Epistimologi Al-Ihsan

In Epistimologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Al Ihsan adalah ketika iman yang tadinya ada di mulut, turun ke hati, dan oleh karenanya, al-Ihsan mendedikasikan hidupnya untuk Allah [swt].

Ulama terdahulu mengatakan mengapa Muslim tidak bisa menjadi Mukmin dan Ihsan, yakni karena mereka kurang mengenal Allah [swt] dan Rasulnya [saw]. Apa yang mereka maksud?

Kita hanya mengenal Islam sebagai ritual, etiket dan kepribadian, sebatas hal itu saja. Untuk mengenal Allah [swt] dan Rasulnya [saw], dan agar iman bisa turun ke hati, kami akan mengutip jawaban dari Maulana Fazlurahman al-Anshari, guru dari Sheikh Imran Husein, yakni, lebih dari sekedar ritual, islam adalah struktur dan fondasi masyarakat, bangsa dan peradaban. Dan untuk memahami hal itu, beliau melanjutkan, “Jika kamu sudah tahu bahwa hal itu ada di dalam al-Quran, maka suka tidak suka, enak tidak enak, laksanakanlah, pengertian dan pemahaman akan datang dengan sendirinya.

Jika pemahaman besar ini sudah dipahami, barulah ritualisme itu menjadi berarti, dan lebih dari itu, dalam setiap ayat al-Fatihah yang kita baca dalam Shalat, kita menembus setiap dimensi ruang dan waktu atau sammawat. Karena ada 7 ayat, maka kita melewati ketujuhnya dan langsung berhadapan dengan Allah.

Selain dari itu, semua hal yang ada di dunia bisa ditembus realitanya. Jika mengetahui yang haq, maka mudah melihat yang batil, walaupun dibungkus dengan rapi. Seperti melihat benda berwarna hitam dan melihat benda yang berwarna putih, dimana kedua benda itu terletak bersebelahan satu sama lain.

Tatanan yang dimaksud Islam sebenarnya mudah dipahami, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk itu, karena semuanya ada di hati. Namun semudah apapun itu, jika tidak bisa menerimanya, maka hati akan tertutup dan selamanya tidak akan memahaminya. Dan jika kami jelaskan, niscaya hanya segelintir orang yang ingin menerimanya.

Pemerintahan itu sama seperti yang ada di lingkungan masyarakat terkecil, dan lebih kecil lagi, sama seperti di keluarga. Apakah kepala keluarga sebagai pemimpin rumah meminta bayaran untuk apa-apa yang dilakukannya untuk rumah itu? Yang benar tidak. Apakah kalian akan menerimanya? Tidak?

Jadi pemimpin memiliki kontrak perjanjian dengan rakyatnya. Pemimpin itu tidaklah dipilih oleh rakyatnya, namun sifat pemimpin itu tumbuh dalam dirinya. Sifat kepemimpinan ada di dalam setiap manusia, hanya saja kadarnya berbeda-beda, tergantung dari perjalanan spiritual masing-masing manusia. Inilah yang disebut sebagai Kalifah.

Seorang manusia yang berhasil dalam perjalanan spiritualnya, yang pertama dia kuasai adalah kebenaran. Dia harus tahu apa yang benar dan apa yang tidak. Lalu dia akan mengajak orang lain untuk menerapkannya. Hal seperti inilah yang terjadi pada diri setiap Nabi.

Ingat tadi, semua manusia memiliki perjalanan yang sama. Kadarnya berbeda-beda antara satu dan lainnya. Dan itu tergantung dari keikhlasan dirinya sendiri. Bahkan ada yang tidak melakukannya. Ibarat pohon, dia ini pohon kerdil, atau bonsai. Sedangkan yang melakukannya adalah seperti pohon yang menjulang tinggi, rantingnya banyak, daunnya lebat, dan buahnya manis.

Jadi pohon-pohon yang menjulang tinggi ini, tidak akan mendustakan sebuah pohon yang paling tinggi di antara mereka. Dan mereka akan mendekatkan dirinya pada pohon yang paling tinggi itu. Tidak ada itu yang namanya pilih memilih. Komunitas pohon-pohon yang tinggi ini tidak akan mempertimbangkan apa-apa yang dikatakan para bonsai. Bonsai adalah budak bukan majikan.

Beginilah hubungan Nabi [saw] kita dengan keempat sahabatnya. Pemimpin menentukan dan menghakimi segala sesuatu. Dan mereka menerimanya. Karena semakin tinggi pohon, semakin banyak pohon-pohon lain yang berteduh di bawahnya. Jadi dia bukanlah penindas, yang meminta gaji dan fasilitas, kecuali hasil keringatnya sendiri. Umar [ra] mengatakan,

“Aku tidak berani untuk menjadi lebih kaya dari orang yang paling miskin.”

Ini tidak mudah dipahami oleh bonsai, namun demikian saya tetap menjelaskannya. Jadi berusahalah dahulu menjadi pohon yang tinggi. Tanpa lepas dari pot itu, apapun yang kami jelaskan tidak akan bisa dipahami.

Jika pohon tertinggi memberikan solusi untuk suatu masalah, maka solusinya itu benar dan masalah itu selesai. Jika dia mengatakan sesuatu akan terjadi maka terjadilah sesuatu itu. Bagaimana seorang manusia pada saat ini dapat memahami hal itu jika siapa dirinya sendiri saja dia tidak tahu? Apakah mereka mengetahui dan mencatat segala permasalahan yang terjadi, lalu kemudian mencatat tindakan para pemimpin mereka terhadap permasalahan itu, apakah solusi mereka berhasil atau tidak? Apakah hal itu diperhatikan? Ternak tidak memperhatikan lingkungan di sekitar mereka, apalagi berusaha memahami segala hal?

Jadi mulailah menapaki kebenaran, dengan bekal berapapun ilmu yang ada. Satu patikel ilmu akan membuka satu alam semesta. Daripada memahami apa-apa yang tidak akan pernah bisa dipahami secara permanen.

Ekonomi atau sumber kehidupan harus berdasarkan keadilan. Pajak harus digunakan dan dihabiskan untuk keperluannya. Pajak tidak dipaksakan pada rakyat. Masing-masing penduduk wajib menyumbangkan apa-apa yang dia miliki untuk kepentingan bersama, tanpa paksaan. Tidak ada kepentingan pribadi dan asing yang dapat menguasai segala hal yang strategis.

Ini semua sudah ditakdirkan tidak akan wujud, karena kebodohan kolektif yang berdasarkan hawa nafsu. Namun Allah [swt] adalah Maha Adil. Ketika mayoritas manusia menjadi bonsai, manusia kehilangan fungsinya sebagai manusia, maka azab akan datang, untuk menghilangkan kesia-siaan itu.
Jadi Nabi [saw] memutuskan untuk menyebarkan kebenaran terlebih dahulu melalui rangkaian nubuah akhir zamannya. Lalu mengumpulkan siapa saja yang percaya, bukan sekedar ucapan, namun benar-benar mematuhinya. Lalu membiarkan yang tidak tahan boikot ekonomi, sosial dan mental, meninggalkan dirinya. Hanya 1/10 saja yang tersisa. Sedikit orang inilah yang meninggalkan Mekkah dengan kemakmurannya, dan mereka berhasil mendirikan Medinah yang jauh melampaui Mekkah dan bahkan Mekkah itu sendiri.

Adam berarti manusia seorang diri, seorang individu, Namun Adam juga berarti umat manusia atau sekumpulan manusia, masyarakat, bangsa dan peradaban. (*)

image_pdfimage_print

Leave a Comment