Kehancuran Khilafah, Lahirnya Negara Saudi-Wahabi dan Konsep Negara Sekuler

In Akhir Zaman, Sejarah by Rio Esvaldino0 Comments

Khilafah

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

(Q.S Adz Dzariyat, 51:56)

Tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah atau mengabdi hanya kepada Allah SWT semata. Ibadah sendiri merupakan suatu sikap dan perbuatan yang merendahkan diri kepada Allah karena kecintaan dan pengagungan dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sesuai syariat-Nya melalui hati, lisan dan fisik.

Bagaimanapun, tanpa ditegakkannya syariat Islam, pelaksanaan ibadah tidak akan tenang sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat mendapat tekanan, ancaman dan penindasan dari kafir quraisy. Ketika mendapat kekerasan dari kafir quraisy, turun wahyu yang memerintahkan umat Islam untuk berhijrah. Saat itulah Rasulullah saw berhijrah ke Madinah dan mendirikan sebuah negara. Tanpa adanya negara, diin Allah tidak akan tegak. Memang benar ada beberapa ibadah yang dapat dilaksanakan tanpa menunggu berdirinya negara, misalnya melaksanakan sholat, berpuasa, menikah, berdakwah, dll. Namun, ibadah haji, membayar zakat, menerapkan hukum larangan riba, larangan meminum minuman beralkohol, larangan berjudi, larangan berzina serta hukum-hukum syariatnya tidak akan sempurna tanpa mendirikan negara atau komunitas masyarakat yang terorganisir. Untuk itulah Rasulullah saw mendirikan negara Islam di Madinah berdasarkan konstitusi piagam Madinah. Dengan mendirikan negara yang dipimpin sendiri oleh beliau, penerapan diin Islam akan sempurna tanpa perlu takut mendapat ancaman dari luar.

Setelah Rasulullah saw wafat, kepemimpinan umat digantikan oleh Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib ra. Mereka berempat merupakan Khalifah Rasulullah saw atau dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin. Dari sinilah muncul istilah ‘Khilafah’.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa Khilafah adalah sebuah negara dan pemerintahan yang tunduk kepada kewenangan Allah SWT. Khilafah juga merupakan sistem kepemimpinan umat, dengan menggunakan Islam sebagai ideologi serta undang-undangnya mengacu kepada Al-Quran & Sunnah. Islam sendiri merupakan patuh dan tunduk berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT, tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT sebagai Al Malik, Al Akbar, dan Al Hakam.

Al Malik adalah Sifat Dzat Allah yang berarti “Raja dari segala Raja” atau “Yang Maha Penguasa” Yang memerintah seluruh alam. Lahul Mulk, “Kedaulatan Hanya Milik-Nya”. Jika seorang muslim mengakui sesuatu sebagai yang paling berdaulat selain Allah, maka muslim tersebut telah meninggalkan Allah sebagai Al Malik. Sedangkan Al Akbar adalah Yang Memiliki Kekuasaan Tertinggi. Jika seorang muslim mengakui sesuatu paling berkuasa atas dirinya selain Allah, maka muslim tersebut telah meninggalkan Allah sebagai Al Akbar. Begitu pula dengan Al Hakam, yang merupakan Yang Maha Menetapkan Hukum, tidak hanya membuat Hukum, tetapi juga hukum-Nya merupakan Hukum Tertinggi. Jika Allah SWT menetapkan sesuatu itu ‘haram’, maka muslim harus menetapkan sesuatu itu ‘haram’. Begitu pula jika Allah SWT menetapkan sesuatu itu ‘halal’, maka muslim juga harus menetapkannya ‘halal’. Jadi siapapun yang tunduk dan patuh pada hukum selain Hukum Allah SWT, sebagai Hukum Tertinggi, berarti dia telah meninggalkan Allah sebagai Al Hakam. Dalam terminologi politik Islam, hal tersebut disebut “Syirik”.[1]

Islam mengakui Syirik sebagai dosa terbesar dan Al-Qur’an menyatakan bahwa Syirik adalah satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni Allah SWT:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

(Q.S An Nisā, 4: 48)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

(Q.S An Nisā, 4: 116)

Sesungguhnya telah ingkar (menolak kebenaran) orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

(Q.S Al Māidah, 5: 72)

Dengan begitu, siapapun yang mengakui bahwa negara yang ‘paling berdaulat’ di muka bumi ini, dan bukannya Kedaulatan Allah (Al Malik), maka orang tersebut telah melakukan syirik.

Namun bentuk syirik lainnya juga dijelaskan dalam Al-Qur’an. Misalnya, ketika Fir’aun berkata kepada Musa as: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,”(Q.S An Nāzi’āt, 79:24) dan dia berkata kepada para pembesar kaumnya: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku…”(Q.S Al Qasas, 28:38). Apa yang dilakukan Fir’aun adalah syirik, dan begitu pula dengan kaumnya jika mereka menyembah Fir’aun serta mematuhi, menaati, dan mengakui otoritasnya sebagai otoritas yang paling tinggi, dan hukumnya sebagai hukum yang paling tinggi di tanah Mesir. Menghalalkan apa yang Allah haramkan, dan mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Al-Qur’an telah berulang kali memberi peringatan kepada orang-orang seperti Fir’aun, yang membuat Hukum, yakni pemerintahan, hukum dan hakim yang berlandaskan sesuatu yang bertentangan dengan Otoritas dan Hukum Allah.

… Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara (pemerintahan, hukum, dll) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

… Barangsiapa tidak memutuskan perkara (pemerintahan, hukum, dll) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

… Barangsiapa tidak memutuskan perkara (pemerintahan, hukum, dll) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

(Q.S Al Māidah, 5: 44, 45 dan 47)

Allah SWT telah memperingatkan mereka yang tidak mengindahkan perintah tersebut dengan sebutan kafir, zalim dan fasik.

Di seluruh dunia saat ini, negara sekuler modern telah banyak mengizinkan apa yang dilarang oleh Allah SWT, begitu pula sebaliknya. Contoh yang paling jelas dari perbuatan syirik tersebut adalah mengizinkan kegiatan pinjam-meminjam dengan bunga dan melarang menggunakan koin emas (Dinar) dan perak (Dirham) sebagai uang dalam perdagangan di pasar tradisional maupun internasional. Perbuatan seperti ini juga terjadi pada negara-negara Islam yang telah menghalalkan kegiatan pinjam-meminjam dengan bunga, yakni dengan mengizinkan Bank meminjamkan uang dengan bunga.

Hampir seluruh negara di dunia telah mengizinkan Bank meminjamkan uang dengan bunga, bahkan negara-negara Barat telah mengizinkan pernikahan sesama jenis. Negara yang tidak menerapkan hukum tanpa didasari petunjuk agama ini disebut negara sekuler. Definisi negara sekuler sendiri adalah negara yang menerapkan konsep sekulerisme, di mana sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama. Umat Islam di dunia saat ini berada dalam naungan sekulerisme sejak hancurnya Khilafah Utsmaniyah dan dibubarkannya institusi Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924.

Lalu, bagaimana Khilafah dihancurkan? Siapa yang menghancurkan? Kapan Khilafah dihancurkan? Mengapa dihancurkan?

Serangan Filsafat dan Ideologi

Hingga saat ini, umat Yahudi masih menanti-nantikan kedatangan Al Masih dan zaman keemasan. Dan mereka masih meyakini bahwa Tanah Suci (Yerusalem) adalah milik mereka, bukan milik orang non-Yahudi. Untuk mewujudkan impian ini, mereka terlebih dahulu harus merebut Yerusalem dari tangan umat Islam. Memang dahulunya beberapa umat Yahudi tinggal di Tanah Suci, namun mereka hidup di sana sebagai masyarakat dalam kekuasaan Islam, bukan memiliki atau menguasainya.

Oleh karena itu, untuk mengklaim Yerusalem sebagai milik mereka dan mendirikan Negara Bani Israil, mereka harus menghancurkan Khilafah Utsmaniyah yang menguasai Tanah Suci. Serangan pun dilancarkan untuk menghancurkan Khilafah. Namun kali ini, mereka tidak melancarkan serangan fisik terlebih dahulu, karena mereka tahu bahwa menyerang umat Islam secara fisik akan gagal mengingat kekalahan mereka pada Perang Salib. Pertama-tama mereka melancarkan serangan filosofi terhadap umat Islam, yang sebelumnya telah menyerang umat Kristen Eropa. Serangan filosofi tersebut adalah “Materialisme”, yakni filsafat yang menyatakan bahwa “Tidak ada yang nyata di dunia ini selain materi”.

Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di alam materi semata. Dengan kata lain, paham materialisme menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada hanyalah materi.[2] Materialisme tidak mengakui entitas-entitas non-material seperti roh, hantu, setan dan malaikat.[3] Sesuatu yang non-material tidak ada. Tidak ada Tuhan atau dunia adikodrati[4]. Setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini:

  1. Segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi (ma’dah).
  2. Tidak meyakini adanya alam ghaib.
  3. Menjadikan panca indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu.
  4. Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakan hukum.
  5. Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlak.
  6. Adalah sebuah paham garis pemikiran, dimana manusia sebagai nara sumber dan juga sebagai resolusi dari tindakan yang sudah ada dengan jalan dialetis. [5]

Eropa pada abad pertengahan

Sekitar abad ke-13 sampai abad ke-17, terjadi perubahan peradaban Eropa yang sebelumnya didasari dengan pondasi keagamaan berubah menjadi peradaban yang tak bertuhan. Perubahan peradaban Eropa tersebut dikarenakan terjadi gerakan budaya yang disebut Renaissance. Renaissance merupakan jembatan antara abad pertengahan dan zaman modern yang berarti “kelahiran kembali”. Renaissance awalnya terjadi di Italia. Selama abad 8-11, perdangangan di laut Mediterania dikuasai oleh pedagang muslim. Sejak berlangsung perang salib (abad 11-13), pelabuhan di Italia menjadi ramai kembali untuk memberangkatkan pasukan salib ke Yerusalem. Setelah perang salib berakhir, pelabuhan tersebut berubah menjadi kota dagang yang berhubungan kembali dengan dunia Timur. Di sana, muncul Republik dagang seperti Genoa, Florence, Venesia, Pisa di Milano, dll. Kota-kota ini dikuasai oleh para pengusaha serta pemilik modal yang kaya raya yang dikenal sebagai borjuis, seperti Medicci dari Florence.[6] Kemungkinan kuat pengusaha dan pemilik modal itu adalah Yahudi Khazar yang berimigrasi ke Eropa setelah kehancuran kerajaan mereka. Sebagaimana yang kami sampaikan pada bab “Ya’juj dan Ma’juj” bahwa para bangsawan Khazar berimigrasi ke Eropa Barat sedangkan rakyat biasa mereka berimigrasi ke Eropa Timur.

Renaissance terjadi setelah Abad Pertengahan, di mana  Abad Pertengahan merupakan zaman suram bagi orang-orang Eropa. Berbagai kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasi gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Agama Kristen Katolik sangat mempengaruhi kebijakan yang dibuat oleh para raja. Berbagai hal diberlakukan demi kepentingan gereja, dan hal-hal yang merugikan gereja akan mendapat balasan yang sangat kejam. Misalnya, inkuisi (peradilan untuk perbuatan bid’ah menurut Kristen) terhadap Nicolaus Copernicus (1473-1543) karena teori tata suryanya yang menyebutkan bahwa matahari adalah pusat dari galaksi. Penelitian astronominya menghasilkan otoritas astronomi tradisional yang didominasi oleh teori Aristoteles dan Ptolemaeus yang menolak bahwa bumi adalah pusat semesta. Copernicus dijatuhi hukuman mati oleh gereja.[7]

Adapun sebab utama lahirnya Renaissance adalah karena keterkejutan orang-orang Eropa menyaksikan Kekaisara Romawi Timur ditaklukkan oleh Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1453. Romawi Timur adalah Kerajaan Eropa yang besar dan maju, yang merupakan lambang supremasi Kaum Nasrani Eropa. Jatuhnya Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium di Konstantinopel membangkitkan semangat orang-orang Eropa. Sebelumnya mereka hampir putus asa setelah Konstantinopel diserang bangsa Mongol, ditambah dengan dikuasainya Spanyol dan Portugal oleh umat Islam, lalu menyusul penaklukkan Utsmaniyah atas Bulgaria, Yugoslavia, Rumania dan seluruh Balkan.[8]

Melalui Renaissance, seluruh kebudayaan Barat seolah-olah lahir kembali setelah tidur nyenyak pada abad pertengahan. Tiga faktor yang mempercepat Renaissance adalah tiga penemuan: mesiu, seni cetak dan kompas. Mesiu menyebabkan runtuhnya kekuasaan feodal di mana senjata dapat dimiliki oleh kaum Proletariat[9]. Mesiu sendiri ditemukan oleh bangsa China dan digunakan untuk melawan invasi Mongol. Namun, catatan formula (rumus) mesiu tersebut muncul dalam bentuk naskah pada masa Dinasti Song abad ke-11. Sedangkan ‘seni cetak’ berarti bahwa pengetahuan tidak lagi dimiliki secara khusus oleh kaum elit, melainkan terbuka untuk semua orang. Kompas berarti navigasi telah aman dan memungkinkan orang-orang Eropa untuk berlayar dan memperluas kekuasaan.

Pada abad Renaissance, orang Eropa menemukan kesadaran akan dua hal, yakni dunia dan dirinya sendiri. Pengenalan diri berarti sadar akan nilai pribadi dan kekuatan individual. Ahli waris gerakan Renaissance adalah humanisme. Dan dari humanisme inilah muncul filsafat baru yang disebut materialisme.

Istilah-istilah filsafat yang diciptakan Eropa dan bangsa Romawi sungguh banyak, seperti Humanisme, Materialisme, Idealisme, Positivisme, dan lain-lain. Padahal definisi di antara semuanya hanya berbeda sedikit. Namun yang menariknya, dalam agama Islam, filsafat tersebut disebut sebagai penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati. Penyakit inilah yang telah menyerang umat Islam saat ini. Namun perlu ditekankan bahwa Islam tidak melarang ilmu pengetahuan dan sains. Bahkan ilmu pengetahuan teknologi dan sains yang ada di zaman modern ini sudah ada sejak diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh R. Briffault dalam bukunya yang berjudul ‘The Making of Humanity’, “Sains sebelum Islam tidak ilmiah. Dunia tidak mengetahui sains sebelum datangnya Islam.”

Menurut Maulana Fazlur Rahman Ansari (rahimahullah), dasar ilmu pengetahuan alam didasarkan pada tiga prinsip, yakni kesatuan umat manusia, kesatuan pengetahuan, dan kesatuan alamiah. Orang pertama yang memberikan prinsip-prinsip kesatuan ini (tawhīd) adalah Nabi Muhammad saw. Bahkan 3/4 ayat-ayat Al-Qur’an mengacu pada fenomena alam.[10]

Saat ini, beberapa Muslim berfikir bahwa seorang a’lim adalah orang yang mempelajari Fiqh, Tafsīr, dan Ḥadīth. Betapa kelirunya mereka! Tahukah anda bahwa Imām Abū Hanīfa menulis sebuah risalah sains dengan persamaan matematika? Persamaan tersebut dapat ditemukan di Perpustakaan Internasional di Perancis.[11] Jabir ibn Hayyan yang merupakan ahli kimia menemukan senyawa asam yang sangat penting seperti sulfur dan nitrat pada abad ke-8. Ibn a-Haytham yang mengamati cahaya yang datang dari lubang kecil di jendela dalam keadaan gelap, kemudian menghasilkan gambar terbalik di dinding, dan hal inilah yang merupakan dasar-dasar teknologi kamera saat ini.[12] Masih banyak ilmuan Islam lainnya seperti Imām Ghazzālī, Imām Fakhruddīn al-Rāzī, Imām Syāfi’ī dan cendekiawan hebat lainnya dalam beberapa bidang ilmu pengetahuan dan mereka adalah orang-orang yang saleh. Rasulullah saw bersabda tentang ilmu pengetahuan:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”[13]

Segala macam kendaraan modern yang diciptakan orang-orang Barat saat ini, yang mana belum ada di zaman Rasulullah saw, juga telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an.

dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.

(Q.S An Nahl, 16: 8)

Dalam Islam tidak ada pembagian pengetahuan sakral dan duniawi, dan karena itu, menuntut ilmu pengetahuan alam merupakan sebuah tindakan ‘ibadah’. Memang benar bahwa level tertinggi dari pengetahuan adalah pengetahuan dīn (agama), tapi dalam proses pengetahuan tersebut, seseorang tidak bisa memahami tingkat tertinggi pengetahuan kecuali orang tersebut menaklukkan level yang paling rendah, yakni hawa nafsu.[14]

Menurut Maulana Fazlur Rahman Ansari (rahimahullah), penaklukkan terdiri dari tiga jenis, yakni menaklukkan diri sendiri, menaklukkan lingkungan sekitar, dan menaklukkan alam.[15] Namun sebelum menaklukkan ketiganya, seorang Muslim harus menaklukkan hawa nafsunya terlebih dahulu. Dengan cara apa? Jawabannya adalah Tazkiyah (pemurnian atau pensucian). Awalnya, Tazkiyah berarti ‘memangkas tanaman, untuk menghilangkan sesuatu yang membahayakan pertumbuhan tanaman tersebut’. Jadi tazkiyah adalah untuk memurnikan diri demi perkembangan karakter. Ketika hal tersebut diterapkan pada kepribadian manusia, maka itu berarti untuk mempercantik dan menghapus dari semua bekas kejelekan dan penyakit spritual yang menghambat diri kita untuk merasakan keberadaan Allah SWT.[16] Ketika pemurnian ini selesai dilakukan, maka kepribadian manusia akan berfungsi di bawah perintah bagian diri yang lebih tinggi. Tazkiyah ini merupakan bagian dari Al Ihsan.

Bagian diri yang paling rendah (nafs) berfungsi pada dasar naluri, yakni naluri rasa lapar, seks, penghasilan, hasrat untuk menjadi kaya dan tuntutan diri sendiri. Bagian diri yang lebih tinggi, bagaimanapun, mendambakan nilai-nilai kebenaran, keindahan, kesucian, keharmonisan dan terakhir hubungan erat dengan Allah SWT. Kecuali kalau jasmani diri ini (nafs) mengendalikan bagian diri yang lebih tinggi dari seseorang, meskipun manusia, dia akan bertingkah seperti binatang.[17]

Perjuangan menaklukkan bagian diri yang paling rendah ini (al-nafs al-ammārah) merupakan perjuangan yang besar (jihād al-akbar). Jadi, semua pengabdian keagamaan, latihan spritual dan pembelajaran ini diarahkan menuju jihād atau perjuangan untuk menjinakkan duniawi diri dan untuk berfungsi di bawah perintah bagian diri yang lebih tinggi. Hal ini akan memungkinkan semua perilaku untuk memiliki sebuah etika dan bukannya sebuah dasar naluriah. Naluri diri tersebut adalah hasrat hendak menjadi kaya, kuat dan kesenangan. Kadang naluri diri muncul dalam bentuk badai yang sedang mengamuk; kemudian manusia tersebut akan berperilaku brutal. Memperhatikan manusia manapun yang sedang marah di luar kendali, terlihat seperti seseorang yang berperilaku seperti binatang.[18]

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia (jika dia masih juga berhasrat) ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

(Q.S At Tiin, 95: 4-6)

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

(Q.S Asy Syams, 91: 7-10)

Di zaman kemunduran ini, kita diajarkan bahwa pengetahuan hanyalah tiga jenis, yaitu Fiqh, Tafsīr, dan Ḥadīth. Siapapun yang mempelajari selain tiga hal tersebut akan menjadi setan. Ini dinyatakan oleh orang yang disebut Muslim yang saleh. Tapi mereka berkata: “Kita ingin menciptakan Negara Islam sekali lagi.” Bagaimana? Dengan apa? Dengan membaca ribuan tasbīh sehari semalam tanpa henti? Ketika musuh Islam menjadi kuat dan superpower dengan dukungan senjata berteknologi canggih, sementara umat Islam menjadi lemah tak berdaya dan hancur dalam serangan yang dilancarkan musuh seperti efek domino. Ketika runtuh, umat Islam menjadi budak, bahkan non-Muslim yang lemah pun menjadi budak mereka yang kini menguasai peradaban barat modern.

Semua ini berawal ketika orang-orang Eropa, yang telah disusupi Yahudi Khazar, mengusir umat Islam dari Spanyol dan menaklukkan Baghdad. Mereka mencuri penemuan-penemuan Ulama Islam terdahulu dan kemudian menggunakannya pada zaman Renaissance. Sementara umat Islam jauh tertinggal, bahkan hampir sebagian dari Muslim menjadi bodoh hingga kita tidak tahu bahwa ekonomi saat ini telah banyak menerapkan Riba. Jika kondisi umat Islam masih seperti ini, maka Islam hanya akan menjadi kenangan masa lalu.

Kembali pada fisafat ciptaan Eropa yang menyerang umat Islam, yakni Humanisme dan Materialisme Barat yang menyebabkan manusia merasa bebas dari doktrin tradisi dan agama. Perlahan-lahan kaum humanis telah melepaskan tujuan akhirat dan menerima batas-batas dunia yang dihadapinya. Kemudian dari filsafat “humanisme” dan “materialisme”, lahir ideologi politik baru, yakni “sekulerisme”.

Sejarah sekuler sudah ada sejak masa Abad Pertengahan yang merupakan masa paling suram bagi orang Eropa. Marthin Luther dan John Calvin adalah sumber awal yang secara tidak langsung menimbulkan adanya seruan untuk menjadi sekuler. Pada masa kegelapan di Eropa, Agamawan menjadi penguasa Negara yang Korup. Marthin menemukan berbagai macam kesalahan yang dilakukan oleh gereja mengenai Injil, inkuisi gereja terhadap manusia-manusia seperti Nicolaus Copernicus dan Gallileo Galilei sebagai seorang ilmuan yang dianggap menentang kekuatan gereja.

Namun ideologi sekuler masih sebatas dalam kalangan penentang gereja hingga akhirnya Perancis menjadi negara yang pertama kali menerapkan ideologi sekulerisme secara resmi setelah terjadinya revolusi pada tahun 1789. Revolusi Perancis merupakan revolusi yang sengaja dirancang oleh organisasi Illuminati yang dibiayai Rothshcild demi terciptanya negara sekuler. Rothschild sangat senang ketika revolusi Perancis terjadi, karena konstitusi baru tercipta dan meloloskan undang-undang yang melarang Gereja Roma dari pengadaan persepuluhan (pajak) dan juga menghilangkan pembebasan Gereja dari pajak.[19]

Ideologi sekuler inilah yang kemudian menyerang dunia Islam di zaman Khilafah Utsmaniyah. Sejak sekulerisme menyebar ke seluruh dunia, khususnya dunia Islam, negara tidak lagi mengakui kedaulatan Tuhan. Bahkan hukum-hukum agama tidak lagi diterapkan dalam negara, dan hukum agama digantikan oleh hukum manusia, karena manusia tidak lagi bergantung pada hal-hal yang bersifat agama sejak filsafat humanisme dan materialisme menyerang.

Di zaman modern ini, mereka menyatakan dalam Piagam PBB Artikel 24 dan 25, bahwa “Dewan Keamanan PBB memiliki kewenangan tertinggi di dunia yang berkaitan dengan perdamaian dan keamanan dunia.” Ini jelas adalah syirik!

Chapter V: The Security Council[20]

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahibnya sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan”

(Q.S At Taubah, 9: 31)

Adi bin Hatim ra berkata: Saya mendatangi Rasulullah saw dengan mengenakan kalung salib dari perak di leherku. Rasulullah saw bersabda, “Wahai Adi, lemparkanlah patung itu dari lehermu.” Kemudian saya melemparkannya. Setelah itu, Beliau membaca ayat ini: Ittakhadzû ahbârahum wa ruhbânahum min dûni Allâh, hingga selesai. Saya berkata, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.” Beliau bersabda: “Bukankah para pendeta dan rahib itu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kalian mengharamkannya; menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya.” Aku menjawab, “Memang begitulah.” Beliau bersabda, “Itulah ibadah (penyembahan) mereka kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka.”[21]

Jika para rahib dan pendeta menghalalkan apa yang Allah SWT haramkan adalah perbuatan syirik, apakah jika pemerintah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para rahib dan pendeta itu bukan syirik?

Jadi, dengan serangan filsafat “materialisme” dan ideologi sekulerisme itulah orang Eropa menyerang Khilafah Utsmaniyah sebelum melakukan serangan militer. Lalu mereka mengirim agen mata-mata (Al Jassasah) untuk menyusupi pusat pemerintahan Khilafah Utsmaniyah di Istanbul, dan menciptakan gerakan yang dikenal dengan “Young Turks”. Kemudian gerakan ini mendirikan sebuah partai politik yang bernama “Komite Persatuan dan Perkembangan” atau “Committee of Union and Progress”. Komite ini dibentuk pada tahun 1889 di Istanbul oleh ilmuan dan cendekiawan Turki, yakni Ibrahim Temo, Mehmed Reshid, Abdullah Cevdet, Behaeddin Shakir, Ali bey Huseynzade, dan lain-lain.  Kemudian Komite tersebut dipindahkan ke Jenewa tahun 1891, dan dipindahkan lagi ke Paris, kemudian ke Tesalonika tahun 1906 di mana mendapat dukungan dari Yahudi dan Freemason di sana yang merupakan elemen penting dalam penduduk pelabuhan besar Mecedonia.[22]

Mustafa Kemal Atatürk

Satu tahun kemudian, 1907, Mustafa Kemal Atatürk, seorang letnan Turki ditempatkan di tanah kelahirannya, Tesalonika dan kemudian bergabung dengan Komite Persatuan dan Pembangunan. Sebelumnya, Mustafa ditempatkan di Damaskus, di mana setelah itu bergabung dengan sebuah kelompok rahasia kecil yang terdiri dari perwira-perwira yang menginginkan pembaruan yang disebut Vatan ve Hürriyet (Tanah Air dan Kemerdekaan), dan menjadi penentang aktif Khilafah Utsmaniyah.

Tahun 1908, gerakan Turki Muda melancarkan revolusi dan berhasil mengendalikan pemerintahan Utsmaniyah. Mereka menuntut untuk dibentuk kembali Konstitusi Parlemen. Tiga dekade sebelumnya, tahun 1876, Konstitusi Parlemen sempat berlaku selama 2 tahun hingga akhirnya dibubarkan oleh Sultan Abdul Hamid II, dan dia menggantinya dengan Monarki Absolut. Revolusi ini tidak hanya mengubah Khilafah Utsmaniyah, tapi juga memainkan peran penting dalam reformasi di Timur Tengah dan Balkan, dan kemudian menjadi pemicu penciptaan politik agama modern.[23]

Setelah kekuatannya bangkit, gerakan Turki Muda melalui Partai Persatuan dan Perkembangan memperkenalkan program-program yang memodernisasikan Khilafah Utsmaniyah dan semangat Nasionalisme Turki. Mereka juga merupakan reformis Utsmaniyah pertama yang mempromosikan Industrialisasi. Selain itu, gerakan Turki Muda mensekulerkan sistem hukum dan memberikan pendidikan kepada kaum perempuan. Gerakan Turki Muda menggeser kekuasaan dalam berbagai kelompok agama dan etnis Utsmaniyah yang pernah aktif sebagai organisasi politik oposisi sebelum revolusi.[24]

Menjelang Perang Dunia I, Pemerintah Utsmaniyah memiliki hubungan dekat dengan dua kekuatan regional, yakni Inggris yang merupakan pelindung utama dari ekspansi Rusia, dan Jerman yang memiliki kepentingan ekonomi yang semakin besar di Timur Tengah, termasuk kereta api Berlin ke Baghdad. Prusia (sekarang Jerman) telah diberikan tanggung jawab untuk melatih Angkatan Darat Utsmaniyah pada awal 1822 dan pemerintah yang baru mempertahankan hubungan ini. Pada tahun 1913, Jenderal Jerman Otto Liman von Sanders tiba di Konstantinopel sebagai kepala misi militer negaranya, dia juga merupakan Kepala Staf militer Utsmaniyah.

Untuk menyeimbangkan kekuatan, gerakan Turki Muda mengundang Inggris untuk meningkatkan Angkatan Laut mereka. Mereka memesan dua kapal perang Dreadnoughts yang akan dibuat di Inggris.[25]

Setelah berhasil menyerang dengan filsafat Materialisme, barulah mereka mulai merancang skenario untuk menyerang Khilafah Utsmaniyah dari segi militer. Namun mereka harus merencanakannya dengan sangat matang dan dengan bantuan dana dan politik yang sangat besar. Jauh sebelum itu, mereka telah menghasilkan banyak dana dengan cara ‘Riba’, seperti yang dilakukan Keluarga Rothschild di Eropa. Bahkan kekayaan Rothschild meningkat pesat setelah mereka merancang peperangan antara Inggris dan Perancis.

Hal aneh lainnya juga terjadi, kekayaan mereka meningkat pesat setelah ditemukannya berlian (Kimberly Diamond) di Afrika Selatan pada pertengahan abad ke-19. Tahun 1866, Erasmus Jacobs, anak seorang petani yang berumur 15 tahun menemukan berlian Afrika pertama di dekat Sungai Orange, Hopetown. Kemudian tahun 1869, seorang gembala Griqua di Hopetown menemukan Dudley Diamond (Bintang Afrika Selatan) 83,5 karat berlian kasar. Hal ini memicu perburuan perburuan berlian pertama. Tahun 1870 saat berumur 17 tahun, Cecil Rhodes tiba di Afrika Selatan, dan kemudian menyelamatkan uangnya dengan cara menjual es pada para penambang yang bekerja di bawah terik matahari Afrika. Melalui perusahaannya De Beers yang didirkan tahun 1888 dan didanai oleh Rothschild, dia menguasai kawasan tersebut dan menjual berlian itu dengan harga yang sangat tinggi, karena mereka telah menguasai pasar Internasional dan menciptakan monopoli melalui aliansi De Beers. Peristiwa ini tidak lah terjadi kebutulan. Rasulullah saw bersabda:

“Dan ia (dajjal) melalui hutan rimba, dan ia berkata kepadanya: Keluarkanlah kekayaanmu, maka kekayaaan rimba itu mengikuti dia, bagaikan lebah mengikuti ratunya”[26]

Juga pada saat yang sama, hal aneh lainnya juga terjadi, yakni “Revolusi Industri” (sains & teknologi) di Inggris pada abad ke 18-19, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Dengan teknologi yang luar biasa, mereka dengan mudahnya mengeruk kekayaan yang ada di bumi dan dimanfaatkan demi agenda mereka.

Perang Dunia Pertama

Dengan kekayaan yang sudah melimpah, saatnya bagi mereka melancarkan serangan militer terhadap Kesultanan Utsmaniyah dan mengendalikan dunia. Sesuai rencana yang dirancang Albert Pike, Perang Dunia dilancarkan untuk menghancurkan Tsar Rusia, terutama Khilafah Utsmaniyah, sebab Khilafah Utsmaniyah adalah imperium yang sangat kuat yang mampu memobilisasi umat Islam dalam sekejap dengan mendeklarasikan “Jihad”.

Untuk melancarkan perang fisik, terlebih dahulu mereka harus merancang sebuah konspirasi. Saat itu terdapat 6 kekuatan besar Eropa, yakni Britania Raya, Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah, Kekaisaran Russia, dan Republik Perancis.

Pembunuhan Franz Ferdinand

Konspirasi pun di rancang dengan kasus “Pembunuhan Putra Mahkota Pewaris Tahta Austria-Hongaria” Franz Ferdinand Carl Ludwig Joseph Maria pada tanggal 28 Juni 1914. Pembunuhan yang meletuskan Perang Dunia Pertama ini dilakukan oleh Gavrilo Princip, anggota Young Bosnia dan Crna Ruka (Tangan Hitam) yang berambisi mendirikan negara Yugoslavia dan bebas dari intervensi Austria-Hongaria.[27] Meskipun pembunuhan ini meletuskan Perang Dunia I, namun hal ini bukanlah satu-satunya alasan terjadinya perang. Ada masalah yang lebih serius yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Otto von Bismarck

Tahun 1870-1871, Prussia (sekarang Jerman) mengalahkan Perancis pada pertempuran Franco-Prussian War dan menyebabkan berdirinya Kekaisaran Jerman melalui Unification of Germany. Meskipun Kekaisaran Jerman saat itu dipimpin oleh Kaisar Wilhelm I, namun Wilhelm I lebih suka menyerahkan urusan pemerintahannya kepada Kanselir Jerman (Perdana Menteri), yakni Otto von Bismarck. Bismarck yang terkenal dengan kejeniusannya dalam berpolitik menginginkan agar Jerman sejahtera melalui kestabilan politik luar negeri. Untuk mencapai tujuannya itu, dia merumuskan kebijakan politik luar negeriniya dalam 4 poin:

  1. Dari semua negara tetangga, Perancis lah yang sangat dendam kepada Jerman. Bukan hanya karena kalah dalam pertempuran Franco-Prussian War, Jerman juga merebut 2 provinsi Perancis, yakni Alsace dan Lorraine. Oleh karena itu, Bismarck segera mengisolasi Perancis, mengintervensi ekonominya dan mencegah Perancis untuk tidak bersekutu dengan negara Eropa yang kuat.
  2. Salah satu tetangga Jerman yang paling dekat adalah Austria-Hongaria. Dengan begitu, Bismarck segera mendekati Austria-Hongaria untuk menjadi sekutu Jerman.
  3. Negara tetangga di bagian timur, Jerman mendekati Kekaisaran Rusia yang berpenduduk ratusan juta lebih. Bismarck tahu bahwa jika Jerman berperang melawan Rusia, Jerman akan hancur. Bismarck merasa bahwa Jerman membutuhkan sumber daya alam Rusia, begitu pun Rusia membutuhkan barang berteknologi dari Jerman. Oleh karena itu, Jerman bekerja sama dengan Rusia dalam bidang ekonomi dan militer.
  4. Di seberang lautan, ada kekuatan kolonial terbesar di dunia, yakni Britania Raya. Hubungan antara Jerman-Britania tidak terlalu dekat, hanya sebatas persaingan ekonomi. Ekonomi Jerman juga bergantung pada kapal ekspor-impor yang melewati perairan Britania. Bismarck merasa bahwa Jerman jangan sampai mengganggu Britania, karena seandainya Britania membantu Perancis, ekspor-impor Jerman tidak akan bisa dilakukan lewat laut.

Tahun 1873, Bismarck berhasil membentuk persekutuan antara Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Rusia dan Austria-Hongaria, dikenal sebagai League of the Three Emperors. Tujuan Bismarck adalah menciptakan Eropa yang damai dan menyeimbangkan kekuatan.[29] Bismarck sering memimpin Liga tersebut karena tujuannya untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di antara negara yang terlibat dan Eropa pada umumnya. Filsafat politik Bismarck ini melestarikan status quo dan menghindari peperangan. Meskipun Perancis diisolasi, Bismarck tidak mau memusuhi dan menyerang Perancis, dan hanya sekedar membatasi kekuasaannya.[30]

Tahun 1878, terjadi perselisihan politik antara Austria-Hongaria dan Rusia di mana Rusia menancapkan pengaruhnya di Balkan dan mendukung Serbia. Tahun 1887, Rusia memisahkan diri dari League of the Three Emperors karena konflik kepentingan antara Austria-Hongaria dan Rusia di Balkan, dan posisi Rusia digantikan oleh Italia. Untuk menghindari perselisihan dengan Rusia, Bismarck berusaha meyakinkannya bahwa Jerman tidak akan menghalangi kepentingan Rusia di Balkan, dan secara diam-diam, Rusia-Jerman menandatangani perjanjian rahasia yang dikenal sebagai Reinsurance Treaty. Perjanjian ini menjamin adanya sikap netral Jerman dan Rusia selama tiga tahun jika terjadi Perang Eropa. Akan tetapi, perjanjian tidak berlaku jika terjadi serangan Jerman terhadap Perancis dan serangan Rusia terhadap Austria-Hongaria. Dalam perjanjian rahasia ini Jerman menyetujui pengaruh Rusia di Bulgaria dan Rumelia Timur (sekarang bagian dari Bulgaria Selatan) dan setuju untuk mendukung aksi Rusia dalam mengontrol Laut Hitam sebagai bagian dari kekuasaannya.[31]

Tahun 1888, Kaisar Wilhelm II naik tahta. Berbeda dengan kakeknya Wilhelm I yang menyerahkan urusan negara kepada Bismarck, Wilhelm II memiliki ambisi besar akan militerisme. Bismarck yang selama ini ingin Jerman damai, mulai dianggap sebagai penghalang bagi Kaisar baru, dan kemudian perlahan-lahan Wilhelm II mengurangi pengaruh politik Bismarck. Pada akhirnya, Bismarck mengundurkan diri pada 20 Maret 1890.[32] Pada tahun tersebut, Rusia menemui pihak Jerman untuk memperpanjang Reinsurance Treaty, tapi Wilhelm II menolak untuk memperpanjangnya karena Wilhelm II ingin melebarkan pengaruh Jerman ke daerah Timur Tengah, yang juga menjadi sasaran Rusia. Hal ini menyebabkan Rusia dengan cepat bergabung dengan Perancis dalam Franco-Russian Military Convention.[33] Wilhelm II juga berusaha menigkatkan armada lautnya, dan ini membuat Inggris merasa terancam.

Setahun sebelum kematiannya, 1897, Bismarck meramalkan bahwa, “Suatu hari akan ada perang hebat yang menimpa seluruh Eropa karena kebodohan di daerah Balkan.”[34] Tepat seperti yang diprediksi Bismarck, perang besar terjadi 17 tahun kemudian.

Fashoda IncidentWilhelm II merasa bahwa Inggris tidak akan mau memusuhi Jerman, karena saat itu Inggris dan Perancis sedang memperebutkan wilayah jajahan di Afrika dalam krisis Fashoda Incident, belum lagi Inggris dan Rusia juga sedang memperebutkan wilayah jajahan di Asia Tengah (The Great Game). Namun, ternyata Wilhelm II salah perhitungan. Inggris menganggap persaingan wilayah jajahan di Afrika dan Asia Tengah tidak lebih penting dari ancaman terhadap tanah air sendiri oleh kapal-kapal perang Jerman.

Fashoda Incident

Akhirnya, 8 April 1904 Inggris dan Perancis menandatangani kesepakatan yang dikenal sebagai Entente Cordiale untuk menyelesaikan masalah wilayah jajahan mereka dan membentuk pemahaman diplomatik antar kedua negara.[35] Tahun 1907, Inggris dan Kekaisaran Rusia juga melakukan hal yang serupa dengan menandatangani kesepakatan serupa. Aliansi ini dikenal dengan Triple Entente. Dengan begitu, Jerman dan Austria-Hongaria praktis berhadapan dengan Inggris-Perancis-Rusia.[36]

Austria-Hungary, 1914

Semakin meningkatnya intensitas konflik antara Austria-Hongaria di Balkan, ditambah lagi tebunuhnya Franz Ferdinand oleh kaum nasionalis Serbia, menyebabkan ketegangan di Eropa semakin meningkat. Pada bulan Juli 1914, terjadi manuver politik di antara Austria-Hongaria, Jerman, Rusia, Perancis, dan Inggris, yang disebut Krisis Juli. Karena juga ingin menghentikan intervensi Serbia di Bosnia, Austria mengirimkan Ultimatum ke Serbia, yaitu sepuluh permintaan yang sengaja dibuat tidak masuk akal dengan tujuan memulai perang dengan Serbia.[37] Tuntutan tersebut adalah:

  1. Menghentikan semua propaganda anti Austria-Hongaria
  2. Membubarkan organisasi “Narodna Odbrana” yang dipercaya berada di balik pembunuhan ini
  3. Menghilangkan semua materi anti Austria-Hongaria dari buku pelajaran dan publikasi pemerintah
  4. Memecat semua anggota militer dan pegawai pemerintah yang terlibat kegiatan propaganda anti Austria-Hongaria
  5. Menerima perwakilan kekaisaran Austria-Hongaria untuk mengawasi kegiatan tuntutan atas propaganda terhadap Austria-Hongaria
  6. Mengadili semua orang yang diduga terlibat pembunuhan putra mahkota di bawah pengawasan perwakilan Austria-Hongaria.
  7. Menangkap walikota Voija Tankositch dan pegawai pemerintah yang bernama Milan Ciganovich, yang terlibat dalam pembunuhan
  8. Menghentikan dan mencegah penyelundupan senjata dari wilayah Serbia.
  9. Mengakui keterlibatan warga negara, pegawai pemerintah, dan militer Serbia dalam pembunuhan tersebut.
  10. Melapor kepada pemerintah Austria-Hongaria tentang semua perkembangan terkait ultimatum ini.[38]

Ketika Serbia tidak sanggup menyetujui tuntutan nomor 6, Austria-Hongaria akhirnya menyatakan perang pada tanggal 28 Juli 1914. Dengan segera, kekuatan besar Eropa ikut ke dalam perang. Berikut ini urutan peristiwa yang membuat Perang Dunia tidak bisa dihindari:

  1. Austria-Hongaria, tidak puas dengan jawaban Serbia terkait ultimatum nya dan menyatakan perang terhadap Serbia pada 28 Juli 1914
  2. Rusia terikat perjanjian dengan Serbia dan mengumumkan mobilisasi tentara yang besar dalam pertahanannya. Namun proses mobilisasi tersebut lambat dan akan memakan waktu sekitar enam minggu.
  3. Jerman bersekutu dengan Austria-Hungaria melalui perjanjian, dan melihat mobilisasi Rusia sebagai tindakan perang terhadap Austria-Hungaria, dan kemudian menyatakan perang terhadap Rusia pada 1 Agustus 1914.
  4. Perancis terikat oleh perjanjian dengan Rusia, dan akhirnya berperang melawan Jerman. Perancis juga menyatakan perang terhadap Austria-Hungaria. Jerman dengan cepat menginvasi Belgia (negara netral) agar mencapai Paris dengan rute yang sesingkat mungkin.
  5. Inggris yang bersekutu dengan Perancis menyatakan perang melawan Jerman pada tanggal 4 Agustus. Seperti Perancis, Inggris juga berperang melawan Austria-Hungaria.
  6. Dengan masuknya Inggris ke dalam perang, negara jajahan menawarkan bantuan militer dan keuangan, termasuk Australia, Kanada, India, Selandia Baru dan Uni Afrika Selatan.
  7. Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson menyatakan kebijakan AS bersikap netral mutlak.
  8. Jepang menghormati perjanjian militer dengan Inggris, dan menyatakan perang terhadap Jerman pada tanggal 23 Agustus 1914. Dua hari kemudian Austria-Hungaria menanggapinya dengan menyatakan perang terhadap Jepang.
  9. Meskipun bersekutu dengan Jerman dan Austria-Hungaria, Italia mampu menghindari peperangan. Singkatnya, Italia berkomitmen untuk membela Jerman dan Austria-Hungaria hanya dalam hal perang bertahan. Tahun berikutnya, pada Mei 1915, Italia akhirnya bergabung ke dalam perang dengan berpihak pada Sekutu (Inggris, Perancis, dll) dan melawan dua mantan sekutunya (Jerman dan Austria-Hongaria).[39]

the Triple Entente and the Triple Alliance

Ketika tahu bahwa Inggris akan ikut perang jika Jerman menyerang Perancis, Kaisar Wilhelm II panik. Wilhelm II segera menghubungi panglimanya, Helmuth von Moltke, untuk segera merubah Schlieffen Plan dengan mengalihkan serangan ke Rusia. Helmuth berkata bahwa itu mustahil, dan mendengar hal tersebut, Wilhelm II berkata, “Pamanmu akan memberikan saya jawaban yang berbeda.”[40] Hal tersebut jadi tidak mungkin dikarenakan Schlieffen Plan. Apa itu Schlieffen Plan?

The Schlieffen Plan

Ketika ketegangan dimulai sejak 1890an, militer Jerman sudah melakukan perencanaan darurat militer. Rencana tersebut adalah Schlieffen Plan. Nama tersebut berasal dari nama Marsekal Count Alfred von Schlieffen, seorang atase militer di Paris 1867 – 1869 dan panglima tentara Jerman hingga 1906. Rencana ini adalah taktik militer darurat seandainya nanti Jerman akan menghadapi perang melawan Perancis dan Rusia di saat bersamaan. Inti rencana ini adalah memusatkan 90% tentara Jerman untuk menerobos Belgia, lalu merebut Paris. Kemenangan atas Perancis dalam enam minggu adalah penting untuk memulihkan kembali kekuatan sebelum berperang melawan Rusia. Setelah Paris direbut, Perancis akan menyerah, dan kemudian tentara Jerman dikerahkan ke Timur untuk menyerang Rusia.[41]

Berdasarkan taktik darurat ini, pejabat militer Jerman sudah dilatih sejak lama untuk mengeksekusi rencana ini. Schlieffen Plan ini sudah terdoktrin dalam otak semua tentara Jerman. Begitu Franz Ferdinand terbunuh, semua angkatan bersenjata Jerman (karena Jerman bersekutu dengan Austria) langsung melaksanakan Schlieffen Plan ini secepat mungkin, dari Jendral tertinggi sampai kopral terendah. Semuanya bergerak dan tahu apa yang harus dilakukan, tanpa perlu komando dari pusat. Oleh karena itu akan membutuhkan waktu yang lama jika rencana ini dihentikan atau dirubah, apalagi komunikasi yang paling canggih saat itu hanyalah telegram. Juga, setiap tingkatan militer Jerman akan kebingungan jika mendapat perintah untuk pembatalan rencana, dan mereka akan meminta konfirmasi ulang kepada setiap atasannya. Itukah kenapa Helmuth mengatakan bahwa tidak mungkin untuk merubah rencana tersebut.[42]

kapal perang SMS Goeben dan kapal penjelajah SMS Breslau

Ketika perang berlangsung, Khilafah Utsmaniyah berusaha ditarik ke dalam perang, tapi Khalifah di Istanbul tidak ingin karena dia tahu betapa lemahnya pasukan Khilafah Utsmaniyah dalam hal teknologi militer. Bulan Agustus 1914, Armada Inggris berusaha mengejar Mittelmeerdivision Jerman di Laut Mediterania yang terdiri dari kapal perang SMS Goeben dan kapal penjelajah SMS Breslau. Kemudian kapal-kapal Jerman menghindari armada Inggris dan melewati Dardanella untuk mencapai Istanbul, di mana kedua kapal tersebut akhirnya diserahkan kepada Kekaisaran Ottoman. Berganti nama menjadi Yavuz Sultan Selim dan Midili, keduanya diperintahkan oleh komandan Jerman, Admiral Wilhelm Souchon, untuk menyerang posisi Rusia, dan hal ini menyebabkan Khilafah Utsmaniyah masuk ke dalam perang di sisi Blok Sentral (Jerman dan Austria-Hongaria).[43] Meskipun tindakan komandan Jerman tersebut tanpa izin pemerintah Utsmaniyah, namun Khalifah di Istanbul membiarkan kesan tersebut dan tidak membantah aksi komandan itu. Karena alasan hubungan buruk dengan Kekaisaran Russia, tidak mau bergabung dengan Inggris yang sering melanggar janji, dan tidak ingin kehilangan persekutuan dengan Jerman lah yang membuat Khalifah membiarkannya.

Europe 1914

Pada akhirnya, keputusan pemerintah Utsmaniyah untuk membantu Jerman dalam Perang Dunia I harus dibayar sangat mahal dengan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Khilafah Utsmaniyah dikalahkan oleh diplomasi dan serangan militer Inggris melalui agen mata-mata (Al Jassasah) dan Jendral mereka. Agen mata-mata dan Jendral Inggris tersebut adalah T.E. Lawrence dan Sir Edmund Allenby.

Perbandingan wilayah Kesultanan Ottoman sebelum terlibat perang (kiri) – dibandingkan perpecahan wilayah timur tengah paska perang dunia 1 (kanan)

Inggris melalui agennya menancapkan pengaruhnya di Semenanjung Arab dengan membujuk Husain bin Ali, selaku Syarif Mekkah, untuk memberontak melawan Khilafah Utsmaniyah. Mereka membayar Husain sebesar 6.000.000 pounds dan membantu pasukan Husain dalam mengalahkan pasukan Utsmaniyah di Hijaz.[44] Pada tanngal 27 Juni 1916, mengeluarkan proklamasi di mana ia mengumumkan dirinya, sebagai keturunan langsung dari Muhammad saw, dan sebagai pemimpin sejati dari iman Islam. Dalam hal ini ia secara efektif berusaha untuk menggulingkan Khalifah Utsmaniyah Mehmed V sebagai pemimpin spiritual, yang dianggap sebagai boneka pemerintahan Turki Muda. Tujuan Hussein dalam memulai Revolusi di Arab adalah mendirikan negara Arab tunggal yang merdeka dan terpadu yang terbentang dari Aleppo (Suriah) sampai Aden (Yaman), berdasarkan tradisi kuno dan budaya orang-orang Arab.[45] Dengan begitu Khilafah kehilangan legitimasinya, seorang Khalifah (Amir) tidak lagi bisa menunaikan ibadah haji semaunya, sebab yang menguasai haramain berada dalam genggaman otoritas lain.

T.E. Lawrence adalah seorang pakar arkeolog, petualang, ahli strategi militer, dan penulis buku “The Seven Pillars of Wisdom (1927)”. Tahun 1911, Lawrence berada di Suriah dan ikut serta dalam sebuah ekspedisi arkeologi yang menggali situs Het Karkemis di Efrat. Dia bekerja di Mesir menjadi bawahan Sir Flinders Petrie yang juga merupakan arkeolog. Selama beberapa tahun Lawrence memperoleh pengetahuan tentang bahasa dan kebiasaan orang-orang Arab. Setelah pecahnya Perang Dunia I, ia ditugaskan menjadi mata-mata sebagai orang yang ahli di Arab. Pada tahun 1916 ia bergabung dengan pasukan Sheikh Arab Faisal I bin Hussein, anak dari Husain bin Ali. Dalam The Seven Pillars, Lawrence menjelaskan pertemuan pertamanya dengan Faisal:

Selama Paris Peace Conference of 1919. Kiri ke Kanan; Rustum Haidar, Nuri as-Said, Pangeran Faisal, Captain Pisani (dibelakang Faisal), T. E. Lawrence, tidak diketahui, Captain Tahsin Kadry

“Pada padangan pertama itu saya merasa bahwa dialah alasan saya datang ke Arab ini – pemimpin yang akan membawa Revolusi Arab untuk kemuliaan penuh. Faisal tampak sangat tinggi dan pilarnya seperti, sangat ramping, jubah sutra putih yang panjang dan kain kepalanya yang cokelatnya … Kelopak matanya yang jatuh; dan jenggot hitam dan wajahnya berwarna seperti topeng …”[46] (Q.S At Tiin, 95: 4-5)

T.E Lawrence alias Lawrence of Arabia, agen Inggris yang bertugas sebagai penghubung kepada Ibn. Saud (Saudi), Raja Faisal (Irak) dan Raja Husein (Transjordan) dalam rangka pasokan uang dan senjata dari Inggris.

Dengan berpakaian Arab, ia mulai bekerja dengan Faisal untuk meluncurkan pemberontakan skala penuh dari suku-suku. Dengan segera Lawrence menjadi seorang tokoh berpengaruh dalam pasukan Arab. Terutama dalam perang gerilyanya yang terbukti berhasil dalam merusak pasukan Utsmaniyah-Jerman. Dia merebut pelabuhan Akaba pada bulan Juli tahun 1917, dan memimpin pasukan Arab ke dalam padang pasir, kemudian mengganggu Utsmaniyah ketika tentara Inggris mulai menginvasi Palestina dan Suriah.[47]

Kemenangan Jend Allenby 11 Desember 1917

Pada bulan Oktober 1917, pasukan Inggris mulai menginvasi Yerusalem hingga akhirnya ditaklukkan pada tanggal 9 Desember 1917 dibawah kepemimpinan Jendral Edmund Allenby. Ketika memasuki Yerusalem, Allenby menyatakan, “perang salib sudah berakhir sekarang.”[48] Pernyataan Allenby ini menandakan bahwa diplomasi Inggris telah berhasil menaklukkan Semenanjung Arabia, dan hal ini tidak diragukan lagi.

Apa yang dimaksud Allenby adalah Islam kini menjadi harimau tanpa taring yang tidak berdaya dan tidak mampu membalas kekalahannya di Yerusalem. Tidak sama seperti yang dilakukan Salahuddin Al Ayyubi yang merebut kembali Yerusalem dari tangan pasukan salib. Bangsa Arab dan punjabi turut membantu Allenby dalam menaklukkan Yerusalem dan melakukan revolusi sambil menunggu kehancuran Khilafah Utsmaniyah.

Allenby dan Raja Faisal (Suriah)

Namun, alasan apa yang membuat Inggris ingin menaklukkan Yerusalem? Mengapa Inggris menyerahkan Yerusalem kepada orang Yahudi?

Tahun 1906, Pemimpin Organisasi Zionis Dunia Dr. Chaim Weizmann, yang juga seorang Teknik Kimia dan dosen senior Universitas Manchester, pergi menemui Arthur James Balfour yang sedang berkampanye untuk menjadi Perdana Menteri Inggris.[49] Saat itu Balfour mendukung apa yang ingin dicapai oleh gerakan zionis, konsep Tanah Air Yahudi dan kemudian hendak memberikan wilayah jajahan di Afrika, Uganda kepada gerakan Zionisme. Namun Weizmann menolak dan ingin meminta Palestina.

Arthur James Balfour: “Mengapa Palestina dan hanya Palestina saja yang diinginkan menjadi basis Zionisme ? Semua tempat yang lain akan menjadi pemberhalaan”

Dr. Chaim Weizmann: “Tuan Balfour, andai saya menawarkan Anda Paris sebagai ganti London, akankah Anda mengambilnya?”

Arthur James Balfour: “Namun Dr. Weizmann, kami memiliki London”
Dr. Chaim Weizmann: “Itu benar, namun kami memiliki Yerusalem dulu saat London masih rawa-rawa.”

Arthur James Balfour: “Berapa banyak Yahudi yang berpikir seperti anda?”
Dr. Chaim Weizmann: “Saya membicarakan pikiran jutaan orang Yahudi”[50]

Dr. Chaim Weizmann dan Faisal I bin Husain

Pada awal Perang Dunia I, dunia dikejutkan dengan  kapal selam Jerman (U-Boot) yang menyapu semua konvoi Angkatan Laut Sekutu di Samudra Atlantik. Saat itu Jerman benar-benar sangat kuat, bahkan tidak ada satu tembakan pun yang masuk ke wilayah Jerman. Kemudian, 12 Desember 1916, Jerman dan sekutunya menawarkan perjanjian damai. Mereka menawarkan Inggris dan sekutu sebuah negosiasi perdamaian yang disebut para pengacara sebagai status quo ante basis, yang berarti “mari sudahi perang, dan biarkan segala sesuatunya seperti sediakala sebelum perang.”[51]

Barisan Dreadnaughts Inggris di Pertempuran Jutland

Saat itu lah zionis memainkan kekuatan lobinya. Zionis di Jerman, yang mewakili Zionis di Eropa Timur, pergi ke Kabinet Perang Inggris. Dan mereka mengatakan, “Lihat disini, sekarang kalian dapat memenangkan perang ini. Kalian tidak harus menyerah, kalian tidak harus menerima negosiasi perdamamaian yang ditawarkan Jerman. Kalian dapat memenangkan perang ini jika Amerika Serikat bergabung sebagai sekutu kalian.” Mereka berkata kepada Inggris, “Kita akan menjamin Amerika Serikat masuk ke dalam perang sebagai sekutu kalian. Untuk bertempur bersama kalian, jika kalian menjanjikan kami Palestina setelah kalian memenangkan peperangan ini.”[52]

Benar apa yang dikatakan zionis tentang jaminan Amerika Serikat akan memasuki perang. Pada tanggal 7 Mei 1915, kapal pesiar (penumpang) Inggris RMS Lusitania ditenggelamkan oleh kapal-U Jerman yang juga menewaskan 128 warga negara Amerika Serikat. Namun, ternyata kapal tersebut juga membawa sejumlah besar amunisi, bahan peledak, dan material perang lainnya untuk tentara Inggris dan Perancis, dan hal ini bertentangan dengan peraturan internasional (Konvensi Den Haag dan Peraturan Kapal penjelajah).[53]

Sebagaimana G. Edward Griffin menulis dalam The Creature Dari Jekyll Island, “… kapal itu [The Lusitania] membawa amunisi yang mengapung.” Ini berarti bahwa kapal itu tidak akan memiliki status sebagai kapal non-militer dan bisa ditembaki tanpa PERINGATAN. Secara luas diketahui bahwa Lusitania dimasukkan ke dalam armada Admiralty, dan didaftarkan sebagai Kapal penjelajah tambahan bersenjata dan dicantumkan dalam Pertempuran Kapal Jane dan dalam Angkatan Laut Tahunan.[54]

Jerman tahu bahwa Kapal Lusitania membawa perlengkapan militer menuju musuh di Front Barat. Kedutaan Jerman di Washington bahkan mengambil langkah pengamanan dengan menempatkan iklan peringatan di 50 surat kabar warga sipil AS untuk tidak berlayar di Lusitania. Karena intervensi dari Departemen Luar Negeri, sebagian besar pemberitahuan tidak dipublikasikan. Namun, Des Moines Register menerbitkan iklan berikut yang ditempatkan di samping sebuah iklan untuk Lusitania.[55]

Ketika RMS Lusitania berangkat dari New York pada tanggal 1 Mei 1915, J P Morgan, seorang Ashkenazi Yahudi yang juga mitra dan agen Rothschild, menduga bahwa jika kapal itu ditenggelamkan oleh kapal selam Jerman, kehebohan yang dihasilkan pasti akan membawa Amerika ke dalam perang di sisi Sekutu. Enam hari kemudian, Lusitania tiba diperairan Irlandia selatan. Winston Churchill, Panglima Angkatan Laut Inggris, tahu bahwa kapal selam Jerman U-Boot, sedang beroperasi di daerah tersebut, di mana sudah menenggelamkan 3 kapal dua hari sebelumnya. Namun Churchill memerintahkan pengawal Lusitania, yakni kapal penghancur Juno, untuk kembali ke pelabuhan Queenstown. Sebelumnya, Lusitania juga diperintahkan untuk mengurangi kecepatannya dengan mematikan salah satu dari 4 boilernya (dengan dalih untuk menghemat batu bara). Lusitania berjalan seperti bebek dan semua AL Inggris tahu. Paling tidak anak buah Churchill, Komandan Joseph Kenworthy, menulis dalam bukunya The Freedom of the Seas (1927), “Kapal Lusitania dikirim, dengan kecepatan yang jauh berkurang dan pengawalannya ditarik, ke suatu daerah di mana U-boat telah menunggu.”[56]

Pada akhirnya, Kapal Lusitania ditembak oleh torpedo U-Boot Jerman yang dipimpin Kapten Letnan Walther Schwieger. Kapal Lusitania meledak dengan sangat dahsyat dikarenakan amunisi dan bahan peledak yang dibawanya. Namun Presiden Woodrow Wilson meresponsnya dengan menyatatakan bahwa “Amerika Serikat terlalu bangga untuk berperang”, tetapi menuntut berakhirnya serangan terhadap kapal penumpang. Jerman patuh dan mengumumkan kebijakan kapal selamnya tanggal 4 Mei 1916.[57]

“Saya mengatakan bahwa Amerika Serikat dulunya hampir total Pro Jerman karena Koran di sini dikendalikan oleh Yahudi, dan mereka para Yahudi, dulunya pro Jerman. Mereka mendukung Jerman karena banyak dari mereka berasal dari Jerman, dan mereka juga ingin melihat Jerman mengalahkan Tzar. Kaum Yahudi tidak menyukai Tzar, dan mereka tidak ingin Rusia memenangkan peperangan ini. Para Bankir Yahudi-Jerman ini, seperti Kuhn Loeb and Bank besar lainnya di Amerika Serikat menolak membiayai Perancis atau Inggris. Mereka bersikeras dan berkata. ‘Selama Prancis dan Inggris bergabung bersama Rusia, Tidak sesenpun akan masuk ke kantong mereka!’ Tetapi mereka mengalirkan uang mereka ke Jerman, mereka bertempur bersama Jerman melawan Rusia, mencoba mengalahkan rezim Tzar.

Sekarang para Yahudi yang sama, ketika mereka melihat kemungkinan untuk mendapatkan Palestina, pergi ke Inggris dan mereka membuat perjanjian ini. Pada waktu itu semuanya tiba-tiba menjadi berubah, seperti lampu lalu lintas yang berubah dari merah ke hijau. Yang dulunya semua koran mendukung Jerman, di mana mereka mengatakan kepada rakyat tentang kesulitan yang sedang dihadapi Jerman melawan Inggris Raya dengan segala respek, tetapi tiba-tiba Jerman menjadi tidak terlalu baik. Mereka adalah para bajingan, mereka adalah binatang, mereka menembak perawat dari palang merah, pemotong tangan bayi, pada intinya mereka tidak baik. Tidak lama setelah itu, Presiden Wilson menyatakan perang terhadap Jerman.

Para Zionis di London mengirim telegram ke Amerika Serikat, kepada hakim Brandeis, ‘Kerjalah kepada Presiden Wilson, Kita telah mendapat apa yang kita inginkan dari Inggris. Sekarang bekerjalah dengan presiden Wilson, dan bawa Amerika Serikat ke dalam Perang,’ Begitulah sehingga Amerika Serikat berangkat ke dalam perang. Kita tidak punya kepentingan di dalamnya, kita tidak punya hak apapun di dalamnya, lebih daripada hak untuk pergi melihat bulan malam ini daripada berada di dalam ruangan ini. Tidak ada sama sekali alasan bahwa perang dunia pertama menjadi perang kita. Kita digiring ke dalam – jika tidak terlalu vulgar, kita ditipu ke dalam – perang tersebut hanyalah agar Zionis sedunia bisa mendapat Palestina. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dikatakan kepada rakyat Amerika. Mereka tidak pernah tahu mengapa mereka terjun ke dalam perang dunia pertama.”[58]

Benjamin H Freedman

Pada tanggal 31 Januari 1917, Jerman melanjutkan perang kapal selam tanpa batasnya, menyadari bahwa Amerika Serikat kelak ikut dalam perang. Menteri Luar Negeri Jerman, dalam Telegram Zimmermann, mengundang Meksiko bergabung sebagai sekutu Jerman melawan Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, Jerman akan mendanai perang Meksiko dan membantu mereka mencaplok kembali teritori Texas, New Mexico, dan Arizona.[59] Wilson merilis telegram Zimmerman ke publik, dan warga AS memandangnya sebagai casus belli—penyebab perang. Wilson meminta elemen-elemen antiperang untuk mengakhiri semua perang dengan memenangkan yang satu ini dan menghapus militerisme dari dunia. Ia berpendapat bahwa perang begitu penting sehingga A.S. harus punya suara dalam konferensi perdamaian.[60] Pada tanggal 6 April 1917, Amerika Serikat menyatakan perang kepada Jerman.

“Setelah kita (AS) masuk ke dalam perang, para Zionis pergi ke Inggris Raya dan berkata ‘Kami telah melakukan bagian kami dalam perjanjian, Mari kita buat perjanjian tertulis yang menunjukan kepada kami bahwa kalian menjaga penawaran kalian dan memberikan Palestina setelah memenangkan peperangan.’ Mereka tidak tahu apakah perang akan berakhir akhir tahun ini atau 10 tahun lagi. Mereka mulai saja langsung meminta tanda terima, Tanda terima ini berbentuk sebuah surat, yang ditulis dalam bahasa kryptik (rahasia) sehingga tidak diketahui dunia secara luas tidak akan tahu tentang apa yang ada dibalik semua itu. Dan itulah yang disebut dengan Deklarasi Balfour.”[61]

Benjamin H. Freedman

Itulah mengapa Perang Dunia I terjadi dan membuat Inggris menginvasi Palestina. Selama proses penyerangan di Palestina, pada tanggal 2 November 1917, Arthur James Balfour yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, mengirimkan surat kepada Walter Rothschild selaku pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis. Surat itu menyatakan posisi pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis merebut dan menguasai Tanah Suci. Inggris bersedia memberikan Tanah Suci kepada gerakan zionisme ketika mereka berhasil menaklukkannya. Surat tersebut dikenal dengan nama “Deklarasi Balofour”.

Pada tanggal 30 Oktober 1918, pertempuran di Timur Tengah Perang Dunia I antara kesultanan Utsmaniyah melawan sekutu berakhir melalui Gencatan Senjata Mudros yang ditandatangani oleh Rauf Bey dan laksamana Britania, Somerset Arthur Gough-Calthorpe, di atas kapal HMS Agamemnon di pelabuhan Mudros, pulau Lemnos, Yunani. Tanggal 13 November 1918 Konstantinopel berhasil diduduki oleh sekutu, dan dengan Perjanjian Sèvres, pemecahan Kesultanan Utsmaniyah menjadi resmi.

Pada saat Utsmaniyah terpecah-pecah, Pasukan Yunani menyerang ibu kota Anatolia, dan warga Utsmaniyah saat itu ketakutan karena orang Yunani sangat dendam kepada mereka sejak lama. Agen mereka, Mustafa Kemal Atatürk muncul kepermukaan bagaikan pahlawan dengan menyatakan bahwa dia akan menyelamatkan Utsmaniyah dari amukan pasukan Yunani dan mengalahkan pasukan Inggris. Kemal kemudian mengorganisir kekuatan nasionalis di Anatolia mengusir divisi Sekutu dari Konstantinopel. Marah dengan ketentuan Perjanjian Sevres – yang secara efektif mengurangi wilayah Utsmaniyah itu sendiri – Kemal mengumumkan pembentukan pemerintahan sementara. Dengan begitu, dia berkuasa secara de facto.

Pada 1 November 1922, Kesultanan  dibubarkan dan Sultan terakhirnya, Mehmed VI (berkuasa 1918–22), meninggalkan negara ini pada 17 November 1922. Tanggal 29 Oktober 1923, Majelis Agung Nasional Turki mendeklarasikan Republik Turki.[62]   Namun saat itu Mustafa Kemal mengetahui bahwa Rakyat Turki mencintai sang Khalifah/Sultan, karena itu dia merubah status Khalifah menjadi seorang “Paus” seperti halnya di Eropa. Dengan kata lain, Khalifah tidak lagi bisa ikut serta dalam pemerintahan Republik Turki. Lembaga-lembaga Khilafah saat itu menurun statusnya menjadi lembaga di bawah pemerintah Republik Turki.

Mustafa Kemal

Ketika menjadi presiden, juga diktator, Kemal secara ekstrim mengubah sosial, politik dan hukum Turki, dan menerapkan standar Barat (sekularisme) dalam berpakaian, merubah bahasanya dengan alfabet Latin, dan mesekulerkan industri Turki.[63]

Inggris masih belum puas dan segera mendesak Mustafa Kemal untuk menghapus Khilafah serta lembaga-lembaganya. Pertanyaannya adalah mengapa Inggris melakukan hal itu, padahal Tanah Suci sudah berhasil ditaklukkan dan Republik Turki sudah didirikan? Jawabannya ada di India!

Muhammad Ali Jauhar

Saat Utsmaniyah terpecah-pecah dalam Perjanjian Sèvres, ulama-ulama Islam India yang saat itu paling berpengaruh di dunia, seperti Mohammad Ali Jouhar, Maulana Shaukat Ali, Maulana Syed Sulaiman Nadvi, Mufti Kifayatullah Dihlawi, dan orang-orang yang tidak hanya mengerti Islam, tapi juga hidup secara Islam, memimpin umat Islam di India untuk menghilangkan dominasi Inggris di India dan menciptakan pemerintahan Islam melalui “Gerakan Khiafah”.Gerakan tersebut mulai memobilisasi umat Islam untuk berjuang mengembalikan Khilafah di Istanbul.

Maulana Shaukat Ali

Para petinggi Hindu India kemudian sadar, bahwa mereka memiliki keinginan yang sama dengan umat Islam untuk mengusir dominasi Inggris dari India. Mereka juga ingin mengembalikan pemerintahan Hindu atas umat Hindu itu sendiri. Maka Mahatma Gandhi mendekati pemimpin “Gerakan Khilafah” agar bisa bergabung dengan gerakan tersebut. Pemimpin “Gerakan Khilafah” menerima ajakan tersebut dan menjadi sekutu mereka, gerakan tersebut menjadi koalisi Hindu-Muslim. Pemerintahan Islam atas umat Islam, dan pemerintahan Hindu atas umat Hindu.

Hal ini membuat Inggris ketar ketir karena sangat mengancam peradaban Eropa Barat, sebab mereka ingin memusnahkan segala bentuk pemerintahan yang berdasarkan agama dan menggantinya dengan konsep negara sekuler. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan Sir Sultan Muhammed Shah (Aga Khan III) yang berpaham sekluer untuk membentuk ‘gerakan tandingan’ yang bernama Liga Muslim India (All-India Musliim League). Konsentrasi umat Islam jadi terpecah belah. Pada 3 Maret 1924, Kekhalifahan dibubarkan tanggal 3 Maret 1924. Pupus sudah harapan kebangkitan Khilafah.

Ketika Khilafah sudah hilang pada tanggal 3 Maret 1924, Syarief Husain akhirnya menyadari bahwa nasibnya dalam bahaya besar, sebab Khilafah telah hancur total. Empat hari kemudian, 7 Maret 1924, dia memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah. Oleh karena itu, Inggris kemudian memberikan “lampu hijau” kepada Abdul Aziz ibn Saud untuk merebut Hijaz dari kekuasaan Husain, serta menjadikannya seorang Raja di Arab. Dalam 6 bulan, pasukan Abdul Aziz berhasil menaklukkan Mekkah, dan Husain lari ke Jeddah. Pada akhirnya Inggris menyediakan tempat pengasingan yang nyaman di Siprus untuk Husain. Dan segera setelah itu, Madinah dan Jeddah pun berada di bawah kekuasaan Saudi-Wahabi.

“Di antara tujuan utama politik dan militer Inggris dala perang adalah penaklukkan Islam sebagai kekuatan dunia, merebut Yerusalem, dan mendirikan tanah air bangsa Yahudi di Palestina. Mereka ingin mendirikan tanah air di Tanah Suci dan menjadikannya sebagai negara superpower seperti Negara Suci Israel yang dipimpin Daud as dan Sulaiman as. Hal itu dilakukan agar Dajjal dapat membuat klaim yang meyakinkan sebagai Al Masih asli.”[64] Imran N. Hosein

Inilah hasil permainan cantik diplomasi Inggris. Mereka bekerjasama dengan Husain dan Abdul Aziz ibnu Saud, dan kemudian membenturkan keduanya agar tujuan mereka tercapai.  Mereka juga membayar Abdul Aziz ibn Saud sebesar 350.000 pounds dengan tarif 5.000 pounds per bulan sebagai imbalan (penyuapan) atas sikap netralnya yang menguntungkan ketika terjadi pemberontakan Husain melawan Khalifah, dan keberadaan militer Inggris di semenanjung Arab melawan Khilafah Utsmaniyah. Abdul Aziz ibn Saud dengan liciknya dia menjelaskan uang tersebut sebagai jizyah (pajak yang dibayarkan warga non-Muslim yang tinggal di wilayah Darul Islam).[65]

Pada tahun 1800an, persekutuan Saudi-Wahabi telah berhasil menembus pertahanan Thaif dan Mekkah, kemudian terjadi pertumpahan darah yang sangat mencengangkan. Wahabi, dengan semangat fanatik, menganggap umat Islam yang tinggal di Hijaz sebagai Musyrikun dan sebagai akibatnya memperbolehkan membunuh mereka. Khalifah di Istanbul memerintahkan Mamluke Khedive Mesir, Muhammad Ali Pasha al-Mas’ud ibn Agha, untuk mengutus pasukan ke Hijaz di bawah kepemimpinan anaknya Ismail. Pasukan Saudi-Wahabi langsung diusir dari Hijaz ke gurun pasir. Seabad kemudian sudah tidak ada lagi Khalifah dan semua komunitas muslim yang kuat berada di bawah kekuasaan penjajah Barat. Dengan demikian tidak ada kemungkinan pengusiran pasukan Saudi-Wahabi dari Haramain dan Hijaz.[66]

Meskipun Ibnu Saud dengan selamat menguasai Hijaz, dia masih menghadapi masalah besar pada awal kekuasaannya di Hijaz pada tahun 1924. Yaitu dia harus merancang strategi agar bisa menghindari kemungkinan jangka panjang terulangnya bencana yang dialami penguasa Saudi-Wahabi yang menguasai Hijaz sebelumnya. Tampaknya, pertama-tama dia berpikir tentang kebijakan berdamai dengan umat Muslim non-Wahabi dan menggunakan kekuasaannya atas Hijaz lebih jauh demi bersatunya Umat Islam. Maka segera setelah mendapatkan kekuasaan atas Mekah dan menerima pengakuan dari penduduknya sebagai Sultan Hijaz, dia mengumumkan proklamasi kepada seluruh dunia Islam bahwa Hijaz, dan Haramain, adalah milik seluruh dunia Islam dan dia, Ibnu Saud, memerintah Hijaz hanya menjalankan mandat kepercayaan, dan demi kepentingan seluruh dunia Islam.[67] Kemudian dia melanjutkan dengan mengundang seluruh dunia Islam agar mengutus wakilnya ke Mekah sehingga, dengan dasar Syura (musyawarah) dan Ijma (konsensus), pemerintah yang adil, efisien, dan representatif bisa didirikan di Hijaz.[68] Bagaimana perasaan umat Islam di Pakistan, India, Bangladesh atau Bengali jika mengetahui kalau Ibnu Saud pernah mengatakan demikian, betapa sakitnya hati mereka jika mengetahuinya. Sebab mereka dikumpulkan seperti anjing jalanan, dimasukkan truk karena masa berlaku visanya habis.

Tidak itu saja, Inggris melindungi tahta Kerajaan Abdul Aziz ibn Saud dengan bantuan militer agar Arab Saudi tidak mampu ditaklukkan oleh umat Islam yang hendak mendirikan Khilafah. Oleh karena itu, umat Islam tidak akan bisa mendirikan Khilafah selama Inggris dan Amerika Serikat melindungi tahta Kerajaan Arab Saudi.

Pertemuan Abdul Aziz Ibn Saud (Tengah) dengan Franklin D. Roosebelt (kanan) pasca PD2 di geladak kapal penghancur AS USS Murphy membahas peralihan protektor Arab Saudi dari Inggris kepada USA (Negara Adi Kuasa yang baru). Hasil pertemuan antara lain pendirian pangkalan militer AS di Dhahran Arab Saudi.

Alasan Abdul Aziz ibn Saud mengumumkan proklamasi bahwa dia memerintah Hijaz hanya mandat kepercayaan adalah karena Universitas Al Azhar menanggapi keruntuhan Khilafah pada bulan April 1924. Dua puluh dua hari setelah pasal hukum Majelis Agung Nasional Turki diterbitkan, Rektor Universitas Al-Azhar di Kairo melakukan pertemuan dengan pimpinan ulama universitas dan negeri Mesir kemudian membuat pernyataan mengenai Khilafah:

“Imam menjadi Imam berdasarkan sumpah setia (bai’at) dengan kekuasaan untuk ‘melepas dan mengikat’ (ahl al-halli wal-aqd)[69] atau dipilih oleh pendahulunya untuk meneruskan kepemimpinannya. Imamah bisa juga didapat dengan penaklukkan yakni jika golongan lain mengalahkan Khalifah dan merebut kedudukannya, Khalifah kehilangan kedudukannya. Kadang-kadang akuisisi dengan penaklukan diterapkan selain pemberian janji setia atau dengan pilihan Khalifah sebelumnya sebagaimana kasus yang terjadi pada mayoritas Khalifah pada masa lalu.”[70]

Bahkan Al Azhar menyatakan bahwa Khilafah merupakam bagian dasar dari agama dan menghapusnya adalah Bid’ah dan Haram.” Kemudian Al Azhar mengadakan “Muktamar/Konferensi” melalui musyawarah dan penunjukan Khalifah baru. Setelah Al Azhar mengeluarkan pengumuman itu, anda bisa tahu bagaimana kalang kabutnya Inggris saat itu.

Oleh karena itu Inggris menekan Raja Mesir, Fuad I, untuk menunda konferensinya.[71] Pada akhirnya konferensi baru bisa diadakan pada bulan Mei 1926. Inggris juga menggunakan strategi lainnya untuk mengacaukannya. Inggris mendatangi Abdul Aziz di Mekkah agar mengadakan konferensi juga untuk umat Islam seluruh dunia di Mekkah pada saat ibadah haji berlangsung, bulan Juni-Juli 1926. Mereka menamakan kongres tersebut dengan nama Muktamar al-Alam al-Islami (Kongres Muslim Sedunia).

Pada delegasi yang hadir pada Kongres Khilafah di Kairo adalah Mesir, Libya, Tunisia, Maroko, Afrika Selatan, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), Yaman, Hijaz, Palestina, Irak dan Polandia. Sangat menarik perhatian tidak hadirnya delegasi dari banyak masyarakat dan negeri Islam penting, seperti Turki, Persia (sekarang Iran), Afganistan, Najd (sekarang Arab Saudi) dan masyarakat Muslim Rusia, Cina dan India.[72]

Turki menolak undangan dengan jawaban dingin bahwa negaranya tidak memiliki masalah Khilafah. Persia, negeri Syiah, jelas tidak tertarik dengan Kongres Khilafah Sunni. Muslim Uni Soviet, Cina dan India, sebagai minoritas yang tinggal di lingkungan musuh, menerapkan sikap yang sama. Tapi pada dasarnya mereka tidak hadir karena konferensi tandingan telah diatur oleh pihak yang punya kekuatan riil, Abdul Aziz ibn Saud. Dan kongres Khilafah di Mekkah benar-benar sukses yang dihadiri oleh perwakilan yang berkualitas. Apalagi Konferensi di Mekkah ini berdekatan dengan ibadah Haji yang membuat kota Mekkah dihadiri oleh banyak Muslim. Semua komunitas penting Islam dan semua Negeri Islam merdeka (kecuali Persia) hadir. Contohnya, Sayid Sulaiman Nadvi mengepalai delegasi mewakili Gerakan Khilafah India. Tiga anggota delegasi lainnya yaitu Maulana Muhammad Ali Jauhar, saudaranya, Maulana Shaukat Ali, dan menantunya, Syuaib Quraisyi. Ada delegasi yang dikepalai Sayid Muhammad Kifayatullah mewakili Asosiasi ulama India dan delegasi lain dikepalai oleh Sheikh Sanaullah mewakili Ulama Ahl al-Hadits India. Inggris benar-benar bekerja keras untuk yang satu ini.

Anehnya pada tanggal 2 Juli 1926, dalam konferensi tersebut, sang Raja Abdul Aziz berusaha mencapai tujuan gerakan Wahabi, yakni meminta dunia Islam agar mengakui kekuasaan Saudi-Wahabi atas Hijaz. Dan Kongres terebut tidak pernah sekalipun membahas Khilafah dalam agenda konferensi mereka, melainkan membahas masalah syariah, yakni menyingkirkan semua bid’ah dan syirik.

Ketika Abdul Aziz meminta agar mengakui kekuasaan Saudi-Wahabi atas Hijaz, pemimpin delegasi Muslim India berdiri dan angkat bicara. Namanya adalah Maulana Mohammad Ali Jouhar, dia berdiri dan berkata: “Enyahlah, kami tidak akan pernah melakukannya!” Itulah kekuatan orang yang mengerti Islam dan hidup secara Islam. Namun, delegasi lainnya hanya diam dan tidak ingin terlalu menekan Abdul Aziz. Sehingga konferensi menghasilkan kesepatakan, yakni diakuinya kekuasaan Saudi-Wahabi atas Hijaz. Mereka memutuskan akan ada pertemuan selanjutnya setiap tahun, tapi nyatanya itu menjadi pertemuan terakhir.

Pada tahun 1931, Grand Mufti Yerusalem, Amin al-Husseini, mengatakan bahwa peningkatan ancaman kaum Yahudi di Tanah Suci membutuhkan tanggapan dari dunia Islam. Mohammad Ali Jouhar, Maulana Shaukat Ali dan Haji Amin al-Hussaini menimbang perlunya mengadakan sebuah konferensi lagi. Konferensi itu diberi dengan nama Konferensi Al Aqsa. Konferensi juga diadakan pada tahun 1933, tapi karena konferensi diadakan di wilayah yang sedang dikuasai zionis, maka hasil dari konferensi tersebut tidak berdampak apapun terhadap dunia Islam.

Sejak saat itu sampai detik ini, tidak ada lagi usaha yang signifikan dari dunia Islam untuk mengembalikan Khilafah. Kenapa?

“Selama Inggris dan Amerika Serikat menjaga keamanan Hijaz (Arab Saudi), Kita Tidak Akan Pernah Bisa Mengembalikan Khilafah!!”

Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah saw pernah memanjatkan do’a, “Ya Allah, berkatilah Syam kami dan Yaman kami.” Para sahabat berkata, “Juga untuk Najd kami.” Beliau kembali berdo’a, “Ya Allah, berkatilah Syam kami dan Yaman kami.” Para sahabat berkata lagi, “Juga untuk Najd kami.” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Di sanalah akan terjadi bencana dan fitnah, dan di sana akan muncul tanduk setan.”[73]

Setelah Khilafah Utsmaniyah hancur dan negara Arab Saudi lahir, Negara Israel berdiri pada tahun 1948. Banyak pihak khususnya negara-negara Arab yang menentang kemerdekaan Negara Israel tersebut. Bahkan, Negara Israel juga ditentang oleh kelompok Yahudi Ortodoks. Kelompok Yahudi Ortodoks menuding bahwa Talmud adalah kitab iblis yang telah ‘mencemari kesucian’ Taurat yang diturunkan Tuhan kepada Musa as.

Ada kemiripan antara Arab Saudi dan Negara Israel. Pertama, keduanya akan terancam jika Khilafah berdiri kembali. Kedua, keduanya sama-sama menguasai Kota Suci, yakni Mekkah, Madinah, dan Yerusalem (Masjid Al Aqsa). Ketiga, keduanya membatasi umat Islam untuk melaksanakan ibadah, yakni ibadah Haji dan sholat di Masjid Al Aqsa.

Apakah saat ini umat Islam yang bukan kewarganegaraan Arab Saudi bisa melaksanakan ibadah Haji tanpa mengajukan permohonan ‘visa?’ Padahal di masa Khilafah, hal ini tidak berlaku, umat Islam cukup mengucapkan Syahadat jika hendak memasuki Hijaz.

Maka dari itu, konsep negara sekuler yang menggantikan Khilafah membuat umat Islam terpecah belah. Negara sekuler menawarkan konsep yang sejatinya syirik, walaupun mayoritas rakyatnya Muslim, di mana jika Pemimpin dan Pemerintah suatu negara sekuler menghalalkan apa yang Allah SWT haramkan, atau sebaliknya. Dan jika anda mengakui apa yang dilakukan pemerintah tersebut, maka anda pun akan terkena dosa syirik, seperti halnya anda mengikuti “Pemilu”.

  1. Imran N. Hosein, Khilafah, Hijaz, dan Negara-Bangsa Saudi-Wahabi, trj Ikhya Ulumuddien. San Fernando, Trinidad dan Tobago: Masjid Jami’ah, 2003, hlm 11-21
  2. Lorens Bagus. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000, hlm 593-600
  3. N. Drijarkara, Pertjikan Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan Djakarta, 1966, hal 57-59
  4.  Adikodrati adalah sebutan untuk kejadian yang tidak bisa dijelaskan dengan hukum alam, atau berada di atas dan di luar alam.
  5. N. Drijarkara, Pertjikan Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan Djakarta. , 1966, hlm 57-59
  6. Harun Hadiwiyono, Sari Sejarah Filsafat Barat II. Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm 12-13
  7. Milton K Munitz, The Way of Philosophy, New York: Mac Millan Publishing Co, 1972, hlm 212
  8. John Hale, The Civiliation of Europe in the Renaissance, New York:  New York Press, 1994, hlm 648
  9. Proletariat adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan orang yang memiliki kelas sosial rendah.
  10. Fazlur Rahman Ansari, Islam To The Modern Mind. Karachi, Paarl Print, 2002, hlm 29
  11. Ibid, hlm 31
  12. Salim T.S Al Hassani, 1001 Inventions The Enduring Legacy of Muslim Civilization. Washington: National Geographic Society
  13. Sunan Ibnu Majah, 1 Kitab: Mukadimah » Bab 38. Keutamaan ulama dan dorongan untuk menuntut ilmu
  14. Ansari, Islam To The Modern Mind. hlm 31
  15. Ibid. hlm 23
  16. Ibid. hlm 24
  17. Ibid
  18. Ibid
  19. Andrew Carrington Hitchock, The Synagogue of Satan: The Secret History of Jewish World Domination. London: Rivercrest Publishing, 2006, hlm 9
  20. http://www.un.org/en/sections/un-charter/chapter-v/
  21. Sunan Tirmidzi, 47 Kitab: Tafsir Al-Qur’an » Bab 1776. Di antara surat At Taubah
  22. William Miller, The Ottoman Empire. 1801-1913, Cambridge: University of Cambridge Press, 1913, hlm 474
  23. Walter S. Zapotoczny, TThe Influence of the Young Turks Revolution. hlm 1
  24. Ibid, hlm 7
  25. Ibid, hlm 8
  26. Misykat, hlm 473
  27. P. Willmott, World War I. New York: Dorling Kindersley, 2003, hlm 26
  28. Gary Sheffield, All About History First World War. West Midlands: Aaron Asadi, 2005, hlm 10-11
  29. Raymond James Sontag, European Diplomatic History 1871-1932. Appleton -Century-Crofts, Inc, 1933, hlm 3-58
  30. Ruth Beatrice Henig, The Origins of the First World War. London: Psychology Press, 2002, hlm 3
  31. Michael Duffy, Primary Documents – Reinsurance Treaty, 18 June 1887. http://www.firstworldwar.com/source/reinsurancetreaty.htm. Diakses tanggal 1 April 2017
  32. Michael Duffy, Who’s Who – Kaiser Wilhelm II, http://www.firstworldwar.com/bio/wilhelmii.htm. Diakses tanggal 1 April 2017
  33. Michael Duffy, Primary Documents – Franco-Russian Military Convention, 18 August 1892, http://www.firstworldwar.com/source/francorussianmilitaryconvention.htm. Diakses tanggal 1 April 2017
  34. Colin Bingham, Wit and Wisdom: A Public Affairs Miscellany. Melbourne: Melbourne University. 1982, hlm 118
  35. Michael Duffy, Primary Documents – Entente Cordiale, 8 April 1904, http://www.firstworldwar.com/source/ententecordiale1904.htm. Diakses tanggal 1 April 2017
  36. Michael Duffy, Alliances – Entente and Central Powers, http://www.firstworldwar.com/atoz/alliances.htm. Diakses tanggal 1 April 2017
  37. P. Willmott, World War I, New York: Dorling Kindersley. 2003, hlm 27
  38. Michael Duffy, Primary Documents – Austrian Ultimatum to Serbia, 23 July 1914, http://www.firstworldwar.com/source/austrianultimatum.htm. Diakses tanggal 1 April 2017
  39. Michael Duffy, The Causes of World War One, http://www.firstworldwar.com/origins/causes.htm. Diakses tanggal 1 April 2017
  40. Ludwig, Emil, Wilhelm Hohenzollern: The Last of the Kaisers. New York: GP Putnam’s Sons, 1927, hlm 453
  41. A.S Grenville, A History of the World in the 20th Century. Cambridge: Harvard University Press, 2000, hlm 21
  42. John Godl, The Planning of the War, http://www.firstworldwar.com/features/plans.htm. Diakses tanggal 2 April 2017
  43. Tuchman, Barbara W. The Guns of August. New York: Macmillan, 1962, hm 187
  44. Arnold J. Toynbee, The Survey of International Affairs 1920-1923. Oxford: Oxford University Press, 1925, hlm 272
  45. Michael Duffy, Sharif Hussein’s Proclamation of Independence from Turkey, 27 June 1916. Diakses tanggal 3 April 2017
  46. Petri Liukkonen, Who’s Who – T.E. Lawrence, http://www.firstworldwar.com/bio/lawrencete.htm. Diakses tanggal 2 April 2017
  47. Michael Duffy, Sharif Hussein’s Proclamation of Independence from Turkey, 27 June 1916
  48. Wasif Jawhariyyeh, The Storyteller of Jerusalem. Massachusetts: Olive Branch Press, 2014, hlm 353.
  49. Chaim Weizmann, Trial and Error, The Autobiography of Chaim Weizmann. London: Hamish Hamilton, 1949, hlm 93-109
  50. Ibid, hlm 111
  51. Proposals for Peace Negotiations Made by Germany, in: Scott, James Brown (ed.): Official Statements of War Aims and Peace Proposals, Washington 1921, hlm. 2
  52. Benjamin Freedman’s historic speech at the Willard Hotel Washington DC in 1961
  53. Gabriel Donohoe, The Sinking of The Lusitania, America’s Entry into World War I, A Bonanza for Wall Street. http://www.globalresearch.ca/the-sinking-the-lusitania-americas-entry-into-world-war-i-a-bonanza-for-wall-street/5381121. Diakses tanggal 4 April 2017
  54. Ibid
  55. Ibid
  56. Ibid
  57. Henry William Brands, T. R.: The Last Romantic. New York: Basic Books, 1997, hlm. 756
  58. Benjamin Freedman’s historic speech at the Willard Hotel Washington DC in 1961
  59. Barbara Wertheim Tuchman, The Zimmerman Telegram (2nd ed.), New York: Macmillan, 1966
  60. Walter Karp, The politics of war : the story of two wars which altered forever the political life of the American Republic (1890-1920). New York: Harper & Row, 1979
  61. Benjamin Freedman’s historic speech at the Willard Hotel Washington DC in 1961
  62. Hakan Ozoglu, From Caliphate to Secular State: Power Struggle in the Early Turkish Republic, ABC-CLIO, 2011, hlm 8
  63. Michael Duffy, Who’s Who – Mustafa Kemal Pasha, http://www.firstworldwar.com/bio/kemal.htm. Diakses tanggal 2 April 2017
  64. Imran N. Hosein, Khilafah, Hijaz, dan Negara-Bangsa Saudi-Wahabi, hlm 48
  65. Arnold J. Toynbee, The Survey of International Affairs 1920-1923. hlm 273
  66. Imran N. Hosein, Khilafah, Hijaz, dan Negara-Bangsa Saudi-Wahabi, hlm 41
  67. Arnold J. Toynbee, The Survey of International Affairs 1920-1923.
  68. Imran N. Hosein, Khilafah, Hijaz, dan Negara-Bangsa Saudi-Wahabi, hlm 42
  69. Kelompok ini diharapkan mengangkat pemilihan sebenarnya dalam model klasik Islam. Meskipun demikian, melalui sejarah Islam, hampir selalu tetap itu hanya konstruksi teoritis dan tidak memainkan peran apa pun dalam proses pembuatan keputusan tertinggi.
  70. Arnold J. Toynbee, The Survey of International Affairs 1920-1923. hlm 576-578
  71. Ibid, 241-244
  72. Imran N. Hosein, Khilafah, Hijaz, dan Negara-Bangsa Saudi-Wahabi, hlm 60
  73. Shahih Bukhari, 72 Kitab: Fitnah » Bab 3724. Sabda Nabi saw “Fitnah muncul dari sebelah timur”

Leave a Comment