Metodologi Menghubungkan Awal dengan Akhir Zaman

In Dajjal, Metodologi by Hamba AllahLeave a Comment

Zaman Diawali dan Diakhiri oleh Allah SWT

Al-Qur’an telah, berulang kali, menegaskan bahwa kepada Allah awal dan akhir dari segala urusan, dan Kehendak-Nya berlaku baik di awal maupun di akhir. Berikut adalah beberapa ayat yang relevan:

صِراطِ اللَّهِ الَّذي لَهُ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الأَرضِ ۗ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصيرُ الأُمورُ

(Al-Qur’an Surat Asy-Syura, 42: 53)

“Ingatlah, kepada Allah-lah awal dan akhir kembali semua urusan dan hal ihwal!”

وَإِلَى اللَّهِ تُرجَعُ الأُمورُ…

(Al-Qur’an Surat Al-Hajj, 22: 76)

“. . . karena semua urusan dikembalikan kepada Allah sebagai sumber mereka.”

وَأَنَّ إِلىٰ رَبِّكَ المُنتَهىٰ

(Al-Qur’an Surat An-Najm, 53: 42)

“Dan kepada Tuhanmulah permulaan dan kesudahan segala sesuatu, dan ini pun termasuk sejarah.”

إِلىٰ رَبِّكَ مُنتَهاها

(Al-Qur’an Surat An-Nazi’at, 79: 44)

“Kepada Tuhanmulah dikembalikan awal dan akhir semua pengetahuan mengenai Akhir-waktu.”

كَما بَدَأَكُم تَعودونَ

(Al-Qur’an Surat Al-‘Araf, 7: 29)

“. . . sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan, demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya.”

Jika kita melihat semua ayat Al-Qur’an yang menghubungkan ‘awal’ dan ‘akhir’, dan jika kita menerapkan sistem makna yang mengikat ayat-ayat tersebut dalam kesatuan yang harmonis, maka kita sampai pada filsafat sejarah yang sangat penting bahwa kita mengakui—bukan hanya Kebenaran itu Satu—tetapi Satu Kebenaran itu pun meliputi totalitas proses sejarah yang bergelombang atau berliku-liku jalannya melalui sejarah dari matahari terbit hingga terbenam. Dengan kata lain, sejarah dimulai dengan Satu Kebenaran itu dan akan diakhiri dengan Kebenaran yang sama. Dengan demikian tidak ada kenaikan atau penurunan linear sejarah (yakni dalam pergerakan sejarah) dari ‘kebatilan’ menuju ‘kebenaran’ atau sebaliknya; juga tidak ada pergerakan siklus sejarah. Melainkan, pergerakannya yaitu dari Kebenaran menuju Kebenaran terlepas dari semua liku-liku sejarah. Ini seharusnya dikenal sebagai filsafat sejarah Islami.

Tidak ada lagi, barangkali, ayat Al-Qur’an yang disampaikan dengan deklarasi yang lebih fasih tentang kesatuan harmonis dalam proses sejarah yang mengunci dan mengikat ‘awal’ dengan ‘akhir’ dalam satu keseluruhan harmonis, selain ayat berikut ini:

ما خَلقُكُم وَلا بَعثُكُم إِلّا كَنَفسٍ واحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَميعٌ بَصيرٌ

(Al-Qur’an Surat Luqman, 31: 28)

“Penciptaan manusia, juga kebangkitan manusia, yaitu hanyalah seperti (penciptaan dan kebangkitan) satu jiwa saja: karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat segala sesuatu.”

Ayat lainnya dalam Al-Qur’an mendeklarasikan bahwa tanda kewenangan Allah tertera baik di awal, juga di akhir; yakni peristiwa yang terjadi sebelumnya, ini tentu termasuk awal sejarah, dan yang akan terjadi sesudahnya, dan ini pun tentu termasuk akhir sejarah. Ayat yang membuat deklarasi ini menyimpulkan, secara signifikan demikian, dengan ‘berita gembira’ pada akhir itu bagi orang-orang yang beriman kepada Satu Tuhan:

في بِضعِ سِنينَ ۗ لِلَّهِ الأَمرُ مِن قَبلُ وَمِن بَعدُ ۚ وَيَومَئِذٍ يَفرَحُ المُؤمِنونَ

(Al-Qur’an Surat Ar-Rum, 30: 4)

“. . . bagi Allah-lah segala kewenangan, contohnya, peristiwa yang terjadi dalam sejarah sebelumnya, yang termasuk awal, juga sesudahnya, yang termasuk akhir sejarah, dan pada hari akhir itu, ketika kewenangan Allah akan berlaku, orang-orang yang beriman pada Satu Tuhan akan bergembira.”

Sementara konteks langsung turunnya ayat di atas berhubungan dengan deklarasi dramatis kemenangan dengan izin Allah, yaitu kemenangan Kristen (Ortodoks) Bizantium atas Persia pagan (pagan dalam arti mereka adalah penyembah berhala, seperti bangsa Arab pada masa itu juga pagan), ayat Al-Qur’an memiliki maksud universal/umum dan tidak bisa dibatasi pada satu konteks sejarah yang spesifik/khusus; dengan demikian ayat Al-Qur’an ini sebenarnya menyampaikan deklarasi bahwa awal dan akhir sejarah berhubungan dan berkaitan dengan kewenangan Tuhan sehingga sejarah akan berakhir dengan kemenangan kebenaran atas semua saingannya, dan keimanan dan keadilan atas kezaliman dan penindasan. Kristen Ortodoks Rusia, yang saat ini memimpin umat Kristen Ortodoks, pasti merasakan kebahagiaan yang besar dengan kepastian kemenangannya akan terulang kembali pada akhir sejarah ini tertulis dalam Al-Qur’an. Muslim juga, tentu akan bahagia merayakan kemenangan itu sekali lagi, sebagaimana mereka berhasil pada pertama kali, perbedaannya hanya dengan bersekutu dengan Rum yakni umat Kristen Ortodoks, pada kali kedua ini. Nabi sendiri memberikan nubuwah mengenai persekutuan tersebut:

“Kalian akan berdamai dengan Romawi, yakni Kristen/’Rum’, dalam perjanjian gencatan senjata yang aman/persekutuan, dan kalian bersama mereka akan memerangi musuh yang ada di belakang kalian, dan kalian akan menang” (Kami mengeluarkan sisa isi hadits ini karena bertentangan dengan bagian yang telah kami kutip, juga bertentangan dengan Al-Qur’an)

(Sunan Abu Daud)

Kemenangan Kebenaran pada akhir sejarah ditegaskan dalam ayat yang tiga kali diulang dalam Al-Qur’an yakni:

هُوَ الَّذي أَرسَلَ رَسولَهُ بِالهُدىٰ وَدينِ الحَقِّ لِيُظهِرَهُ عَلَى الدّينِ كُلِّهِ وَلَو كَرِهَ المُشرِكونَ

(Al-Qur’an Surat Al-Fath, 48:28); (Ash-Shaf, 61:9); (At-Taubah, 9:33)

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya, yakni Nabi Muhammad, dengan tugas menyebarkan petunjuk dan agama kebenaran, sampai pada akhirnya Dia menjadikannya menang atas setiap agama yang batil; dan cukuplah Allah sebagai saksi.”

Muslim dan Kristen Ortodoks, keduanya memiliki banyak kesamaan eskatologis, dijamin mendapat kemenangan pada akhir sejarah. Kami, sebenarnya, berada pada dasar yang kokoh tatkala kami memperkirakan persekutuan Muslim-Ortodoks dalam perjuangan militer untuk menaklukkan Konstantinopel karena menurut nubuat Nabi Muhammad (saw) akan terjadi segera setelah Malhama atau Perang Akbar (Kristen menyebutnya Armageddon) di mana 99 dari setiap 100 pejuang akan terbunuh. (Sahih Bukhari, Sahih Muslim)

Penting bagi kami untuk mengingatkan pada kesempatan ini bahwa Islam tidak pernah mengklaim Kebenaran datang ke dunia untuk pertama kali dengan Nabi Muhammad (saw), tidak pula Al-Qur’an pernah mengajukan klaim untuk memonopoli Kebenaran! Melainkan Al-Qur’an secara konsisten menegaskan bahwa Kebenaran yang datang ke dunia bersama Nabi Muhammad (saw), juga sebelumnya datang bersama Nabi-Nabi Tuhan Yang Esa seperti Nabi Ibrahim, yakni Abraham, Nabi Musa yakni Moses, Nabi Daud yakni David, Nabi Isa yakni Yesus (as), dll. Dan dalam kitab suci seperti Taurat yakni Torah, Injil yakni Al-Kitab, yang diwahyukan kepada mereka. Sesungguhnya Al-Qur’an menyatakan bahwa kedatangannya bukan hanya untuk mengkonfirmasi dan memvalidasi kebenaran yang diturunkan sebelumnya, tetapi juga menjaga dan melindunginya (llihat Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 48). Jadi, ini adalah ‘kebenaran abadi’ yang diturunkan untuk terakhir kali dalam kitab terakhir, yakni Al-Qur’an, dan ini adalah kebenaran yang akan meraih kemenangan pada akhir sejarah. Hanya ada dua umat beragama (juga tentu Yahudi secara individu, dan individu-individu lainnya) akan memegang kebenaran itu pada akhir sejarah—yakni umat Muslim sejati dan umat Kristen sejati.

Kebenaran tidak mensyaratkan pasukan darat, laut, dan udara, untuk meraih kemenangan atas semua saingannya. Kebenaran tidak pernah melancarkan perang tiada akhir untuk membangun dominasi penuh secara politik, ekonomi, dan militer atau menguasai seluruh dunia untuk meraih kemenangan atas semua saingannya; dengan demikian klaim arogan berdarah Zionis pada Kebenaran sebenarnya palsu dan sesat. Melainkan Kebenaran mensyaratkan orang-orang beriman untuk melawan penindasan, dan merespon pihak penindas dengan segala cara yang sah untuk membebaskan pihak yang tertindas dan memastikan keadilan menang di dunia. Persekutuan Kristen-Yahudi Zionis dan sekutunya di seluruh dunia, mengejar klaim Kebenaran mereka dengan penindasan terbesar dalam sejarah, dan dengan segunung kebohongan. Kristen-Yahudi Barat modern pun berusaha mencuci otak dunia non-Barat yang mereka serang dan jajah, untuk percaya bahwa mereka adalah bangsa beradab yang diangkat dengan misi ilahi untuk membangun peradaban bangsa-bangsa di dunia non-Barat. Mereka melaksanakan yang disebut tugas ilahi ini dengan keyakinan arogan bahwa mereka diciptakan lebih unggul dari semua bangsa lainnya. Buku ini mengenali Dajjal sebagai dalang yang membangun peradaban arogan Zionis Kristen Yahudi Barat.

Islam bukan paham imperialisme, dan bukan Imperium Islam yang menyebar dengan cepat pada awal sejarahnya. Melainkan, dunia yang tertindas menerima Islam. Jika umat Muslim berperang dan menaklukkan wilayah untuk alasan selain membebaskan pihak yang tertindas dan melawan agresi, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Hindu India juga terhadap negeri Kristen Ortodoks di Balkan, dan mungkin terhadap negeri lain, maka peperangan seperti itu adalah Jihad palsu, dan mereka akibatnya tentu saja meninggalkan jejak kebencian abadi terhadap Islam!

Islam palsu itulah yang membuat kesepakatan dengan Henry Kissinger untuk menjual minyak hanya dengan dolar AS sehingga memaksa dunia menerapkan sistem moneter yang curang dan penuh dengan tipu daya petrodolar. Islam palsu itulah yang kini menerapkan di negeri Islam sistem perbankan Haram yang disebut Syari’ah, dan yang menghalalkan Bitcoin yang haram sebagai uang. Dan Islam palsu itulah yang menari bersama setiap irama nada yang dimainkan Dajjal yakni revolusi feminis, untuk melarang pernikahan gadis berusia tujuh belas tahun dan mendorong perempuan untuk menduduki setiap jabatan publik yang memungkinkan hingga nubuwah tidak menyenangkan yang disampaikan Nabi Muhammad (saw) mengenai ‘Dajjal dan perempuan’ terwujud menjadi nyata, sebagaimana ‘malam’ menjadi ‘siang’.

Al-Qur’an menghubungkan awal sejarah dengan akhir sejarah, dalam ayat lain sebagai berikut:

هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظّاهِرُ وَالباطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيءٍ عَليمٌ

(Al-Qur’an Surat Al-Hadid, 57: 3)

Dialah—Allah (SWT)—Yang Awal dan Yang Akhir. Yang Zhahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat di atas lagi-lagi memberi saran adanya hubungan antara awal dan akhir sejarah—yaitu bahwa akhir sejarah tidak bisa dipahami sepenuhnya tanpa mengkaji peristiwa-peristiwa yang terjadi pada awal sejarah.

Jika Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah SWT Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin, dan jika ayat tersebut menyimpulkan dengan pernyataan “Dia Maha Mengetahui (sepenuhnya) segala sesuatu”, implikasinya adalah Awal, Akhir, Zhahir, dan Batin disebutkan dalam konteks pengetahuan; dengan demikian tatkala Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah SWT Yang Awal, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, artinya Dia memiliki pengetahuan awal sejarah; dan tatkala Al-Qur’an menyatakan Dialah Yang Akhir, implikasinya sama; dengan demikian Dia pun memiliki pengetahuan akhir sejarah. Tatkala Awal dan Akhir disandingkan bersama, sebagaimana dalam ayat di atas, secara logis menandakan hubungan ilahi antara pengetahuan akhir sejarah dengan pengetahuan awal sejarah. Karena Al-Qur’an telah menyampaikan pesan mengenai topik awal sejarah, implikasinya yaitu dengan pengetahuan itulah ulama memiliki kemampuan membuat kontribusi ilmu akhir zaman untuk memahami dan menjelaskan sejarah, proses sejarah dan pergerakan sejarah.

Guru saya dalam bidang filsafat sejarah, Dr. Burhan Ahmad Faruqi (ra) mengajarkan filsafat sejarah Islami yang mengakui tujuan dan akhir sejarah dengan “realisasi kembali kebenaran abadi”. Dengan kata lain, Kebenaran ditegakkan pada awal sejarah, dan akan kembali ditegakkan pada akhir sejarah. Dengan ‘penegakkan’ Kebenaran, maksudnya yaitu kemenangan Kebenaran atas semua saingan. Dunia pernah merasakan kesimpulan itu dalam proses sejarah tatkala sejarah menyaksikan kedatangan Nabi atau Utusan terakhir Allah SWT, yakni Nabi Muhammad (saw). Kebenaran menang atas semua saingan di Arabia 1400 tahun lalu, dan Kebenaran akan kembali menang atas semua saingannya pada akhir sejarah.

Kitab ‘Wahyu’ dalam Injil Yesus, yakni Nabi Isa (as), membawa pernyataan mengenai Tuhan yang hampir identik dengan ayat Al-Qur’an yang disebutkan di atas, yaitu menghubungkan ‘awal’ dengan ‘akhir’ sejarah:

Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir (‘Alfa’ dan ‘Omega’ adalah huruf pertama dan terakhir dalam alfabet Yunani).

(Wahyu, 22: 13)

Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa (as) pun mengatakan hal serupa:

“Beginilah firman Tuhan—Raja dan Penebus Israel, Tuhan semesta alam: Akulah yang pertama dan Akulah yang terakhir; tidak ada Tuhan selain Aku.”

(Yesaya, 44: 6)

Para pembaca kami mungkin ingin memeriksa eskatologi yahudi dan kristen untuk menemukan hubungan yang dibuat pendeta kristen dan yahudi antara ‘awal’ dengan ‘akhir’ sejarah, dan dengan hasil yang seperti bagaimana.

Awal, Akhir, dan Dajjal

Peristiwa utama topik kedatangan Al-Masih Al-Dajjal atau Dajjal Mesias palsu (sebagian menyebutnya Anti-Kristus), dan kembalinya Nabi Isa (as), yakni Yesus Mesias asli, keduanya terjadi pada akhir sejarah. Hanya Muslim dan Kristen, dua umat beragama di antara semua umat manusia yang meyakini dua peristiwa ini termasuk dalam keimanan religius. Sebagai akibatnya baik Muslim maupun Kristen harus berusaha menentukan apakah peristiwa Akhir-waktu ini berhubungan dengan peristiwa yang telah terjadi pada awal zaman.

Umat Muslim dapat memulai usaha tersebut dengan percaya diri pada hasil positif karena Nabi Muhammad (saw) menyatakan bahwa “setiap Nabi sebelumnya (dan beliau adalah yang terakhir dari semuanya) memperingatkan kaumnya tentang Dajjal, atau Anti-Kristus”. Beliau bahkan melanjutkan untuk lebih memperjelas sehingga beliau memasukkan nama Nabi yang ada pada awal sejarah. Beliau melakukan demikian tatkala disebutkannya secara khusus Nabi Nuh, yakni Noah (as), dalam hubungan tersebut:

Abdullah bin Umar berkata: . . . . “Rasul Allah kemudian berdiri di hadapan orang-orang, memuji Allah dengan pujian yang semestinya dan kemudian beliau menyebut nama Dajjal dan bersabda: ‘Aku memperingatkan kalian tentang dia, dan tidak ada nabi yang tidak memperingatkan kaumnya tentang dia.’ Nuh memperingatkan kaumnya tentang dia. . .”

(Sahih Bukhari)

Jika setiap Nabi memperingatkan kaumnya tentang Dajjal, maka pasti ada informasi tentang dia, atau berhubungan dengan dia, pada awal sejarah. Maka dari itu mari kita membahas lembaran pertama sejarah dalam usaha memahami peristiwa paling penting yang terjadi dekat dengan akhir sejarah dan tanpa peristiwa ini terjadi tidak akan ada Dajjal.

Jika tidak ada orang yahudi yang menolak Yesus putra perawan Maryam, sebagai Mesias yang dijanjikan, tidak ada tuntutan untuk penyalibannya, dan tidak ada yang menyombongkan diri tatkala mereka melihatnya disalib di depan mata kepala mereka, maka tidak akan perlu datang seorang Mesias palsu atau Anti-Kristus sebelum kembalinya Mesias asli, atau tatanan dunia Yakjuj dan Makjuj yang bekerja untuk Anti-Kristus dalam membantu dia merealisasikan misinya, dan tidak akan ada kembalinya Mesias asli, pada akhir sejarah.

Karena kembalinya Mesias asli, dan kedatangan Mesias palsu sebelum mukjizat kembalinya tersebut, terjadi pada inti akhir sejarah, dampak bagi Kristen dan Muslim yakni dua umat beragama yang meyakini Yesus akan kembali suatu hari nanti, adalah kesimpulan dramatis tentang proses sejarah tidak bisa dijelaskan tanpa kita menemukan penjelasan alasan penolakan kaum Yahudi terhadap Yesus (as). Pendapat kami yaitu alasan utama penolakan mereka ada pada peristiwa awal sejarah—maka dari itu kita perlu membahas topik ini.

Yesus (as) dilahirkan sebagai bangsa Israel, dengan demikian termasuk dalam bangsa yang mengklaim, dan masih mengklaim hingga hari ini, bahwa mereka adalah bangsa spesial karena Tuhan memilih mereka dari antara semua umat manusia dan memberikan kepada mereka kedudukan spesial kekasih Tuhan. Mereka mengharapkan seorang Mesias yang dijanjikan Tuhan kepada mereka, dan tatkala ia datang, akan merestorasi zaman keemasan ketika bangsa Yahudi memimpin dunia. Tatkala Yesus mengklaim sebagai Mesias, dan cukup terkenal bahwa beliau dilahirkan dari ibu yang tidak menikah, mereka menolak klaimnya sebagai Mesias karena tuntutan mereka bahwa dia adalah anak ‘haram’. Mereka juga sangat marah ketika mereka melihatnya melakukan mukjizat sebagai anak laki-laki terlepas dari dugaan status ‘anak haram’; contohnya dia mengambil tanah liat, membentuknya menjadi burung-burung, meniupnya, dan dengan izin Allah, mereka menjadi burung-burung yang hidup (Al-Qur’an Surat Ali Imran, 3: 49). Namun mereka pun sangat marah kepadanya karena alasan lain. Al-Qur’an secara konsisten mengutuk mereka karena telah mencemari wahyu ilahi dengan mengubah dan menulis ulang firman Tuhan Yang Esa. Al-Qur’an mengidentifikasi, contohnya saja, perubahan yang membuat Halal, yakni diizinkan, apa yang diharamkan Allah, yakni dilarang. Mereka mengambil Riba atau renten, meskipun mereka telah dilarang dari melakukan itu (Al-Qur’an Surat An-Nisa, 4: 161).

