutnya, dimana semua manusia di harapkan dapat melaluinya.
  4. Kehidupan dunia memiliki tujuan, kesempatan bagi manusia untuk memenuhi tujuan manusia diciptakan, manifestasi di semua aspek kehidupan manusia, adalah hubungan manusia dengan Penciptanya, antara hamba dan Allah. Oleh karena itu hanyalah PANDUAN  ALLAH, yang menjadi patokan, bukan pendapat, angan-angan apalagi fantasi pribadi.
  5. Pencipta yang Maha Mencintai, Allah SWT, memasukkan dalam setiap manusia, jati dirinya, haqq dan fitrahnya, dan memandu manusia kepada cara hidup yang harmonis dengan alam yang diciptakanNya. Oleh karena itu ketika manusia mengikuti panduan Allah SWT, dia sangat harmonis dengan dirinya, alamnya, dan ketika dia tidak mengikuti panduanNya, dia berkonflik dengan DIRINYA, dan alamnya.
  6. Manusia memiliki 5 dimensi, fisik, rasio atau intelektual, estetikal, moral, dan spiritual. Panduan Allah SWT meliputi cara hidup yang seimbang dan harmonis antara kelima dimensi tersebut, tanpa satupun ditinggalkan.
  7. Ada hari pembalasan, dimana semua manusia dihidupkan kembali dihadapan Allah SWT, untuk mempertanggung jawabkan akuntabilitasnya di dunia. Sehingga, jika ada manusia yang dapat mengelak di dunia ini, mereka tidak dapat mengelak Majelis Sidang Allah SWT, dimana semua hal yang tak terlihat di dunia, tidak akan tak terlihat lagi.
  8. Setiap manusia memiliki periode waktu di dunia, lamanya tidak diketahui oleh masing-masing manusia. Ketika waktu itu habis, manusia dipindahkan ke tingkatan kehidupan berikutnya.

Manusia yang lapar tidak bisa dipuaskan hanya dengan memandangi makanan di depannya. Demikian halnya terhadap seorang mukmin (beriman), tidak dapat menjadi IHSAN hanya dengan membaca Al Qur’an. (*)

Oleh Sheikh Maulana Imran Nazar Hosein

Leave a Comment