Apakah Al-Qur’an menjelaskan dunia masa kini?

In Sejarah by Hamba AllahLeave a Comment

Kampungmuslim.org – Mari kita kini kembali menjawab pertanyaan: Apa tepatnya berkenaan dengan situasi dunia modern sehingga para ulama muslim terjebak dalam konservatisme religius gagal menjelaskannya dengan menggunakan Al-Qur’an?

Agar dapat memahami dunia modern dengan Kitab Allah yang Maha Bijaksana, kita harus mengerti jejak-jejak sejarah yang terbangun hingga situasi dunia sekarang. Jika seseorang tidak tahu dunia modern dan ke mana ia akan menuju, maka dia tidak bisa menghadap kepada Al-Qur’an untuk mengambil ilmu pengetahuan yang segar darinya. Begitu pula sebaliknya. Jika dia tidak menghadap pada Al-Qur’an untuk memahami dunia modern dan mengambil perhatian dan peringatan pada apa yang terungkap hari ini dan apa yang akan terjadi esok nanti, dia akan tetap menghadapinya dalam kegelapan. Semua ini adalah tentang memahami dunia modern dengan akurat dan menanggapinya dengan tepat.

Dengan keterangan tersebut kita harus ingat bahwa kita kini menghadapi komunitas aliansi (sekutu) kristen-yahudi. Ada segolongan dalam komunitas umat yahudi dan kristen ini yang memerangi Islam dan ada golongan lain di antara mereka yang menentang golongan tersebut dan menolak bergabung dengan mereka dalam membangun kekuasaan hegemonik mereka, sebagai akibatnya dijadikan korban dalam bidang ekonomi dan politik. Menurut ahli hukum Jerman, Carl Schmitt, tidak ada justis hostis di dunia saat ini. Dengan kata lain, bagi mereka yang menguasai dunia saat ini tidak ada musuh yang bisa ditoleransi; musuh tidak memiliki hak untuk ada; dia harus dibenci dan didepolitisasi; dia harus dihilangkan. Di antara mereka yang dijadikan korban, adalah kaum kristen dan yahudi juga. Tidak semua kristen dan yahudi bersikeras menginginkan dominasi kekuasaan atas dunia ini. Di sini kita harus mengajukan sebuah pertanyaan penting:

Jika Allah, Maha Bijaksana, melarang orang-orang beriman dari menjadikan Aulia (teman / sekutu) semua kaum yahudi dan semua kaum kristen, dan bahkan jika larangan ini bersyarat yakni hanya berlaku terhadap mereka yang memusuhi Islam dan umat muslim, maka bagaimana menghadapi orang-orang yahudi dan kristen yang tidak hanya menentang sekutu pelaku gangguan politik dan ekonomi ini, tetapi juga dijadikan korban sama dengan umat muslim dan dengan sukarela membuka pintu mereka untuk Islam dan umat muslim? Akan bagaimana hubungan umat (muslim) kita dengan orang-orang tersebut?

Contoh sempurna dari hal ini terjadi pada masa hidup Rasulullah (saw) dalam kasus Raja Kristen Najjashi, Abisinia. Dia bukan bagian dari Quraisy dan yahudi yang memusuhi Islam dan umat muslim; dia lebih jauh menawarkan wilayahnya sebagai tempat suaka sehingga umat muslim mendapatkan perlindungan, dan pada akhirnya dia menolak negosiasi licik dari pihak Quraisy untuk menyerahkan umat muslim kepada mereka. Dia terus melindungi mereka sampai dia meninggal dunia, lama setelah surat Al-Maidah ayat 51 diturunkan. Utusan Allah – Muhammad Sallallaahu ‘alaihi wasallam sampai menerima dia sebagai orang beriman dan melakukan Salat jenazah untuknya dari Madina (Yatrib) ketika sang Raja tersebut meninggal dunia di Abisinia. Hal paling penting yang harus diperhatikan di sini yaitu ketika ayat Al-Qur’an ini diturunkan, Nabi Sallallaahu ‘alaihi wasallam tidak meminta orang-orang muslim meninggalkan suaka yang mereka dapat di Abisinia, yang berarti meninggalkan hubungan Aulia di bawah Kristen Abisinia, dan kembali ke Madina. Jika ayat ini mengacu pada semua yahudi dan kristen, Nabi Sallallaahu ‘alaihi wasallam tentu akan memanggil orang-orang muslim untuk meninggalkan rumah mereka di Abisinia dan kembali ke Madina. Tapi Sayyidina Ja’far (ra), salah satu sahabat yang paling disayang Nabi Sallallaahu ‘alaihi wasallam terus menetap di Abisinia sampai tepat sebelum perang Mut’ah, yang terjadi lebih dari lima tahun setelah ayat ini diturunkan.

Siapakah kaum ini yang memaksakan hegemoni mereka atas seluruh dunia? Mereka tentunya kaum kristen dan yahudi yang sebelumnya tidak pernah bersekutu bagi satu sama lain; mereka adalah kaum kristen dan yahudi yang membentuk persekutuan dalam jejak sejarah dimulai dengan persekongkolan politik dan militer mereka dengan tujuan merebut Tanah Suci dari kekuasaan Muslim.

Sebenarnya sejarah persekutuan ini dimulai sejak awal Perang Salib pertama ketika komunitas kristen-eropa didanai oleh kaum yahudi untuk mengumpulkan kekuatan militer yang cukup demi tujuan menaklukkan Tanah Suci—Yerusalem— dan mendirikan tanah air bangsa yahudi di sana. Mereka tidak berhasil kecuali hanya sebentar saja sampai Sultan Salahuddin Ayyubi dengan berani dan tangkas merebut kekuasaan Yerusalem kembali. Penting untuk diperhatikan dalam kajian kita mengenai fakta bahwa sementara Eropa dalam aliansi kristen-yahudi mereka memerangi umat muslim untuk menaklukan Yerusalem, mereka pun melakukan kejahatan mengerikan yang sama terhadap kaum kristen ortodoks timur, yang menjadi bagian dari kerajaan Konstantinopel, maka akan sangat tidak adil jika kita memasukkan korban kejahatan itu dalam aliansi kristen-yahudi yang sama yang memulai permusuhan religius menyerang umat muslim dan tanah Muslim. Sebenarnya sejarah ini bahkan dapat dimulai dari bangsa Khazars — juga dikenal saat ini sebagai suku yahudi ketigabelas — yang secara tiba-tiba menganut agama yahudi dalam waktu semalam tatkala mereka secara teknis mensurvei seluruh agama di dunia untuk mereka anut. Atau, kita dapat memeriksa sejarah pada masa setelahnya tatkala sesaat sesudah masa kolonial dan penjajahan merusak tanah muslim dengan badai yang kuat hingga menggantikan kekuasaan mereka, ketika mereka meninggalkan tanah tersebut kembali ke tangan rakyatnya, dengan apa yang hari ini kita sebut negara-bangsa sekuler. Kekuatan penjajah ini dibangun oleh persekutuan kristen-yahudi yang sama yang telah memulai Perang Salib.

Meski begitu, narasi sejarah yang seperti itu akan membutuhkan buku lain secara terpisah untuk ditulis. Apa yang cukup ditulis di sini yaitu hanya membahas apa terjadi di Yerusalem — tanah yang diberkahi di mana tiga agama Ibrahim berada di bawah kekuasaan muslim selama tiga belas abad — sampai seratus tahun terakhir.

