Kurdistan & Kejatuhan Turki Untuk Membakar Perang Dunia Ketiga

In Geo Politik & Strategi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Saya menyimpulkan skenario ini berdasarkan situasi yang berkembang di Suriah utara dan Irak utara. Saat ini, AS sedang bergerak untuk menciptakan Negara Kurdistan, atau Rojava, di wilayah yang direbut oleh orang-orang Kurdi dari ISIS/L. Bendera Kurdistan telah berkibar di Kirkuk, lampu hijau telah diberikan Baghdad, dan Trump telah mempersenjatai milisi Kurdi Suriah [SDF dan YPG adalah bagian dari itu] untuk merebut Raqqa, dengan kemungkinan bahwa orang-orang Kurdi dapat mencaplok timur laut Suriah ke Kurdistan. Mereka telah merebut Tabqa dalam perjalanan mereka menuju Raqqa.

Untuk mencegah Kurdistan merebut seluruh wilayah utara Suriah, Putin telah membentuk aliansi dengan orang-orang Kurdi Suriah yang sama, di barat laut Suriah, dari Manbij sampai Afrin. Dia telah meyakinkan Erdogan bahwa Aliansi Rusia tidak akan menimbulkan ancaman ke Ankara dengan memberi status federal kepada mereka di bawah Damaskus. Bukanlah suatu kebetulan bahwa Gazprom telah memulai pembangunan pipa gas lepas pantai, proyek Turkish Stream, untuk pipa gas NABUCCO Uni Eropa di Laut Hitam.

Persis apa yang diinginkan Sykes dan Picot

Jika Anda melihat bagaimana Sykes-Picot menggambar peta Timur Tengah setelah Perang Dunia I, sebuah tikaman kepada Imperium Rusia, status merdeka penuh untuk Kurdistan, hari ini, di Suriah Utara dan Irak Utara, akan berarti sebuah peledakan bom nuklir. Itu karena setengah dari Turki adalah orang Kurdi. Maksud saya, siapa yang bisa mencegah orang-orang Kurdi Turki mengklaim setengah Turki? Dalam kata lain, AS telah memaksa Turki untuk menyerang Kurdi di Suriah Utara, dengan harapan bisa bertabrakan dengan kepentingan Rusia di Suriah. Dan Turki adalah anggota NATO, dan itu berarti Perang Dunia Ketiga. Saat kebenaran Erdogan telah tiba, dan ya, imperium-imperium Zionist [Barat] modern, Pax Americana, tidak pernah peduli dengan nasib sekutunya. Bukankah Pax Britanica telah memberi orang-orang Turki sekuler negara “modern” Turki sebagai balasan dari pembongkaran Negara Khilafah, Kekaisaran Ottoman? Kini nasib yang sama menanti mereka.

Partisi Sykes-Picot

 

Hijau: populasi orang-orang Kurdi di Turki

Bagaimana dengan para Faustian?

Eropa telah menolak Kurdistan yang didukung AS, dan anda dapat melihatnya dengan jelas dalam bangkitnya kelompok ekstrim kanan [radikal agamais nasionalis-Katolik], dan kampanye teror jihadis tanpa henti di Eropa. Mereka juga menolak untuk mendukung invasi militer Turki yang tak terelakkan ke Sungai Efrat, dan anda juga dapat melihat dengan jelas di dalam memuncaknya ketegangan antara Uni Eropa dengan Turki.

Dan jika itu tidak cukup, Washington telah menipu negara-negara NATO untuk menggelar pasukan mereka bersamaan dengan pasukan AS di Eropa Timur, yang disebut latihan-latihan militer Atlantic Response dengan alasan ancaman Rusia? Bulan lalu, Garnisun Amerika di Eropa [European Command] telah mengaktifkan pasukan multinasional tersebut ke dalam pasukan tempur multinasional di bawah kepemimpinan AS di Polandia, Rumania, Latvia, Estonia, Lituania, dan sebagainya, sebagai Grup Tempur AS-NATO di Eropa Timur.

Menonaktifkan semua tindakan pengamanan

Dengan dalih palsu Ancaman Rudal Iran dan Korea Utara, AS dengan cepat menggelar sistem pertahanan anti-rudal balistik [ABM: Anti Ballistic Missile] di negara-negara yang berbatasan dengan Rusia dan China; Di Eropa Timur, Korea Selatan, Jepang, dan sedang berlangsung juga di Uni Emirat Arab. ABM dengan Prompt Global Strike-nya [Serangan Kilat Global], yakni penggelaran aju pembom tempur siluman F-35, yang dilengkapi dengan bom nuklir taktis B-61, yang bertujuan untuk menahan kekuatan nuklir strategis Rusia dan Cina. Perang Nuklir AS ini dirancang untuk menghancurkan kemampuan serangan nuklir balasan dari Rusia dan Cina, jadi AS menyerang terlebih dahulu. Dilihat dari semua sudut pandang, Dephan Rusia menganggap hal ini sebagai tindakan perang nuklir melawan Rusia, pada Konferensi Keamanan Internasional di Moskow pada tanggal 26 Mei 2017, yang juga diamini oleh Beijing.

Pagelaran perisai rudal balistik AS di Eropa Timur dan Laut Mediterania sesuai penerapan doktrin Prompt Global Strike dari Pentagon

Dalam pandangan Rusia, Washington telah meningkatkan politik konfliknya, mulai dari provokasi-provokasi militer untuk menyeret Turki berperang dengan Rusia di Suriah, dimana Rusia telah banyak berkorban untuk menahan diri, ke tingkat yang mengancam keberadaan sekutunya [Turki]. Untuk memojokkan Rusia dalam sebuah konfrontasi militer dengan Barat di Suriah.

Proyek Kurdistan merdeka yang direncanakan oleh Amerika Serikat

 

AS telah mengirim pasukannya untuk mengawal milisi SDF dalam perebutan Raqqa di Suriah, untuk melindungi mereka dari serangan Turki. AS kemudian akan menempatkan semua taruhan di atas meja setelah Kurdi Suriah merebut kembali Raqqa, dengan menarik pasukan AS dari timur laut Suriah. Kemerdekaan Kurdistan akan mengirim gelombang kejut ke seluruh populasi Kurdi di Turki timur. Implikasinya adalah terjadinya perang saudara/sipil Turki, tetapi saya rasa Erdogan tidak akan menunggu hingga saat itu tiba, untuk segera masuk ke Suriah setelah Pasukan AS angkat kaki dari Suriah.

Pada saat itu, Putin tidak akan membiarkan Angkatan Darat Suriah untuk menghadang Angkatan Darat Turki yang masuk ke Suriah. Pemboikotan minyak atau pembekuan minyak Rusia, yang dilakukan bersama Arab Saudi dan OPEC, juga proyek infrastruktur New Silk Road China sedang menghancurkan ekonomi Barat. Mengapa mengambil resiko perang militer jika perang ekonomi bisa berhasil? Kemudian pertanyaannya adalah, bagaimana caranya Rusia dapat mengusir Turki dari Suriah tanpa menimbulkan Perang Dunia Ketiga? Tentu saja tidak bisa, bahkan jika Rusia memutuskan untuk mendukung/mempersenjatai orang-orang Kurdi Suriah [melalui kaki tangan untuk menghindari peraturan internasional], tentara sukarelawan Kurdi Suriah itu pada akhirnya akan terus melaju ke Ankara. Jatuhnya Istanbul, atau Konstantinopel bagi orang-orang Kristen Ortodoks, berarti akhir dari NATO, karena Turki adalah benteng terkuat NATO.
Untuk mengakhiri analisa ini, kami ingin mengundang anda untuk melihat masakan causus bellum/alasan perang Amerika kepada Rusia di Washington. Yakni, Deep State Amerika akan menganggap tuduhan bahwa Rusia telah mencampuri pemilihan AS sebelumnya atau Kremlin Gate, juga, dalam pemilihan yang memenangkan Macron menjadi Presiden baru Prancis, sebagai ancaman bagi demokrasi barat, dan berdasarkan hal itu, untuk mengumumkan perang dengan Rusia. Sesuatu yang akan ditandatangani oleh Trump nanti, di depan mata kita. Sebuah dalih konyol, tidak dapat diterima, dan tidak masuk akal, di luar semua pengakuan, bahwa kebanyakan orang Amerika, Eropa, dan dunia, akan menerimanya.

“Tidak akan terjadi [Malhama], sehingga kaum Ruum [Romawi Barat] turun di kota Amaq (lembah Antioch, Selatan Turki) dan di Dabiq (dekat Aleppo, Syria). Kemudian datanglah suatu pasukan yang menghadang mereka dari Madinah [Kota Aleppo], yang berasal dari penduduk pilihan bumi. Dan ketika mereka sudah berbaris-baris, maka berkatalah orang Ruum, biarkanlah (jangan kalian halangi) antara kami dengan orang-orang yang memisahkan diri dari kami [Milisi Kurdi Suriah] untuk kami perangi. Maka kaum Muslimin berkata, Demi Allah, kami tidak akan membiarkan kamu memerangi saudara-saudara kami.”

“Mereka kemudian akan berperang dan satu pertiga pasukan melarikan diri, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampuninya. Satu pertiga dari mereka akan menerima syahid yang terbaik di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan satu pertiga lagi menerima kemenangan dan menakluk Konstantinopel [Istanbul/Turki].”

Analisis militer ini adalah penjelasan Hadist penaklukan Konstantinople yang dijelaskan oleh Sheikh Imran Nazar Hosein di video berikut ini;

Insya Allah…

  Angkoso Nugroho

Leave a Comment