Hijrah Melepaskan Diri dari Riba

In Hijrah by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Riba adalah tindakan syirik yaitu dosa yang tidak dapat dimaafkan oleh Allah. Mereka yang ambil bagian dalam Riba telah mengumumkan perang dengan Allah dan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (278)

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (279)(QS. Al-Baqarah: 278-279)

Riba bukan hanya sebentuk penindasan ekonomi tapi lebih buruk dari itu, yaitu sebuah bentuk kontrol politik total. Hal inilah yang menggantikan penguasaan dan pendudukan melalui angkatan bersenjata pada masa lalu, ini adalah sebuah kolonisasi melalui konsesi.

Namun, mereka yang menguasai dunia saat ini memiliki kekuatan militer yang mengagumkan, dominasi spektrum penuh sebagai buah hasil dari perbuatan riba yang telah mereka terapkan dan telah mengakar sekian ratus tahun. Jika Anda berperang melawan mereka, Anda hanya akan menjadi bom seperti pada zaman batu.

Salah satu pendamping Nabi, salallahu alaihi wasallam, bertanya kepadanya,

“Bagaimana rasanya tinggal di zaman akhir?” Dia menjawab, “Jika Anda memiliki tanah, simpan/jagalah tanah Anda, jika Anda memiliki ternak, simpan/jagalah ternak Anda!” Temannya bertanya, “Bagaimana jika kita tidak memiliki tanah atau ternak?”, Dia berkata, “Kalau begitu, tariklah/hunuslah pedangmu, karena ini adalah perbudakan!”

Apa yang bisa kita pelajari dari Hadits ini?

Nabi Allah, salallahu alaihi wasallam, menasehatkan jalan keluar dari Riba. Artinya, Anda harus mengubah pandangan Anda tentang hidup di dunia ini. Bahwa Anda harus mendasarkan kekayaan pada aset Anda yang memiliki nilai intrinsik; seperti emas, perak, tanah, properti, pertanian, kehutanan, perikanan, dan lain sebagainya. Anda harus berhati-hati dalam memelihara dan mengelolanya serta mengembangkannya.

Anda harus meninggalkan The American Dream, atau materialisme. Itu berarti selamat tinggal kehidupan kota-kota besar dunia, dan jika Anda sedang berada di Barat (bekerja/berkarir), itu berarti Anda harus kembali ke Negara asal. Didiklah anak-anak Anda, semaksimal kemampuan Anda, tapi jangan memaksakan cara hidup mereka, tapi dengan meneruskan ilmu dan pemahaman yang Anda miliki. Memperluasnya, memperbaikinya dan mengembangkannya.

Namun, Nabi Muhammad, salallahu alaihi wasallam, juga mengatakan hal ini tentang Riba,

“Jika seseorang mengatakan bahwa dia bebas dari Riba, maka sesungguhnya dengan dia adalah debu Riba!”

Dari hadits tersebut di atas kita yang kita harus pahami adalah, Riba akan menyebar ke seluruh umat manusia di dunia ini, di akhir zaman ini. Atau sebagian besar kaum laki-laki akan dipenjara dalam kemiskinan dan kemelaratan sehingga mereka tidak dapat membebaskan diri dari Riba.

Jadi, apa resolusi kita? Jika Anda seorang yang kaya raya dan tinggal di kota, Anda bisa melakukan langkah besar dan membuat Hijrah atau berpindah tempat ke kota kecil pinggiran, desa/kampung pedalaman. Transfer semua uang/harta Anda ke aset dan kekayaan yang memiliki nilai intrinsik.

Bagaimana dengan mereka yang memiliki upah minimum atau budak? Seperti saya dan teman-teman di kampungmuslim.org ini, misalnya. Saya menyarankan agar Anda harus memiliki rencana yang benar-benar matang sebelum melangkah. Jangan hanya sekedar berhenti dari pekerjaan Anda, Anda akan berakhir berantakan (depresi, stress) dan pada akhirnya akan kembali ke kota jua. Anda tidak boleh melakukan hal ini sendiri, atau mengambil langkah besar itu lebih tepatnya hanya sendiri, lakukanlah secara kolektif (bersama), atau mencari kemitraan dengan orang kaya yang bisa melihat cahaya Allah. Mulailah dengan mengambil langkah kecil, selangkah lebih maju dari waktu ke waktu. Saya pikir Anda pasti akan dapat memikirkan dan menemukan resolusinya dan membuat perencanaan yang terbaik.

Jika Anda memiliki rekening bank, kosongkan atau sisakan hanya untuk sekedar keperluan transaksi (transfer dana). Jika Anda bekerja untuk bank, tentu saja Anda harus meninggalkannya atau berhenti dari pekerjaan tersebut, dan carilah pekerjaan lain dengan potensi kejahatan riba yang lebih rendah. Jika Anda sedang berniat mencari kredit untuk memiliki Rumah, maka urungkanlah niat tersebut. Bangunlah rumah yang bisa Anda bangun secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan Anda. Jika belum mampu, maka sewa atau kontrak, itu lebih baik daripada menerjunkan diri Anda ke dalam sumur Riba. Jika Anda memiliki hutang kredit kendaraan, barang-barang dll, selesaikan hutang Anda dan berhenti membuat yang baru. Ya, untuk selamanya. Tidak ada lagi pembelian berbasis hutang kredit. Tidak! Untuk selamanya.

Bagaimana jika Anda sedang mengkredit Rumah dalam jangka waktu yang lama? Tiada jalan lain adalah dengan menjualnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Pemerintahan Negara Anda.

Jika istri dan anak-anak Anda menentang Anda, maka jangan beritahu mereka tentang kasus Anda. Tidak perlu untuk saling membenturkan kepala kita, tapi lakukan dengan jalan operasi rahasia. Karena suatu hari di masa yang tidak lama lagi, mereka akan berterima kasih kepada kita, saat dunia ini telah ambruk (kolaps).

Meninggalkan Riba secara bertahap sebagai bagian dari proses Taubat kita kepada Allah. Itulah hal yang paling mendasar dalam langkah Hijrah kita dalam menempuh tantangan yang lebih besar di hari Esok.

Lakukan secara kolektif dan bertahap. Insya Allah. (*)

 

Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 280)

Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah: 281)

 

Oleh Angkoso Nugroho

Credit Subtittle & Editorial oleh Awaluddin Pappaseng Ribittara

Leave a Comment