Metodologi Dalam Mempelajari Al-Quran yang Ditawarkan oleh Ilmu Akhir Zaman (Eskatologi Islam)

In Metodologi by Hamba Allah1 Comment

Kampungmuslim.org – Metodologi adalah ilmu-ilmu atau cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang dikaji. Demikian pula dalam mempelajari Al-Quranul Kareem, dibutuhkan metolodi yang tepat yang menggabungkan antara pengetahuan yang bersumber dari kajian baik dari sudut pandang eksternal dan sudut pandang internal seorang manusia.

Berikut di bawah ini adalah metodologi yang menurut kami benar dalam mempelajari Al-Qur’an yang ditawarkan oleh Eskatologi Islam (Ilmu Akhir Zaman).

  1. Dilarang menarik kesimpulan suatu subjek hanya dengan mengandalkan satu ayat secara mandiri. Melainkan seluruh ayat-ayat dengan subjek sama dikumpulkan dan kemudian dicari sistem maknanya lalu benang merahnya. Baru kemudian membuat kesimpulan.
  2. Suka tidak suka, nyaman tidak nyaman, bila itu adalah ketetapan Al-Quran maka wajib dan harus tunduk kepadaNya. Pemahaman akan datang dengan sendirinya. Berbarengan dengan implementasinya. Tidak ada argumen yang berhak diajukan kepada Al-Quran dalam rangka untuk menganulirNya.
  3. Al-Quran menjadi hakim segala hal. Tidak ada argumen dari sumber lain yang dapat menganulir ketetapan Quran. Hadist misalnya.
  4. Ketika Al-Qur’an sudah menerangkan satu hal, maka tidak perlu mencari hal itu di Hadist, lalu Taurat dan Injil. Jika keterangan itu tidak terdapat di Al-Qur’an maka tahap selanjutnya adalah mencarinya di Hadist, lalu di Injil, dan terakhir di Taurat. Dalam kata lain Al-Qur’an selalu menjadi patokan utama dalam mencari dan menemukan kebenaran.
  5. Segala macam keterangan Hadist, Injil, dan Taurat yang berkontradiksi dengan Al-Qur’an adalah kesesatan yang berasal dari korupsi teks tangan manusia di kitab-kitab tersebut, Hal ini juga mengikat sumber-sumber yang lain. Ilmu dan pengetahuan lain.
  6. Tafsir atau terjemahan dan Takwil atau penerawangan (insight inquiry) adalah hal yang berbeda. Ada ayat yang jelas dan terang, ada juga ayat yang memerlukan Takwil. Yang dimaksud penerawangan disini adalah penyatuan konsep dengan kebenaran yang telah terjadi di bidang lain, seperti sejarah, politik, ekonomi, dll.
  7. Al-Qur’an mengatakan orang-orang yang dapat melakukan takwil adalah orang-orang yang ahli dalam banyak ilmu pengetahuan dan tunduk pada al-Quran dan apa yang telah diajarkan Muhammad [saw]. Tidak ada Takwil yang terkunci, yakni hanya Allah [swt] dan Muhammad [saw] saja yang mengetahuinya.
  8. Ada semacam kunci yang menghalangi Al-Qur’an untuk dapat dimengerti oleh orang-orang yang melihat dengan satu mata. Yaitu moralitas dan keimanan pembacanya.
  9. Allah Maha Mengetahui mana diantara hamba-Nya yang mendekati dan menghormati Al-Qur’an dan mana yang tidak.
  10. Al-Qur’an adalah presentasi atau paparan mengenai segala hal dan sesuatu, sehingga tidak hanya diperuntukkan untuk golongan tertentu saja, yakni yang berhak mengartikannya. Namun semua manusia, apapun agama mereka, bagaimanapun tingkat wawasannya, mereka dapat memahamiNya dengan dan atas izin Allah. Orang yang tidak mampu membaca atau menulis sekalipun dapat mengartikannya dengan mudah jika dia memenuhi syarat-syaratnya.
  11. Al-Quran selalu mengajak untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang besar. Dengan begitu bagian kecil dari teka tekhi (puzzle) kehidupan dapat dengan mudah dipahami secara mandiri.

Tirai yang Menghalangi Mata Pembaca Al-Quran

Adalah tembok yang tak terlihat, yaitu, cara berfikir manusia dan konsepsi mengenai apa itu manusia? Tembok ini dibuat oleh gerakan enlightment atau gerakan renaissance, yang diprakarsai oleh Kota Venice [ “ELIT” Yahudi Eropa]. Apa yang disebut sebagai materialisme, yaitu bahwa tidak adanya realitas di dunia ini kecuali realitas material/fisik. Dan fakta bahwa semenjak kemengangan gerakan pencerahan itu, manusia telah diajarkan untuk berfikir seperti itu semenjak mereka kecil. Demikian pula tentang konsepsi apa itu manusia? Rancang bangun sosial telah dilaksanakan secara terus menerus semenjak saat itu hingga sekarang.

Tirai ini hanya bisa dihancurkan dengan memformat ulang jalan dan bagaimana pikiran manusia bekerja. Jalan itu yang disebut al-Ihsan, yakni fikir dan zikir secara bersamaan, dengan implementasi melepaskan diri atau mengucilkan diri secara terus-menerus dari segala macam hubungan dengan peradaban manusia yang cenderung menyesatkan, hal inilah yang disebut sebagai  Tazkiyah.

 

“Kesadaran logika, gagal melihat keberagaman sebagai realitas [kebenaran] yang harmonis, hal ini karena mereka hanya punya satu cara, yaitu menarik kesimpulan dan konsepsi berdasarkan dari hal-hal yang penampilannya sama.” Muhammad Iqbal

Comments

  1. Nabi Khidr A.S (Mr.Green), gog & magog (ya’juj wa ma’juj), dajjal (the false messiah / anti christ), dabbatul ardh muqaddash (the beast from earth a/k the illegal state of israel), all of that things above in this end of time are already left behind by majority of Muslims from their –
    educated agenda, specially for the next generation of the Muslim ummah.

Leave a Comment