Metodologi untuk Mempelajari Al-Qur’an

In Eskatologi Islam, Islam, Metodologi by Rio Esvaldino0 Comments

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ …﴿

… Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”Q.S An Nahl, 16:89

Dari Sayyidina Umar bin Khatta ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesunggunhya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan menghinakan yang lainnya”Shahih Muslim, 7 Kitab: Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar ›› Bab 391. Keutamaan orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, serta keutamaan orang yang mempelajari hikmah darinya

Mengapa Al-Qur’an?

Pertama, Al-Qur’an sendiri memiliki status sebagai Kitab Suci Islam.

Kedua, setiap kata dalam naskahnya sangat otentik tanpa satupun yang bisa membantahnya.

Ketiga, otoritasnya sebagai dasar sumber-buku Islam telah diterima secara luas oleh semua bagian umat Islam di semua zaman.

Keempat, Al-Qur’an adalah Kitab seharusnya digunakan dalam perjuangan untuk memperbaiki tatanan masyarakat manusia, bahkan Nabi Muhammad saw sendiri diperintahkan:

وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا …﴿

… dan berjihadlah terhadap mereka (orang yang menentang Cara dan Jalan Hidup Islam) dengan Al Quran dengan jihad yang besar.QS Al Furqān, 25:52

Kelima, Allah SWT berfirman bahwa Al-Qur’an merupakan:

تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ …﴿

… sebuah eksposisi (yang terang maupun tersirat) untuk menjelaskan segala sesuatu …Q.S An Nahl, 16:89

Keenam, Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Petunjuk yang disusun berdasarkan instruksi Nabi Muhammad n, dan diturunkan kepadanya sebagai kitab aturan hidup umat Islam.[1]

Ketujuh, naskah Al-Qur’an berasaskan Sistem Makna, dimana ada kemungkinan untuk memahami Islam secara fundamental sebagai sistem Filsafat dan Kode Praktek, yang menjaga pemahaman terbatas terhadap Al-Qur’an itu sendiri.

Kedelapan, Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya (Q.S Al Kahf, 18:1), hal ini berarti bahwa kitab-kitab atau buku-buku selain Al-Qur’an, kemungkinan memiliki kebengkokan di dalamnya.

Perlu dipahami dengan jelas bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan di dalam Al-Qur’an. Bahkan setiap kata, setiap kalimat dan juga bentuk sastra yang disusun secara khusus dengan desain Ilahi memiliki sebuah tujuan. Dengan tidak adanya kalimat “Bismillāhirrahmānirrahīm” dalam permulaan Surah At Taubah, patut untuk diteliti dan dipelajari.

Oleh karena itu, seseorang tidak mungkin bisa meneliti dan mempelajari Al-Qur’an tanpa memahami naskah Arab Al-Qur’an itu sendiri. Seseorang bisa saja membaca terjemahan Al-Qur’an, tapi orang tersebut tidak akan pernah bisa mempelajari Al-Qur’an hanya melalui terjemahannya saja.

Sebagian besar ulama Islam dan penerjemah Al-Qur’an mengakui bahwa Al-Qur’an sebenarnya tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan, salah satunya adalah Al-Qur’an itu sendiri merupakan sebuah mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan tidak bisa ditiru oleh siapapun. Oleh karena itu, terjemahan Al-Qur’an tidak bisa dianggap sebagai Al-Qur’an itu sendiri. Terjemahan Al-Qur’an baik itu dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Indonesia, dll., tidak bisa digunakan untuk mengggantikan tempat bahasa Al-Qur’an dalam tujuan ritual. Beberapa orang Arab asli  yang fasih berbahasa Arab membenarkan bahwa beberapa frasa Al-Qur’an sulit dipahami, walaupun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab asli. Karena bahasa Al-Qur’an tidak mengalami perubahan sejak diturunkan 1400 tahun yang lalu, sedangkan bahasa lain mengalami perubahan, bahkan ada kata yang sudah tidak bisa digunakan lagi atau usang. Bahasa Inggris adalah contoh yang bisa kita amati. Para pembaca dapat mengunjungi website http://www.bl.uk/englishtimeline untuk melihat apakah bahasa Inggris tampak sama sejak 400-500 tahun yang lalu.

Al-Qur’an yang merupakan Firman Allah SWT, diturunkan langsung kepada Nabi Muhmmad saw 1400 tahun yang lalu dalam bahasa Arab, bukan bahasa yang lain. Allah sendiri bertanggung jawab untuk melindungi Al-Qur’an dari segala kejahatan:

﴾ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴿

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya”Q.S Al Hijr, 15:9

Mereka yang berusaha mengubah naskah Al-Qur’an akan mengalami kesulitan yang tidak akan bisa mereka pecahkan. Kenapa? karena naskahnya dipelihara, tidak hanya dalam bentuk tulisan, tapi juga dipelihara dalam jutaan memori sekelompok Muslim (para Hafiz) yang menghafal Al-Qur’an yang terdiri dari 6000 ayat, kata demi kata, dan surat demi surat. Bahkan jika salinan dibakar atau dihancurkan oleh musuh Islam, atau lembaga percetakan Al-Qur’an melakukan kesalahan ketik, maka akan mudah ditulis ulang dalam memori para penghafal Al-Qur’an. Ini lah keajaiban Al-Qur’an!

Tidak mengherankan jika Allah SWT sering sekali berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan bagi orang-orang yang berfikir:

كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ …﴿

… Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat (Al-Qur’an) kepada orang-orang berfikir.Q.S Yunus, 10:24

Mereka yang berpikir pada akhirnya akan sadar bahwa dunia materi saat ini berada dalam keadaan membusuk, akibat dari kerusakan yang ditimbulkan secara terus-menerus oleh peradaban Barat yang disebut ‘modern’. Dan mereka akan menggunakan Al-Qur’an dalam berjuang melawan orang-orang yang melancarkan perang licik dan kejam terhadap Islam.

Kekuatan jahat benar-benar berusaha untuk mengelabui orang yang sedang berusaha mempelajari Al-Qur’an, salah satunya adalah tanda baca yang entah kapan munculnya di dalam Al-Qur’an. Seperti:

Sejak tanda baca ini dimasukkan ke dalam Al-Qur’an, muncul kekeliruan bahwa ‘hanya’ Allah SWT yang mengetahui  interpretasi (Ta’wil) dari jenis ayat Mutasyābihāt. Apa itu ayat Mutasyābihāt?

Ayat Muhkamat dan Ayat Mutasyābihāt

Dalam Al-Qur’an terdapat dua jenis ayat, yakni ayat Muhkamat dan ayat Mutasyābihāt. Ayat Muhkamat adalah jenis ayat yang sederhana dan jelas, dan hanya membutuhkan penjelasan (Tafsir), dan disebut sebagai Ummul Kitab, atau jantung/hati Al-Qur’an. Ayat ini berisi perihal hukum Halal, Haram, dan lain-lain. Jenis kedua adalah ayat Mutasyābihāt, yakni ayat yang harus diinterpretasi (Ta’wil) agar maknanya ditemukan, dan hanya bisa dipahami oleh Allah SWT, dan orang-orang yang merupakan Rasikhūna fil-’Ilm (orang yang berakar kuat dalam pengetahuan) serta orang-orang yang merupakan ‘Ulul ‘Albāb (orang yang mengerti dan berwawasan). Sejak tanda baca muncul dalam Surah Ali Imrān ayat 7, muncul pemahaman bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui interpretasi dari ayat Mutasyābihāt. Tentu saja ini sebuah kekeliruan. Bahkan di zaman Khulafaur Rasyidin, belum ada tanda baca yang melekat pada Al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya, silahkan amati baik-baik Al-Qur’an yang anda miliki yang memiliki tanda bacanya sambil memahami terjemahan dalam Surah tersebut, lalu bandingkan dengan ayat berikut yang tidak memiliki tanda baca:

هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ ﴿

وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء

الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ

يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ

Dialah yang menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab (Al-Qur’an). Di antaranya (ada) ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyaabihaat (untuk) mencari-cari fitnah dan (untuk) mencari-cari takwilnya, (padahal) tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah, serta orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), (bahwa) semuanya dari sisi Tuhan kami, dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.Q.S Ali Imraan, 3:7

Sebuah contoh klasik ayat Mutasyābihāt dapat ditemukan dalam Surah Al Baqarah ayat 187 yang menjelaskan tentang kapan dimulainya waktu berpuasa:

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ ﴿

الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

… makanlah dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan antara) benang putih dan benang hitam, (yaitu) fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. …Q.S Al Baqarah, 2:187

Maksud dari kata ‘benang putih dan benang putih’ adalah fajar. Seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang paham perintah tersebut benar-benar diterapkannya secara harfiah. Dia mengambil dua benang, yang satu berwarna putih dan satuunya lagi berwarna hitam. Kemudian dia berkutat dengan benang tersebut ketika sudah hampir fajar untuk menentukan waktu kapan dimulainya puasa. Karena dia merasa kesulitan, dia mengadu masalahnya kepada Nabi Muhammad saw, dan Nabi Muhammad saw segera menanggapinya dengan interpretasi (Ta’wil) benang ‘putih’ dan benang ‘hitam’ dengan menjelaskan bahwa puasa akan dimulai ketika hari menjadi terang setelah gelapnya malam. Berdasarkan fakta ini, berarti ayat Mutasyābihāt tersebut bisa dinterpretasi oleh Nabi Muhammad saw, dan bukan ‘hanya’ Allah SWT. Apa gunanya Al-Qur’an diturunkan jika beberapa ayatnya ‘hanya’ bisa dipahami oleh Allah SWT?

Al-Qur’an bagaikan bintang-bintang di angkasa

… وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ ﴿

Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat dengan lampu-lampu …Q.S Al Mulk, 67:5

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ ﴿

Sungguh, Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan bintang-bintangQ.S As Saaffaat, 37:6

Mengapa Allah SWT menjelaskan bintang-bintang sebagai ‘lampu’? Karena bintang itu memiliki fungsi penting yang dapat digunakan manusia untuk mengetahui arah bumi ketika hendak berpergian.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُواْ بِهَا فِي ﴿

ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dan Dialah yang menjadikan bagimu bintang-bintang, agar kamu menjadikannya petunjuk (misalnya, ketika dalam perjalanan) dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan ayat-ayat (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang mengetahuiQ.S Al An’aam, 6:97

Seperti bintang di langit,sungai-sungai dan gunung pun juga memiliki fungsi yang sama:

وَأَلْقَى فِي الأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلاً لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿

وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ ﴿

Dan Dia menancapkan di bumi gunung agar bumi itu tidak tergoncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,

dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang, mereka mendapat petunjukQ.S An Nahl, 16:15-16

Agar bintang-bintang tersebut bisa berfungsi sebagai lampu yang mana kita bisa menentukan arah perjalanan, atau arah Kiblat (yakni arah Shalat), perlu untuk kita pelajari pertama kali bagaimana bintang-bintang itu saling terhubung dan bagaimana mereka bergabung membentuk satu keseluruhan gambar.

Kita harus teliti mempelajari bintang-bintang itu untuk memahami ‘gambaran besarnya’, dan barulah bisa kita membaca atau mengetahui lokasi kita berdiri dan arah yang kita inginkan. Bahkan ada sebuah cabang pengetahuan yang disebut sebagai astronomi, dan satu bagian astronomi mempelajari bintang-bintang. Selama ribuan tahun sebelum ditemukannya teleskop modern, beberapa peradaban sudah lama memperoleh pengetahuan melalui bintang-bintang yang berfungsi sebagai lampu. Oleh karena itu, tanpa menghubungkan satu titik bintang dengan titik bintang yang lain, kita tidak akan menemukan ‘gambaran besarnya’, sehingga kita akan kebingungan mengetahui arah mana yang hendak kita lalui.

Allah SWT juga menantang siapa saja yang mampu menemukan kecacatan pada bintang-bintang yang diciptakan oleh-Nya:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَّا تَرَى فِي خَلْقِ ﴿

الرَّحْمَنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِن فُطُورٍ

Dia Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis: tidak akan kamu lihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?

Kemudian ulangi sekali lagi pandangan(mu) dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letihQ.S Al Mulk, 67:3-4

Jika bintang-bintang saja tidak memiliki kecacatan, apalagi dengan Al Qur’an yang telah dijamin oleh Allah SWT?

Oleh karena itu, setelah Nabi Muhammad saw (yang mengajarkan Al-Qur’an) tidak lagi bersama kita, maka Al Qur’an itu sendiri lah yang akan mengajarkan kita metodologi bagaimana mempelajarinnya. Memang bahwa ada ayat Al-Qur’an yang memiliki Asbābun Nuzūl, tapi tidak semua ayat memilikinya. Bahkan setiap ayat yang memiliki Asbābun Nuzūl, tidak semuanya pula yang berstatus Shahih.

Biarkan kami berikan beberapa penjelasan subjek dalam Al Qur’an yang dapat dipahami dengan metodologi yang diberikan Al-Qur’an itu sendiri:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ ﴿

إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Q.S Al Baqarah, 2:34

Jika kita hanya mengambil satu titik (ayat) dari Al Qur’an  di atas untuk memahami subjek Iblis, apakah kita tahu Iblis itu makhluk dari golongan apa? Apakah malaikat, jin atau manusia? Tidak! Namun, jika kita hubungkan dengan ayat yang lain yang terdapat dalam Surah Al Kahf (Surah Akhir Zaman), maka kita akan sadar bahwa Iblis adalah makhluk dari golongan jin:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا ﴿

إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) Jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya …Q.S Al Kahf, 18:50

Jika kita hanya memahami satu ayat saja, maka kita akan sampai pada sebuah kesimpulan, yakni ‘Iblis adalah dari golongan malaikat’! Bahkan beberapa orang masih menganggap bahwa Iblis adalah malaikat yang jatuh dari langit karena tidak patuh pada perintah Allah SWT.

Bisa anda bayangkan bahwa Surah Al Baqarah ayat 34 berada jauh dari Surah Al Kahf ayat 50. Bahkan ayat yang pertama kali diturunkan berada dalam urutan Surah ke-96, Surah Al Alaq.

Memerlukan ilmu yang cukup bagi seseorang untuk memahami Al-Qur’an, dan bukan dengan sembarangan. Sebagaimana memahami bintang-bintang di angkasa, seseorang harus memerlukan bidang ilmu pengetahuan khusus. Dan jangan pula memahami ayat secara terpisah, karena Allah SWT telah memperingatkan bagi orang-orang yang melakukan hal demikian terhadap Al-Qur’an:

۞ وَقُلْ إِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْمُبِينُ ۞ كَمَا أَنزَلْنَا عَلَى المُقْتَسِمِينَ ﴿

۞ الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ ۞  فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ

عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan katakanlah (Muhammad), “sesungguhnya aku (adalah) pemberi peringatan yang jelas

Sebagaimana Kami telah menurunkan kepada orang yang memilah-milah (Kitab Allah),

(dan juga) orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua

Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu

Q.S Al Hijr, 15:89-93

Naskh – Pembatalan atau Pencabutan Wahyu Ilahi

Ada beberapa ulama Islam yang meyakini bahwa beberapa ayat Al-Qur’an telah mengalami Naskh (salah satunya ayat tentang subjek Alkohol). Nabi Muhammad saw sendiri tidak pernah mengumumkan bahwa ada ayat Al-Qur’an yang mengalami Naskh karena ayat Al-Qur’an yang lain. Bagaimana bisa ada Muslim yang berpendapat bahwa ada ayat Al-Qur’an yang sudah kadaluarsa?

Jika memang ada ayat Al-Qur’an yang mengalami Naskh, tentu saja Nabi Muhammad saw, yang ditunjuk sebagai guru oleh Allah untuk mengajarkan Al-Qur’an, yang berhak menyatakan demikian, tapi Nabi Muhammad saw sendiri tidak pernah melakukannya.

Yang benar adalah bahwa Naskh (pembatalan/pencabutan ayat) tidak berlaku secara internal terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, tapi sebaliknya, berlaku secara eksternal untuk wahyu-wahyu kitab suci sebelumnya. Berikut contoh pembatalan yang justru tepat:

  • Pembatalan (bagi pengikut Nabi Muhammad saw) Yerusalem sebagai Kiblat atau arah Shalat, dan menggantinya dengan Ka’bah yang di Mekkah sebagai Kiblat;
  • Pembatalan (bagi pengikut Nabi Muhammad saw) hukum puasa dalam Taurat yang melarang makan, minum dan hubungan seksual pada malam hari puasa, dan menggantinya dengan hukum baru yang memperbolehkan makan, minum dan hubungan seksual pada malam hari puasa;
  • Pembatalan hukuman Rajm bagi perzinahan dalam Taurat, dan menggantinya dengan hukum baru yang menerapkan hukuman cambuk;
  • Pembatalan kebebasan bagi seorang laki-laki untuk memiliki banyak istri karena menginginkan hukum-hukum sebelumnya sebagaimana yang dilakukan Nabi Daud as dan  Nabi Sulaiman as, dan menggantinya dengan hukum baru yang membatasi jumlah istri menjadi empat;
  • Pembatalan perihal spritual (dalam Al-Qur’an dikenal sebagai I’tikaf) yang dilakukan ditempat-tempat sepi yang jauh dari keramaian, dan menggantinya dengan hukum baru yang kini mengharuskan Í’tikaf untuk dilakukan di dalam Masjid.
  • Pembatalan izin mengkonsumsi minuman beralkohol bagi mereka yang mengikuti Nabi Muhammad saw.

Metodologi ini lah yang telah digunakan oleh Maulana Fazlur Rahman Ansari rahimahullah dalam mempelajari Al-Qur’an selama hidupnya.

Sistem Makna dalam Al-Qur’an tentang Subjek Kecanduan Alkohol dan Obat-obatan

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن ﴿

… لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ

perumpamaan (taman) surga yang dijanjikan (kepada) orang-orang yang bertakwa; di sana (ada) sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai Khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya …Q.S Muhammad, 47:15

Ketika kita mencari kesempurnaan ayat Al-Qur’an yang menguraikan subjek ini, akhirnya kita sadar bahwa tidak ada pembatalan atau pencabutan ayat apapun. Apabila kita menerapkan metodologi yang tepat untuk mempelajari subjek alkohol ini, maka kita sadar bahwa subjek alkohol yang berada dalam Al-Qur’an didisain untuk mencapai tiga tujuan.

Pertama, untuk menciptakan sebuah masyarakat yang sungguh unik yang belum pernah ada dalam sejarah manusia, yang rela dan ikhlas membuang semua stok alkohol simpanan mereka ke dalam saluran air yang ada di kota Madinah. Masyarakat yang unik tersebut adalah masyarakat yang terdiri dari para sahabat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad saw sendiri.

Kedua, untuk menerapkan sebuah metode terapi untuk menyembuhkan orang-orang, baik itu Muslim maupun non-Muslim, yang sudah kecanduan dan sulit untuk menjauhi alkohol dan obat-obatan. Bahkan ada non-Muslim yang sangat kagum dengan metode penyembuhan alkohol yang diajarkan Al-Qur’an, hingga hidayah menghampirinya untuk memeluk agama Islam. Masya Allah

Ketiga, untuk menjadikan masyarakat yang unik tersebut sebagai contoh bagi masyarakat yang hidup di Akhir Zaman. Kita setuju bahwa metode tersebut sangat diperlukan di zaman sekarang, apalagi perihal subjek ‘Riba’.

Biarkan kami menjelaskan sedikit tentang metode penyembuhan kecanduan alkohol dan obat-obatan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Berikut tahap-tahap penyembuhan kecanduan alkohol:

Tahap pertama

وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا ﴿

وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan dari buah korma dan anggur, kamu membuat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.Q.S An Nahl, 16:67

Tahap pertama ini bertujuan untuk mendorong masyarakat berfikir rasional. Dengan berfikir, seseorang akan mengetahui manfaat yang bisa diambil dari buah anggur untuk tujuan rezeki yang baik, di mana anggur tidak hanya bisa membuat minuman saja tapi juga bisa digunakan untuk manfaat yang lain.

Tahap kedua

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ ﴿

وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

كَذَلِكَ يُبيِّنُ اللّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,Q.S Al Baqarah, 2:219

Al-Qur’an mengetahui kesamaan antara minuman keras dan judi. Keduanya bikin ketagihan! Makanan yang sehat berbeda dengan alkohol yang memiliki efek berbahaya, begitu pula dengan, mencari nafkah dengan tenaga, kejujuran dan keringat, berbeda dengan kebohongan dan integritas yang melekat pada perjudian.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa terdapat manfaat dalam minuman keras dan judi, tapi lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Kini, mereka yang menerima peringatan ini ditantang secara rasional untuk menyelidiki manfaat dan bahaya yang diterima oleh individu maupun kolektif akibat dari minuman keras dan perjudian. Apa dampak alkohol pada sistem pencernaan? – Sistem peredaran darah? – Sistem saraf? Apa efek alkohol terhadap psikologi dan moral individu? Apa efek alkohol terhadap sosiologi masyarakat, dan terutama keluarga? Berapa biaya yang dihabiskan dari pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi, kecelakaan, dll., akibat konsumsi alkohol?

Nabi Muhammad saw bersabda kepada pecandu ketika beliau menyatakan bahaya alkohol (apabila memabukkan), yang merupakan kunci bagi semua kejahatan (karena itu, sama halnya dengan bermain api):

Jangan meminum Khamar karena itu adalah kunci bagi semua kejahatanSunan Ibn Majah no. 4024

Hasil yang didapat dari tahap kedua ini adalah tidak hanya membuat masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang subjek tersebut, namun juga akan ada beberapa pecandu yang akan menjauh dari minuman keras atas dasar pemahaman mereka akan bahayanya pada diri sendiri ataupun masyarakat; dan pemahaman tersebut akan menjadi kuat ketika mereka menghayati kesamaan antara alkohol dan judi, yang mana keduanya membuat ketagihan dan menimbulkan bahaya besar pada diri dan kolektif.

Dengan demikian, hasil penting yang didapat secara strategis dari tahap kedua metode Al-Qur’an adalah penciptaan sebuah kelompok pecandu yang menahan diri dari konsumsi alkohol atas dasar keyakinan rasional. Mereka merupakan model yang bisa dijadikan contoh dan masuk akal bagi para pecandu lainnya. Jadi proses tahap pertama dan kedua berakhir dengan meningkatkan daya tarik, baik teoritis maupun konkrit, terhadap rasionalitas dan pikiran yang sehat yang digunakan untuk pecandu alkohol, sebagai manusia, yang diberkahi oleh Penciptanya.

Tahap ketiga

… يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ ﴿

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, …Q.S An Nisā’, 4:43

Tahap ketiga ini bertujuan untuk menyentuh hati para pecandu secara emosional dan intelektualitas dengan kekuatan yang luar biasa. Namun tahap ketiga ini hanya digunakan terhadap pecandu yang memiliki spiritual yang kuat. Sebagai contoh, eorang ibu yang suci melarang anaknya untuk mendekatinya, maka akan timbul kesakitan emosional yang mendalam dari hati anak tersebut. Demikian pula akan ada rasa sakit di hati orang beriman ketika dilarang menyembah-Nya dalam Shalat, atau memasuki Masjid untuk melaksanakan Shalat. Pemabuk yang kecanduan alkohol, dan sebelumnya sangat susah untuk berhenti, kini mulai membenci alkohol karena membuat mereka merasa sakit (karena tidak bisa Shalat). Inilah tahap demonisasi psikologis dan hal itu tidak bisa dicapai jika individu tidak memiliki kesadaran akan dunia yang sungguh suci. Barat sekuler telah kehilangan kesadaran akan dunia suci.

Keindahan psikologi dalam metode Al-Qur’an, yang hanya dimengerti oleh orang yang menekuni spritual Islam (al Ihsan atau Tasawwuf), merupakan cara yang luar biasa di mana baik rasional dan kesadaran spritual di alam manusia maupun menggunakan keduanya (rasional dan kesadaran spritual) untuk memberikan sebuah kemampuan kejutan emosional yang mendalam untuk menghilangkan kecanduan alkohol.

Di sisi lain, keindahan sosiologi dalam metode Al-Qur’an merupakan cara yang sama-sama luar biasa yang memanfaatkan beberapa insting dalam upaya menyembuhkan para pecandu.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa metode untuk membuat pecandu berhenti secara batin meminum alkohol, adalah cukup dengan sentakan emosional dari penolakan kegiatan sakral. Bahkan bisa memaksa seorang pendosa untuk berhenti berbuat dosa.

Karena itu, inti dari metode Al-Qur’an adalah penggunakan kasih sayang terhadap ibadah individu maupun kolektif untuk menyembuhkan kecanduan obat-obatan dan alkohol.

Tahap keempat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ ﴿

۞ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ

وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.

Sesungguh, syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka tidakkah kamu berhenti (dari mengerjakan pekerjaan itu)?Q.S Al Maa’idah, 5:90-91

Tahap keempat ini memiliki tujuan untuk melarang konsumsi minuman berlakohol, perjudian dll., secara totalitas. Bahkan saat hukum pengharaman alkohol dan judi diumumkan secara resmi, Al-Qur’an masih melanjutkan proses pendidikan dengan mengingatkan orang-orang beriman bahwa Setan memanfaatkan kesempatan dari minuman keras. Setan itu memecah persatuan, persaudaraan dan solidaritas dalam tatanan sosial dan menciptakan permusuhan dan kebencian di antara manusia. Setan juga berhasil menghalangi manusia dari mengingat Allah SWT.

Pada tahap keempat ini, secara signifikan hukum Al-Qur’an tentang larangan minuman keras dibatasi, dan membiarkan Nabi Muhammad saw menjelaskan dan menerapkan hukumnya secara detail. Dengan demikian, Nabi Muhammad saw memutuskan apa hukuman meminum setiap minuman yang memabukkan.

Semoga dengan pemaparan penjelasan metodologi untuk mempelajari Al-Qur’an ini, para pembaca akhirnya terdorong untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an dengan lebih giat lagi. Dengan begitu, kita memiliki usaha untuk meningkatkan kualitas pribadi maupun kolektif demi perjuangan melawan kekuatan jahat yang melancarkan perang yang licik terhadap Islam.

Untuk pemahaman yang lebih rinci lagi, silahkan lihat buku Sheikh Imran Nazar Hosein yang berjudul, “Metodologi untuk Mempelajari Al-Qur’an” dan juga karya hebat Maulana Fazlur Rahman Ansari rahimahullah yang berjudul, “The Quranic Foundation and Structure of Muslim Society”. Karena dalam buku-buku tersebut, anda akan menemukan ilmu pengetahuan lain yang sangat menakjubkan yang tidak bisa anda temukan di dalam tulisan ini.

 

Note: Sebagian besar tulisan ini saya tulis dari buku Sheikh Imran N. Hosein yang berjudul “Methodology for Study of the Quran”

METODOLOGI DALAM MEMAHAMI AL QUR'AN

Silahkan unduh e-book nya di bawah ini.

Unduh

 

Referensi:

[1] Fazlur Rahman Ansari, Quranic Foundation and Structure of Muslim Society. Karachi, Elite Publishers Ltd, 1973, hlm XXVII
[2] Ibid, hlm XXIX

Leave a Comment