Melihat dengan Cahaya dari Allah

In Epistimologi by Hamba Allah0 Comments

Orang yang tidak memahami kenyataan dunia saat ini tidak pernah merasa yakin bahwa dia dibimbing dengan benar, dan oleh karenanya tidak dapat berfungsi sebagai pembimbing yang bisa dipercaya untuk orang lain. Keadaaan sulit bagi umat muslim saat ini adalah kebanyakan pemimpinnya tidak memahami kenyataan, dan oleh karenanya mereka sendiri tersesat. Di sisi lain, Hamba Allah Maha Tinggi yang sejati, yang diberkahi dengan pengetahuan tentang kenyataan, justru ditinggalkan, atau dijelek-jelekkan, dipinggirkan, dan dianiaya sehingga mereka tidak bisa berfungsi sebagai pembimbing.

Oleh karena itu, bimbingan mereka tidak pernah menjangkau umat muslim secara luas. Sarjana Islam, yang sekarang berusaha dengan pendalaman spiritual untuk menafsirkan al-Quran dan hadits Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wa sallam) guna menjelaskan dunia misterius pada saat ini,menghadapi masalah serius yang lain. Teman-temannya yang buta secara batin menghindarinya, dan keseriusan dan integritas kesarjanaannya dipertanyakan.

Kami berargumen bahwa jika sarjana Islam tidak diberkahi dengan ilmu batin intuitif spiritual (tentu saja dengan tambahan ilmu pengetahuan yang didapat secara eksternal), jika mereka tidak melihat dengan ‘cahaya’ Allah, maka dunia akan menipu mereka. Memang demikian, karena sudah menjadi sifat peradaban barat modern bahwa antara ‘penampilan’ dengan ‘kenyataan’ adalah sangat berbeda. Contohnya jalan menuju neraka dengan tipu daya ditampilkan sebagai jalan menuju surga (industrialisasi, modernisasi, kemajuan, dan kesejahteraan) begitu pun sebaliknya, tepat seperti ramalan Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wa sallam).

Ada banyak orang di antara umat manusia yang hatinya telah ditutup oleh Allah Maha Tinggi sehingga mereka tidak akan pernah mampu memahami al-Qur’an.

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling darinya dan melupakan perbuatan (jahat)nya? Sesungguhnya, Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka yang mencegah mereka memahami kebenaran (yang diturunkan dalam al-Qur’an ini); dan di telinga mereka (Kami telah meletakkan) ketulian; dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk (dari al-Qur’an ini), niscaya mereka tidak akan pernah menerimanya.” Al-Qur’an Surah Al-Kahfi, 18 Ayat 57)

Kesimpulan selanjutnya yang kami dapat sebagai hasil dari studi kami pada surat al-Kahfi adalah bahwa tidak mungkin kita dapat mempertahankan iman tanpa mengambil langkah untuk melepaskan diri dari kota-kota zaman modern yang tidak bertuhan dan menegakkan Islam di desa terpencil. Ini adalah pendapat sarjana Islam Turki yang terkemuka, Badiuzzaman Said Nursi. Pemimpin komunis Cina, Mao Tse Tung pun berpendapat serupa sehubungan dengan cara yang dia tempuh dalam perjuangan revolusionernya. Kami mengusulkan strategi menegakkan Islam pada tingkat mikro di lokasi terpencil Desa Muslim di mana umat muslim wanita dan anak-anak terlindung dari penindasan, ketidakbertuhanan, dekadensi, dan anarki yang terjadi di dunia.

Sebagai pertentangan secara epistemologis, sarjana- sarjana Islam zaman modern justru memiliki pandangan yang berlawanan. Mereka mengklaim bahwa umat muslim memiliki kewajiban untuk tetap ambil bagian dalam kehidupan dunia modern dan harus ikut membangun tempat tinggal di kota- kota besar zaman modern guna memainkan peran sebagai pembimbing umat manusia menuju jalan kebenaran. (*)

 Sheikh Maulana Imran Nazar Hosein

Leave a Comment