Arogansi dalam Terminologi Eskatologi Islam

In Epistimologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Arogansi dalam terminologi Eskatologi Islam mengacu pada arogansi spiritual (beragama) dan bukan arogansi secara harfiah seperti yang banyak ditanggapi oleh mayoritas umat saat ini. Arogansi ini bukan terletak pada volume kata atau kalimat dan kerasnya kata atau kalimat tersebut. Melainkan adalah sebuah tindakan yang melawan kebenaran universal, bahkan dengan volume kata atau kalimat yang ringan, lembut dan atau bisikan.

Misalnya mengambil sebuah keputusan atau tindakan yang memilih kepentingan pribadi ketimbang kepentingan masyarakat dengan cara-cara yang halus, kata-kata yang menggugah perasaan (sisi emosional) manusia atau dengan bisikan-bisikan yang halus dan lembut. Dengan demikian maka Anda mempertimbangkan kepentingan umat lainnya menjadi kurang signifikan dari kepentingan pribadi Anda.

Begitu juga saat ini kebanyakan Muslim bahkan menganggap Hukum, Perintah dan Aturan Allah hampir mati dan usang. Contoh, monogami halal – poligami haram, menghalalkan riba dengan tetap menggunakan sistem kredit berbunga dalam aktifitas jual beli mereka, mengukur kehormatan manusia dari sisi penampilan luar semata, rasa lapar dan haus akan material dunia seperti rumah mewah, mobil mewah, tahta/jabatan dll. Demikianlah betapa manusia yang mengklaim diri mereka sebagai muslim bahkan di level tokoh atau pemimpinnya seperti para ustadz dan ulamanya, telah menjauh dari nilai-nilai intisari Islam. Inilah yang disebut sebagai Arogansi spritual (beragama) karena Anda tidak memikirkan atau menimbang dampak dari memilih keputusan/tindakan tersebut secara universal (dari gambar besarnya). Anda hanya meniliknya dari sisi kepentingan pribadi Anda. Itulah Arogansi yang sangat berdampak merugikan pada umat manusia secara universal. Mirisnya, sifat ini justru telah memasuki para pembelajar eskatologi Islam yang telah menjalankan hijrahnya ke kampung pedalaman.

Dalam dunia hubungan internasional hal ini disebut Jinggoisme. Dalam politik itu disebut sebagai imperialisme. Di Amerika disebut exceptionalism, di Malaysia disebut Bumiputera, di Indonesia disebut dengan istilah Pribumi.

Dalam sejarah kehidupan manusia ada seseorang/golongan yang telah memperkenalkan dirinya/mengaku sebagai orang yang terpilih oleh Allah. Yaitu bani Israel (orang-orang yahudi ) dan mereka mengesahkan/menganggap bahwa surga memang disediakan khusus untuk mereka, dan itu sebenarnya tidaklah benar, mereka mengatakan “Kami adalah orang pilihan Allah Yang Maha Tinggi.”

Pernyataan di atas jelas telah memberikan pemahaman kepada kita semua bahwa sifat dan karakter seperti ini telah ada selama ribuan tahun hingga pada hari dimana kita berpijak saat ini.

Arogansi sebagai ras yang tertinggi/terpilih, arogansi sebagai umat/golongan yang terbaik, arogansi sebagai bangsa yang termahsyur dan termaju dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, arogansi sebagai manusia yang terkaya dan terpandang, dll. Tahukan kamu, bahwa arogansi seperti ini membawa dampak buruk secara universal dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang majemuk/beragam?

Jika para sahabat-sahabat dahulu menilai Rasulullah Muhammad [saw] hanya sebatas dari sisi penampilan dan kemampuan beliau [saw] yang tidak mampu untuk membaca dan menulis, maka tentu saja tidak akan ada kebenaran Islam yang kita kenal saat ini. Namun karena pada saat itu, sahabat-sahabat mampu untuk melihat/menilik kebenaran universal yang disampaikan dan diperjuangkan oleh Beliau [saw] maka hadirlah Islam yang merintis manusia-manusia yang memiliki kapabilitas untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Lalu bagimanakah resolusi diri untuk terhindar dari penyakit dan virus arogansi spiritual yang telah begitu kritisnya merasuk ke dalam tatanan kehidupan masyarakat dunia saat ini, terutama bagi umat Islam? Apakah obat penawar dan antibiotiknya? Mari kita telaah, renungkan dan berusaha untuk memahami Al-Qur’an Surah An Nas di bawah ini:

