Kesombongan pada Awal Zaman dan Klaim Sesat Hak Asasi Keunggulan

In Epistimologi by Hamba AllahLeave a Comment

Setelah mengumumkan kepada para Malaikat bahwa Dia akan menempatkan di bumi orang yang akan memerintah, kemudian setelah Nabi Adam (as) menjelaskan kepada para Malaikat bagian topik (memerintah di bumi) yang mereka tidak ketahui, Allah Maha Bijaksana memerintahkan para Malaikat bersujud kepadanya, yakni Nabi Adam (as). Kemudian Al-Qur’an mengungkapkan bahwa mereka semua mematuhi perintah Allah kecuali Iblis:

وَإِذ قُلنا لِلمَلائِكَةِ اسجُدوا لِآدَمَ فَسَجَدوا إِلّا إِبليسَ أَبىٰ وَاستَكبَرَ وَكانَ مِنَ الكافِرينَ

(Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 34)

Allah memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kamu kepada Adam! Maka sujudlah mereka, kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dalam kesombongannya: maka dia termasuk golongan orang-orang menolak kebenaran.

Para Malaikat tidak bisa membangkang (Al-Qur’an Surat At-Tahrim, 66: 6), dan karena Iblis membangkang, maka dia bukanlah Malaikat. Sebenarnya dia dari bangsa Jin (Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 50). Alasan yang dia sampaikan atas penolakannya bersujud kepada Nabi Adam (as), yaitu keyakinan (sesat)nya memiliki hak asasi keunggulan di atas Nabi Adam (as). Sebagai akibat dari keyakinan sesat tentang hak asasi keunggulan ini, maka dia tidak bisa menolerir orang lain yang memiliki ilmu pengetahuan lebih banyak dari yang dia punya, tidak pula menerima perintah mereka di mana pun mereka berada di alam ini. Melainkan dia yakin bahwa keyakinan (sesat)nya tentang hak asasi keunggulan ini memberinya hak untuk menguasai semuanya. Dengan demikian dia tidak mau bersujud kepada Khalifah atau penguasa yang ditunjuk dan dididik Tuhan.

قالَ ما مَنَعَكَ أَلّا تَسجُدَ إِذ أَمَرتُكَ ۖ قالَ أَنا خَيرٌ مِنهُ خَلَقتَني مِن نارٍ وَخَلَقتَهُ مِن طينٍ

(Al-Qur’an Surat Al-‘Araf, 7: 12)

Dan Allah berfirman: Apakah yang mengahalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu? Menjawab Iblis: Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia, Engkau ciptakan dari tanah liat.

Al-Qur’an di sini mengungkapkan peristiwa awal zaman ketika klaim sesat hak asasi berkedudukan lebih unggul membuatnya menjadi sombong dan menolak untuk mematuhi Tuhan yang memerintahnya untuk menerima keunggulan makhluk lain atas dirinya. Kesombongan ini mengakibatkan kutukan Tuhan kepadanya, dan pengusirannya dari surga. Tuhan kemudian memutuskan bahwa untuk selanjutnya dia akan direndahkan dalam kehinaan:

قالَ فَاهبِط مِنها فَما يَكونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فيها فَاخرُج إِنَّكَ مِنَ الصّاغِرينَ

(Al-Qur’an Surat Al-‘Araf, 7: 13)

Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu—karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah: sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang direndahkan, dipermalukan dan dihina!

Implikasi signifikan dari ayat di atas, pun paling signifikan pada Akhir Zaman atau akhir sejarah, yaitu kaum yang menganggap dirinya memiliki hak asasi berkedudukan lebih unggul atas bangsa lain akan dengan cara yang sama dikutuk oleh Tuhan, dan akan dihalangi dari memasuki surga. Tidak ada tempat di surga untuk orang-orang yang menunjukkan bentuk kesombongan ini. Sebagai tambahan, kesombongan mereka mengaku berkedudukan lebih unggul akan berakhir dalam kehinaan dan kedudukan rendah: “ . . . sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina!”

Klaim sombong yahudi, yang dengan kurang ajar dipakai oleh peradaban barat modern Dajjal, bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan dengan hak asasi berkedudukan lebih unggul atas semua bangsa manusia lainnya, oleh karenanya sesat. Siapapun orang Yahudi, Kristen, Hindu, (atau bahkan Muslim) yang mengaku memiliki hak asasi berkedudukan lebih unggul atas yang lain, akan mendapatkan kutukan Tuhan, dan pada akhirnya direndahkan dalam kehinaan.

Al-Qur’an menyebutkan bangsa yahudi berkenaan dengan keyakinan sesat mereka sebagai kaum pilihan Tuhan, dan menentang mereka sebagai berikut:

قُل يا أَيُّهَا الَّذينَ هادوا إِن زَعَمتُم أَنَّكُم أَولِياءُ لِلَّهِ مِن دونِ النّاسِ فَتَمَنَّوُا المَوتَ إِن كُنتُم صادِقينَ
وَلا يَتَمَنَّونَهُ أَبَدًا بِما قَدَّمَت أَيديهِم ۚ وَاللَّهُ عَليمٌ بِالظّالِمينَ

(Al-Qur’an Surat Al-Jumuah, 62: 6-7)

Hai orang-orang yang menganut agama yahudi, Jika kalian percaya bahwa kalian sajalah kekasih Allah, bukan manusia-manusia yang lain, maka mengapa kalian tidak mengharapkan kematian—jika kalian yakin klaim kalian itu benar? Maka mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.

Tantangan Tuhan kepada bangsa yahudi, berlaku sama untuk orang-orang lain yang menganggap diri mereka memiliki hak asasi berkedudukan lebih unggul dari yang lain.

Kaum yahudi mungkin menanggapi dengan berargumen bahwa Tuhan telah membuat mereka kaum istimewa dengan mengasihi mereka dan memberi mereka berkah yang lebih banyak daripada bangsa manusia lainnya. Al-Qur’an menegaskan memang bangsa Israel menerima berkah ilahi lebih banyak daripada bangsa manusia lainnya:

يا بَني إِسرائيلَ اذكُروا نِعمَتِيَ الَّتي أَنعَمتُ عَلَيكُم وَأَنّي فَضَّلتُكُم عَلَى العالَمينَ

(Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 47)

Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.

وَإِذ قالَ موسىٰ لِقَومِهِ يا قَومِ اذكُروا نِعمَةَ اللَّهِ عَلَيكُم إِذ جَعَلَ فيكُم أَنبِياءَ وَجَعَلَكُم مُلوكًا وَآتاكُم ما لَم يُؤتِ أَحَدًا مِنَ العالَمينَ

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 20)

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: Hai kaumku! Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu penguasa/Raja-raja, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain.

Implikasi berkah Tuhan yang besar kepada bangsa Israel ini yaitu jika mereka mengkhianati standar perilaku saleh, mereka akan dihukum dan diazab dengan hukuman yang lebih pedih daripada umat manusia lainnya. Al-Qur’an menghancurkan klaim mereka sebagai kaum eksklusif atau kaum terpilih dengan mencela klaim sesat bahwa surga sudah dipesan untuk mereka:

وَقالوا لَن يَدخُلَ الجَنَّةَ إِلّا مَن كانَ هودًا أَو نَصارىٰ ۗ تِلكَ أَمانِيُّهُم ۗ قُل هاتوا بُرهانَكُم إِن كُنتُم صادِقينَ

(Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 111)

Yahudi dan nasrani mengklaim: Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yahudi atau nasrani. Demikian itu hanya angan-angan mereka yang kosong belaka! Katakanlah: Tunjukanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar!

Sifat dan karakter seperti ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi umat muslim modern saat ini, dimana makin banyaknya umat Islam yang mengklaim dirinya sebagai makhluk pilihan Tuhan, yang mengikuti jejak sebagian dari kaum Yahudi dan Nasrani, dan dengan mudahnya, dengan segala bentuk arogansinya untuk mengklaim bahwa surga hanyalah milik kaum mereka semata, dan yang lainnya tentu saja kafir dan sesat. Sehingga tiada lagi kebaikan yang terpancar dari dalam diri mereka sebagai manusia yang ditugaskan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, melainkan kehinaan diri semata. (*)

Oleh Sheikh Imran Nazar Hosein  dalam buku Dajjal, Al-Qur’an dan Awal Zaman

 

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment