Al-Qur’an dan Penglihatan Mata Hati dalam Memahami Profil Dajjal

In Dajjal by Hamba AllahLeave a Comment

Kampungmuslim.org – Ayat-ayat dalam Al-Qur’an berikut ini mengarahkan perhatian mengenai nasib yang akan menimpa orang-orang buta, kebutaan ini jangan dipahami secara harfiah. Ayat-ayat Al-Qur’an ini jelas menyebutkan kebutaan mata hati:

قُل هَل يَستَوِي الأَعمىٰ وَالبَصيرُ ۚ أَفَلا تَتَفَكَّرونَ …

(Al-Qur’an Surat Al-An’am, 6: 50)

Allah SWT bertanya apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat. Jelas mereka tidak bisa disamakan – dengan demikian, apakah kamu tidak memikirkannya?

قَد جاءَكُم بَصائِرُ مِن رَبِّكُم ۖ فَمَن أَبصَرَ فَلِنَفسِهِ ۖ وَمَن عَمِيَ فَعَلَيها ۚ وَما أَنا عَلَيكُم بِحَفيظٍ

(Al-Qur’an Surat Al-An’am, 6: 104)

Al-Qur’an menyatakan, ilmu pengetahuan telah datang kepada umat manusia dari Tuhan mereka melalui Kitab yang diturunkan ini. Oleh karenanya barangsiapa yang memilih untuk ‘melihat’ dan mengakui Kebenaran, maka manfaatnya bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa memilih untuk tetap ‘buta’ pada Kebenaran maka dialah yang rugi. Dan Aku bukanlah penjagamu.

وَنُقَلِّبُ أَفئِدَتَهُم وَأَبصارَهُم كَما لَم يُؤمِنوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُم في طُغيانِهِم يَعمَهونَ

(Al-Qur’an Surat Al-An’am, 6: 110)

Orang-orang yang menolak Al-Qur’an ini akan mendapatkan akibat dari penolakannya itu. Allah SWT akan tetap memalingkan hati dan penglihatan mereka dari Kebenaran, seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya; maka mereka akan dibiarkan dalam kesombongannya yang buta sehingga tersesat dan kebingungan.

فَكَذَّبوهُ فَأَنجَيناهُ وَالَّذينَ مَعَهُ فِي الفُلكِ وَأَغرَقنَا الَّذينَ كَذَّبوا بِآياتِنا ۚ إِنَّهُم كانوا قَومًا عَمينَ

(Al-Qur’an Surat Al-‘Araf, 7: 64)

Ketika mereka mendustakan Nuh ‘alaihis salam lalu Allah Subhanahu Wata’ala menanggapi dengan menghukum mereka, Allah selamatkan Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam Bahtera. Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan Kebenaran yang diturunkan kepada Nuh ‘alaihis salam. Maka al-Qur’an menyatakan sesungguhnya mereka adalah kaum yang ‘buta’!

وَمِنهُم مَن يَنظُرُ إِلَيكَ ۚ أَفَأَنتَ تَهدِي العُميَ وَلَو كانوا لا يُبصِرونَ

(Al-Qur’an Surat Yunus, 10: 43)

Dan di antara mereka ada yang berpura-pura melihat kepada Nabi: tetapi dapatkah Nabi menunjukkan jalan yang benar kepada orang yang ‘buta’—padahal mereka tidak dapat ‘melihat’?

مَثَلُ الفَريقَينِ كَالأَعمىٰ وَالأَصَمِّ وَالبَصيرِ وَالسَّميعِ ۚ هَل يَستَوِيانِ مَثَلًا ۚ أَفَلا تَذَكَّرونَ

(Al-Qur’an Surat Hud, 11: 24)

Al-Qur’an mengarahkan perhatian pada kedua golongan manusia yang diumpamakan seperti orang yang ‘buta’ dan ‘tuli’ di satu pihak, dengan orang yang dapat ‘melihat’ dan ‘mendengar’ di pihak yang lain. Samakah kedua golongan itu? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?

أَفَمَن يَعلَمُ أَنَّما أُنزِلَ إِلَيكَ مِن رَبِّكَ الحَقُّ كَمَن هُوَ أَعمىٰ ۚ إِنَّما يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلبابِ

(Al-Qur’an Surat Al-R’ad, 13: 19)

Al-Qur’an menanyakan apakah orang yang mengetahui dan menerima apapun yang diturunkan Tuhan kepada Nabi sebagai Kebenaran, disamakan dengan orang yang ‘buta’? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.

وَمَن كانَ في هٰذِهِ أَعمىٰ فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعمىٰ وَأَضَلُّ سَبيلًا

(Al-Qur’an Surat Al-Isra’, 17: 72)

Al-Qur’an menyatakan barangsiapa ‘buta’ di dunia ini maka di akhirat pun dia akan ‘buta’ dan tersesat jauh dari jalan yang benar.

Kini kita dapat menyimpulkan bahwa kemampuan Dajjal untuk melihat dengan mata kirinya, dan kebutaannya pada mata kanannya, seharusnya dikenali sebagai informasi Mutasyabihah yakni perumpamaan, sehingga dengan demikian menjadi bahan untuk Takwil atau interpretasi. Interpretasi kami mengenai deskripsi yang diberikan Nabi Muhammad (sallallaahu ‘alaihi wasallam) ini yaitu Dajjal memiliki penglihatan mata kepala, namun mata hatinya buta!

Ada dampak yang tidak menyenangkan dari interpretasi tersebut. Semua orang yang mengikuti Dajjal pada akhirnya akan serupa dengannya, yakni buta mata hati; dan karena dia memiliki kata Kafir atau ‘tidak beriman’ tertulis di dahinya, dampak yang lebih jauh lagi yaitu orang-orang yang mengikutinya akan menjadi Kuffar (jamak dari Kafir) atau ‘tidak beriman’, dan oleh karenanya terhalang dari memasuki Jannah atau surga.

Barangkali karena dampak inilah sehingga Al-Qur’an menyampaikan peringatan yang benar-benar tidak menyenangkan kepada orang-orang yang tetap buta mata hatinya, yaitu api neraka menunggu mereka, karena Dajjal dapat membuat mereka ikut menari dalam setiap nada yang dia mainkan.

وَلَقَد ذَرَأنا لِجَهَنَّمَ كَثيرًا مِنَ الجِنِّ وَالإِنسِ ۖ لَهُم قُلوبٌ لا يَفقَهونَ بِها وَلَهُم أَعيُنٌ لا يُبصِرونَ بِها وَلَهُم آذانٌ لا يَسمَعونَ بِها ۚ أُولٰئِكَ كَالأَنعامِ بَل هُم أَضَلُّ ۚ أُولٰئِكَ هُمُ الغافِلونَ

(Al-Qur’an Surat Al-‘Araf, 7: 179)

Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan banyak dari kalangan Jin dan manusia yang memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami kebenaran, memiliki ‘mata’ tetapi tidak dipergunakannya untuk ‘melihat’, dan mempunyai ‘telinga’ tetapi tidak dipergunakannya untuk ‘mendengar’; ditakdirkan memasuki api Neraka. Dia menganggap status mereka seperti hewan ternak—tidak, mereka bahkan lebih sesat lagi: mereka itulah orang-orang orang yang lalai.

Islam Protestan, tampaknya secara misterius demikian, menjadi makhluk tiruan Kristen Protestan, tetap tidak dapat diyakinkan dengan argumen kami berkaitan dengan interpretasi bahwa mata buta Dajjal seharusnya ditafsirkan sebagai kebutaan mata hati, akibatnya mereka tetap bersikeras pada pemahaman harfiah yaitu ‘buta’ mata kanannya. Orang-orang tersebut jelas tidak akan mengenali Dajjal ketika dia pada akhirnya muncul di Yerusalem mengaku sebagai Al-Masih kecuali secara harfiah mata kanannya benar-benar buta.

Islam protestan seharusnya merenungi ketidakmampuan misterius semua orang kafir, tidak peduli betapapun sempurnanya penglihatan mata mereka, untuk membaca yang dapat dibaca oleh semua orang beriman yakni kata Kafir yang akan tertulis di antara kedua mata Dajjal—di dahinya! Orang-orang yang mati-matian memegang teguh pemahaman harfiah mengenai mata kanan Dajjal yang buta, dan kata Kafir tertulis di dahinya, harus menjelaskan kepada kita mengapa Nabi hanya menyebutkan Mukmin yakni orang beriman, oleh karenanya tidak termasuk Kafir yakni orang tidak beriman, saat dia menyatakan bahwa orang beriman mampu membaca apa yang tertulis di dahi Dajjal? Mengapa orang beriman membaca apa yang tidak mampu dibaca orang kafir? Islam protestan harus dapat menyampaikan jawaban yang meyakinkan, atau meninggalkan metodologi sesatnya. Sesungguhnya jika mereka tidak mengubah metodologi sesatnya maka mereka tidak akan mampu menjelaskan mengapa Tamim ad-Dari, yang melihat Dajjal (yang buta mata kanannya sehingga seperti buah anggur yang menonjol), tidak menyebutkan apa pun tentang mata kanannya yang buta ketika dia melaporkan peristiwa itu kepada Nabi:

