Berhala Modern (Bagian II)

In Dajjal, Metodologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Banyak orang saat ini mengira bahwa menyembah berhala identik dengan menyembah patung-patung, batu atau ukiran tangan manusia, sama seperti pada zaman bangsa Israel dahulu. Berhala-berhala seperti itu memang masih ada, tetapi saat ini terdapat banyak sekali bentuk-bentuk berhala modern yang sudah bersalin rupa atau berevolusi dari bentuk-bentuk yang lama, tetapi prinsip-prinsip berhalanya masih tetap sama. Berhala bukan sekedar jasad bentuk nyata patung, tetapi mindset yang sudah tertanam dalam pemikiran kita, apapun yang kita yakini/sembah atau gunakan sebagai pengganti aturan Allah /Alquran, entah itu makna yg terkandung dari patung itu, atau hasil karya pemikiran kita yang kita ikuti dan idolakan.

Dalam zaman modern ini tanpa kita sadari, banyak hal telah menjadi idola atau berhala kita. Berhala modern kita adalah hal yang kita gunakan sebagai prioritas hidup kita, sebagai sandaran keselamatan, ketergantungan, dan kebanggaan hidup kita.

Beberapa dari berhala-berhala modern yang kita saksikan saat ini adalah:

Kecintaan mazhab”, firqah”, partai” islam, dan materi. Mereka dianggap segala-galanya yang dapat memberikan kesejahteraan, ketentraman, kenikmatan atau kekuasaan, yang membuat banyak orang bersedia mengorbankan apapun seperti mengorbankan keluarga.

Berhala zaman modern yang lain adalah menonton televisi, bermain video game, internet dan smartphone. Jutaan orang di seluruh dunia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menonton televisi, bermain game, berinternet dan menggunakan smarphone. Memori otak kita habis diisi dengan tayangan-tayangan yang tidak berguna.

Televisi, saat ini sudah menjadi berhala atau idol yang memberitahukan kita berbagai informasi, apa yang harus kita dengar, apa yang kita makan dan minum, dan nilai-nilai apa yang harus kita ikuti dan yakini melalui berbagai siaran-siarannya. Televisi mengontrol kita melalui berita-berita yang sudah disaring berdasarkan versi mereka, melalui film-film dengan nilai-nilai yang sering berbeda dengan yang kita yakini, dan iklan-iklan yang menjejali kita dengan dorongan untuk konsumerisme.

Televisi seperti nabi-nabi palsu modern, memiliki pengaruh yang sangat besar, karena bersifat mengontrol pikiran kita. Pikiran manusia merupakan pintu gerbang untuk mulai melupakan kaidah “Al-Qur’an.”

Ketika Iblis menjebak manusia pertama di sistem Jannah, ia mulai dengan menimbulkan keraguan dalam hati manusia dan pikiran adalah pintu masuk ke dalam hati manusia. Jadi kalau kita tidak mampu mengontrol apa yang masuk kedalam pikiran kita melalui apa yang kita lihat dan dengar melalui televisi ataupun media lainnya, maka cepat atau lambat kita mulai mengadopsi keyakinan baru dan melupakan esensi ILMU ALLAH yg sesungguhnya.

Internet dan Smartphone juga menjadi sumber pelarian banyak orang. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain internet, chatting, dengan berbagai media jejaring sosial seperti facebook, twitter, atau blackberry. Internet sering menjadi pelarian untuk pornografi, video game kekerasan, praktek-praktek pedukunan, hipnotis, atau ajaran-ajaran radikal yang menyesatkan. Akses terhadap internet saat ini menjadi makin mudah dengan berbagai peralatan mobile yang memungkinkan orang dari mana saja dan kapan saja mengakses internet.

Musik juga dapat menjadi berhala modern saat ini. Banyak musik membuat anak-anak muda menjadi lupa diri. Musik sebagai tempat pelarian bila merasa frustasi, patah hati, marah, dan sebagainya. Kita sering membuka diri kita, pikiran, hati dan jiwa kita kepada musik tanpa sadar bahwa musik tersebut dapat menyesatkan kita. Banyak sekali lirik musik dan irama musik yang bisa membutakan hati kita, atau mendorong kita untuk meyakini nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kaidah Islam.

Mengidolakan manusia. Sering tanpa kita sadar kita mengidolakan manusia melampaui Allah. Contoh-contoh yang sering kita saksikan adalah mengidolakan Rasul SAW secara berlebihan, penyanyi, artis, pemimpin negara, alim  ulama, guru pujaan mereka. Begitu kuat idola itu bagi seseorang sehingga ada yang bersedia mengorbankan apa saja demi sang pujaannya.

Manipulasi mistis dapat menjadi sebuah kualitas spesial dalam kultus-kultus tersebut karena manusia yg sebagai pemimpinnya menjadi perantara untuk dapat memahami ILMU ALLAH, ALQURAN. Prinsip-prinsip yang berpusat pada Alquran dapat dimasukkan dengan paksa dan diklaim secara eksklusif sehingga kultus dan keyakinannya menjadi satu-satunya jalan yang benar menuju keselamatan.

Kekuasaan. Kekuasaan sering menjadi berhala yang menggiurkan melampaui kehausan akan uang. Orang bisa memiliki uang tetapi masih merasa haus akan kekuasaan karena kekuasaan memberikan perasaan berkuasa atas orang lain, atau atas sesuatu. Banyak orang bersedia mengorbankan apa saja demi meraih kekuasaan. Selain itu, setelah seseorang meraih kekuasaan, maka kekuasaan itu sendiri dapat merubah seseorang menjadi kejam seperti Iblis yang membinasakan jutaan orang serta menghujat aturan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah pemberi segala sesuatu. Ia adalah jaminan keselamatan dan kebutuhan hidup kita. Oleh karena itu, bila mengikuti Al-Qur’an saja itu sudah cukup bagi kita. Bila kita mencari pemenuhan kebutuhan kita melalui berbagai idol atau berhala, maka kita tidak akan pernah mendapat kepuasan, yang terjadi adalah kita menuju kepada kebinasaan.

Pelajarilah Al-Qur’an, dan itu sudah cukup bagi kita. Ia akan memuaskan kita dengan segala kebutuhan kita. Ia (Al-Qur’an) bahkan membuat cawan qalbu kita penuh melimpah dengan ILMU ALLAH, ALQURAN melalui kampus perkuliahan di FAKULTAS TAHAJUD, disana kita akan dipertemukan dengan sang SUPER DOSEN, atau DOSEN SUPER yaitu JIBRIL. (QS 2:97-98).

Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril (tidak bangun malam untuk ratil dan tahajud ), maka Jibril itu telah mengajarkan pemahaman Al Quran ke dalam ruh/ hatimu…).

( 97 )   Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
( 98 )   Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.

Dalam Islam, Berhala adalah obyek berbentuk makhluk hidup atau benda yang didewakan, disembah, dipuja dan dibuat oleh tangan manusia. Sesuai dengan salah satu surah di dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf dan An-Nahl, yang berbunyi:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang”.(Al-‘A`raf 7:191)”

“…dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (An-Nahl 16:20)”


BERHALA ITU BERNAMA NASIONALISME

Ada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa suatu masyarakat sengaja menjadikan “berhala” tertentu sebagai perekat hubungan antara satu individu dengan individu lainnya untuk menuju ridha Allah. Sedemikian rupa “berhala” itu diagungkan sehingga para anggota masyarakat yang “menyembahnya” merasakan tumbuhnya semacam “kasih-sayang” di antara mereka satu sama lain. Suatu bentuk kasih-sayang yang bersifat artifisial dan temporer/ sementara. Ia bukan kasih-sayang yang sejati apalagi abadi. Gambaran mengenai berhala pencipta kasih-sayang palsu ini dijelaskan berkenaan dengan kisah Nabiyullah Ibrahim ’alaihis-salam, Dan berkata Ibrahim ’alaihis-salam,

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.” (QS. Al-Ankabut [29] : 25)

Berhala-berhala di zaman dahulu adalah berupa patung-patung yang disembah dan dijadikan sebab bersatunya mereka yang sama2 menyembah berhala patung itu padahal berhala itu merupakan produk bikinan manusia. Di zaman modern sekarang “berhala” bisa berupa aneka isme/ideologi/falsafah/jalan hidup/way of life/sistem hidup/pandangan hidup produk bikinan manusia. Manusia di zaman sekarang juga “menyembah” berhala-berhala modern tersebut dan mereka menjadikannya sebagai “pemersatu” di antara aneka individu dan kelompok di dalam masyarakat. Berhala modern itu menciptakan semacam persatuan dan kasih-sayang yang berlaku sebatas kehidupan mereka di dunia saja. Berhala modern itu bisa memiliki nama yang beraneka-ragam. Tapi apapun namanya, satu hal yang pasti bahwa ia semua merupakan produk fikiran terbatas manusia. Ia bisa bernama Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Liberalisme, Nasionalisme atau apapun selain itu.

Semenjak runtuhnya tatanan kehidupan bermasyarakat umat Islam, bangsa-bangsa Muslim di segenap penjuru dunia mulai menjalani kehidupan sosial berlandaskan sebuah faham yang sesungguhnya asing bagi mereka. Faham itu bernama Nasionalisme. Ketika Khilafah Islamiyyah masih tegak dan menaungi kehidupan sosial ummat, mereka menghayati bahwa hanya aqidah Islam Laa ilaha illa Allah sajalah yang mempersatukan mereka satu sama lain. Hanya aqidah inilah yang menyebabkan meleburnya sahabat Abu Bakar yang Arab dengan Salman yang berasal dari Persia dengan Bilal yang orang Ethiopia dengan Shuhaib yang berasal dari bangsa Romawi. Mereka menjalin al-ukhuwwah wal mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) yang menembus batas-batas suku, bangsa, warna kulit, asal tanah-air dan bahasa. Dan yang lebih penting lagi bahwa ikatan persatuan dan kesatuan yang mereka jalin menembus batas dimensi waktu sehingga tidak hanya berlaku selagi mereka masih di dunia semata, melainkan jauh sampai kehidupan di akhirat kelak. Mengapa? Karena ikatan mereka berlandaskan perlombaan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Hidup lagi Maha Abadi,

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43] : 67)

Orang-orang beriman tidak ingin menjalin pertemanan yang sebatas akrab di dunia namun di akhirat kemudian menjadi musuh satu sama lain. Oleh karenanya, mereka tidak akan pernah mau mengorbankan aqidahnya yang mereka yakini akan menimbulkan kasih-sayang hakiki dan abadi. Sesaatpun mereka tidak akan mau menggadaikan aqidahnya dengan faham atau ideologi selainnya. Sebab aqidah Islam merupakan pemersatu yang datang dan dijamin oleh Penciptanya pasti akan mewujudkan kehidupan berjamaah sejati dan tidak bakal mengantarkan kepada perpecahan dan bercerai-berainya jamaah tersebut, ”Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dalam jamaah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali-Imran [3] : 103)

Sewaktu ummat Islam hidup di bawah naungan tatanan Khilafah Islamiyyah mereka tidak mengenal bentuk ikatan kehidupan sosial selain Al-Islam. Mereka tidak pernah membangga-banggakan perbedaan suku dan bangsa satu sama lain.

Betapapun realitas suku dan bangsa memang tetap wujud, tetapi ia tidak pernah mengalahkan kuatnya ikatan aqidah di dalam masyarakat. Sedangkan setelah masing-masing negeri kaum muslimin mengikuti jejak langkah Republik Turki Modern Sekuler, maka mulailah mereka mengekor kepada dunia barat yang hidup dengan membanggakan Nasionalisme masing-masing bangsa. Padahal bangsa-bangsa Barat tidak pernah benar-benar berhasil membangun soliditas sosial melalui man-made ideology tersebut. Akhirnya bangsa-bangsa Muslim mulai sibuk mencari-cari identitas Nasionalisme-nya masing-masing. Mulailah orang Indonesia lebih bangga dengan ke-Indonesiaannya daripada ke-Islamannya. Bangsa Mesir bangga dengan ke-Mesirannya. Bangsa Saudi bangga dengan ke-Saudiannya. Bangsa Turki bangga dengan ke-Turkiannya. Lalu perlahan tapi pasti kebanggaan akan Islam sebagai perekat hakiki dan abadi kian tahun kian meluntur.

Surah Al-Ankabut ayat 25, Ia (Ibrahim) ’alaihis-salam berkata kepada mereka (kaumnya),

“Kalian menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan selain Allah, yang kalian lakukan bukan karena kalian mempercayai dan meyakini berhaknya berhala-berhala itu untuk disembah. Namun, itu kalian lakukan karena basa-basi kalian satu sama lain, dan karena keinginan untuk menjaga hubungan baik kalian satu sama lain, untuk menyembah berhala ini. Sehingga, seorang teman tak ingin meninggalkan sesembahan temannya (ketika kebenaran tampak baginya) semata karena untuk menjaga hubungan baik di antara mereka, dengan mengorbankan kebenaran dan akidah!”

Hal ini terjadi di tengah masyarakat yang tidak menjadikan akidah dengan serius. Sehingga, mereka saling berusaha menyenangkan temannya dengan mengorbankan akidahnya, dan melihat masalah akidah itu sebagai sesuatu yang lebih rendah dibandingkan jika ia harus kehilangan teman! Ini adalah keseriusan yang benar-benar serius. Keseriusan yang tak menerima peremehan, santai, atau basa-basi.

Kemudian Ibrahim’alaihis-salam menyingkapkan kepada mereka lembaran mereka di akhirat. Hubungan sesama teman yang mereka amat takut jika terganggu karena akidah, dan yang membuat mereka terpaksa menyembah berhala karena untuk menjaga hubungan itu, ternyata di akhirat menjadi permusuhan, saling kecam, dan perpecahan.

”…Kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain)….”

Hari ketika para pengikut mengingkari orang-orang yang diikutinya, orang-orang yang dibeking mengkafirkan orang-orang yang membekingnya, setiap kelompok menuduh temannya sebagai pihak yang menyesatkannya, dan setiap orang yang sesat melaknat teman yang menyesatkannya!

Kemudian kekafiran dan saling melaknat itu tak bermanfaat sama sekali, serta tak dapat menghalangi azab bagi siapapun.

”…Dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolong pun.”

Saudaraku, marilah kita tinggalkan segala bentuk “berhala modern” yang sadar ataupun tidak selama ini kita “sembah”. Kita jadikan faham selain Islam sebagai sebuah perekat antara satu sama lain, padahal persatuan dan kasih-sayang yang dihasilkannya hanya bersifat fatamorgana. Marilah hanya AL-ISLAM yang kita jadikan “faktor pemersatu” yang pasti terjamin akan mempersatukan kita di dunia dan di akhirat. Al-Islam bukan produk manusia melainkan produk Allah dengan ILMU NYA, ALQURAN.

Sedemikian hebatnya pengaruh Nasionalisme sehingga sebagian orang yang mengaku berjuang untuk kepentingan ummat-pun takluk di bawah ideologi buatan manusia yang satu ini. Betapa ironisnya perjuangan para politisi Islam tatkala mereka rela untuk menunjukkan inkonsistensi-nya di hadapan seluruh ummat demi meraih penerimaan dari fihak lain yang jelas-jelas mengusung Nasionalisme. Seolah kelompok yang mengusung ideologi Islam harus siap mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan kelompok yang mengusung Nasionalisme. Seolah memelihara persatuan dan soliditas berlandaskan Nasionalisme jauh lebih penting dan utama daripada mewujudkan al-ukhuwwah wal mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) berlandaskan aqidah Islam.

Sedemikian dalamnya faham Nasionalisme telah merasuk ke dalam hati sebagian orang yang mengaku memperjuangkan aspirasi politik Islam sehingga rela mengatakan bahwa ”Isyu penegakkan Syariat Islam merupakan isyu yang sudah usang dan tidak relevan.” Tidakkah para politisi ini menyadari bahwa ucapan mereka seperti ini bisa menyebabkan rontoknya eksistensi Syahadatain di dalam dirinya? Dengan kata lain ucapannya telah mengundang virus ke-murtad-an kepada si pengucapnya. Wa na’udzubillahi min dzaalika.

Sebagian orang berdalih bahwa jika kita mengusung syiar ”Penegakkan Syariat Islam” lalu bagaimana dengan nasib orang-orang di luar Islam? Saudaraku, disinilah tugas kita orang-orang beriman untuk mempromosikan Islam sebagai “faktor pemersatu” yg bersifat Rahmatan lil ‘aalamiin. Tidakkah terasa aneh bila “mereka” bisa dan boleh dibiarkan mendikte aneka isme/ ideologi/ falsafah/ jalan hidup/ way of life/ sistem hidup/ pandangan hidup produk bikinan manusia kepada kita umat Islam, sedangkan kita umat Islam tidak mampu —bahkan kadang tidak mau— mempromosikan (baca: berda’wah) menyebarluaskan ajaran Allah kepada “mereka”?

Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.” (QS. Ali-Imran [3] : 73)

Istilah ini sering digunakan untuk benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan spiritual, atau semacamnya. Di masa perjuangan Rasulullah, berhala adalah nama yang digunakan bagi patung-patung sembahan orang-orang  Jahiliyyah (bodoh). Berhala adalah benda pujaan-pujaan kaum Jahiliah karena dianggap sebagai pemberi manfaat, kebahagiaan dan ketentraman bagi mereka. Begitulah diagung-agungkan berhala bagi mereka.

Seiring dengan modernnya zaman sekarang ini, semakin modern juga berhala yang kita lihat, kalau dulu kita mengenal berhala itu seperti patung-patung, sekarang kita diperkenalkan dengan berhala yang baru, yaitu berhala demokrasi. Berhala yang tak berbentuk, tapi lebih mempengaruhi pemikiran manusia dibandingkan berhala-berhala di masa dulu. Berhala ini juga menjanjikan kebahagiaan bagi manusia, sehingga manusia selalu membangga-banggakan demokrasi. Maka tak heran, jika demokrasi menjadi berhala baru dalam berbangsa dan bernegara.

Lantas apakah benar,  jika demokrasi dijadikan berhala baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita? Bukankah hal seperti ini menafikan kekuatan ILMU ALLAH, ALQURAN?

  • Umat Islam tidak lagi menggunakan imam/ khalifah yang memimpin dan yang menyatukan mereka, ALQURAN.
  • Bangga dengan bangsa/ negara/ partai/ madzab/ dan lain-lain (ashobiyah) yang berlebihan dan lupa akan persaudaraan antar mukmin/muslim.
  • Lebih senang menggunakan hukum dan undang-undang buatan manusia (demokrasi/ liberalisme/ nasionalisme/ pluralisme/ sosialisme/ komunisme/ kapitalisme dan produk turunannya) dan meninggalkan hukum islam (Al-Qur’an) karena takut disebut fundamental/ ekstrim/ garis keras dan sebagainya.
  • Aqidah sudah rusak karena tercampur dengan ajaran platoisme/yunanisme/helenisme, budaya nenek moyang/leluhur yang jelas-jelas bukan dari ajaran Alquran.

Sekarang kembali kepada kita sebagai individu. kembali berpegang teguh pada simpul-simpul islam atau memilih kekafiran dengan meninggalkan Alquran. hanya orang berakal saja yang bisa memilih kebenaran.(*)

Leave a Comment