Metodologi Penjelasan Al-Qur’an dengan Penerapan dan Analisis Data Eksternal

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Metodologi Eskatologi Islam (Ilmu Akhirul Zaman) mengenali kebijaksanaan Allah dalam menentukan beberapa ayat Al-Qur’an yang menyampaikan makna yang hanya dapat dipahami melalui pemeriksaan data yang ada di luar Al-Qur’an.

Contoh klasik hal yang seperti ini adalah ayat Al-Qur’an dalam Surat Ali Imran saat Allah SWT menyatakan bahwa

“Rumah (ibadah) pertama (penyembahan kepada Satu-satunya “Rabb” yang Benar) yang dibangun untuk umat manusia adalah (Baitullah) yang di Bakah yang diberkahi …”(Qur’an, Ali Imran, 3:96).

Semua ahli tafsir setuju bahwa “Bakah” adalah nama kuno untuk Mekah. Ayat itu menyebut nama kuno Bakah bahkan meski di dalam Al-Qur’an di mana pun justru nama Mekah yang digunakan (lihat Qur’an, al-Fath 48:24). Mengapa dalam ayat di atas Allah SWT kembali menyebut nama kuno Bakah alih-alih nama Mekah yang digunakan di mana pun dalam Al-Qur’an?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak dapat ditemukan tanpa studi Al-Kitab. Saat kami melakukannya, kami menemukan bahwa semua referensi yang berhubungan dengan hal-hal berikut ini secara aneh tidak ada dalam Al-Kitab:

  • Beberapa kunjungan Ibrahim ke Arab,
  • Hajar dan Ismail keduanya ditinggal di lembah yang tandus di Arab,
  • Zam Zam adalah sebuah mata air di lembah yang tandus itu di Arab,
  • Masjid pertama yang didirikan di lembah tandus di Arab itu dan
  • Ibrahim dan Ismail membangun sebuah bangunan di tempat itu di Arab,
  • Ibrahim melakukan Ibadah Haji (ziarah) ke Rumah Allah (Hajj) di Arab,
  • Ismail adalah anak yang dikurbankan, dan
  • Ujian pengurbanan itu terjadi di Arab

Walaupun begitu, Al-Kitab masih memiliki nama Baka terpelihara di dalam teksnya (lihat di bawah “Mazmur 84”).

Nama Baka tampaknya luput dari perhatian orang-orang yang dengan penuh dosa menulis ulang teks suci untuk menghilangkan atau mengaburkan hal-hal di atas. Barangkali Allah SWT Sendiri yang membuat mereka tidak menghiraukan nama ini.

Sangat jelas maksud Allah dalam Al-Qur’an kembali menyebut nama kuno Bakkah adalah untuk mengarahkan perhatian pada bukti kebenaran yang masih terpelihara di Al-Kitab yang sudah di selewengkan, dan dengan demikian untuk mengungkap teks yang di selewengkan itu:

Mazmur 84

  1. Betapa disenangi tempat kediaman-Mu , ya Tuhan semesta alam!
  2. Bahwa hatiku rindulah akan segala halaman Tuhan, bahkan dengan lemahnya; maka jiwa dan badanku pun menyeru akan Tuhan yang hidup.
  3. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, di dekat altar-Mu, ya Tuhan semesta alam,ya Rajaku dan Allahku!
  4. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Saleh
  5. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah (mengunjungi rumah-Mu)!
  6. Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan kolam air.

Ada bukti nyata dalam kata-kata di atas ‘Lembah Baka’ ‘mata air’ ‘kolam air’ ‘ziarah’ ‘rumah kalian’ dan ‘tempat tinggal kalian’, sebagai referensi Ka’bah atau Baitullah (yakni Rumah Allah) di Mekah dan Zam Zam, mata air di Mekah yang memancar saat Hajar mencari air untuk Ismail (‘alaihima al-Salam).

Lod of Heavens

Penjelasan di atas mengenai ayat Al-Qur’an (96) Surat Ali Imran membentuk metodologi (yakni Usul al-Tafsir) untuk memahami totalitas makna yang disampaikan oleh ayat itu. Hanya dengan studi data yang ada di luar Al-Qur’an sehingga makna itu dapat dimengerti. Seharusnya bukanlah masalah apakah data itu ada pada waktu penurunan wahyu Al-Qur’an atau apakah keterangan itu muncul dalam proses sejarah lama setelah penurunan wahyu Al-Qur’an. Lagi pula Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa ‘Tanda-tanda Tuhan’ pada akhirnya akan muncul yang akan menegaskan kebenaran dalam kitab suci itu:

“Kami akan membuat mereka memahami Tanda-tanda Kami (yang menyampaikan pesan-pesan melalui apa yang mereka rasakan) di segenap penjuru ufuk dan pada diri mereka sendiri (yang termasuk juga proses sejarah yang terungkap), sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ini (penurunan wahyu Al-Qur’an) sungguh benar. (Meskipun begitu) Tidak cukupkah (bagi mereka untuk mengetahui) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
(Qur’an, Fussilat 41:53)

Oleh Sheikh Maulana Imran Nazar Hosein

Leave a Comment