Diriwayatkan oleh Fatimah bint Qays (semoga Allah meridainya): . . . (kata-kata berikut diucapkan Tamim ad-Dari) … kemudian kami menjauh berlari dengan tergesa-gesa, hingga kami sampai di biara itu, di mana kami menemukan orang terbesar yang pernah kami lihat, tangan hingga lehernya terikat kuat dengan rantai dan kakinya dari lutut sampai pergelangan kaki terikat dengan belenggu besi…

(Sahih Bukhari)

Islam protestan bahkan memiliki rintangan yang lebih besar untuk dihadapi jika mereka berusaha menyampaikan penjelasan kredibel bagaimana bisa Nabi Muhammad (Sallallaahu ‘alaihi wasallam) menyangka Ibn Sayyad, seorang pemuda yahudi di Madina, sebagai Dajjal, padahal mata kanannya tidak buta?

Sementara penjelasan di atas mengenai deskripsi fisik Dajjal, Al-Masih palsu, yang didapat dari pemahaman naskah-naskah dalam Islam, ada lebih banyak informasi mengenai profil Dajjal yang unik yang didapat melalui proses deduksi berdasarkan naskah-naskah tersebut; dan pada proses deduksi itulah kini kita mulai mengarahkan perhatian.

Deduksi Lebih Jauh Mengenai Profil Dajjal

Catatan sejarah mengungkapkan bahwa sejumlah besar suku Yahudi dulu sudah menjadi penduduk Yatrib (sebuah kota yang terletak di sebelah utara Mekkah di Arabia) sebelum kelahiran Nabi Muhammad (saw). Kita tahu bahwa mereka hadir di Yatrib saat Nabi tiba di kota itu—setelah hijrah dari kota asalnya Mekkah, karena Mitsaq atau piagam perjanjian konstitusional dengan sukses dinegosiasi oleh Nabi pada awal kedatangannya di Yatsrib, dengan begitu dia membentuk sebuah negeri (model plural), menyebutkan beberapa suku Yahudi termasuk pihak yang menyetujui piagam perjanjian.  Muhammad Hamidullah menyebutkan dalam bukunya yang berjudul ‘Konstitusi Tertulis Pertama di Dunia’ (Ashraf, Lahore 1994) bahwa “ . . . komunitas penduduk Arab dibagi menjadi dua belas suku dari Aws dan Khazraj, komunitas Yahudi dibagi menjadi sepuluh suku dari Bani Nadir dan Bani Qurayzah”. Maka seharusnya jelas bahwa kaum Yahudi, bangsa non-Arab yang menganggap diri mereka lebih unggul daripada bangsa Arab, mereka merupakan bagian yang cukup besar dari penduduk sebuah kota Arab yang terletak dekat dengan pusat tanah Arabia, yakni dekat dengan Mekkah.

Sangat patut untuk kami tanyakan apa yang mendorong begitu banyak suku Yahudi untuk tinggal di kota Yatrib. Tidaklah cukup untuk menyatakan, seperti yang sebagian orang lakukan, bahwa mereka diusir oleh umat Kristiani dari Yerusalem sehingga lari ke Yatrib. Pengungsi, yang menganggap diri mereka, dengan sombongnya, lebih unggul daripada penduduk pribumi, akan mendekati bahaya jika mereka membiarkan diri mereka tumbuh dalam jumlah besar sehingga mencapai hampir separuh dari seluruh populasi penduduk kota. Harus ada alasan kuat yang akan membenarkan besarnya pertumbuhan penduduk orang asing yang sombong di sebuah kota Arab.