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّـيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

 بسم الله الرحمن الرحيم

 

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. (1)

Raja manusia. (2)

 

 

Sembahan manusia. (3)

 

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, (4)

 

 

 

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada (hati) manusia, (5)

 

 

 

dari (golongan) jin dan manusia. (6)

 

 

 

 

Sifat arogansi spiritual ini adalah bermula dari sebuah bisikan. Bisikan-bisikan yang halus baik dari golongan jin (iblis/syaitan) atau dari golongan manusia. Mereka berbisik dengan bisikan yang begitu halus ke dalam hati kita sehingga tiada yang mampu menjadi tolak balanya selain diri kita sendiri dan pertolongan daripada Allah semata. Maka mulai saat ini, jadikan Al-Qur’an Surah An Nas sebagai do’a dan implementasi serta resolusi diri di setiap saat kala kita sedang beraktifitas di kehidupan bermasyarakat saat ini.

Al-Qur’an adalah jawaban dari segala jawaban yang kita butuhkan. Ia adalah awal zaman dan akhir zaman. Ia adalah sebuah penjelasan dan keterangan yang sejelas-jelasnya. Ia adalah sebuah kebenaran yang mutlak. Ia adalah mukjizat obat yang paling ampuh dalam mengobati semua penyakit hati. Ia adalah pembuka tabir kegelapan dengan cahaya ilmu dan kebenarannya. Dan masih banyak lagi. Maka dari itulah…

Dunia yang penuh dengan fitnah ini sedang membutuhkan basuhan dari Al Qur’an yang berjalan di hati para pemuda yang berusaha dan berjuang untuk mengimplementasikannya di setiap langkah kehidupan yang mereka jalani.

Dan kesederhanaan diri, karakter, sikap, sifat, tingkah laku, kata-kata, ketegasan, integritas, intelektualitas, intelegensi dan kebijaksanaan serta cahaya hati dalam menegakkan kebenaran yang diyakini itulah yang akan menjadi tolak ukur dan bukti nyata bahwa merekalah para pemuda Ashabul Kahfi yang kami rindukan. Bukan dari penampilannya yang berbaju gamis, berjenggot, bersorban dengan gelar LC, McD dll, dimana gaya dan perangainya seakan merekalah makhluk termulia dan termahsyur sejagad raya dengan gelar ustadz-ustadz muda itu. Tentu saja bukan itu!

Dan kami yakin sepenuhnya, Allah pasti akan bersama mereka (para pemuda itu), melindungi mereka dan memberi kekuatan sebaik baiknya kekuatan dan kapabilitas yang menjadi keunikan dan ciri khas serta kelebihan dari diri mereka masing-masing, yang akan menjadi modal utama mereka dalam menjalani prosesi inti dunia akhir zaman ini.

“Maka bacalah Al Qur’an dari lembar pertama hingga ke lembar terakhir. Ketika selesai, maka ulangilah kembali dan seterusnya secara berulang. Namun adalah sebuah kebodohan fatal jika tidak sebersitpun hati ini untuk berusaha memahaminya.”Sheikh Imran Nazar Hosein
“Ketika kamu mengetahui kebenaran dari Al Qur’an maka laksanakanlah atau implementasikan terlebih dahulu dan pemahamanmu akan datang dengan sendirinya.”Maulana Dr. Fazlur Rahman Al Anshari Rahimahullah

Implementasi, Resolusi dan Pemahaman. 

Intelektualitas, Intelegensi dan Kebijaksanaan Internal.

Insya Allah…

*Catatan: Tulisan ini adalah gabungan dari beberapa intisari ilmu yang saya pelajari dari salah satu murid Sheikh Nazar Imran Hosein yaitu Angkoso Nugroho dan juga beberapa intisari ilmu Epistimologi Islam dari Guru kami Sheikh Imran Nazar Hosein. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment