Ketika Waktu Berjalan Dengan Cepat

In Epistimologi by Hamba AllahLeave a Comment

Kampungmuslim.org – Salah satu tanda dari akhir zaman yang dikemukakan oleh Rasulullah, Muhammad [saw] adalah bahwa, “Waktu akan berjalan dengan cepat, setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperi satu jam, dan satu jam seperti waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api (lampu).” Bagaimana bisa seperti itu?

Beliau menjelaskan bahwa waktu akan berjalan dengan cepat sebagai konsekuensi dari ‘mengingat’ Allah atau Zikr yang telah meninggalkan hati dalam artian bacaannya masih ada, namun tidak menyentuh hati, dan kesibukan dalam rangka mencari apa-apa yang terdapat di dunia yang telah menjadi obsesi dan menguasai hati manusia. Konsekuensi dari kehampaan hati adalah bahwa “Orang-orang akan membuat banyak transaksi antara satu dengan lainnya namun mereka tidak akan memiliki kepercayaan bahwa pihak yang diajak transaksi dengannya akan memenuhi kewajibannya.” Dan bahwa akan dikatakan, “Bahwa ada seorang di suku (di daerah) itu yang dipercaya orang-orang.” Dan juga akan dikatakan bahwa, “Orang-orang akan mengatakan betapa hebatnya seseorang dengan pencapaian dan kapasitas kemampuan yang dimilikinya namun tidak ada iman di hatinya walaupun hanya sebesar atom.”

Rasulullah [saw] juga menjelaskan bahwa akan terjadi suatu masa dimana pengkhianatan menjadi hal yang wajar, “Bujukan akan dihadapkan kepada hati manusia seperti daging merah yang ditumbuk dengan kayu berulang kali, setiap hati yang terbujuk dengan daging itu hatinya akan berubah menjadi hitam. Sehingga hati itu ada dua, yang satu berwarna putih seperti batu yang teguh terhadap berbagai bujukan dan rayuan (dunia) selama langit dan bumi masih ada, dan yang lainnya berwarna hitam kusam dan berdebu seperti kapal laut yang terbalik, tidak dapat mengenali apa yang benar atau menolak apa yang salah, karena telah dikuasai dengan hasrat dan obsesinya.”

Tidak dapat diragukan lagi bahwa jaman yang disebut kemajuan, perkembangan dan perubahan ini adalah jaman dimana banyak dari tanda-tanda jaman terakhir bermunculan. Bahkan pemerintahan negara kini telah menjadi sekuler, demikian juga dengan politik, ekonomi, pasar, media, olahraga, hiburan, dan lain-lain. Ruang makan dan ruang tidur di jaman ini juga sekuler. Sekulerisme dimulai dengan ‘mengeluarkan Allah’ dan mencapai puncaknya dengan ‘menolak Allah’! Bagaimana bisa begitu? Ketika pengetahuan disekulerisasikan, pengetahuan hanya didapat dari pengamatan eksternal (panca indera) dan pemahaman rasional. Implikasi dari epistimologi seperti ini adalah: karena dunia materi ini adalah satu-satunya dunia yang dapat ‘ditangkap panca indera.’ maka dunia inilah dimana manusia hidup adalah satu-satunya dunia yang ada!

Sehingga sekulerisme ini akan menuju kepada materialisme (agamanya setan), yaitu diterimanya pemahaman bahwa tidak ada realitas selain realitas materi oleh manusia yang diaplikasikan untuk seluruh spektrum kehidupannya. Dan materialisme telah menuju kepada dunia (neraka di dunia) yang penuh dengan keserakahan, kebohongan, ketelanjangan, ketidakadilan, penindasan, tidak berketuhanan, dan pengkhianatan besar-besaran, karena pondasi moral masyarakat tidak dapat ditampung tanpa hati spiritual. Dan dunia yang seperti itu, tidak perlu lagi adanya keraguan apakah masih ada yang ‘mengingat Allah’ atau tidak. Jika memang ada, itu hanyalah sebatas mulut yang dapat berucap.

Allah test people

Apa itu mengingat Allah?

Ketika seorang lelaki mengunjungi hati wanita yang dicintainya, maka aroma yang wangi menyelimuti hatinya. Ini terjadi pada setiap saat dia mengingatnya. Ini juga terjadi saat namanya disebutkan. Inilah mengingat Allah! Sehingga jelas sekali bahwa ‘mengingat Allah’ hanya akan terjadi ketika ada cinta sejati di dalam hati hanya kepada Allah (tidak hanya sebatas mulut yang dapat berucap).(*)

Oleh Sheikh Maulana Imran Nazar Hosein

Alih bahasa oleh Angkoso Nugroho

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment