Kredensial Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan Yang Satu

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

“Kami akan memperlihatkan (kepada) mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru (alam semesta) dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Tidak cukupkah (bagi mereka untuk mengetahui) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q.S Fussilat, 41:53)

Setiap Nasrani dan Yahudi selayaknya teliti dalam meneliti pernyataan Al-Qur’an ketika menyatakan bahwa Tuhan Yang sama yang menurunkan Taurat pada Nabi Musa as, dan Injil pada Nabi Isa as, juga yang menurunkan Al-Qur’an pada Nabi Muhammad saw.

Al-Qur’an juga mengumumkan informasi penting kepada Nasrani dan Yahudi tentang hal-hal di mana mereka berbeda satu sama lain. Al-Qur’an menyatakan bahwa menjelaskan penyelesaian perbedaan tersebut, dan termasuk perbedaan yang berkaitan dengan subjek Al Masih (Messiah):

“Sungguh, Al-Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar (dari perkara) yang mereka perselisihkan”

(Q.S Al Naml, 27:76)

Oleh karena itu akan lebih baik jika Nasrani dan Yahudi teliti dalam meneliti kredensial Al-Qur’an sebagai Firman Tuhannya Nabi Ibrahim as, juga mempelajari penjelasan hal-hal yang berbeda satu sama lain yang disajikan Al-Qur’an.

1400 tahun adalah waktu yang sangat lama – dan selama itulah Al-Qur’an hadir di dunia. Selama lebih dari 1400 tahun Al-Qur’an menyatakan dengan tegas bahwa ianya adalah Firman ‘Tuhan Yang Satu,’ semua tuhan yang lainnya adalah palsu. Islam menyatakan ‘Tuhan Yang Satu,’ bahwa Dia menciptakan laki-laki dan perempuan, tapi Dia bukan laki-laki dan perempuan.

Keabsahan mutlak Al-Qur’an

Al-Qur’an juga telah menyatakan dengan tegas bahwa ianya adalah Kitab ‘Besar’ yang ‘penuh kekuatan.’ Tidak hanya terpelihara, tapi juga tidak fana, karena tidak ada kejahatan dan kebathilan yang pernah bisa mendekat dari arah manapun untuk merusaknya.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika (Al-Qur’an) itu disampaikan kepada mereka (pasti akan celaka), dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah Kitab yang mulia”

“(yang) tidak akan didatangi (oleh) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakan, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji”

(Q.S Fussilat, 41:41-42)

Oleh karena itu, setiap kali seorang membaca Al-Qur’an menemukan konflik (perbedaan) antara Al-Qur’an dan apa yang terletak dalam kitab sebelumnya, pembaca diharapkan membandingkan keabsahan dan integritas naskah-naskah yang berkontradiksi (bertentangan) satu sama lain, dalam rangka mencari Kebenaran. Kegagalan menggunakan metodologi seperti itu untuk menyelesaikan masalah kontradiksinya bisa berdampak fatal dalam mencari Kebenaran.

Al-Qur’an berulang kali menyatakan bahwa ianya terpelihara atau tidak fana.

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak menjadikannya bengkok”

(Q.S Al Kahf, 18:1)

Ayat di atas mengingatkan keabsahan dan integritas naskah-naskah wahyu yang datang sebelum Al-Qur’an.

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) padanya (Al-Qur’an) yang memelihara”

(Q.S Al Hijr, 15:9)

Kami ingatkan bahwa pernyataan tegas perlindungan Ilahi dari ayat Al-Qur’an di atas telah dibuat selama lebih dari 1400 tahun yang lalu, dan semua yang diperlukan untuk menghancurkan pernyataan Al-Qur’an yang merupakan Kebenaran, adalah seseorang yang mengajukan perubahan atau varasi (walaupun kecil) pada naskah Al-Qur’an, baik selama 23 tahun periode uraian ayat-ayat oleh Nabi Muhammad saw sebagai wahyu yang datang kepadanya, atau selama jangka waktu panjang yang telah berlalu sejak uraian tersebut diselesaikan. Setiap perubahan atau variasi dalam naskah Al-Qur’an, terlepas apakah perubahan itu kecil, mungkin harus segera membatalkan pernyataan bahwa Al-Qur’an dilindungi Ilahi.

Mereka yang berusaha mengubah naskah Al-Qur’an akan mengalami kesulitan yang tak dapat diatasi. Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab, yang kita tahu, dimana naskahnya telah dipelihara, tidak hanya dalam bentuk tulisan, namun juga dipelihara dalam jutaan memori yang telah menghafalnya kata-demi-kata dan surat-demi-surat. Bahkan jika setiap salinan Al-Qur’an dihancurkan, atau jika percetakan yang mencetak kitab tersebut melakukan kesalahan ketik (seperti yang terjadi sekarang), akan dengan mudah ditulis ulang ketika dibacakan dari memori dengan cara sintaksis dan tata bahasa yang benar dari orang-orang yang menghafal Al-Qur’an. Hal tersebut dapat dilakukan bahkan oleh jutaan non-Arab yang telah menghafal naskah Arab Al-Qur’an, meskipun banyak dari mereka yang tidak paham bahasa Arab.

Satu naskah beraturan yang tidak berubah dari Al-Qur’an

Al-Qur’an punya banyak kredensial yang dapat digunakan untuk membuktikan pernyataan bahwa diturunkan oleh ‘Tuhan Yang Satu,’ dan kredensial tersebut mudah dilihat dengan hati dan pikiran yang tidak rusak. Di antara kredensial tersebut berstatus unik, yang tidak dimiliki oleh kitab manaun dalam seluruh sejarah manusia, yang bertahan dalam waktu yang sangat lama dengan satu-satunya naskah teratur yang pernah ada. Setiap salinan Al-Qur’an yang ada saat ini di dunia memiliki sebuah naskah yang ajaib yang identik dengan setiap salinan yang lainnya. Satu-satunya perbedaan yang dijumpai dalam naskah Al-Qur’an adalah perbedaan tanda baca, dan itu karena ingin memperjelas naskahnya. Justru karena Al-Qur’an sendiri bukan ciptaan manusia, melainkan wahyu yang dilindungi Ilahi, yang naskahnya secara ajaib tidak rusak dalam waktu yang sangat lama, dan selamanya akan tetap terpelihara. Nabi Muhammad saw tidak pernah menyatakan bahwa kata-kata Al-Qur’an itu kata-kata yang beliau susun. Sebaliknya beliau mengungkapkan bahwa Al-Qur’an diturunkan ke hatinya melalui Malaikat Jibril, dan beliau kemudian membacakan kepada juru tulis apa yang disampaikan ke hatinya.

Kesempurnaan sastra permanen dari naskah Al-Qur’an tanpa perlu perbaikan

Karakteristik keajaiban Al-Qur’an lainnya adalah bahwa kitab-kitab yang ditulis beberapa ratus tahun yang lalu hampir tidak bisa dipahami saat ini kecuali dalam bentuk sastra, tata bahasa, kosa kata, dll., yang direvisi atau dimodernisasi. Hal ini agar terlepas dari bahasa yang mereka tulis, karena bahasa terus berkembang dengan kosa kata baru yang mengganti kosa kata lama. Kaidah bahasa selalu berubah. Juga tidak ada yang bisa menyangkal bahwa bahasa apapun akan menjadi usang. Akibatnya, jarang sekali sebuah karya standar yang menyajikan bentuk sastra terbaik dari sebuah bahasa. Bahasa Inggris adalah contoh yang sangat baik dari bahasa yang dimaksud. Para pembaca dapat mengunjungi website http://www.bl.uk/englishtimeline untuk melihat  apakah bahasa Inggris tampak sama dari 4-500 tahun yang lalu.

Selera sastra juga terus mengalami perubahan – apalagi di zaman modern ini dibandingkan dengan sebelumnya dalam sejarah – dan para pembaca menjadi lebih tertarik pada sesuatu yang modern ketika membandingkannya dengan sesuatu yang berasal dari sebuah zaman dan daerah sosial yang jauh dari modernitas. Tapi Al-Qur’an yang datang ke dunia dari lebih 1400 tahun yang lalu, tidak hanya mudah diahami secara universal saat ini oleh sebagian besar orang Arab yang buta huruf yang berada jauh dari Arabia, tapi juga secara ajaib mempertahankan status Al-Qur’an dalam waktu yang sangat lama sebagai karya sastra yang paling luar biasa dalam bahasa Arab. Jutaan Muslim yang tak terhitung jumlahnya, dari seluruh dunia – mulai dari yang terdidik, berbudaya dan canggih hingga yang buta huruf – telah menghapal seluruh Al-Qur’an dalam bahasa Arab dari awal hingga akhir setidaknya setiap bulan sekali. Tidak ada kitab/buku lain di dunia ini yang pernah memiliki status ajaib seperti Al-Qur’an karena begitu mudah dibaca dalam teks aslinya, dan seringkali dibaca dan dinikmati, sekali lagi dalam naskah aslinya, yang telah berusia lebih dari 1400 tahun lamanya.

Tidak ada yang pernah mencoba memodernisasikan bahasa Al-Qur’an, atau mengedit hingga mudah untuk dipahami di zaman ini. Al-Qur’an yang dibaca, dipahami dan dinikmati saat ini, adalah naskah yang juga sama dengan yang dibaca, dipahami dan dinikmati pada 1400 tahun yang lalu, tanpa perubahan bahkan satu kata atau huruf pun. Ini memang sebuah keajaiban yang menegaskan statusnya sebagai wahyu Ilahi. Sementara itu secara menyedihkan bahwa sebagian besar orang Arab tidak lagi berbicara bahasa Arab secara tepat – yang telah diganti dengan logat lokal yang kadang tidak bisa dipahami oleh orang Arab lainnya, sedangkan Arab Al-Qur’an terus digunakan dalam menyampaikan khutbah sepanjang sejarah, dan hingga hari ini, dalam sholat sekali seminggu yang dikenal sebagai Shalat Jum’at.

Daya tarik kesastraan Al-Qur’an yang tak melemah

Namun sesuatu yang juga luar biasa adalah bahwa jutaan umat manusia yang hidup di zaman modern memiliki ketertarikan tersendiri dalam mempelajari dan memahami sebuah kitab yang berumur lama, yakni Al-Qur’an. Bahkan, ketika hitungan mundur akhir sejarah dipercepat, ketertarikan dalam mempelajari Al-Qur’an terus meningkat – oleh karena itu pentingnya buku-buku seperti ini yang menganjarkan metodologi untuk mempelajari Al-Qur’an.

Tantangan bagi mereka yang meragukan status Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan Yang Satu yang diturunkan kepada seorang Arab yang tidak bisa baca tulis

Al-Qur’an telah menantang mereka yang meragukan statusnya sebagai wahyu Ilahi, untuk menciptakan apapun (bahkam sedikit sebuah komposisi sastra yang hanya tiga kalimat saja) yang sebanding dengan Al-Qur’an. Tantangan tersebut tetap tak dapat dilakukan hingga hari ini:

“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.”

“Jika kamu tidak mampu membuatnya dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu (akan) api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

(Q.S Al-Baqarah, 2:23-24)

Catatan sejarah jelas menyatakan bahwa Al-Qur’an dibacakan kepada juru tulis yang mencatat uraian tersebut. Uraian secara ajaib berasal dari mulut seorang Arab yang hidup di Arabia, dan tidak bisa baca tulis. Nabi Muhammad saw tidak pernah pergi sekolah, dan bahkan tidak bisa mengeja namanya dalam bentuk tulisan. Inilah sebagian besar keajaibannya!

Ketika Al-Qur’an menyatakan Nabi Muhammad saw tidak bisa baca tulis, sebuah kesempatan emas diberikan jika ada seseorang yang bisa membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw bisa membaca dan menulis walaupun satu kata, dan hal itu cukup untuk menghancurkan pernyataan Al-Qur’an bahwa ianya adalah Firman Tuhan Yang Satu yang sempurna. Namun, dalam 1400 tahun sejak Al-Qur’an diturunkan, tidak ada satupun bukti datang.

Beliau membaca Al-Qur’an selama 23 tahun yang penuh gejolak di mana beliau harus bermigrasi dari kampung halamannya ke kota lain yang ratusan mil jauhnya. Beliau juga memimpin umatnya dalam beberpaa perang dalam rangka untuk mempertahankan masyarakatnya yang kecil dari mereka yang terobsesi untuk menghancurkannya. Akhirnya beliau harus bertindak sebagai Kepala Negara, dll. Namun tidak ada bukti yang menyatakan bahwa dia pernah mengedit atau merevisi ayat atau kalimat apapun atau bahkan kata yang pernah dibacakan olehnya kepada juru tulis selama 23 tahun. Tidak ada penulis manapun yang bisa membuat sebuah buku yang sedemikian rupa, dalam bagian-per-bagian yang dibacakan selama waktu yang sangat lama – tanpa mengedit – dan tanpa perbedaan dan tanpa kontradiksi dalam naskah yang dibuatnya. Tapi Al-Qur’an yang tidak pernah diedit dari uraian yang dibawa dalam bagian-per-bagian selama 23 tahun penuh gejolak, adalah bebas dari kontradiksi – internal maupun eksternal. Inilah satu lagi keajaiban lainnya!

Al-Qur’an tidak hanya bebas dari kontradiksi, tapi dengan berani menyatakan bahwa jika Al-Qur’an bersumber selain dari Allah, maka isinya akan banyak mengalami kontradiksi:

“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an (sambil berusaha memahami apakah memang diturunkan dari Satu Tuhan)? sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah pastilah mereka menemukan hal yang bertentangan di dalamnya (pertentangan yang) banyak”

(Q.S An Nisaa’, 4:82)

Barangkali yang paling menakjubkan dari semuanya adalah fakta bahwa uraian yang dibuat selama 23 tahun, dan dicatat oleh juru tulis, tidak terletak dalam naskah yang tertata dalam urutan sebagaimana urutan yang dibacakan kepada mereka. Sebaliknya, para juru tulis diinstruksikan memasukkan catatan tertulis dari setiap yang dibacakan, ketika selesai dibacakan, berada di tempat yang berbeda dalam naskahnya. Sebagai contoh, ayat-ayat Al-Qur’an yang diketahui sebagai ayat pertama yang diturunkan dan dibacakan kepada juru tulis adalah lima ayat Surat Al ‘Alaq (segumpal darah). Ayat ini merupakan ayat awal Al-Qur’an, namun sebalikanya ditulis di bagian akhir Al-Qur’an. Begitu pula ayat-ayat Al-Qur’an yang diketahui sebagai ayat terakhir yang dibacakan kepada juru tulis adalah ayat yag menjelaskan tentang subjek Riba (Usury). Akan tetapi ayat-ayat ini dijumpai pada bagian akhir Al-Qur’an. Sebaliknya ayat-ayat itu berada dalam Surat Al Baqarah yang merupakan Surat kedua dalam Al-Qur’an. Semua ayat-ayat Al-Qur’an demikian! Naskahnya, yang urutannya saat ini teratur, berbeda dari naskah yang urutannya berdasarkan kronologi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan sesudah itu dibacakan kepada juru tulis.

Nabi Muhammad saw tidak memiliki naskah tertulis Al-Qur’an yang mana beliau bisa menentukan di mana seharusnya ayat ditempatkan ; dan bahkan jika beliau memiliki naskah di hadapannya, beliau tetap tidak akan bisa membacanya karena beliau buta aksara (yakni, tidak bisa baca tulis). Susunan Al-Qur’an yang selama ini beragam di mana urutannya berbeda dari urutan yang dibacakan, seharusnya menciptakan beberapa kesalahan, inkonsistensi atau kontradiksi. Tapi Al-Qur’an terbebas dari bahkan satu kesalahan, inkonsistensi atau kontradiksi. Inilah keajaiban lainnya!

Lawannya Kebenaran telah mencoba lebih dari 1400 tahun untuk merusak naskah Al-Qur’an, namun mereka gagal total dan memalukan dalam upaya tersebut. Mereka boleh melanjutkan upaya jahat tersebut, namun mereka tidak akan pernah berhasil, karena ‘Tuhan Yang Satu’ melindungi Al-Qur’an. Al-Qur’an yang sampai saat ini tidak rusak merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa ianya adalah kata yang sungguh otentik yang berasal dari Tuhan Yang Satu.

Para pembaca yang beragama Kristen dan Yahudi, yang percaya pada Tuhannya Nabi Ibrahim as, akan kagum untuk mempelajari beberapa hal yang luar biasa yang dinyatakan oleh Allah tentang status Al-Qur’an. Dia berfirman, misalnya, bahwa jika Al-Qur’an diturunkan kepada sebuah gunung, bukan dalam hati Nabi saw, gunung tersebut akan berguncang dan gemetar karena tunduk dan takut pada Allah:

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami membuatnya untuk manusia agar mereka berfikir”

(Q.S Al Hasyr, 59:21)

Akhirnya status unik Al-Qur’an yang sedemikian rupa, ketika dibaca oleh orang beriman, Allah SWT menempatkan pembatas yang memisahkan orang beriman dari orang yang tidak beriman dalam kehidupan akhirat:

“Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur’an, Kami adakan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding yang tidak terlihat,”

(Q.S Al Israa’, 17:45)

Mereka yang menerima Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan Yang Satu tidak punya kewajiban apapun meyakinkan orang bahwa ianya adalah wahyu Ilahi. Sebaliknya mereka yang punya tugas untuk berjuang membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah Kebenaran; maka buku ini dibuat untuk membantu perjuangan tersebut.

Al-Qur’an memerintahkan mereka yang percaya bahwa ianya adalah Firman Tuhan Yang Satu, untuk berjuang dengan kuat melawan orang yang menolaknya:

“Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Qur’an) dengan (semangat) perjuangan yang besar”

(Q.S Al Furqaan, 25:52)

Tidak ada subjek lain yang bisa dibandingkan dengan subjek Dajjal Al Masih palsu, yang merupakan subjek dari buku saya yang lain, dengan kapsitasnya menyajikan bukti akurat tentang Kebenaran Al-Qur’an.

Hanya ada dua cara yang dapat ditanggapi oleh para pembaca mengenai pernyataan Al-Qur’an bahwa ianya adalah Firman ‘Tuhan Yang Satu.’ Mereka bisa menerimanya, atau menolaknya. Mereka tetap tidak bisa selamanya menghindari hari pembalasan kelak.

Mereka yang menolak Al-Qur’an

Al-Qur’an menguraikan secara jelas keadaan orang-orang yang tetap keras kepala menolak pernyataan Al-Qur’an atas Kebenaran. Dilema intelektualitas mereka menyedihkan untuk diperlihatkan, dan nasib yang menanti  mereka sangat mengerikan. Tanggapan dari Al-Qur’an mengirimkan hawa dingin melalui tulang punggung mereka:

“Tidak bisa! Sesungguhnya dia menentang atas ayat-ayat Kami (Al-Qur’an).

Aku akan membebaninya dengan pendakian (yang) memayahkan.

Sungguh, dia telah memikirkan dan menetapkan (ketetapannya),

maka celakalah dia bagaimana dia menetapkan?

Sekali lagi, celakalah dia bagaimana dia menetapkan?,

kemudian dia merenung, lalu berwajah masam dan cemberut,

lalu berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri,

lalu dia berkata “tidaklah (Al-Qur’an) ini selain sihir yang dipelajari (dari orang dahulu),

tidaklah ini selain perkataan manusia.”

Kelak, Aku akan memasukkannya (ke) neraka Saqar,

dan tahukah kamu apa neraka Saqar itu?

Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan,

yang menghanguskan kulit manusia.”

(Q.S Al Muddassir, 74:16-29)

 

 
Sheikh Imran Nazar Hosein

image_pdfimage_print

Leave a Comment