Drama Perselingkuhan Yahudi dan Nasrani (Bagian Pertama)

In Geo Politik & Strategi by Hamba Allah1 Comment

Kampungmuslim.org – Kunci kemenangan dalam pertarungan apapun yang ada di dunia ini adalah mengetahui siapa kawan dan siapa lawan kita, terlebih untuk mengetahui siapa lawan dan musuh yang sebenarnya bagi umat Islam.

Seberapa banyak pun populasi umat islam, seberapa canggih pun senjata umat islam, dan seberapa hebat pun strategi politik dan militer imat islam, jika salah menempatkan Lawan dan kawan, maka justru akan menjadi “boomerang” bagi dirinya sendiri.

Menjadikan lawan sebagai kawan kosekuensinya tidak akan mungkin mencapai kemenangan. Sebaliknya, menjadikan kawan sebagai Lawan kosekuensinya justru akan semakin menambah jumlah lawan dan mengurangi jumlah kawan.

Ibarat pertandingan sepak bola el-clasico Real Madrid VS Barcelona, sehebat apapun Cristiano Ronaldo  memainkan “si kulit bundar” dilapangan hijau, tatkala ia menjadikan Lionel Messi di Lapangan Hijau sebagai “kawan”, maka mustahil memberikan kemenangan bagi Real Madrid, karena Messi gak mungkin menendang bola ke gawang Barcelona.

Begitu juga identifikasi LAWAN dan KAWAN dalam pandangan Islam, Al-Qur’an telah memberikan gambaran dan kriteria yang jelas dan akurat tentang hal ini dan inilah Surah yang merupakan intisari dari geopolitik dunia akhir zaman. Yakni yang Allah Subhanahu Wata’ala abadikan dalam Al Qur’an Surah Al-Maidah ayat 51,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi sekutumu; (Dimana) sebahagian mereka (bukan semuanya) adalah sekutu/ teman/ pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka (yang melakukan hubungan persekutuan/ pertemanan) menjadi sekutu, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (bukan bagian dari Islam lagi). Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S Al-Maidah ayat 51)

Untuk memahami sistematika pemahamam ayat di atas, saya memberikan empat alur secara sistematis sebagai modal awal bagaimana mengetahui dan mengidentifikasi musuh Islam sebagai subyek pembahasan dalam ayat ini.

  1. Ayat ini menyeru kepada Umat Islam bahwa kita dilarang untuk menjadikan sebagian kaum Yahudi dan sebagian kaum Nasrani yang menjalin hubungan sebagai ‘Auliaa’ (teman dekat/ pemimpin/ sekutu/ aliansi)

Kata Yahudi dan Nasrani sering disebut di dalam Al-Qur’an, Al-Ma’aidah 51, Al-Ma’aidah 57, Al Maidah 69, QS Al Baqarah :62, QS Al Baqarah 111-112, Al Hajj 17, QS. Al Bayyinah 1-4,  Al-Maidah 82, dan sebagainya.

Namun tidak semua kalimat “Yahudi dan Nasrani” di dalam Al- Qur’an berkonotasi “musuh”, ada yang berkonotasi positif  tentang umat Yahudi dan Nasrani dengan kalimat berita bahwa mereka diberikan Kitab Taurat dan Injil pada zaman-nya yaitu Al-Baqarah 62 dan Al-Maidah 69. Ada juga ayat Al-Qur’an yang berkonotasi negatif karena pengingkarannya terhadap Kitab al-Qur’an seperti Al Bayyinah 1-4, Al Maidah 51, Al-Maidah 57, Al Baqarah 111-112.

Namun, dalam QS Al-Maidah ayat 51 ini sangat menarik, seolah mengajak kita untuk “menghubungkan titik-titik pemahaman,” dimana tidak berkonotasi negatif secara langsung bahwa Yahudi dan Nasrani adalah musuh, tapi kita diarahkan untuk berpikir kritis dan menelusuri terlebih dahulu, siapakah Yahudi dan Nasrani yang sedang dimaksud oleh Allah dalam ayat ini?

Agar kita tidak menghakimi mereka dengan logika “pukul rata,” maka betapa adil dan bijaksananya jika kita menilai mereka melalui “pemilahan” terlebih dahulu, karena pada faktanya, saat ayat itu diturunkan, jenis-jenis Yahudi dan Nasrani pun lebih dari satu atau dua. maka, disini kita batasi dulu, Yahudi dan Nasrani mana yang dimaksud ayat tersebut? Apakah ada batasan, pengkhususan dan pengecualian?

  1. Al-qur’an membatasi bahwa tidak semua Nasrani itu musuh.

Untuk membatasi subyek Yahudi dan Nasrani yang sedang di bahas, maka perihal Nasrani, Al-Qur’an telah memberikan batasan bahwa tidak semua Nasrani adalah musuh. Namun batasan ini juga tidak memberikan wilayah sebebas-bebasnya yang mencampurkan Aqidah antara Islam dan Kristen sehingga mengarah pada pemikiran Pluralisme, batasan ini adalah “hubungan baik antara Islam dan Kristen” baik yang tergambar didalam Al-Qur’an maupun Sikap Rasulullah [saw].

Di dalam Q.S Al Maidah ayat 82, Allah menjelaskan, “Walatajidanna…(dan engkau akan temukan sekarang dan di masa yang akan datang), “akrabahum mawwadatan” (yang paling dekat persahabatannya) “lilladzina aamanuu” (dengan orang-orang yang beriman) “alladizna qaalu inna nashaaraa” (ialah mereka yang mengatakan sesungguhnya kami adalah orang-orang Nasrani).

Pada saat ayat itu diturunkan, faktanya Nasrani terbagi kepada dua kubu, yang pertama adalah Nasrani barat atau Romawi barat yang berpusatkan di Vatikan Eropa dan yang kedua adalah Nasrani timur atau Kristen Orthododhox Bizantium yang berpusatkan di konstatinopel yang akhirnya menyebar ke Eropa Timur (Rusia dan sekitarnya saat ini) ketika mengalami penjajahan yang dilakukan oleh Kesultanan Ottoman.

Nasrani mana yang dimaksud dalam ayat tersebut?

Kami berpendapat mereka adalah Nasrani Timur bukan Nasrani Barat. Salah satu alasannya (dari banyak sekali alasan) adalah :

Ketika Rasulullah [saw] dan para sahabat berada pada periode dakwah di Mekkah, waktu itu pernah terjadi peperangan hebat antara Persia dan Bizantium yang pada akhirnya Bizantium mengalami kekalahan. Atas kemenangan Persia, kaum musyrik mekkah bersuka cita, sebaliknya Rasulullah [saw] berduka atas kekalahan Bezantium. Lalu atas peristiwa tersebut kemudian turunlah Q.S Ar-rum ayat 1-5 dimana dalam ayat-ayat terebut Allah memberikan kabar duka bahwa Bizantium telah dikalahkan, lalu Allah menjanjikan Bizantium akan menang pada beberapa tahun kemudian dan pada waktu kemenangan Bizantium maka berbahagialah orang-orang yang beriman atas pertolongan Allah yang memenangkan Bizantium.

Dan ternyata sekitar tujuh Tahun setelah peristiwa tersebut, (atas pertolongan dan Janji Allah) Bizantium pun berhasil mengalahkan Persia. Dan Rasulullah [saw] dam orang-orang yang beriman bersuka cita dan turut merayakan kemenangan tersebut.

Pertanyaannya, apa urusannya Rasullullah [saw] dan para sahabat sehingga merasa perlu berduka-cita atas kekalahan Bizantium dan bersuka cita atas kemenangannya? Bukan kah Bizantium itu bukan negara Islam? Bukankah Bizantium itu bangsa non-arab juga? Jawabanya adalah kembali kepada Q.S Al Maidah ayat 82 yang telah dipaparkan di atas.

Dan apakah Nasrani semodel bezantium itu ada di zaman kita sekarang? jawabannya adalah Ada. Karena dalam kalimat “walatajidanna” Allah menggunakan fi’il mudhari yang bermakna sekarang (waktu itu) dan akan datang dengan ditambah huruf “wau qasam” yakni pernyataan sumpah dan disertai huruf “lam” dan “nun” yang bermakna penegasan. Jadi ketika diartikan secara semantik maka ia akan bermakna: “dan Allah sungguh-sungguh bersumpah, akan kamu temukan sekarang dan di masa yang akan dating.”

Pertanyaannya siapakah mereka kaum Nasrani yang dimaksud oleh Allah? nah, dalam hal ini insha Allah kita bahas di judul yang berbeda. Yang pasti, Nasrani/ Kristen timur tidak masuk pada subyek pembahasan Nasrani yang dimaksud dalam Q.S Al Maidah ayat 51, maka tentu saja “mafhum mukhalafat” (logika kebalikan) nya adalah Nasrani barat.

Mengapa Nasrani barat? marilah kita telusuri napak tilas mereka.

  1. Dilarang menjadikan Yahudi dan Nasrani yang beraliansi satu sama lain sebagai aliansi kaum muslimin.

Yang menyebabkan Nasrani tidak boleh menjadi “Auliyaa” adalah Nasrani yang bersekongkol atau beraliansi dengan yahudi, karena Allah menjelaskan kalimat berikutnya dengan redaksi, “ba’dhuhum auliyaa’u ba’dh

Maksudnya?

Marilah kita bahas makna dari kata “auliyaa” terlebih dahulu,

Kalau kata “auliya” diartikan “pemimpin,” maka kalimat kedua menjadi “sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain,”  makna tersebut kesannya jadi rancu karena ketika kedua belah pihak sama-sama menjadi pemimpin, maka siapakah pihak yang dipimpin?

Kalau kata “auliya” diartikan “teman setia,” maka makna “auliya” yang berjenis kata benda “jamak” (plural noun) tentu jadi tidak relevan. Karena “teman setia” juga berlaku antara individu bukan kelompok. Dan Al Qur’an tidak menggunakan kata benda tunggal (mufrad).

Penerjemahan “auliya” menjadi  “pemimpin” atau “teman setia” juga tidak kita temukan dalam terjemahan Quran dalam bahasa-bahasa lain dunia. Maka kita dapati  jika Al Qur’an tersebut di terjemahan dalam bahasa Inggris akan kita temukan terjemahannya sebagai “Allies” atau “sekutu”. Karena jika konteksnya “isim jamak” (dalam tata bahasa arab) maka tentu akan kompatibel jika diterjemahkan dalam bentuk (plural noun) atau kata benda jamak pula, meskipun dalam tata bahasa inggris tidak dikenal istilah “kata benda dua buah” yang ada dalam bahasa arab yang disebut “mutsana“.

Maka, terjemahan yang cocok adalah “mereka bersekutu satu sama lain.” Artinya yahudi dan Nasrani yang beraliansi.

Berarti sebaliknya, Yahudi maupun Nasrani yang tidak bersekongkol/ beraliansi bukanlah musuh.

Dan apabila kita berbalik ke sejarah, adalah sesuatu yang mustahil Yahudi dan Nasrani menjalin hubungan aliansi dimana kita tahu sendiri, Yesus (Isa) ‘alaihis salam disalib oleh kaum Yahudi.

  1. Adakah Yahudi dan Nasrani yang beraliansi?

Ketika Al Qur’an menyebutkan bahwa Yahudi dan Nasrani yang bersekutu adalah musuh, berarti faktanya memang ada, meskipun sulit dipahami mengingat (secara teologis maupun historis)  mestinya Yahudi dan nasrani saling bermusuhan dan saling menyimpan dendam sejarah.

Bagaimana pandangan Yahudi terhadap Nasrani? marilah kita lihat beberapa ayat dari kitab Talmud yang berbicara tentang Nasrani dan Yesus:

Pada malam kematiannya, Yesus digantung dan dan empat puluh hari sebelumnya diumumkan bahwa yesus akan dirajam (dilempari batu) hingga mati karena ia telah melakukan sihir dan telah membujuk orang untuk melakukan kemusyrikan (pemuja terhadap berhala)…dia adalah seorang pemikat, dan oleh karena itu janganlah kalian mengasihinya ataupum memaafkan kelakuannya” (sanhedrin 43a)

“Yesus ada didalam neraka, direbus dalam kotoran (tinja) panas” (Gittin)

umat kristiani (yang disebut ‘minnim’) dan siapapun yang menolak Talmud akan dimasukan ke dalam neraka dan akan dihukum bersama keturunannya (Rosh Hashanah 17a)

Dan banyak lagi ayat-ayat dalam kitab Talmud Yahudi yang berbicara soal Nasrani dan Yesus dengan konotasi yang sangat buruk, bahkan mengkritisi kitab injil perjanjian baru (lihat : Shabbath 116a).  Itulah mengapa, ketika Bani Israel terusir dari Yerusallem oleh kerajaan babilonia pasca keruntuhan kerajaan Sulaiman, mereka dijanjikan akan kembali ke Yerusallem dan akan datang Al Masih. Disaat Al Masih yang asli datang (Nabi Isa/Yesus alaihis salam), mereka menyebutnya “anak haram“(nauzubillah). lalu kemudian mereka menolak dan merencanakan pembunuhan terhadapnya, lalu Allah selamatkan sang putra Maryam dengan diangkatnya kelangit, meskipun menurut anggapan bani Israil/yahudi mereka merasa telah berhasil membunuhnya. Maka Bani Israel/yahudi pun dihukum oleh Tuhan terusir dari Yerusallem untuk yang kedua kalinya.

Maka, dalam hal ini, jika seandainya kaum Nasrani membaca kitab talmud Yahudi (yang sejatinya ada tangan-tangan yang merubahnya) dan jika sekiranya tidak ada batasan Hak Toleransi Beragama maka sampai sekarang pun mungkin Yahudi dan Nasrani bisa saja berperang, namun setidak-tidaknya meskipun itu tidak terjadi, rasanya sangat mustahil jika alasannya adalah Religius mereka akan  bersekutu.

Namun, mengapa Al Qur’an dalam Surah Al Maidah ayat 51 malah menyatakan ada Yahudi dan Nasrani yang bersekutu?

Sebelum kita membuktikan adanya Yahudi dan Nasrani bersekutu, maka kita menyimpulkan hubungan persekutuan tersebut bukan karena alasan religius tapi karena alasan politik dan kepentingan. Dalam artian, adanya simbiosis mutualisme yakni hubungan saling menguntungkan.

Lantas, siapakah mereka? bagaimana asal mulanya? dan apa saja agenda mereka?

Insya Allah kita akan bahas dibagian kedua dari artikel ini.

Sobar Fatih

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Comments

Leave a Comment