Kami mengingatkan bahwa mereka telah menolak klaim Yesus, putra perawan Mariam, yang mengaku bahwa dialah Al-Masih yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Mereka menolak klaim itu dengan alasan karena ibunya mengandung dia tanpa menikah (yang, tentu saja, benar) namun mereka menyimpulkan, dengan keliru, bahwa dia terlahir dalam dosa. Oleh karena itu mereka tetap bersikukuh menunggu Mesias yang dijanjikan kepada mereka oleh Tuhan Yang Esa.

Mereka mengetahui informasi rahasia yang disampaikan kepada mereka melalui banyak Nabi yang diangkat dari kalangan mereka, bahwa seorang utusan Tuhan akan muncul di Yatrib. Tampak jelas bahwa mereka mengira mungkin saja orang itu adalah Mesias. Mereka bahkan membanggakan diri mereka di hadapan penduduk Arab di tanah Arab bahwa dia akan memberdayakan mereka sehingga mereka akan memiliki tangan yang kuat dalam melawan penduduk Arab. Fakta ini disebutkan dalam beberapa kitab Sirah, yakni biografi Nabi.

Ketika Nabi Muhammad (saw) tiba di Yatrib dengan klaim mengejutkan bahwa dia adalah seorang Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan, mereka terkejut dan bingung karena dia tidak sesuai dengan ciri-ciri Mesias yang mereka harapkan, atau bahkan ciri-ciri seorang Nabi.

Mungkinkah kita menarik kesimpulan jenis orang seperti apa yang diharapkan kaum Yahudi, dan sampai saat ini mereka masih mengharapkan, orang yang akan menjadi Mesias mereka? Jika kita dapat mengungkap ciri-cirinya, maka kita akan mengetahui lebih banyak ciri-ciri Dajjal yang diprogram Tuhan untuk menyamar sebagai Mesias. Bagaimanakah ciri-cirinya?

Pertama, kaum Yahudi percaya, dan masih percaya, bahwa mereka adalah kaum pilihan Tuhan Yang Esa sebagai bentuk keistimewaan dibandingkan umat manusia lainnya. Al-Qur’an menolak keyakinan mereka (yang keliru) ini. Al-Qur’an menyampaikan hal ini dalam ayat yang menantang mereka untuk mengharapkan kematian jika mereka benar-benar yakin bahwa mereka adalah kaum pilihan Allah. Inilah salah satu ayat tersebut:

قُل يا أَيُّهَا الَّذينَ هادوا إِن زَعَمتُم أَنَّكُم أَولِياءُ لِلَّهِ مِن دونِ النّاسِ فَتَمَنَّوُا المَوتَ إِن كُنتُم صادِقينَ

(Al-Qur’an surat Al-Jumuah, 62: 6)

Al-Qur’an memanggil dan berbicara kepada kaum Yahudi secara terus terang: Jika kalian percaya bahwa kalian sajalah kekasih Allah, bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematian kalian—jika kalian adalah orang-orang yang benar.

Sebagai akibat dari keyakinan (keliru) bahwa mereka adalah kaum pilihan Tuhan, sudah jelas bagi mereka bahwa sang Mesias pasti berasal dari kaum pilihan, maka dari itu dia harus seorang Yahudi. Muhammad (Sallallaahu ‘alaihi wasallam) bukan orang Yahudi!

Kedua, mereka percaya bahwa kedatangan sang Mesias akan membawakan kembalinya masa keemasan dalam meraih kekuasaan yang mereka nikmati ketika Tuhan memilih David, yakni Nabi Daud (‘alaihis salam), sebagai seorang Raja dan penguasa, dan menganugerahkan kepadanya kerajaan yang kuat. Kerajaan itu selanjutnya menjadi negeri adidaya pada periode kepemimpinan anaknya, Solomon, yakni Nabi Sulaiman (‘alaihis salam). Maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum Yahudi menunggu Mesias yang akan merestorasi Israel Suci sebagai negara adidaya, dan garis silsilahnya bisa dilacak sampai ke Daud, Raja Israel yang dipilih Tuhan. Kaum Yahudi pun mengharapkan dia menunjukkan kekuatan unik yang dimiliki oleh Daud dan Sulaiman. Sang Mesias bukan hanya sekedar seorang Raja biasa; melainkan dia harus memiliki perawakan dan status unik sebanding dengan Daud dan Sulaiman, dan dia pun harus memiliki kekuatan mukjizat anugerah ilahi sebanding dengan yang mereka miliki. (*)

Oleh Sheikh Imran Nazar Hosein  dalam buku Dajjal, Al-Qur’an dan Awal Zaman

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment