Makna dari Kesombongan Iblis di Akhir Zaman

In Epistimologi by Hamba AllahLeave a Comment

Kampungmuslim.org – Mari kita kembali pada filosofi sejarah tepatnya pada halaman pertama  dari sejarah itu sendiri. Al Qur’an telah menjelaskan tentang awal dari sejarah yaitu ketika Allah Subhanahu wata’ala menciptakan manusia dari tanah liat/debu dan atau lumpur. Kemudian selain dari itu “wanafakhtu fiihi mun ruuhii” (Q.S Al Hijr; 29),  Dan Aku-wanafakhtu (adalah kata subyek pertama tunggal); dimana dalam surah lainnya Allah berkata “kami,” namun di sini Allah mengatakan “Aku” yang membuatnya, maka mawas dirilah saat Allah mengatakan “Aku” yang membuatnya. “Maka Aku telah tiupkan padanya ruh-Ku.” Ruh-Ku disini bermakna ruh Ilahiah, dan “Aku” telah meniupkan padanya (manusia) sesuatu yang Ilahiah. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berkata kepada para Malaikat “faqa’uu lahu saajidiin” (Q.S Al-Hijr; 29) yang artinya “Tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” Maka pertanyaan utama kita adalah saat Malaikat dan seluruh makhluk hidup ciptaanNya diminta tunduk dengan bersujud kepada Adam alaihis salam, apakah mereka diminta untuk sujud pada tanah liat, ataukah mereka diminta sujud pada sesuatu yang bersifat Ilahiah yang ditiupkanNya kepada manusia?

Jika kamu belum dapat menemukan jawaban dari pertanyaan ini, maka kamu telah memiliki gelar PhD dalam kebodohan karena mengabaikannya. Dan itulah gelar yang dimiliki oleh Iblis yang mempunyai kesimpulan bahwa Allah Subhanahu wata’ala memerintahkannya untuk sujud kepada tanah liat. Mereka semua bersujud kecuali Iblis. Allah Subhanahu wata’ala pun bertanya kepada Iblis, mengapa dia tidak mematuhi perintah untuk bersujud pada manusia? Iblispun menjawab, sebuah jawaban yang harus kita ingat dengan sebaik-baiknya dalam otak bawah sadar kita dan terutama dalam menyikapi masa politik dunia akhir zaman, dalam pergumulan peradaban dunia akhir zaman ini. Iblis berkata, “Saya lebih superior dari dia (manusia),” sejak lahir saya lebih superior dari dia, superioritas sudah menjadi hak saya sejak lahir, karena Kau telah menciptakan aku dari api, sedangkan dia (manusia) Engkau ciptakan dari tanah liat. Dalam hal inilah, Iblis tidak menyadari dan memahami bahwa bukan kepada konteks tanah liatnyalah dia harus tunduk dengan bersujud melainkan pada konteks ruh Ilahiah yang ditiupkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada manusia. Setiap manusia yang terlahir atau diciptakan oleh Allah Subhanahu wata’ala terlepas dia berkulit hitam dari Afrika, atau dia berkulit putih dari Eropa, atau berkulit kuning dari Cina, atau coklat muda dari Arab, atau coklat tua dari India, mereka semua itu adalah manusia. Dan seluruh (setiap) manusia memiliki ruh Ilahiah didalam diri mereka. Ruh Allah Subhanahu wata’ala yang ditiupkan kepada manusia.

Iblis telah kehilangan kesempatannya karena kesombongan dan arogansi superioritas dirinya yang diklaim adalah haknya sejak lahir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al Qur’an “walaqad karramnaa banii aadam,” (Setiap manusia bahkan termasuk zionis dan atau firaun dihormati oleh Allah Subhanahu wata’ala). Sejarah awal ini mempunya keterlibatan (implikasi) yang sangat dalam terhadap masa akhir zaman. Karena sesuai dengan pengalaman kita semua, di akhir zaman ini akan ada kaum (manusia) yang begitu sombong dan arogan dimana mereka mengklaim sebagai umat pilihan Tuhan. Kaum tersebut mengklaim bahwasanya “Kami adalah golongan manusia elit dan golongan kaum lain berada jauh di bawah kami.” Hal seperti ini tentu telah kita temukan dimanapun kita berada saat ini, apakah hal tersebut dalam konteks kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Yang kaya atau yang menduduki sebuah jabatan atau gelar kebangsawan atau golongan agama tertentu atau gelar ilmuwan dll, yang beranggapan bahwa merekalah golongan/kelas elit dan orang-orang yang berada di kelas/golongan berebeda dengan mereka berada jauh dibawah mereka dan mereka berhak melakukan apapun meski dengan cara pemaksaan yang terselubung.

Hal inilah yang disebut sebagai “Jingoisme,” dalam konteks politik dan geopolitik internasional yaitu bahwa adanya kaum/golongan yang beranggapan bahwa kami mempunya misi Ilahiah untuk memberi peradaban pada dunia yaitu peradaban barat modern  yang bukan tidak lain adalah ajaran dari peradaban Iblis, dimana mereka mengikuti jejak bodoh nan arogan dari sifat dan karakter Iblis. Hal ini bukanlah sebuah kebetulan atau ketidak sengajaan belaka, bahwa kehadiran kekuatan peradaban Iblis ini bukanlah sebuah kebetulan. Mengklaim diri sebagai makhluk superior dari umat manusia lainnya dan mengklaim sebuah misi untuk memperadabkan manusia. Dan itulah yang mereka (kaum arogan dan sombong) lakukan.

Jadi kelak saat Nabi Isa (Yesus) alaihis salam diturunkan kembali dan kalian menawarkannya ayam goreng dan Beliau menggulung lengan baju dan mencuci tangannya, kemudian Nabi Isa alaihis salam mulai makan dengan alat makan ciptaan Allah Subhanahu wata’ala yaitu tangan manusia, maka peradaban barat modern akan berkata: “Hey kamu orang tidak beradab, itu bukanlah cara makan yang beradab, manusia beradab tidak makan dengan tangannya, hentikan penggunaan tangan dalam aktifitas makan jika ingin menjadi manusia yang beradab, karena manusia beradab saat ini adalah menggunakan alat makan berupa sendok dan garpu.” Apakah kalian melihat bentuk kesombongan dan arogansi dari mereka?

“Kami adalah manusia yang terlahir superioritas untuk memperadab dunia.”

Maka saat ini kita katakan kepada mereka, karena kita telah mempelajari filosofi dari awal sejarah, “Kalian adalah manusia yang sombong dan arogan. ”abaa wastakbara wa kaana minal kaafirin,” (Q.S Al Baqarah; 34)

Allah Subhanahu wata’ala mengusir Iblis karena kesombongan dan arogansinya, dan sifat sombong dan arogansi ini tidak diperkenankan dalam kehidupan Surga. Maka jika kaum Arab menganggap diri mereka lebih superior dibandingkan orang-orang yang bukan Arab, jika kalian (kaum Arab) beranggapan secara takdir bahwa Arab lebih superior daripada mereka yang bukan Arab, maka kalian juga telah mengikuti langkah Iblis. Jika kalian orang melayu yang mengklaim dirinya sebagai orang pribumi yang juga merasa lebih superior dari orang-orang Cina karena beranggapan bahwa itu adalah kodrat kalian, maka kalianpun telah mengikuti langkah Iblis. Jika orang India berkulit putih yang berada di Pakistan merendahkan harkat dan martabat orang India berkulit gelap yang berada di Bangladesh, maka kalianpun telah mengikuti langkah Iblis. Jika orang Arab berkulit putih merendahkan harkat dan martabat orang Arab berkulit gelap yang berada di Yaman, maka kabar terburuk bagi mereka adalah mereka telah termasuk ke dalam pengikut Iblis yang sombong dan arogan yang berada di halaman pertama sejarah kehidupan manusia bermula.

Inilah filosofi dari awal sejarah kehidupan manusia yang sepatutnya dapat kita renungkan dan dijadikan sebagai bahan untuk berpikir kritis dalam menyikap dan menentukan langkah kita dalam menghadapi berbagai fitnah di dunia akhir zaman ini.

Insya Allah.

Oleh Sheikh Imran Hosein

Editorial oleh Awaluddin Pappaseng Ribittara

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment