Menuju Tempat Kita Berlabuh (Hijrah)

In Hijrah, Opini by Hamba Allah0 Comments

Secara psikologis ada lima tahap perubahan yang telah dikonsep untuk berbagai masalah perilaku. Lima tahap perubahan tersebut antara lain adalah prakontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi/ tindakan, dan menjaga/pemeliharaan (pengembangan).

Prakontemplasi adalah tahap di mana tidak ada niat untuk mengubah perilaku di masa mendatang. Banyak orang di tahap ini tidak menyadari atau sedang berada di bawah kesadaran akan masalah yang sebenarnya dalam kehidupan mereka.

Kontemplasi adalah tahap di mana seseorang mulai menyadari bahwa ada masalah dan serius berpikir tentang mengatasi hal itu, tetapi belum membuat komitmen untuk mengambil tindakan/ aksi.

Persiapan adalah tahap yang menggabungkan niat dan kriteria dari sikap dan perilaku. Individu dalam tahap ini berniat untuk mengambil tindakan pada bulan depan dan telah berhasil mengambil tindakan dalam satu tahun terakhir.

Aksi adalah tahap di mana individu mengubah sikap dan perilaku mereka melalui pengalaman hidup, atau situasi dan kondisi lingkungan untuk mengatasi masalah mereka. Aksi melibatkan perubahan sikap dan perilaku yang paling terbuka dan membutuhkan komitmen dengan kesediaan waktu dan energi.

Pemeliharaan dan pengembangan adalah tahap di mana seseorang bekerja untuk mencegah terjadinya masalah yang sama (kekambuhan) dan mengkonsolidasikan manfaat yang dicapai selama aksi. Untuk perilaku adiktif, tahap ini bisa meluas dari enam bulan hingga ke periode tak tentu sejak dimulainya dari tindakan awal.


Akan terjadi penindasan di mana orang yang duduk akan lebih baik dari yang berdiri satu, dan berdiri satu akan lebih baik dari yang berjalan satu, dan berjalan satu akan lebih baik dari yang berjalan, dan siapa pun yang akan menawarkan dirinya dalam dunia penindasan tersebut, mereka akan menghancurkannya. Jadi siapapun yang dapat menemukan tempat untuk berlindung (perlindungan) dari mereka, harus berlindung di dalamnya.

Penindasan dan perbudakan telah terjadi di mana-mana. Masalah kehidupan dalam kondisi tersebut sangatlah beragam, baik dalam rasa sakit ataupun penderitaan yang mendalam.

Berbagai bentuk penipuan (fitnah) dalam kehidupan, baik yang berupa budaya konsumtif, dalam sistem ekonomi, teknologi, pertanian, kesehatan, pendidikan, pemerintahan, energi, hiburan, diri kita sendiri, masyarakat kita, dapat ditemukan penindasan tersebut dari segala jenis maupun bentuknya.

Dan sampai pada batas tertentu, kita telah rela menawarkan diri dan keluarga kita untuk kesengsaraan dari penindasan demi mengejar mimpi kita, dimana kita dengan bangganya menyebutnya sebagai mengejar kebahagiaan (di lingkungan sekitar kami menyebutnya sebagai mengejar kertas).

Saya sering mendengar orang mengatakan, “Aku akan duduk dalam menghadapi ini,” yang menurut saya adalah nasihat yang tepat untuk segala hal yang banyak melanda kita hari ini. Secara pribadi, saya telah menghabiskan sebagian besar hidup saya berlari, dan baru-baru ini saya telah belajar berjalan, dan pada waktunya, saya mungkin hanya belajar untuk duduk.

Pernahkah Anda mendengar bahwa Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubah apa diri mereka sendiri terlebih dahulu?

Tahapan Perubahan di atas adalah panduan yang berguna untuk mengubah sikap dan perilaku yang tidak diinginkan. Ini mencakup pengakuan masalah, kesediaan untuk merenungkan perubahan, perencanaan untuk memungkinkan sikap dan perilaku yang baru dan waktu untuk mengaktifkan keduanya serta mengintegrasikan perubahan.

Dengan kata lain, ini adalah proses, bukan peristiwa.

Bagi kami, proses ini selalu dimulai dengan refleksi diri dan kami cukup yakin semua itu akan berakhir dengan kesimpulan yang sama. Yaitu:

Hijrah

Untuk melaksanakan Hijrah pada awalnya memang berat, apa lagi jika kita diliputi oleh rasa ketakutan akan kesengsaraan/penderitaan/kekurangan/ketidaknyamanan, namun inilah yang dapat kami sampaikan kepada para kaum laki-laki para pemimpin keluarga

  • Jika tak mampu untuk pindah ke kampung pedalaman di lereng gunung, setidaknya kita berusaha untuk pindah ke desa yang jauh dari daerah perkotaan. Lalu memberi pengertian kepada istri, anak, adik, kakak, orang tua, dll, terutama pada kaum perempuan karena kaum perempuan pada umumnya dibutuhkan ekstra tenaga untuk membuka pemikiran dan pemahaman mereka, terutama bila mereka telah terlampau nyaman dengan sistem kehidupan di peradaban modern barat ini. Namun semua ini berkaitan dengan fitnah dajjal, bukan sekedar persiapan menghadapi dampak perang nuklir, jika hanya mengenai dampak perang nuklir, hal tersebut itu tentu sangat ringan bukanlah hal berat karena kematian adalah suatu ketetapan yang indah bagi mereka yang berpikir. Namun yang paling antisipasi disini, yang paling berdampak kerusakan total dari dalam diri kita dan keluarga kita adalah  “musyrik tanpa sadar” dan “riba” yang telah sekian lama mendarah daging dalam alur darah kehidupan di peradaban modern ini.
  • Persiapkan tempat yang akan dituju dalam hijrah, mulai sandang, pangan dan papan jangan lupa energi. Namun jika terkendala dengan kondisi ekonomi, maka kita dapat menggunakan energi alternatif yang tentunya berasal dari alam yang diberkahi oleh Allah. Semua ini tidak mudah karena kita benar-benar akan menjalani hidup yang berubah 360 derajat yaitu hidup mandiri, dimana segala sesuatu yang kita butuhkan kita sendiri yang harus menanam/memproduksi, mengolah dan mengembangkannya. Hal ini akan lebih mudah jika dilakukan secara berjamaah (komunitas/gotong royong).
  • Merujuk kepada sebuah hadist tentang kaum wanita dimana mereka ditakdirkan sebagai makhluk yang cenderung sangat cinta pada dunia, tapi sebagai seorang pemimpin, kaum laki-laki tidak boleh mengabaikan mereka. Kita diwajibkan untuk memberikan pemahaman kepada mereka mengenai Agama Islam yang otentik, bukan Islam yang sekuler .

Ada banyak hal yang harus dikerjakan dengan kepala dingin, sekali lagi bagi para wanita dan laki laki yang sudah berkeluarga bersabarlah dalam memberikan penjelasan, banyak diantara kita yang ingin hijrah namun belum mampu terutama dalam hal finansial. Jika pun ada yang mampu dari segi finansial, ujian/cobaan lain datang dari pihak keluarga, anak, saudara, orang tua, dll.

Mereka yang sudah terbangun fikirannya tentu akan menyadari realistas dunia saat ini memang sangat sensitif dampak dan pengaruhnya terhadap lingkungan internal (keimanan) diri dan keluarga kita, terutama mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Jika anda seorang perempuan dan mempunya suami seperti ini berbahagialah, jangan anda pikir ini adalah sesuatu yang lain/aneh apalagi menganggap mereka berada di aliran sesat, karena yang lain/aneh adalah diri anda sendiri karena anda belum menyadari dan belum bisa menerima hikmah/kebenaran .

Saat ini kita semua bagai hidup di Negeri asing. Kita punya dua dunia, dunia sekuler yang sudah tidak berTuhan dan dunia pribadi yang sedang berusaha berTuhan.  Kita harus bisa menempatkan diri sebelum dan sesudah kita benar-benar hijrah . Hijrah bukan hanya menghindar dari dampak berbagai kejadian yang akan ada di depan kita (Al Malhamah/Perang Nuklir/Armageddon), ini salah besar. Hijrah yang kita lakukan adalah untuk membangun kemandirian, membangun makanan makan sehat untuk diri dan keluarga kita terutama anak cucu kita nantinya, menyelamatkan diri dan keluarga kita dari syirik dan riba yang telah merata di seluruh sistem kehidupan kita, dan tentu saja merubah diri dan lingkup kehidupan kita ke kehidupan yang diselimuti oleh segala hal yang berhubungan dengan aturan Allah semata, Al-Qur’an dan Strategi Sunnah dari Rasullullah [saw].

Tantangan dan Solusi

Kami sarankan untuk kaum wanita dan para istri agar tidak buta karena melihat dunia peradaban modern ini sangat menarik dan untuk para suami pakailah cara yang sedemikian halus dan cara yang baik-baik karena semua ini tidak bisa serta merta seperti bertahapnya ayat yang turun mengenai riba yang memakan waktu sekitar 7 tahun.

Hanya wanita yang kuat yang akan mengerti dan mampu menerima pemahaman ini, wanita yang menaruh dunia dan pernak perniknya di tangannya bukan di hatinya.

Maka sekali lagi bagi anda para istri (kaum wanita) dan atau para suami (kaum laki-laki) yang berfikir bahwa Imran Nazar Hosein dengan Ilmu Islam dan Akhir Zaman ini adalah sesat atau menyesatkan dikarenakan menyarankan dan memberikan kita solusi untuk melaksanakan hijrah dan menyadarkan hakikat/realiatas lingkungan yang sudah rusak (syirik dan riba) ini sebaiknya anda membeli tiket ke bulan dan tinggalkan serta jangan mencampuri dan mengganggu urusan kami dalam menyebarkan dan menebarkan ilmu dan informasi ini.

Bagaimana dengan mereka yang berurusan atau menghadapai tantangan/masalah dengan kehendak/keinginan Orang Tuanya?

Ada yang berkata “Bagaimana kami bisa meninggalkan Riba namun durhaka kepada orang tua karena meninggalkan orang tua kita yang masih hidup dan tidak sejalan dengan pemikiran kami tentang hijrah ini? Bukankah ini bisa saja menjadi perbuatan dosa kepada orang tua kami?

Pemikiran seperti apa ini?

Jika anda sudah menikah, atau ketika anda sudah merasa dewasa dan mampu untuk hidup sendiri/mandiri dan mampu untuk mengambil kebijakan dan keputusan untuk menentukan arah hidup anda sendiri maka anda mempunyai jalan hidup sendiri, anda bukan lagi tanggung jawab orang tua anda, tapi jika anda mau memberi pengertian dan pemahaman kepada orang tua atau mertua anda dan mereka menerima alasan anda maka itu lebih baik, namun jika tidak maka tentu saja meninggalkan mereka dengan cara yang baik-baik tidak akan berdampak apa-apa (tidak berdosa) karena anda sedang berjalan menuju Jalan yang diinginkan oleh Allah. Letak kedurhakaanya dimana? Apa karena hijrah demi kembali ke jalan yang diridhai oleh Allah dengan meninggalkan mereka (keluarga kita) adalah durhaka?

Kita tidak akan bisa melihat Iman, sampai perintah Allah ada di atas segalanya. Bukan berarti meninggalkan yang lain, namun prioritasnya ada di atas yang lain. Allah yang pertama, lalu keluarga (anak, istri, orang tua, dll), usaha kita, kehidupan kita haruslah diatur untuk mengikuti yang pertama yaitu Allah. Jangan menerima pilihan di prioritas berikutnya yang bertentangan dengan yang pertama.

Solusi lain untuk para istri.

Bila anda belum siap secara lahiriah maka biarkan suami-suami anda membangun tempat penghijrahan terlebih dahulu dan ketika sudah siap huni barulah anda ikut hijrah.

Kita hidup di zaman ini hanya ada dua pilihan yaitu jalan kebenran atau jalan kesesatan (yang Haq atau yang Bathil). Pilihan ini yang akan menentukan kualitas kita di hadapan Allah SWT.

Bukankah di kehidupan saya saat ini (di kota yang serba ada) juga melaksanakan shalat, ibadah, zikir, shalawat, berhijab dan berusaha untuk tidak berbuat dosa?

Kalimat diatas benar tak ada salahnya, Tetapi:

  • Apa gunanya ibadah kita yang bedasarkan riba dimana bahan bakar dari sistem kehidupan yang kita jalani adalah uang kertas yang dikendalikan oleh sistem perbankan yang menghalalkan Riba, bisakah diterima oleh Allah? Beranikah kita mengalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah? Sedang Allah SWT dan Rasulullah [saw] menyatakan perang terhadap Riba?
  • Syirik. Syirik adalah dosa terbesar dan terberat yang tidak akan mungkin bisa diampuni. Syiriknya dimana? Saya kan tidak menyembah berhala, saya tidak menyembah kuburan dll? Lalu dimana letak kesyirikannya? Syiriknya ada pada setiap transaksi jual beli yang menggunakan uang kertas, syiriknya terletak dari sistem kehidupan masyarakat yang menggunakan hukum manusia di atas hukum Allah, syirik yang menjadikan sumber lain selain Al-Qur’an menjadi panduan hidup dan masih ada syirik lainya di sekitar kita, yang justru tanpa sadar kita telah menjalani kehidupan tersebut dengan perasaan nyaman, tentram dan aman.
The Sinking Ship

The Sinking Ship

Pesan dari Sheikh Maulana Imran Nazar Hosein

Peradaban barat modern saat ini telah mengarahkan hampir di seluruh aspek kehidupan manusia menuju kehidupan yang tidak berTuhan. Lihatlah bagaimana masa depan generasi anak cucu kita dimana perzinahan, minuman keras, korupsi, penipuan, penindasan, kebohongan, konsumerisme, dunia periklanan, materialisme, dan kini lebih parahnya lagi yaitu dengan hadirnya propaganda dan indoktrinisasi besar-besaran untuk menerima transgender; homoseksual; lesbianisme (hubungan sesama jenis) sebagai bagian dari hak asasi manusia, dan semua ini disuguhkan selama 24 jam dalam kehidupan kita sehari-hari. Lalu bagaimana bisa anda katakan bahwa hidup anda di zaman ini baik-baik saja atau aman, tentram dan nyaman saja?

Inilah tantangan dan ujian terbesar dalam kehidupan manusia di akhir zaman ini. Sebuah tantangan dan ujian yang diberikan oleh Allah untuk melihat isi hati manusia. Jika ada keimanan di dalam hati mereka, maka mereka pasti akan mampu melihat dan mengenal bahwa ini adalah kehidupan sampah/busuk, dan mereka pasti sangat menginginkan untuk memisahkan diri mereka dari bentuk kehidupan tersebut (peradaban barat modern). Sebaliknya jika tidak ada keimanan di dalam hati mereka, maka tentu saja mereka akan menanggap bahwa inilah masa kehidupan yang terbaik (maju/modern) yang pernah ada dibanding zaman/peradaban sebelumnya, dan merekapun memuja dan memujinya serta ikut berdansa dan menari di dalamnya. Dan kemanapun arah musik melantun maka mereka akan terus mengikuti arahnya meski harus menuju ke kehancuran mereka yaitu Api Jahannam.

Inilah drama kehidupan yang sedang berlangsung di dunia kita hari ini, baik dalam dunia ekonomi, sistem keuangan, sistem politik dan geopolitik. hubungan antara sesama manusia, sosial, budaya dll, dimana semua aspek kehidupan tersebut telah totalitas mengalami kerusakan/korup.

Namun kabar baiknya adalah bila kamu berjuang dan berusaha memisahkan diri dari bentuk kehidupan tersebut, bila kamu mengenal bahwasanya inilah kapal yang akan karam/tenggelam, bila kamu menyadari bahwa tidak akan ada seorangpun yang mampu menghalangi atau mencegah kapal tersebut menuju karamnya, bila kamu mampu menyadari bahwasanya ini adalah takdir ilahi dan bukan terjadi karena sebuah kebetulan, bila kamu menyadari bahwa jika kamu masih tetap berada di kapal yang akan karam tersebut lalu kamu tetap menari dan bergembira di dalamnya dan ketika tiba waktu karamnya maka kamu akan tenggelam bersamanya menuju Api Jahannam, maka apa yang harus kamu lakukan?

Jika kamu memiliki iman di dalam hati kamu, maka tinggalkanlah kapal itu, dan ketika kamu telah meninggalkan kapal tersebut namun istri, anak, orang tua dan keluarga kamu tidak mau meninggalkan kapal tersebut, maka teruslah berusaha/berjuang membujuk dan meyakinkan mereka dengan cara yang baik-baik untuk mengajak mereka meninggalkan kapal tersebut. Namun jika kamu masih tetap berada di kapal tersebut, maka tentu saja kamu akan tenggelam bersama mereka menuju Jahannam, dan kamu harus menerima takdir ilahi yang akan segera mendatangimu dan tentu saja ini adalah sebuah kebodohan.

Jika kamu memiliki iman di dalam hati kamu, jika kamu memiliki intelegensi dan mampu memaksimalkan kapsitas intelektual yang telah diberkahi oleh Allah kepada setiap hambaNya, dan jika kamu mencitai Allah dan mencintai keluargamu dan kamu ingin menyelamatkan mereka meski hanya bermodalkan intelegensi dan intelektualitas dalam diri kamu, maka tentu saja kamu harus meninggalkan kapal tersebut meski harus turun sendiri. Setelah kamu turun dan meninggalkan kapal tersebut, maka disitulah kamu akan memiliki kesempatan besar untuk menyelamatkan mereka (keluarga kamu). Namun jika kamu masih tetap berada di atas kapal, maka kamu termasuk orang-orang yang bodoh.

Kesimpulan yang kami ambil dari pesan Sheikh Imran Nazar Hosein di atas adalah jika kita benar-benar memiliki iman di dalam hati kita, maka beraksilah saat ini juga untuk turun dan meninggalkan kapal yang akan tenggelam/karam ini. Tentu saja yang dimaksud disini adalah Hijrah, meski harus sendiri. Baru setelah itu terealisasi, maka hal kedua yang kita lakukan adalah membujuk keluarga kita untuk ikut bersama kita menuju tempat kita berlabuh tersebut.

Lalu seperti apakah tempat/lokasi atau kondisi dan situasi tempat/lokasi dimana kita akan berlabuh (hijrah) tersebut? Dan apa saja yang perlu kita persiapkan (ilmu, wawasan, skill) untuk bertahan hidup di tempat hijrah tersebut?

Insya Allah akan kami bahas selanjutnya di bagian kedua artikel ini.

Semoga Allah menyempurnakan petunjukNya yang lurus kepada kita semua dalam perjuangan kita menjemput Cahaya-Nya dan dalam perjuangan kita untuk Hijrah menuju kesempurnaan jalan yang diberkahi oleh-Nya. Insya Allah…

image_pdfimage_print

Leave a Comment