Metodologi dalam Memahami Al-Qur’an (E-Book Terjemahan Bahasa)

In E Book, Metodologi by Hamba Allah0 Comments

“… dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud,” (Q.S Al Inshiqaaq, 84:21)

Al-Qur’an menyatakan bahwa ianya adalah Firman Allah SWT, dan Rasulullah saw menyatakan bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat yang turun kepadanya. Apakah benar demikian adanya?

Siapapun bisa membaca Al-Qur’an, tapi seseorang yang belum menanggapi pertanyaan di atas, terlebih dahulu dia harus menjawab pertanyaan di atas sebelum memulai langkahnya memahami Al-Qur’an. Mereka yang belum memutuskan untuk menerima atau menolak klaim Al-Qur’an tersebut bahwa ianya adalah Firman Tuhannya Nabi Ibrahim as, dapat mengetahuinya pada Kredensial Al-Qur’an, yang terletak pada Bab Pertama buku ini.
Mereka yang menolak Al-Qur’an mempunyai takdir yang sama dengan orang-orang yang menolak Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daus as, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as, yang mana semuanya adalah Firman Allah SWT.

Buku ini ditulis untuk menuntun mereka yang menerima Al-Qur’an sebagai Firman Allah SWT, dan yang ingin mempelajarinya. Dalam surat Al Qamar, ayat yang terus diulang sebanyak 4 kali:

metodologi1

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?.”(Q.S Al Qamar, 54:17, 22, 32, 40)

Hal ini harus dipahami dengan jelas bahwa mereka yang percaya kalau Al-Qur’an adalah Firman Allah SWT, namun gagal membaca dan memahami Al-Qur’an, suatu hari pasti akan membayar mahal karena melalaikan Kitab Allah SWT. Mereka akan ditanya di alam kubur setelah wafat, dan malalaikan akan datang dan bertanya kepadanya. Awalnya malaikat akan mengajukan pertanyaan seperti: “Siapa Tuhanmu? Nabi mana yang kamu ikuti? dan sebagainya. Jika seorang Muslim menjawab bahwa dia mengikuti Nabi Muhammad saw, berarti Kitabnya adalah Al-Qur’an, dan dengan Al-Qur’an lah dia akan dinilai. Apa akan dilakukan seorang Muslim yang malang ketika berada dalam kubur, yang mana selama hidupnya tanpa pernah membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab, jika malaikat memberinya sebuah Al-Qur’an dan menyuruh membaca Kitab tersebut? Apa yang akan terjadi jika Muslim tersebut meminta Al-Qur’an berbahasa Inggris atau Perancis? Apa yang akan terjadi jika bacaannya sangat buruk, banyak kesalahan dalam bacaan, hingga memalukan baginya? Al-Qur’an telah mengingatkan balasan yang akan menanti mereka yang tidak tahu berterima kasih kepada Tuhannya hingga menolak (mengabaikan) Kebenaran yang datang dari-Nya:

metodologi2

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).”(Q.S Al Anfaal, 8:50)

Pelajaran pertama ketika mempelajari Al-Qur’an, terlepas apakah dia Muslim, Kristen, Yahudi, atau yang lainnya, adalah bahwa tidak ada suatu kebetulan yang terjadi dalam Kitab ini. Malahan, setiap patah kata, setiap kalimat, termasuk bentuk literatur dalam sebuah kalimat yang disusun, secara khusus ditempatkan dalam Kitab ini dengan desain Ilahi demi sebuah tujuan. Bahkan tak dicantumkannya, seperti tidak dicantumkannya kalimat “Bismillaa Hirrahmaa nirrahiim“ dalam permulaan Surat At Taubah, sangat penting untuk dipelajari, dan juga pernyataan yang dipahami, yang sebenarnya tidak disebutkan dalam naskah, seperti (lihat tanda kurung):

metodologi3

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Q.S Al Baqarah, 2:184)

Oleh karena itu tidak mungkin mempelajari Al-Qur’an secara kredibel kecuali pelajar itu mengakses teks Arab dari Kitab tersebut. Seseorang dapat mebaca terjemahan (bahasa lain) Al-Qur’an, namun orang tersebut tidak pernah bisa mempelajari Al-Qur’an melalui terjemahan.

Penindas yang menyebut dirinya beradab yang mengendalikan kekuasaan di dunia modern, dan biasanya tanpa rasa malu menggunakan kekuasaan itu untuk menaklukkan dan menjajah sebagian besar dunia Islam dengan pedang yang penuh darah, dan membuat perubahan dalam sistem pendidikan yang mereka jajah, yang pada akhirnya merampas bahasa Arab dari hampir semua Muslim non-Arab. Bahkan disaat banyak orang Arab yang bermigrasi ke Eropa dari Afrika Utara, hal yang sama pun terjadi. Ada beberapa legiun Arab kontemporer yang lahir di Perancis, Belgia, Jerman atau di tempat lain Eropa Barat, atau yang sudah tiba di Eropa sebagai anak-anak, dan mereka saat ini tidak bisa membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab akibat sistem pendidikan tersebut, meskipun mereka adalah orang Arab (keturunan Arab). Buku ini (Methodology for Study of the Qur’an) ditulis khusus untuk membantu umat Islam.

Buku ini ditulis dengan rancangan untuk memastikan bahwa mereka akan lebih memprioritaskan untuk mempelajari bahasa Arab secara memadai agar mereka mampu membaca dan memahami Al-Qur’an dalam naskah bahasa Arab-nya. Ketika mereka berhasil mempelajari bahasa Arab yang sebelumnya telah dirampas dari mereka, dan mereka kemudian mempelajari Al-Qur’an, yang mana Kitab Mukjizat ini dapat menjadi sarana bagi mereka yang pada akhirnya mampu memberi respon pada penindas yang terus mengobarkan perang terhadap Islam atas nama Negara Penipu Dajjal Israel.

Kedua, Allah SWT telah menyatakan bahwa Dia mengutus Nabi Muhammad saw sebagai guru yang tidak hanya menyampaikan, tapi juga mengajarkan Al-Qur’an:

metodologi4

 

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Q.S Al Baqarah, 2:151)

Oleh karena itu, pelajar yang akan mempelajari Al-Qur’an harus mempelajari apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw mengenai Al-Qur’an. Sebagai contoh, dia menjelaskan Surat Yasin, sebagai jantung Al-Qur’an, dan dia menginginkan bahwa setiap Muslim harus menghafal Surat itu:

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Segala sesuatu memiliki jantung, dan jantung Al-Qur’an adalah Surat Yasin” (Sunan Tirmidzi)

Penting untuk dicatat bahwa ayat ini meberitahu kalau Nabi Muhammad saw pertama-tama harus menyucikan (yakni, Tazkiyah) orang-orang beriman sebelum dia bisa mengajari Al-Qur’an pada mereka. Kecuali hati yang berpaling kepada Allah SWT dengan ketulusan, hal ini tidak mungkin bagi seseorang untuk sungguh-sungguh mempelajari Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an lebih dari sekedar sebuah kitab. Ketika Nabi Muhammad saw ditanya: Apa mukjizatmu – sementara Nabi yang lain memiliki mukjizat, beliau menjawab bahwa mukjizatnya adalah Al-Qur’an. Ini adalah iman kepada Allah SWT yang menyucikan sebagian besar hati, dan mereka yang hatinya berpaling kepada sesuatu selain Allah SWT, dan yang memberikan loyalitas tertinggi mereka kepada sesuatu selain Allah SWT, tidak pernah bisa berhasil dalam mempelajari Al-Qur’an. Saat ini kebanyakan orang yang menguasai umat Islam, seperti mereka yang berkuasa di Pakistan, yang menyembah visa Amerika Serikat atau Riyal Arab Saudi, bukanlah yang menyembah Tuhan Yang Satu. Apa yang benar dari Dunia Muslim juga menjadi semakin benar dari dunia Kristen Ortodoks (selain Rusia).

Tak satupun di antara Muslim yang lebih hebat melakukan Tazkiyah, yakni penyucian hati, dari pada Ulama Sufi otentik yang dulu.

Bagaimana bisa musuh Islam pernah mempelajari Al-Qur’an ketika hatinya dipenuhi dengan kegelapan? Bagaimana bisa dia pernah melepaskan diri dari kegelapan ketika fungsi Al-Qur’an adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya?

metodologi5

 

“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.” (QS. Al-Hadiid 57:9)

Selagi guru (Nabi Muhammad saw) yang mengajarkan Al-Qur’an masih hidup, wajib umat manusia menerima apapun yang beliau ajarkan mengenai Al-Qur’an. Ketika beliau tidak lagi bersama kita di dunia ini, bagaimana caranya kita mengakses (menggapai) pengetahuan yang beliau ajarkan? Apa hakikat hubungan antar Al-Qur’an dan literatur Hadits? Buku ini mencoba menawarkan jawaban untuk pertanyaan yang penting ini.

Al-Qur’an sendiri telah menuntut, berulang kali, bahwa kitab tersebut dipelajari oleh semua orang. Kitab tersebut menyatakan bahwa ianya diturunkan kepada orang-orang yang berpikir, – dan berpikir adalah inti dari belajar:

metodologi6

“… Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (Q.S Yunus, 10:24)

Mereka yang bersikeras menolak mempelajari Al-Qur’an memancing kemurkaan Allah SWT sedemikian rupa hingga mereka bertanya apakah mereka memiliki kunci pada hati mereka:

metodologi7

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S Muhammad, 47:24)

Mereka yang berpikir, pada akhirnya akan sadar bahwa dunia materi yang saat ini dalam keadaan membusuk, dan sebagai akibat langsung dari kerusakan yang terus-menerus ditimbulkan oleh peradaban barat yang disebut modern. Apa yang benar dari dunia materi, juga benar dari dunia manusia yang jumlahnya jutaan hingga tak terhitung yang kini mengungsi akibat perang yang tidak adil, yang dilancarkan secara langsung oleh barat, atau dilancarkan secara tidak langsung melalui proksi mereka, yakni Turki, Saudi, atau Pakistan, atau para pengungsi yang kabur dari penindasan ekonomi dan moneter barat.

Al-Qur’an memberi peringatan tentang hukuman yang besar bagi mereka yang melakukan Fasad (kerusakan) di muka bumi. Fasad adalah perilaku yang tidak hanya merusak, tapi juga perilaku yang menghancurkan. Tidak perlu banyak berpikir bagi para pembaca untuk menyadari bahwa dunia saat ini mengalami Fasad secara menyeluruh. Ada Fasad yang merupakan perang tak seimbang yang tak ada habis-habisnya, dan juga dari segi sistem politik sekuler, ekonomi sekuler, sistem moneter, revolusi feminis dan hubungan pria-wanita, dalam bidang pertanian, transportasi, komunikasi, air konsumsi, dan lain-lain. Sejak Al-Qur’an menyatakan bahwa ianya menjelaskan segala sesuatu, yang mana kita bisa mencari tahu dengan mempelajari Al-Qur’an berdasarkan metodologi yang tepat hingga mampu menjelaskan Fasad universal. Jika kita tidak melakukannya demikian, kita akan mengkhianati Al-Qur’an, dan suatu hari kita akan membayar mahal atas pengkhianatan tersebut.

Hal yang paling ditakuti penindas adalah orang yang ditindas suatu hari akan memperoleh kembali kebebasan mereka untuk berpikir, dan disaat mereka mengenali siapa yang menindas dan siapa yang ditindas di dunia saata ini. Bagaimanapun, mereka yang berpikir, akan mengetahui bahwa televisi merupakan senjata terhebat yang digunakan penindas dengan cara merusak dan melumpuhkan kemampuan otak untuk berpikir, dan akibatnya membuat orang menjadi tuli, bisu, dan buta. Buku ini menganjurkan kepada mereka yang akan mempelajari Al-Qur’an agar tidak lagi menonton telivisi, membaca surat kabar mainstream dan mendengarkan radio mainstream, di mana semuanya digunakan untuk mencuci otak dan menghancurkan kemampuan otak untuk berpikir kritis.

Mereka yang membebaskan pikiran mereka, dan memulihkan seni berpikir kritis, diperintahkan oleh Allah SWT untuk menggunakan Al-Qur’an sebagai instrumen penting yang dapat digunakan untuk mengobarkan Jihad menentang mereka, sebagai contoh, yang melancarkan perang terhadap Islam, tapi yang dusta dan munafik menganggapnya sebagai perang melawan terror (war on terror):

metodologi8

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.”(Q.S Al Furqaan, 25:52)

Al-Qur’an menyadari bahwa pembaca pada umumnya akan berpikir tentang ayat-ayatnya dan mempelajarinya, supaya ada orang-orang yang, setelah mempelajari Al-Qur’an saat memikirkan dan merenungkannya, akan ditegur dalam artian kitab tersebut meresap ke dalam hati:

metodologi9

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”(Q.S Shaad, 38:29)

Oleh karena itu jelas bahwa mereka yang membangun hubungan biasa saja dengan Al-Qur’an, sambil mengambil kitab tersebut dan kemudian (biasanya setelah makan malam) melihat ayat sana-sini, akan berada dalam ketidaktaatan kepada Allah SWT, dan orang-orang seperti ini tidak pernah bisa, baik itu memahami Al-Qur’an, maupun meresapinya ke dalam hati.

Jika Al-Qur’an dipelajari oleh mereka yang berpikir, bukannya di baca sana-sini dengan santai, baik sekarang dan kemudian, bagaimana seharusnya kitab tersebut dipelajari? Adakah metode untuk mempelajari Al-Qur’an? Adakah metodologi, atau sistematika, analisis teoritis dari metode yang bisa diterapkan untuk bidang studi ini?

Imran Nazar Hosein
Rio Esvaldino


Silahkan unduh buku Metodologi dalam Memahami Al Qur’an terjemahan bahasa di bawah ini. Terima Kasih.

metodologi

Metodologi dalam Memahami Al Qur'an

Silahkan unduh e-book nya di bawah ini.

Download
image_pdfimage_print

Leave a Comment