Juga merupakan kejahatan mencemari kitab suci karena mereka mengklaim, dengan sombong, bahwa mereka adalah kaum pilihan Tuhan dari antara umat manusia lainnya, dengan demikian tidak ada kafir/orang non-yahudi yang sebanding dengan bahkan orang yahudi terendah sekalipun. Mereka tidak meyakini bahwa mereka akan diadili secara individual pada Hari Penghakiman, melainkan mereka meyakini akan diadili secara kolektif sebagai satu kaum (sementara bangsa lain diadili secara individual), dan bahwa surga sudah disediakan untuk mereka.

Inilah apa yang dikatakan di dalam Taurat mengenai kedudukan mereka sebagai kaum pilihan:

“Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Yahweh Tuhan-mu, dan engkau telah dipilih Tuhan untuk menjadi umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi.”

(Ulangan, 14: 2)

“Jadi sekarang jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.”

(Keluaran, 19: 5)

“Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-menurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Tuhanmu dan Tuhan keturunanmu.”

(Kejadian, 17: 7)

“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan para imam dan bangsa yang kudus.”

(Keluaran, 19: 6)

“Tuhan mengasihi dan memilihmu bukan karena kamu bangsa yang terbesar, malahan yang terkecil jumlahnya dari semua bangsa. Namun karena Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada leluhurmu.”

(Ulangan, 7: 7-8)

“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.”

(Amos 3: 2)

Sangat aneh dan benar-benar misterius bahwa peradaban Barat modern muncul dalam sejarah dengan kekuatan besar yang belum pernah ada sebelumnya, kemudian melakukan penindasan ke seluruh dunia, menundukkan jutaan orang tak terhitung di bawah penjajahan Barat dan pemerintah kolonial seraya mengangkat klaim yang sama sebagai bangsa yang lebih unggul daripada bangsa non-Eropa di dunia. Mereka pun menggunakan klaim yang sama untuk membenarkan perbudakan Barat atas bangsa Afrika. Politisi dan sarjana terkemuka Hindia Barat (West Indies), Dr. Eric E. Williams, telah membuktikan dan mendedah klaim keunggulan rasial Barat dalam buku yang ditulis dengan sangat baik berjudul ‘British Historian and the West Indies’ (Sejarawan Inggris dan Hindia Barat) (Andre Deutsch, London. 1966).

Karena Yesus menantang keyakinan ini sehingga mereka dengan keras dan berapi-api menolak beliau sebagai Mesias yang dijanjikan, dan menuntut eksekusi hukuman penyalibannya. Tatkala mereka melihat ia disalib di depan mata mereka, maka secara meyakinkan mensahkan penolakan mereka terhadap klaimnya sebagai Mesias asli karena Taurat sendiri telah menyatakan bahwa “seorang yang digantung di tiang salib terkutuk oleh Tuhan” (Ulangan, 21: 22-23). Karena dia “dikutuk Tuhan” maka secara logis dia bukanlah Mesias.

Jika sejarah berakhir dengan validasi klaim Yahudi pada Kebenaran, dan jika Kebenaran mengakui bangsa Yahudi sebagai kaum pilihan Tuhan, kekal dan tanpa syarat dipilih dari segala bangsa, maka pilihan ilahi yang mengherankan dan secara etis meragukan ini harus mendapatkan dukungan pada awal sejarah. Jika ini tidak didukung fakta pada awal sejarah maka klaim kebenaran ini jelas meragukan! Jika klaim kebenaran Yahudi divalidasi maka sejarah harus berakhir dengan kedatangan Mesias selain Yesus (as) karena mereka menolaknya sebagai Mesias.

Yesus, Bangsa Yahudi, dan Kaum Terpilih

Bangsa Yahudi mempunyai masalah utama dengan Nabi Isa, yakni Yesus (as), karena beliau mengutuk mereka dengan bahasa yang keras tatkala menolak klaim bahwa mereka berkedudukan spesial di hadapan Allah (SWT) sebagai kaum terpilih.

Yesus menyatakan kepada bangsa Yahudi bahwa Iblis adalah ayah mereka. Dengan kata lain, alih-alih mengakui mereka sebagai kaum pilihan Tuhan, beliau menyatakan bahwa mereka, sebetulnya, adalah kaum pilihan Setan karena perilaku mereka seperti setan. Beliau menganggap mereka bermata satu, yakni buta mata hatinya, dan menyatakan mereka sebagai “bangsa ular berbisa”:

Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Bilamana ia bicara dusta, dia bicara atas kehendaknya sendiri, sebab dia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

(Yohanes, 8: 44)

 

Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.

(Matius, 12: 34)

 

Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga aku menyembuhkan mereka.

(Matius, 13: 15)

Al-Qur’an mendukung tanggapan Nabi Isa, yakni Yesus (as). Sebenarnya Al-Qur’an bukan hanya menolak klaim kaum Yahudi bahwa kedudukan spesial mereka sebagai kekasih Tuhan adalah keliru, namun juga melanjutkan untuk menantang mereka agar menginginkan atau menyegerakan kematian jika mereka percaya kebenaran klaim mereka:

قُل يا أَيُّهَا الَّذينَ هادوا إِن زَعَمتُم أَنَّكُم أَولِياءُ لِلَّهِ مِن دونِ النّاسِ فَتَمَنَّوُا المَوتَ إِن كُنتُم صادِقينَ

وَلا يَتَمَنَّونَهُ أَبَدًا بِما قَدَّمَت أَيديهِم ۚ وَاللَّهُ عَليمٌ بِالظّالِمينَ

قُل إِنَّ المَوتَ الَّذي تَفِرّونَ مِنهُ فَإِنَّهُ مُلاقيكُم ۖ ثُمَّ تُرَدّونَ إِلىٰ عالِمِ الغَيبِ وَالشَّهادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِما كُنتُم تَعمَلونَ

(Al-Qur’an Surat Al-Jumuah, 62: 6-8)

Katakanlah: Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi! Jika kamu mengklaim bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah, yakni dipilih oleh Allah SWT, bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu—jika kamu adalah orang-orang yang benar! Akan tetapi mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya, disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri, yakni perilaku mereka yang berdosa; dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu—kemudian kamu akan dikembalikan kepada-Nya, Yang mengetahui yang ghaib (yang tidak terjangkau oleh pancaindera) dan yang nyata (yang dapat dirasakan oleh pancaindera dan pikiran), lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Al-Qur’an kembali menantang mereka mengenai keyakinan mereka bahwa surga sudah disediakan untuk mereka:

قُل إِن كانَت لَكُمُ الدّارُ الآخِرَةُ عِندَ اللَّهِ خالِصَةً مِن دونِ النّاسِ فَتَمَنَّوُا المَوتَ إِن كُنتُم صادِقينَ

وَلَن يَتَمَنَّوهُ أَبَدًا بِما قَدَّمَت أَيديهِم ۗ وَاللَّهُ عَليمٌ بِالظّالِمينَ

(Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 94-95)

 

“Katakanlah: Jika kamu menganggap bahwa kampung akhirat itu khusus untukmu di sisi Allah, yakni tempat tinggal di surga, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematianmu—jika kamu memang benar! Namun sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri: dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”

Al-Qur’an bertanya dengan tekanan logika yang cerdas, jika Tuhan memilih kalian sebagai kaum ‘spesial’, ‘pilihan’, dan ‘kekasih’-Nya, lalu mengapa, Dia menghukum kalian karena dosa-dosa kalian?

وَقالَتِ اليَهودُ وَالنَّصارىٰ نَحنُ أَبناءُ اللَّهِ وَأَحِبّاؤُهُ ۚ قُل فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنوبِكُم ۖ بَل أَنتُم بَشَرٌ مِمَّن خَلَقَ ۚ يَغفِرُ لِمَن يَشاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلكُ السَّماواتِ وَالأَرضِ وَما بَينَهُما ۖ وَإِلَيهِ المَصيرُ

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 18)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Katakanlah: Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya, tetapi kamu adalah manusia biasa di antara orang-orang yang diciptakannya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali segala sesuatu.

Al-Qur’an menutup dugaan pilihan Tuhan terhadap bangsa Yahudi tatkala Al-Qur’an menyatakan bahwa pemilihan Tuhan terhadap manusia berdasarkan kesalehan/takwa alih-alih keturunan:

يا أَيُّهَا النّاسُ إِنّا خَلَقناكُم مِن ذَكَرٍ وَأُنثىٰ وَجَعَلناكُم شُعوبًا وَقَبائِلَ لِتَعارَفوا ۚ إِنَّ أَكرَمَكُم عِندَ اللَّهِ أَتقاكُم ۚ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ خَبيرٌ

(Al-Qur’an Surat Al-Hujurat, 49: 13)

“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal, yakni berkaitan dengan klasifikasi umat manusia. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Nabi Muhammad (saw) pun menolak klaim kaum Yahudi berkenaan dengan kedudukan spesial (hak dari lahir) di sisi Allah tatkala beliau menyatakan: bahwa semua manusia setara di hadapan-Nya seperti gerigi sisir”. (Sahih Bukhari)

Kini kita haus bertanya,—dari mana asalnya klaim arogan kaum Yahudi mengenai hak asasi berkedudukan lebih unggul daripada semua manusia?

Al-Qur’an mengkonfirmasi bahwa bangsa Israel adalah keturunan Nabi Ibrahim, yakni Abraham (as), dan juga menegaskan bahwa Allah (SWT) menganugerahi Ibrahim kedudukan sebagai Imam, yakni pemimpin spiritual atau religius, umat manusia. Ibrahim menanggapi, meskipun begitu, dengan permintaan agar keturunannya pun mendapatkan kedudukan yang dianugerahkan kepadanya. Sebagai konsekuensinya bangsa Yahudi sampai pada kesimpulan bahwa karena mereka adalah keturunan Ibrahim, mereka memiliki kedudukan khusus sebagai anugerah ilahi untuk mereka. Namun Al-Qur’an menjelaskan bahwa tanggapan Allah terhadap permintaan Ibrahim yaitu menganugerahkannya dengan syarat:

وَإِذِ ابتَلىٰ إِبراهيمَ رَبُّهُ بِكَلِماتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قالَ إِنّي جاعِلُكَ لِلنّاسِ إِمامًا ۖ قالَ وَمِن ذُرِّيَّتي ۖ قالَ لا يَنالُ عَهدِي الظّالِمينَ

(Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, 2: 124)

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah-Nya, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam, yakni pemimpin, bagi seluruh manusia. Ibrahim bertanya: Dan apakah Engkau menjadikan keturunanku sebagai pemimpin pula? Allah menjawab: Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zalim.”

Syaratnya yaitu kedudukan ini tidak akan diberikan kepada orang-orang dari keturunannya yang berbuat zalim, jahat dalam perilaku, atau penindas. Allah (SWT) melanjutkan memenuhi janji-Nya kepada Ibrahim (as) dengan memilih Imam-imam dari keturunannya, inilah sebabnya fenomena jalur kenabian terus menerus dipilih dari keturunan Ibrahim yang semuanya diutus kepada bangsa Israel. Paling maksimal yang bisa diklaim bangsa Yahudi, dengan demikian, yaitu Allah (SWT) menerima permintaan Ibrahim dan memberkahi keturunannya yang saleh/bertakwa dengan memilih secara berkelanjutan jalur Imam atau Kenabian dari keturunan yang saleh tersebut. Mempercayai orang-orang Israel, yang saleh, maka mereka dapat mengklaim bahwa Allah SWT memilih Nabi-nabi dari golongan ‘kami’.

Dengan demikian, Nabi-nabi Allah selalu dipilih dan ditunjuk dari keturunan Nabi Ibrahim yang saleh saja (karena Janji ini tidak berlaku untuk mereka yang jahat). Hal ini berlanjut tanpa jeda hingga kelahiran sang Mesias, Yesus putra Perawan Mariam (as). Ibunya Mariam disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai wanita dari keluarga Imran, dan Mariam sendiri disebut “saudara perempuan Harun” dan Harun sendiri adalah putra Imran.

Sungguh aneh bahwa tidak ada bukti Imran memiliki kedudukan sebagai seorang Nabi. Tetapi beliau adalah ayah dari dua Nabi—Musa, yakni Moses, dan Harun, yakni Aaron, (as). Al-Qur’an menyebutkan nama Adam (as) dan Nuh (as) sebagai Nabi-nabi yang diangkat pada kedudukan khusus dari semua manusia. Kemudian Al-Qur’an menyebutkan bahwa kedudukan yang sama diberikan kepada keturunan Ibrahim (as), namun Al-Qur’an melanjutkan dengan menyediakan informasi tambahan bahwa kedudukan ini pun, secara mengherankan demikian, diberikan kepada keturunan orang Israel yang tidak terkenal bernama Imran, yang tinggal di Mesir. Sedangkan Al-Qur’an diam dalam topik yang mengherankan ini.

Epistemologi dan Metodologi

Ketika ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah (SWT), sebagai tambahan Yang Awal dan Yang Akhir, juga Yang Zhahir dan Yang Batin, dan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, maka pengetahuan awal, dan akhir, dan yang menghubungkan keduanya, dapat dicapai hanya dengan epistemologi yang dengan harmonis menggabungkan Zhahir, yakni proses sejarah yang dapat dilihat secara lahiriah, dengan Batin yakni realitas internal dari proses sejarah yang tampak secara lahiriah tersebut. Dengan demikian menggabungkan peristiwa sejarah yang kasat mata dengan realitas eskatologisnya yang tersembunyi atau terselubung.

Ayat Al-Qur’an (Al-Hadid, 57: 3) oleh karenanya menyebutkan kuartet ‘awal’, ‘akhir’, ‘tampak’, dan ‘tersembunyi’ yang harus sepenuhnya digabungkan oleh murid peneliti ke dalam satu keseluruhan yang harmonis untuk kelayakan kajian baik sejarah maupun eskatologi. Oleh karenanya hanya orang-orang yang dengan teguh dalam pengetahuan yang dapat meresapi dan memahami pergerakan sejarah dan rangkaian peristiwa yang terungkap pada akhir sejarah. Ini menjelaskan mengapa kita tidak bisa mencoba memahami Dajjal, Mesias Palsu, yang merupakan seorang pemain utama pada akhir sejarah, tanpa mengkaji awal sejarah untuk mencoba menentukan peristiwa awal, yang berhubungan dengan topik kita pada akhir sejarah. Ini, barangkali, menjelaskan mengapa sedikit yang bahkan menyadari dampak dari peristiwa moneter IMF melarang penggunaan emas sebagai uang. Ada banyak orang Kristen yang tidak bisa melihat tanda binatang buas pada sistem moneter tipuan modern uang kertas, plastik, dan elektronik atau digital!

Al-Qur’an telah mengarahkan perhatian pada epistemologi bagaimana topik ini harus dipelajari. Al-Qur’an melakukannya dalam Surat Al-Kahfi yang menggambarkan pertemuan antara Nabi Musa (Moses) dengan orang bijak mistis yang sulit dipahami dikenal dengan nama Khidir (as). Khidir dalam bahasa Arab bermakna Hijau. Seorang teman Kristen Ortodoks pernah berkomentar kepada penulis bahwa Khidir memiliki kemiripan yang luar biasa dengan Yesus. Kami telah menganalisa bagian Al-Qur’an tersebut dalam buku kami yang berjudul Surat Al-Kahfi dan Zaman Modern.

Ada rujukan lain dalam Surat Al-Kahfi mengenai pentingnya epistemologi sehubungan dengan metodologi untuk mempelajari sejarah. Dua pemain penjahat utama dalam proses sejarah dilepaskan ke dunia pada akhir zaman. Mereka adalah Yakjuj dan Makjuj. (Lihat buku saya yang berjudul Sebuah Pandangan Ulama Islam tentang Yakjuj dan Makjuj di Dunia Modern). Al-Qur’an menginformasikan kepada kita bahwa ketika tiba waktunya tatkala mereka dilepaskan, Allah SWT akan menghancurkan penghalang yang dibangun Dzul Qarnain, yang secara efektif mengurung mereka dan melindungi umat manusia dari kejahatan mereka. Saat itu terjadi, maka orang-orang tidak beriman penderita disabilitas tidak mampu untuk melihat dan mendengar akan mendapati diri mereka hidup di dunia yang mengerikan tersebar di hadapan mereka:

وَعَرَضنا جَهَنَّمَ يَومَئِذٍ لِلكافِرينَ عَرضًا

الَّذينَ كانَت أَعيُنُهُم في غِطاءٍ عَن ذِكري وَكانوا لا يَستَطيعونَ سَمعًا

(Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 100-101)

Pada hari itu Allah SWT menampakkan Jahannam kepada orang-orang kafir, dengan jelas terlihat; yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar kebenaran.

Seharusnya jelas bahwa Al-Qur’an pada ayat di atas menyebutkan penglihatan mata hati juga hati yang dapat mendengar.

Kini kita kembali pada Surat Al-Hadid untuk memberi perhatian pada dua ayat pertama sebelum ayat ketiga mengenai Awal dan Akhir, meluaskan konsep filsafat sejarah memuat dimensi vertikal, yakni Atas dengan Bawah, yang melengkapi dimensi horizontal Awal dan Akhir:

سَبَّحَ لِلَّهِ ما فِي السَّماواتِ وَالأَرضِ ۖ وَهُوَ العَزيزُ الحَكيمُ

لَهُ مُلكُ السَّماواتِ وَالأَرضِ ۖ يُحيي وَيُميتُ ۖ وَهُوَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ

(Al-Q Allah; karena Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bur’an Surat Al-Hadid, 57: 1-2)

“Semua yang berada di alam langit atau alam paralel dan yang berada di bumi atau alam materi bertasbih kepadaijaksana! Kepunyaan-Nyalah kedaulatan di kerajaan langit atau alam paralel, dan bumi atau alam materi; Dia menghidupkan dan mematikan, dan ini seharusnya memberikan bukti yang cukup bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Implikasi dua ayat Al-Qur’an di atas, jika kita mempelajarinya dalam konteks ayat ketiga, yaitu kosmologi alam langit secara terus menerus berdampak pada proses sejarah sehingga rangkaian peristiwa di bawah-sini tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa rujukan alam langit di atas sana, yakni alam Ghaib atau tak kasat mata. Bukti paling dramatis yang menguatkan adanya hubungan antara kedua alam ini dapat ditemukan dalam mimpi dan penglihatan nyata,— dengan demikian Surat Yusuf dalam Al-Qur’an selalu penting untuk dipahami.

Namun bahkan lebih penting bagi topik kita adalah perlunya kita untuk mengakui bahwa tidaklah mungkin menghubungkan titik sejarah—dari awal hingga akhir—tanpa interaksi dengan alam di atas yang akan memberikan baik ‘kekuatan spiritual’ maupun ‘cahaya spiritual’. Tanpa kita melihat dengan ‘mata hati’ kita tidak akan mengenali implikasi eskatologis yang bahkan lebih penting yang dengannya, kami harap, eskatologi Kristen Ortodoks akan sepakat,—yaitu ada lebih banyak peristiwa pada akhir sejarah daripada sekedar terungkapnya rangkaian peristiwa yang sudah diramalkan. Sebetulnya, Tuhan bisa mengintervensi proses sejarah dengan rangkaian peristiwa yang akan terjadi pada akhir sejarah mengenai hal yang baik eskatologi Islam maupun Kristen belum medapatkan informasi atau pengetahuan sampai saat ini.

Jika ada orang yang memiliki pengetahuan tentang peristiwa yang akan terjadi, itu hanya bisa datang melalui mimpi atau penglihatan nyata. Ini mengonfirmasi secara strategis pentingnya mimpi dan penglihatan yang menjadi topik salah satu buku saya. Sesuai dengan permintaan salah seorang murid saya, kini saya mengungkapkan sebuah mimpi yang saya lihat ketika saya berumur 26 tahun dan masih menjalani pendidikan tinggi di Institut Islam Aleemiyah di Pakistan. Saya melihat sungai yang besar banjir sangat tinggi dengan arus yang berbahaya, dan saya melihat semua teman mahasiswa saya (juga banyak lainnya) berjuang menghadapi arus sungai yang berbahaya, dan bahaya tenggelam; dan saya melihat diri saya berenang ke arah mereka satu per satu, dan memegang mereka, dan berenang bersama mereka sampai di tempat yang aman. Saya menemui Maulana Ansari keesokan paginya dan menceritakan kepadanya mimpi saya. Beliau segera menanggapi dengan menyatakan bahwa saya ditakdirkan untuk melakukan hal yang tepat seperti itu di kehidupan nyata.

Sebagai konsekuensi dari mimpi ini, dan interpretasi guru saya mengenai mimpi tersebut, saya secara konsisten tetap dalam misi saya berjuang di jalan kebenaran seumur hidup, meskipun saya seringkali menjadi satu-satunya suara yang menangis di padang belantara!

(Sumber: Dajjal, Al Qur’an dan Awal Zaman oleh Sheikh Maulana Imran N. Hosein)

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment