Islam dan Geopolitik

In Geo Politik & Strategi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Saya mencoba menyoroti masalah ini untuk memberi Anda perspektif baru mengenai Timur Tengah. Tidak ada yang bisa memahami Timur Tengah tanpa mengetahui aspek politik Islam, dimana kebanyakan Muslim biasa tidak mengetahui hal ini, bahkan seorang Raja Arab Saudi sekalipun.

Timur Tengah adalah pusat politik internasional. Dari situlah deposit minyak terbesar di bumi berada. Arab Saudi adalah eksportir minyak terbesar di dunia. Tebak apa? Tanpa minyak tidak akan ada modernitas, yang berarti tidak akan ada peradaban barat modern yang kita kenal saat ini. Minyak itu milik orang Arab, dan hanya Arab, tapi itu berasal dari Allah dengan suatu syarat. Inilah ibu dari semua geopolitik dan sistem moneter internasional yang berbasis minyak, yaitu petrodolar.

Islam adalah perjanjian antara Allah dan Muhammad [saw] dan orang-orang yang mengikutinya. Ketika Allah memerintahkan Muhammad [saw] untuk mengubah arah shalat dari Yerusalem (Masjid Al Aqsa) ke Mekah (Masjid Al Haram), Allah telah memberikan mandat untuk hak asuh Islam kepada Muhammad dan Ismail, yang adalah orang Arab, yang menguasai Mekkah dan Madinah, tanah air mereka. Arah Shalat, kiblat, mewakili arah otoritas tertinggi dalam Islam, yaitu Mekkah. Demikian pula dengan perjanjian sebelumnya, bangsa Israel dengan Tanah Suci, Yerusalem. Bukan Paris, Tokyo, Seoul, London atau Washington yang kebanyakan umat Islam hari ini berkiblat ke kota tersebut, terlepas dari seberapa banyak atau rajinya Shalat mereka.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, mereka memaksa umat Islam Indonesia untuk tunduk ke arah Tokyo, setiap hari Senin pukul 10 pagi. Saya harap dengan contoh ini, Anda bisa mengerti arti kiblat. Arah shalat mewakili kekuatan politik sentral dan vertikal Islam. Jika umat Islam mendirikan negara Islam di Pakistan, Iran, Turki, atau Asia, negara tersebut harus tunduk pada kekuatan Islam di Mekah. Mekah adalah negara yang memerintah negara-negara Islam lainnya di dunia.

Namun, Muhammad [saw] telah membuat sebuah perjanjian dengan orang Arab, bahwa hak asuh mereka terhadap Islam, kontrol terhadap Hijaz [Mekah dan Madinah] adalah hak bersyarat. Bahwa mereka harus mempraktikkan dan menerapkan Islam sesuai dengan Quran. Dan tidak beragam dari itu bahkan untuk satu inci. Jika kasus seperti itu terjadi, maka umat Islam berhak meminta orang Arab untuk kembali ke jalur aslinya, tuntunan Alquran. Misalnya, Allah telah melarang Muslim untuk menjalin persekutuan dengan Barat, Surah al-Maidah [Surah] 5:51. Dan pada realitasnya di zaman modern, Kerajaan Arab Saudi justru melakukan kerjasama atau menjalin persekutuan dengan Barat.

Muhammad [saw] berkata, “Khilafa harus tetap berada di tangan orang Quraisy [Arab], bahkan jika hanya ada dua orang Quraisy yang tersisa di planet ini!” Namun, dia juga menggambar garis di pasir, garis lurus, dan mengatakan bahwa ini adalah kebenaran [Islam], dan dia menggambar beberapa cabang yang keluar dari garis, begitu banyak cabang dan berkata, ini adalah kepalsuan (fitnah).

Jadi, klaim Kekaisaran Ottoman sebagai Negara Islam [Khilafa], negara orang Turki bukan orang Arab, di Konstantinopel [Istanbul saat ini], bukan di Arabia, adalah sebuah penghujatan atau penghinaan terhadap perintah Rasulullah [saw]. Dan bahwa semua negara Islam di dunia pada saat itu, yang tunduk ke Istanbul, dari Kerajaan Moghul di India, ke Kesultanan di Asia Tenggara, telah melakukan penghujatan. Saat ini, saya pikir ini adalah pengetahuan umum bahwa orang-orang Turki dan Persia memiliki keinginan seperti yang terjadi pada Kekaisaran Ottoman sebelumnya yaitu menguasai dan mengontrol Hijaz (Mekkah dan Madinah). Dan tidak akan ada yang lebih senang dan bahagia ketika hal itu terjadi selain dari Negara Israel. Mengapa? Saya baru saja menjelaskannya dengan kata-kata di atas. Israel juga menginginkan kubus (kekuasaan terhadap hijaz) itu.

2000 tahun yang lalu, tidak ada yang menginginkan Arab, bukit pasir yang tidak memiliki kehidupan untuk peradaban. Hari ini semua negara kuat menginginkan Mekkah sebagai hadiah mereka. Dan ini adalah sejarah sejati Islam, yang harus Anda pertimbangkan dalam analisis Anda. Inilah sebabnya mengapa mereka membagi Islam, memecahnya dalam sekte dan golongan, dengan menanamkan virus hasrat duniawi kepada umat Islam. Tanpa pengetahuan ini, Anda akan membuat kesimpulan yang salah dalam analisis Anda.

Ada begitu banyak orang Mekah di Arab hari ini, dan pastinya salah satu dari mereka akan dipilih untuk memerintah Arab dan akan lebih baik dari pada sistem Monarki yang diterapkan Najd saat ini. Suatu hari nanti, dan hari itu pasti akan datang. Dan Beliau akan mengalihkan kekuatan dan kepemimpinannya kepada Yesus Putra Mariam [as]. Insya Allah.

Arab akan kembali ke Islam yang benar, dan tidak ada yang mengubahnya, bahkan Firaun di Tel Aviv dan Washington DC. (*)

  Angkoso Nugroho

Leave a Comment