Israel Raya: Rencana Zionis Untuk Timur Tengah (Yinon Plan)

In Geo Politik & Strategi by Hamba Allah0 Comments

Gambar terlampir adalah Kuil Ketiga Sulaiman yang sedang dibina di Jerusalem Israel, merupakan simbol kejayaan dan kebangkita Israel sebagai penguasa dan pengendali pemerintahan dunia.  Di bawah ini berkaitan dengan pembentukan negara “Israel Raya” yang merupakan landasan dari faksi terkuat Zionis dalam pemerintahan Netanyahu saat ini, partai Likud, serta dalam pendirian militer dan intelijen Israel.

Dalam perkembangan terakhir, Donald Trump telah mengkonfirmasi dukungannya terhadap pemukiman ilegal Israel dan oposisinya kepada Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334, untuk menghuni pemukiman Israel di Tepi Barat secara ilegal.

Menurut bapak pendiri Zionisme Theodore Herzl, “wilayah Negara Yahudi membentang dari Sungai Nil hingga Eufrat.” Menurut Rabbi Fischmann, “Tanah Yang Dijanjikan memanjang dari Sungai Nil hingga Eufrat, termasuk di dalamnya bagian dari Suriah dan Lebanon.”

Jika dilihat dalam konteks yang terjadi saat ini, perang di Irak, perang di Libanon 2006, perang di Libya 2011, perang yang sedang berlangsung di Suriah dan Irak, perang di Yaman, proses perubahan rezim di Mesir, harus dipahami dalam kaitannya dengan rencana Zionis di Timur tengah, yang akhirnya akan melemahkan dan menghancurkan negara-negara Arab sebagai bagian dari ekspansi proyek Israel Raya.

“Israel Raya” mencakup wilayah dari lembah Sungai Nil ke Eufrat. Menurut Stephen Lendman, “beberapa abad yang lalu, rencana organisasi Zionis dunia untuk negara Yahudi adalah:

  • Sejarah Palestina;
  • Lebanon Selatan hingga Sidon dan sungai Litani;
  • Dataran tinggi Golan Suriah, Hauran Plain dan Deraa; dan
  • Mengontrol jalur Hijaz dari Deraa ke Amman, Yordania serta Teluk Aqaba.

Bahkan beberapa Zionis ingin lebih banyak – wilayah dari sungai Nil di Barat ke Eufrat di Timur, yang terdiri dari Palestina, Lebanon, Barat Suriah dan Selatan Turki.”

Proyek Zionis mendukung gerakan permukiman Yahudi. Dengan gamblang melibatkan kebijakan yang tidak melibatkan rakyat Palestina yang pada akhirnya mengambil alih wilayah tepi Barat dan Gaza demi Negara Israel.

Israel Raya harus membentuk beberapa negara proxy. Termasuk di dalamnya bagian dari Libanon, Yordania, Suriah, Gurun Sinai, Iraq dan Arab Saudi.

Menurut Mahdi Darius Nazemroaya dalam sebuah artikel di Global Research tahun 2011, Yinon Plan ini merupakan kelanjutan dari desain kolonial Inggris di Timur Tengah.

[The Yinon Plan] adalah rencana strategis Israel untuk memastikan superioritas Israel di kawasan tersebut. Ini menegaskan dan menetapkan bahwa Israel harus mengkonfigurasi ulang kondisi geo-politik melalui balkanisasi negara-negara Arab di sekitarnya menjadi negara-negara kecil dan lemah.

Para ahli strategi Israel melihat Irak sebagai tantangan strategis terbesar mereka dari negara Arab. Inilah sebabnya mengapa Irak dijadikan sebagai pusat balkanisasi di Timur Tengah dan Dunia Arab. Di Irak, atas dasar konsep Yinon Plan, ahli strategi Israel telah menyerukan pembagian Irak menjadi negara Kurdi dan dua negara Arab, satu untuk Muslim Syiah dan yang lainnya untuk Muslim Sunni. Langkah pertama menuju pembentukan ini adalah perang antara Irak dan Iran.

The Atlantic, pada tahun 2008, dan Journal Angkatan Bersenjata Militer AS, pada tahun 2006, mempublikasikan secara luas peta yang merujuk pada garis besar Yinon Plan. Pemecahan wilayah Irak, Lebanon, Mesir, dan Suriah. Bagian wilayah dari Iran, Turki, Somalia, dan Pakistan juga termasuk di dalamnya. Yinon Plan juga ingin menghancurkan Afrika Utara, dimulai dari Mesir, Sudan, Libya, dan wilayah di sekitarnya.

Israel Raya membutuhkan perpecahan di negara-negara Arab sehingga menjadi negara-negara yang lebih kecil.

“Rencana ini memiliki 2 point utama. Agar bertahan, Israel harus:
1) menjadi kekuatan utama di wilayah tersebut, dan
2) harus membagi-bagi seluruh wilayah tersebut menjadi negara-negara kecil dengan menghancurkan semua negara Arab yang ada.

Negara-negara kecil ini akan tergantung pada komposisi etnis atau sektarian dari masing-masing negara.
Harapan Zionis adalah negara-negara berbasis sektarian menjadi negara satelit Israel dan, ironisnya, ini bukan ide baru. Memecah-belah semua negara Arab ke dalam bagian yang lebih kecil telah menjadi tema berulang-ulang.”

Dilihat dalam konteks ini, perang Suriah dan Irak adalah bagian dari proses ekspansi teritorial Israel.

Strategi Untuk Israel di Tahun 1980an
  1. Pada awal tahun 1980an, Negara Israel memerlukan perspektif baru mengenai wilayah, tujuan dan target nasional, di dalam maupun di luar negeri. Kebutuhan ini menjadi sangat vital dikarenakan adanya perkembangan situasi yang terjadi di dalam negeri, wilayah sekitar dan dunia. Saat ini kita hidup pada tahap awal dari sebuah era baru dalam sejarah manusia yang sangat berbeda dengan pendahulunya, dan karakteristiknya juga sangat berbeda dari apa yang telah kita kensl sekarang. Itulah sebabnya kita perlu pemahaman tentang proses sentral/terpusat yang melambangkan zaman sejarah di satu sisi, dan di sisi lain kita membutuhkan pandangan dunia dan strategi operasional sesuai dengan kondisi baru. Keberadaan, kemakmuran dan kekokohan dari negara Yahudi akan tergantung pada kemampuannya untuk mengadopsi kerangka kerja baru untuk urusan dalam negeri dan luar negeri.
  2. Zaman ini ditandai dengan beberapa ciri yang sudah bisa kita kenali, dan yang melambangkan revolusi sejati dalam gaya hidup kita saat ini. Proses yang dominan adalah rincian dari rasionalitas, sikap yang humanis sebagai landasan utama yang mendukung kehidupan dan prestasi peradaban Barat sejak Renaissance. Pandangan politik, sosial dan ekonomi yang telah terpancar dari pondasi ini telah didasarkan pada beberapa “kebenaran” yang saat ini menghilang-misalnya, pandangan bahwa manusia sebagai individu adalah pusat alam semesta dan segala sesuatu ada diciptakan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Kondisi ini tidak berlaku di masa sekarang dimana sangat jelas terlihat bahwa jumlah sumber daya alam di alam semesta tidak sesuai dengan jumlah kebutuhan manusia, kebutuhan ekonomi atau kendala demografinya. Di dunia saat ini, di mana ada 4 miliar manusia dan sumber daya ekonomi dan energi yang tidak tumbuh secara proporsional untuk memenuhi kebutuhan umat manusia. Hal ini tidak realistis untuk memenuhi kebutuhan utama masyarakat Barat yaitu, keinginan dan aspirasi untuk konsumsi yang tak terbatas. Pandangan bahwa etika tidak memainkan peranan dalam menentukan arah keputusan manusia, -melainkan kebutuhan materialnya – menjadi pandangan umum hari ini seperti yang kita lihat di dunia, di mana hampir semua nilai-nilai tersebut menghilang. Kita kehilangan kemampuan untuk menilai hal-hal yang paling sederhana, terutama ketika menyangkut pertanyaan tentang apa yang baik dan apa yang jahat.
  3. Keterbatasan manusia dalam Visi meraih cita-cita dan kemampuannya menyusut dalam menghadapi fakta-fakta kehidupan yang menyedihkan, ketika kita menyaksikan kehancuran dari tatanan dunia di sekitar kita. Pandangan yang menjanjikan kemerdekaan dan kebebasan untuk umat manusia tampak konyol mengingat fakta menyedihkan bahwa tiga perempat dari umat manusia hidup di bawah rezim totaliter. Pandangan tentang kesetaraan dan keadilan sosial telah diubah oleh Sosialisme dan terutama oleh Komunisme sehingga menjadi bahan tertawaan. Tidak ada argumen untuk kebenaran mengenai dua ide ini, tetapi jelas bahwa mereka belum menjalankannya dengan benar dan mayoritas umat manusia telah kehilangan kemerdekaan, kebebasan dan kesempatan untuk kesetaraan dan keadilan. Di era nuklir saat ini, di mana kita (masih) hidup dalam situasi yang relatif damai selama tiga puluh tahun, konsep perdamaian dan hidup berdampingan antar bangsa tidak memiliki arti ketika negara adikuasa seperti Uni Soviet memiliki doktrin militer dan politik semacam itu: bukan hanya kemungkinan terhadap perang nuklir dan mengakhiri Marxisme, tapi kemungkinan untuk bertahan hidup setelahnya, karena tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang dapat memenangkannya.
  4. Konsep penting dari kehidupan bermasyarakat, terutama Barat, mengalami perubahan akibat transformasi politik, militer dan ekonomi. Dengan demikian, kekuatan nuklir dan senjata konvensional dari Uni Soviet telah mengubah zaman yang baru saja dilewati ke dalam jeda terakhir sebelum kisah besar yang akan menghancurkan sebagian besar dari dunia kita dalam perang global multi-dimensi, yang menjadikan perang di masa lalu seperti permainan anak kecil. Kekuatan nuklir serta senjata konvensional, kuantitas mereka, presisi dan kualitas mereka akan mengubah sebagian besar dunia kita berubah dalam beberapa tahun, dan kita harus menyesuaikan diri sehingga dapat menghadapinya di Israel. Dengan demikian, menjadi ancaman utama bagi eksistensi kita dan dunia Barat. Perang atas sumber daya alam di dunia, monopoli Arab terhadap minyak, dan kebutuhan dari Barat untuk mengimpor sebagian bahan baku dari Dunia Ketiga, yang mengubah dunia kita saat ini, mengingat bahwa salah satu tujuan utama dari Uni Soviet adalah untuk mengalahkan Barat dengan mendapatkan kontrol atas sumber daya raksasa di Teluk Persia dan di bagian selatan Afrika, di mana sumber mayoritas mineral dunia ini berada. Kita bisa membayangkan dimensi konfrontasi global yang yang akan kita hadapi di masa depan.
  5. Doktrin Gorshkov mengharuskan Uni Soviet mengontrol lautan dan daerah yang kaya mineral dari dunia ketiga. Bersamaan dengan hal itu, doktrin nuklir Uni Soviet yang mereka miliki saat ini memungkinkan untuk mengelola, meraih kemenangan dan bertahan terhadap perang nuklir, dimana yang dalam perjalanannya militer Barat mungkin akan dihancurkan dan penduduknya akan di perbudak untuk melayani Marxisme-Leninisme, adalah hal utama yang sangat berbahaya untuk perdamaian dunia dan keberadaan kita sendiri. Sejak 1967, Uni Soviet telah merubah clausewitz ‘diktum menjadi “Perang adalah kelanjutan dari arti kebijakan nuklir,” dan menjadikannya semboyan untuk panduan semua kebijakan mereka. Saat ini mereka sedang sibuk melaksanakan tujuan mereka di wilayah kami dan di seluruh dunia, dan kebutuhan untuk menghadapi mereka menjadi elemen utama dalam kebijakan keamanan di negara kita dan Dunia Bebas. Dan ini merupakan tantangan dari luar yang utama untuk kita.
  6. Dunia Muslim Arab, bukanlah masalah utama yang akan kita hadapi di tahun 80an, meskipun berdasarkan fakta bahwa mereka akan menjadi ancaman utama terhadap Israel, karena kekuatan militernya yang terus berkembang. Dunia saat ini, dengan minoritas etnisnya, faksi dan krisis internal, merusak diri mereka sendiri, seperti yang kita lihat di Lebanon, di Iran non-Arab dan sekarang juga di Suriah, tidak dapat berhasil mengatasi masalah yang mendasar dan oleh karena itu bukan merupakan ancaman nyata terhadap Negara Israel dalam jangka panjang, tetapi hanya dalam jangka pendek di mana kekuatan militernya akan melakukan impor dalam skala besar. Dalam jangka panjang, dunia ini tidak akan dapat terus bertahan dalam kerangka yang ada di sekitar kita sekarang tanpa melalui perubahan revolusioner sejati. Dunia Muslim Arab didirikan seperti rumah kartu yang disatukan oleh orang asing (Perancis dan Inggris di tahun 1920an), tanpa keinginan dan gairah dari penduduk yang telah diperhitungkan. Mereka terbagi menjadi 19 negara, semua terbentuk dari kombinasi dari kelompok minoritas dan etnis yang saling bermusuhan satu sama lain, sehingga masing-masing negara muslim Arab saat ini menghadapi kehancuran sosial etnis dari dalam, dan beberapa perang saudara sedang berkecamuk. Sebagian besar orang Arab, 118 juta dari 170 juta, hidup di Afrika, sebagian besar di Mesir (45 juta hari ini).
  7. Terkecuali Mesir, semua negara-negara Maghreb terdiri dari campuran Arab dan non-Arab Berber. Di Aljazair telah terjadi perang saudara di pegunungan Kabile antara 2 kelompok di negara itu. Maroko dan Aljazair sedang berperang dengan satu sama lain hingga Sahara Spanyol, disamping perjuangan internal masing-masing negara. Militan Islam memicu perang dan sangat membahayakan integritas dari Tunisia dan Qaddafi yang dapat merusak dunia Arab, dari suatu negara yang jarang penduduknya sehingga tidak bisa menjadi bangsa yang kuat. Itulah sebabnya mereka telah mencoba untuk menyatukan dan mendirikan negara yang lebih original seperti Mesir dan Suriah. Sudan, negara yang paling hancur di dunia Muslim Arab terdiri dari 4 kelompok yang saling bermusuhan satu sama lain, minoritas Muslim Sunni Arab lebih domininan di bandingkan dengan mayoritas non-Arab Afrika, pagan, dan Nasrani. Di Mesir kelompok mayoritas Muslim Sunni menghadapi tantangan besar terhadap minoritas Nasrani yang sangat dominan: sekitar 7 juta orang, sehingga Sadat, dalam pidatonya pada Mei 8, mengungkapkan rasa takut dan mereka ingin mendirikan negara mereka sendiri, seperti Kristen Lebanon kedua di Mesir.
  8. Semua negara-negara Arab di timur Israel hancur, terpecah belah dan penuh dengan konflik dari dalam, bahkan hingga Maghreb. Secara fundamental Suriah tidak jauh berbeda dari Libanon terkecuali dalam hal rezim militer yang kuat yang menguasai negara tersebut. Tapi perang saudara yang sebenarnya terjadi hingga sekarang antara mayoritas Sunni dan minoritas Syiah Alawi (hanya 12% dari populasi) memberi gambaran mengenai tingkat keparahan masalah dalam negeri.
  9. Irak, sekali lagi, tidak berbeda dengan negara tetangganya, Meskipun sebagian besar adalah Syiah dan yang berkuasa adalah minoritas Sunni. 65 persen dari populasi tidak tertarik dengan politik, di mana 20 persen para elit yang memegang kekuasaan. Selain itu ada banyak minoritas Kurdi di Utara, dan jika tidak dijadikan kekuatan dari penguasa rezim, tentara dan sumber pendapatan minyak, maka Irak di masa depan akan tidak jauh berbeda dengan Libanon di masa lalu atau Suriah saat ini. Benih konflik internal dan perang saudara telah terjadi saat ini, terutama setelah Khomeini berkuasa di Iran, karena bagi Syiah di Irak dia adalah pemimpin alami mereka.
  10. Semua negara-negara teluk dan Arab Saudi dibangun diatas butiran pasir halus yang mengandung minyak. Di Kuwait, rakyat Kuwait hanya seperempat dari populasi. Di Bahrain, sebagian besar adalah Syiah tetapi tidak memiliki kekuasaan. Di UEA, mayoritas adalah Syiah tetapi Sunni yang berkuasa. Hal yang sama terjadi di Oman dan Yaman Utara. Bahkan Marxisme di Yaman Selatan cukup besar, Syiah minoritas. Di Arab Saudi setengahnya adalah penduduk asing, Mesir dan Yaman, tapi keluarga Saudi yang memegang kekuasaan.

Oleh Michel Chossudovsky, Global Research, 6 September 2015, diperbarui 28 Desember 2016

Leave a Comment