Ketika jenazah Fir’aun ditemukan, sesuatu yang aneh terjadi dalam sejarah tampaknya untuk mengungkap maksud sesungguhnya di balik perjuangan Zionis berkaitan dengan jenazah tersebut dalam proyek penggalian di Mesir. Sekitar 30.000 orang yahudi berpindah ke Yerusalem sebagai akibat langsung dari penemuan itu. Selama perpindahan ini, gerakan Zionis secara sah didirikan dan dimulai. Dalam dua dekade selanjutnya terjadi deklarasi Balfour — 1917 — yang menjanjikan bangsa yahudi sebuah negara tanah air merdeka di Palestina. Mereka yang melakukannya adalah bagian dari komunitas umat kristen yang sama yang memulai perang Salib dengan tujuan yang sama. Yaitu Inggris; kristen Inggris. Amerika dan Eropa melompat ke gerbong tersebut dan membentuk persekutuan bersama dengan pendanaan dari kaum yahudi terutama yahudi eropa. Pada waktu itu, kebencian kaum kristen kepada kaum yahudi telah dihilangkan. Kekaisaran Utsmaniyah dibubarkan (berganti menjadi Negara Sekuler Turki); tulang punggung kristen Rusia — atau Roma Ketiga — juga sama dihancurkan dan digantikan dengan Komunisme (lahirnya Uni Soviet).

Persekutuan yang sama inilah secara misterius berjabat tangan dengan Joseph Stalin, orang yahudi, tepat sebelum dimulainya Perang Dingin (sebenarnya, bahkan Lenin dan Trotsky, juga sama orang yahudi dengan Stalin, mereka berasal dari komunitas yang sama). Pada waktu itu, ketika Perang Dingin baru dimulai, Negara Israel yahudi didirikan dan kemerdekaan mereka dideklarasikan sebagai tindak lanjut dari kesuksesan Deklarasi Balfour. Perang Dingin tersebut adalah tipuan karena para pemimpin di kedua pihak termasuk dalam komunitas yang sama dengan Yakjuj dan Makjuj yang membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan Muslim, yang berjabat tangan ketika mereka menginginkan dan tidak ada keraguan untuk memerangi satu sama lain seperti gelombang yang saling berbenturan ketika mereka mengangggap itu penting. Namun pada saat itu orang-orang dengan keberanian yang mengagumkan seperti Fidel Castro sayangnya ada di antara keduanya.

Selama Perang Dingin, negara bangsa sekuler Israel bangkit bertambah kuat di wilayah regional dan dipersenjatai lengkap, siap untuk menunjukkan kekuatan militer mereka lebih jauh didukung oleh NATO, yang dibentuk pada saat itu untuk menghadapi pada Perang Dingin tipuan. Kemudian Paus Paulus VI menyatakan pemberian maaf secara religius dan politik kepada umat yahudi dari pihak umat katolik, sebagaimana Prof. Hamka menunjukkan dalam tafsir ayat Al-Qur’an yang kita bahas, dengan demikian semakin menguatkan persekutuan ini. Umat protestan tidak menolak itu. Mereka bahkan juga ikut berjabat tangan. Pada saat itulah Perang Enam Hari dimulai sebagai pertunjukan kekuatan yang Israel — yang bukan lagi sebatas bayi Israel.

Kristen ortodoks yang dianiaya dan yahudi ortodoks yang dianiaya tidak pernah bergabung dengan persekutuan Amerika-Eropa-Israel ini. Mereka dijadikan korban sebagaimana selama perang Salib, dan pengorbanan mereka terus berlanjut sampai akhir-akhir ini ketika kekuatan mereka ditantang dalam bidang nuklir, ekonomi, politik, dan militer yang dimiliki Rusia yang kaya-energi dengan sekutu-sekutunya.

Di sini penting untuk ditunjukkan bahwa pemisahan terjadi di dalam komunitas umat kristen yang menarik garis antara kristen barat dan kristen timur, dan ini membutuhkan ahli sejarah pemerintahan kristen, melebihi ruang lingkup esai ini, untuk menjelaskan mengapa letak geografis berpengaruh dalam hal ini, sehingga katolik dan protestan termasuk dalam geografis barat dan kristen ortodoks termasuk dalam geografis timur. Kristen Afrika yang selalu menjaga hubungan persahabatan dengan umat muslim dibajak oleh kristen barat ini dalam seratus tahun terakhir, sehingga saat ini kita menemukan peperangan sadis antara kaum kristen dan umat muslim di Afrika benar-benar tidak sesuai dengan sejarah Afrika. Konflik-konflik ini didanai, didorong, dan bahkan digembosi oleh NATO dalam menjaga hegemoni strategis mereka atas sumber daya alam dan tanah Afrika, serta juga berdampak pada kendali populasinya. Kekuatan ini sama termasuk dalam komunitas persekutuan Amerika-Eropa-Israel.

Untuk kajian lengkap mengenai pemisahan yang terjadi di dalam komunitas umat kristen, tersedia dalam buku Graham E. Fuller yang berjudul A World Without Islam (Dunia Tanpa Islam) yang menjelaskan topik ini secara ringkas. Rusia saat ini dan umat kristen ortodoks bukan di pihak persekutuan kristen-yahudi, yang memberi Israel negara bangsa sekulernya.

Perang Dingin Baru dimulai dengan Perang Irak pada tahun 2003. Rusia dan sekutunya meskipun sejak saat itu diperlakukan seperti kekuatan yang tidak dipercaya dan tidak diinginkan di PBB namun menjadi satu-satunya kekuatan yang mampu menantang hegemoni Amerika-Euro-Israel. Persekutuan Amerika-Euro-Israel tidak mampu menghadapi Rusia dan sekutunya untuk mendukung tujuan yang mereka inginkan. Apa lagi, Rusia dan sekutunya saat ini, sejak setelah dimulainya Perang Irak pada 2003, terbukti menjadi sekutu yang bisa diandalkan umat muslim pada masa ini, khususnya setelah Rusia mengintervensi di Suriah dan memutar balikkan keadaan.

Sekarang empat belas tahun (tulisan ini terbit 2017) berlalu setelah Perang Irak dimulai. Empat belas tahun adalah waktu yang cukup untuk menguji situasi sekutu politis yang efektif dalam menantang kejahatan politik yang mendatangi negeri-negeri muslim selama seratus tahun ini. Mereka yang bernafsu menguasai Levant saat ini sedang menggigit jari mereka dalam frustrasi karena kehadiran Sino-Rusia secara politik, ekonomi, dan militer di wilayah tersebut. Mereka tidak bisa lagi melakukan aktivitas perubahan rezim di Suriah tanpa menderita akibat yang serius pada kekuatan mereka. Keseimbangan kekuatan telah berayun.

Artinya kita tidak bisa lagi memegang pendapat bahwa Surat Al-Maidah ayat 51 mengacu pada semua yahudi dan semua kristen. Orang-orang yang mengatakan hal seperti itu pasti akan tetap terlihat tidak berpendidikan secara politik dan sejarah selama mereka terus mengatakan demikian. Maka mereka tidak bisa berkata bahwa Allah SWT berfirman demikian dan bersembunyi di balik Al-Qur’an untuk melarang mereka dari melakukan demikian, apalagi menyalahkan Allah SWT. Orang-orang yang tidak peduli pada sejarah ini, khususnya sejarah politik dunia, bahkan sejarah politik negara pertama Madina Al-Munawwarah, harus dikaitkan dengan ketidak mampuan mereka sendiri, setidaknya ketidakmampuan akademis jika bukan ketidakmampuan dalam berpikir. Keulamaan muslim pada masa kita telah gagal menghadapi masalah ini dan tidak memberikan solusi pada permasalahan politik dunia umat muslim saat ini. Meski begitu, ini berarti interpretasi Maulana Imran Hosein pada ayat ini (Surat Al-Maidah ayat 51) bukan hanya mampu memberikan solusi pada urusan politik dunia saat ini. Namun juga sebenarnya merupakan satu-satunya jalan agar pendekatan terhadap Al-Qur’an dilakukan dengan koheren secara keseluruhan, berkaitan dengan sejarah dan situasi dunia modern. Hal ini untuk memahami dunia dengan akurat dan menanggapi tantangannya dengan tepat.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi sekutumu; (Dimana) sebahagian mereka (bukan semuanya) adalah sekutu/ teman/ pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka (yang melakukan hubungan persekutuan/ pertemanan) menjadi sekutu, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (bukan bagian dari Islam lagi). Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” 

(Q.S Al-Maidah ayat 51)

Untuk sekarang, apa yang kita lihat di dunia saat ini yaitu Amerika dan sekutunya mendominasi kendali politik dan ekonomi dunia. Amerika tetap menjadi negara adidaya di dunia, artinya dia memiliki kapasitas untuk mengalahkan penantang politik lainnya. Israel di sisi lain, bangkit menjadi kekuatan nuklir yang mampu melancarkan perang melawan negara mana pun; dia bisa menentang pelindung utamanya—Dewan Keamanan PBB, Inggris dan Amerika serta banyak negara lainnya di Eropa. Dia telah siap menjadi negara adidaya di dunia.

Ayat dalam Surat Al-Maidah (51) ini menjelaskan kekuatan yang mendominasi dunia saat ini. Tepatnya persekutuan politik inilah yang merupakan kelompok kristen-yahudi barat yang menjadi pelaku Fasad di tanah khususnya di Tanah Suci termasuk negara-negara muslim, inilah yang dimaksud Allah Maha Bijaksana dalam ayat ini. Mereka inilah yang menjadi sekutu bagi satu sama lain, padahal sebelumnya menjadi musuh dalam semua catatan sejarah, untuk memfasilitasi sesuatu yang lebih tidak menyenangkan yang belum terungkap di Tanah Suci namun tidak akan lama lagi dari sekarang. Jika kita memahami ayat ini bermaksud semua yahudi dan semua kristen, maka kita tidak akan pernah dapat menjelaskan kontradiksi dengan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya; kita tidak akan pernah memahami apa yang terjadi di Tanah Suci setelah dua ribu tahun. Yang paling penting kita tidak akan pernah dapat mengerti persekutuan misterius kristen-yahudi yang menguasai dunia saat ini. Persekutuan ini kemudian akan tetap selamanya menjadi misteri bagi kita. Ayat Surat Al-Maidah ini adalah ayat paling penting yang menjelaskan semua ini.

Ayat ke 51 dalam Surat Al-Maidah ini merupakan ayat paling penting yang menjelaskan apa yang Allah SWT telah sebutkan dalam ayat-ayat pembuka Surat Ar-Rum (31). Dia bersabda bahwa Rum akan menang dan “pada hari itu, orang-orang beriman akan bergembira.” Mengapa kemenangan bangsa Rum melawan musuhnya menjadi alasan bagi umat muslim untuk bergembira? Mengapa umat muslim akan bergembira karena kemenangan umat kristen jika Allah melarang umat muslim menjalin persekutuan dengan semua yahudi dan semua kristen? Ayat di dalam Surat Al-Maidah inilah yang menjelaskan bagian mana dari komunitas umat kristen yahudi yang kita dibolehkan menjalin persekutuan dengan mereka dan bagian mana dari komunitas umat kristen yahudi yang kita dilarang dari bersekutu dengan mereka. Ayat ini menjelaskan kepada kita selaras dengan bagian komunitas kristen yang menjadi paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman yang disebutkan dalam ayat 82 di Surat yang sama Al-Maidah. (*)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani itu) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”

Al Qur’an Surah Al Maidah Ayat 82

 

Oleh Sheikh Imran Nazar Hosein  dalam buku Dajjal, Al-Qur’an dan Awal Zaman

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment