Kolom Kelima AS di dalam Rusia dan Tiongkok

In Geo Politik & Strategi by Rio Esvaldino0 Comments

Oleh Dr. Paul Craig Roberts

4 Agustus 2015

 

Butuh 2 dekade bagi Rusia dan Tiongkok untuk memahami organisasi yang pro-demokrasi dan organisasi hak asasi manusia yang sedang beroperasi di dalam negara mereka, di mana organisasi tersebut bersifat subversif dan didanai oleh Departemen Luar Negeri AS dan beberapa yayasan swasta AS yang diorganisir oleh Washington. Tujuan organisasi non-pemerintah (LSM) yang sebenarnya adalah untuk meningkatkan hagemoni Washington dengan mengacaukan kedua negara (Rusia dan Tiongkok) di mana kedua negara itu mampu melawan hagemoni AS.

*Subversif merujuk kepada salah satu upaya pemberontakan dalam merobohkan struktur kekuasaan termasuk negara.

Kolom Kelima Washington meluncurkan “revolusi warna” di wilayah yang sebelumnya menjadi provinsi Rusia, seperti Georgia, tempat kelahiran Joseph Stalin, dan Ukraina, yang sebelumnya menjadi provinsi Rusia untuk beberapa abad.

Ketika Putin terpilih lagi menjadi Presiden kemarin, Washington bisa menggunakan Kolom Kelima untuk melepaskan ribuan demonstran ke jalan-jalan di Rusia dan menyatakan bahwa Putin telah “mencurangi pemilu.” Propaganda ini tidak berpengaruh di Rusia, di mana 89% penduduknya mendukung presiden mereka. Sementara 11% lainnya, hampir seluruhnya percaya bahwa Putin terlalu lunak terhadap agresi Barat. Minoritas ini juga mendukung Putin. Mereka hanya ingin Putin menjadi lebih keras (tegas, kokok, dll). Persentase penduduk yang sebenarnya yang berhasil dirubah Washington menjadi agen pengkhianat hanyalah 2-3%. Para pengkhianat ini adalah “Orang Barat,” para “integrasionis Atlantik,” yang mau negara mereka menjadi negara bawahan Amerika dengan imbalan uang. Tentu saja dibayarkan kepada mereka.

*Integrasionis Atlantik atau pemersatu Atlantik adalah orang-orang yang ingin negara-negara yang ada di pulau Eurasia bergabung dengan negara yang ada di seberang, seperti Amerika dan Kanada.

Tapi kemampuan Washington untuk menempatkan Kolom Kelima ke jalan-jalan di Moskow malah membuat orang Amerika dan Eropa tidak peduli, acuh tak acuh. Banyak “Orang Barat” percaya bahwa Putin curang dalam pemilu dan berniat menggunakan jabatannya untuk membangun kembali Kekaisaran Soviet dan untuk menghancurkan Barat. Bukan berarti menghancurkan Barat menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Barat itu sendiri telah banyak mengalami kehancuran.

Tiongkok, yang terobsesi menjadi kaya, telah menjadi mangsa yang mudah bagi Washington. Yayasan Rockefeller mendukung para profesor Tiongkok di beberapa Universitas. Perusahaan AS yang sedang beroperasi di Tiongkok menciptakan “lembaga” yang mubazir, di mana para sanak-saudara dari elit politik penguasa diangkat dan dibayar tinggi dengan “gaji direktur.” Ini membahayakan loyalitas kelompok penguasa Tiongkok.

Berharap menggoda kelompok penguasa Tiongkok dengan uang, Washington kemudian meluncurkan LSM Hong Kong miliknya dalam aksi demo. Harapan agar protes tersebut akan menyebar ke Tiongkok dan kelompok penguasa dapat dibeli dengan uang Amerika, akan jadi lambat dalam melihat bahaya.

Rusia dan Tiongkok akhirnya paham. Sungguh menakjubkan di mana pemerintah kedua negara, yang dianggap Wahington sebagai ancaman, malah sangat toleran terhadap LSM asing yang telah didanai begitu lama. Toleransi Rusia dan Tiongkok terhadap Kolom Kelima ini sudah pasti membuat pihak neo-konservatif Amerika mendorong dunia lebih dekat ke konflik.

Tapi seperti yang mereka katakan, semua hal yang baik akan berakhir. The Saker melaporkan bahwa Tiongkok akhirnya bertindak untuk melindungi dirinya dari aksi subversi Washington.

*Subversi merupakan gerakan/tindakan/perencanaan untuk menjatuhkan kekuasaan yg sah dengan menggunakan cara diluar undang-undang.

Rusia juga sudah bertindak dalam pertahanannya:

Kami orang Amerika harus rendah hati, tidak arogan. Kami harus mengakui bahwa standar hidup orang Amerika, kecuali yang disukai Satu Persen, berada dalam penurunan jangka panjang dan terjadi selama dua dekade. Jika kehidupan di bumi terus berlanjut, Amerika harus paham bahwa ancaman bukan dari Rusia dan Tiongkok, apalagi Saddam Hussein, Gaddafi, Assad, Yaman, Pakistan, dan Somalia. Ancaman terhadap AS sepenuhnya ada dalam ideologi neo-konservatif yang gila akan hagemoni Washington atas dunia dan atas rakyat Amerika.

Tujuan yang arogan ini membuat AS dan negara bonekanya mengarah pada perang nuklir.

Jika rakyat Amerika sadar, akankah mereka dapat melakukan apapun yang diluar kendali pemerintah mereka? Apakah orang Eropa, setelah mengalami hasil buruk pada Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2, mampu memahami bahwa kerusakan yang ditimbulkan dari kedua perang itu masih sangat sedikit dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan dari perang nuklir?

Jika Uni Eropa merupakan pemerintah yang cerdas dan merdeka, Uni Eropa pasti akan melarang negara anggota dari menampung rudal antar-benua AS atau pangkalan militer lainnya di mana saja yang dekat dengan perbatasan Rusia.

Kelompok lobi Eropa Timur yang ada di Washington ingin balas dendam pada Uni Soviet, suatu entitas (upaya) yang tidak lagi sepaham dengan kami. Kebencian tersebut malah dilemparkan kepada Rusia. Rusia tidak melakukan apapun kecuali gagal dalam membaca Doktrin Wolfowitz dan menyadari bahwa Washington bermaksud menguasai dunia, yang perlu menundukkan Rusia dan Tiongkok.

Sumber: Washington’s Fifth Columns Inside Russia and China, http://www.globalresearch.ca/washingtons-fifth-columns-inside-russia-and-china/5466892

image_pdfimage_print

Leave a Comment