Penolakan Rasulullah (s.a.w) Terhadap Segala yang Bisa Ditawarkan Dunia

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Bismillah Arrahman Arrahiim. Banyak sekali Hadist yang menyatakan keteguhannya dalam perihal ini. Dia tidak menginginkan dunia ini dan menjauh dari semua yang terbaik yang dapat ditawarkan oleh kehidupan di dunia ini. Dunia dibawakan kehadapannya, melalui penaklukan yang dilakukannya, ribuan ternak, lautan anggur, dan tumpukan koin dan lantakan emas yang menggunung, walaupun demikian ketika dia mangkat, perisainya digadaikan kepada seorang Yahudi untuk beberapa potong roti barley.

Beliau berzikir, “Ya Allah! Buatlah penghasilan dari keluarganya Muhammad berupa pencerahan.” [1] 


A’isha berkata: “Rasulullah (saw) tidak pernah memiliki roti untuk tiga hari berturut-turut, kecuali saat beliau akan mangkat”. Dalam variasi yang lain, roti barley untuk dua hari berturut-turut. “Jika dia menginginkannya, Allah bisa memberikannya apa-apa yang kamu tidak bisa membayangkannya.” Dalam versi yang lain dikatakan, “Keluarga Rasulullah (saw) tidak pernah menyimpan roti kecuali saat dia dipanggil ke sisi Allah SWT.” [2] 


A’isha berkata: “Rasulullah (saw) tidak meninggalkan apa-apa, tidak ada dinar atau dirham, juga tidak meninggalkan domba dan unta.” [3] 


Di dalam Hadist Amr bin al-Harits, “Rasulullah (saw) mangkat meninggalkan sebuah perisai, satu ekor keledai, dan sepotong tanah yang diberikan untuk shadaqah.” [4] 


A’isha berkata:”Ketika beliau meninggal, tidak ada apapun yang dapat dimakan makhluk hidup di rumahnya kecuali beberapa potong roti. Dia berkata kepadaku:”Allah menawariku satu lembah kota Mekah yang dipenuhi emas, dan aku menjawabNya:”Ya Allah, aku hanya ingin kelaparan sehari dan kenyang sehari dimana ketika lapar aku akan memohon kepadaMu dan ketika kenyang aku akan bersyukur memujiMu.” “ [5] 


Dalam Hadist yang lain disebutkan bahwa Jibril (as) datang kepadanya dan berkata:”Allah menitipkan salam kepadamu dan apakah kamu menginginkan satu gunung emas untuk menemanimu dalam melaksanakan tugas dariNya?” Dia menundukkan kepalanya selama satu jam dan mengatakan: “Jibril, bumi ini adalah tujuan bagi mereka yang tidak memiliki tujuan, dan bumi ini adalah kekayaan bagi mereka yang miskin. Bumi ini begitu memukau untuk mereka-mereka yang bodoh.” Jibril (as) menjawab:”(menilai jawabanmu tadi) Allah telah membuatmu teguh Muhammad, yang meneguhkanmu dengan sabdaNya (Al-Qur’an).”[6] 


A’isha berkata:”Terkadang keluarganya Muhammad dalam sebulan tidak menyalakan api (lampu) di waktu malam. Tidak ada apa-apa di rumahnya kecuali kurma dan air.”

Abdurrahman A’uf berkata: “Keluarga Rasulullah tidak pernah menyimpan roti kecuali saat beliau meninggal.” [7]


A’isha, Abu Umama Al-Ansari dan Ibnu Abbas mengatakan hal yang sama bahwa keluarga Rasulullah selalu melewati beberapa bulan tanpa makan malam.”

Anas berkata: “Rasulullah (saw) tidak pernah makan di meja maupun makan dengan menggunakan piring. Sup kambing maupun roti berkualitas bagus jarang ada untuk dia.”

A’isha mengatakan bahwa alas tidur Rasulullah (saw) terdiri dari kulit hewan yang diisi dengan lidi daun kurma. Hafsa mengatakan bahwa alas tidur Rasulullah (saw) terdiri dari dua lapis kain. Hafsa berkata:”Suatu malam, kami lapis 4 kali untuknya. Di pagi hari dia berkata: ‘Alas tidur macam apa yang kamu siapkan untukku?’ kami memberitahukan kepadanya dan dia berkata: ‘Jadikan seperti sebelumnya, terlalu empuk sehingga aku tidak bisa bangun di tengah malam untuk shalat.’ Terkadang beliau tidur beralaskan susunan tali tambang yang meninggalkan bekas di punggungnya.” [8] 


A’isha berkata: “Rasulullah (saw) tidak pernah makan sampai kenyang, namun dia tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Dia lebih suka miskin daripada menjadi kaya. Kadang dia tidak makan sampai malam, namun ini tidak pernah membuatnya tidak puasa di keesokan paginya. Jika dia mau, dia bisa meminta Allah apapun yang dia mau sehingga hidup kami berkecukupan. Aku selalu menangis jika melihat keadaannya, ketika dia lapar aku mengusap perutnya dan berkata, ‘Biarkanlah aku menjadi makananmu!’ Dia berkata:’A’isha, apa yang harus ku lakukan untuk dunia ini? Para Nabi yang lain teguh hatinya dalam menghadapi cobaan yang lebih buruk dari ini. Mereka meninggal seperti itu dan diambil ke sisiNya, lihat bagaimana terhormatnya mereka. Oleh karena itu aku membenci hidup mudah karena aku akan kalah dibandingkan dengan mereka. Tidak ada yang aku inginkan daripada bergabung dengan para Nabi yang lain.” [9]


  1. Al-Bukhari – Muslim
  2. Ibid
  3. Al-Bukhari
  4. Muslim – Al-Bukhari
  5. Muslim – Al-Bukhari
  6. At-Tirmidhi dan Al-Bazzar
  7. Al-Bukhari
  8. At-Tirmidhi
  9. Ibn Abi Hatim

inspired by Muhammad pbuh

 

Catatan:

Nampaknya banyak ulama sekarang yang mengajarkan Islam namun tidak mengerti Islam. Walaupun demikian, yang lebih parah adalah Muslim yang mengingkari hatinya sendiri ketika mengikuti ulama-ulama ini dan menyatakan mereka sebagai ulama yang benar dan konsekuensinya juga membenarkan Islam yang dibawa mereka.  Disini nampak sekali Islam yang dipelintirkan belut ulama Islam dari penolakan terhadap kenikmatan dan kekayaan kehidupan dunia, menjadi hidup yang berakhir di dunia tanpa adanya kepercayaan mengenai akhirat. Materialisme itu anti Islam dan kekayaan adalah pintu gerbang neraka bagi yang tidak mengetahui.

“Jibril, bumi ini adalah tujuan bagi mereka yang tidak memiliki tujuan, dan bumi ini adalah kekayaan bagi mereka-mereka yang miskin. Bumi ini begitu memukau bagi mereka-mereka yang bodoh.” -Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.

Inilah adalah salah satu Hadist dari sekian banyak Hadist yang disembunyikan ulama dan para pemimpin ‘Islam’ yang kini memerintah Muslim dengan buku cek mereka atas nama Peradaban Barat Modern.

Ketika saya mengutip Hadist ini di depan teman Muslim saya, sontak dia marah-marah karena Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin mengatakan hal yang negatif mengenai orang lain. Saya berkata kepadanya: “Banyak pribadi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang kamu tidak ketahui kecuali apa-apa yang dikatakan mereka kepadamu!” Kata Jahiliyah sendiri adalah terminology yang diciptakan Rasulullah, yang dalam Bahasa Inggris berarti ‘Idiocracy’, dimana dengan jelas beliau mengatakan orang pintar adalah yang mengikuti ‘Hukum Allah’ dan orang bodoh adalah yang meninggalkan ‘Hukum Allah’. Jahiliyah bukanlah berarti penduduk Mekah itu bodoh, tidak bisa baca tulis, tidak mengerti perdagangan, tidak mengerti ilmu bintang, tetapi bodoh karena sudah merubah ‘Hukum Allah’ dengan hukum mereka sendiri dan menyatakan bahwa itu hukum Allah.

Kebodohan yang dimaksud bukanlah ditujukan pada bangsawan Mekah, yaitu Abu Sufyan dan gengnya, namun kepada seluruh penduduk Mekah yang taat pada mereka sedemikian sehingga mereka terpenjara dalam kemiskinan, kemelaratan dan kesengsaraan yang permanen, dengan taat dan patuh kepada pemimpin mereka yang membuat hukum untuk menindas mereka sendiri.

Mengapa saya mengatakan bangsawan Mekah telah mengganti hukum Allah dengan hukum mereka sendiri. Islam sudah ada sejak jamannya Ibrahim ‘alaihis salam, dimana Allah telah menunjuk Ibrahim ‘alaihis salam menjadi ‘Imam’nya seluruh manusia yang implikasinya adalah Islam sebagai agama untuk seluruh manusia telah ditetapkan pada jamannya Ibrahim ‘alaihis salam, dan melihat perihal ini maka kita membantah legitimasi yang mengatakan bahwa semua agama itu benar. Sebelum Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam menjadi nabi, sudah ada ratusan orang di Jazirah Arab yang bernama ‘Abdullah’ atau hamba Allah dan kenyataan bahwa Ibadah Haji telah dilakukan orang-orang Arab secara tidak terputus dari masanya Ibrahim (as).

Terkadang beliau tidur beralaskan susunan tali tambang yang meninggalkan bekas di punggungnya.” Mengenai perihal ini kita mengetahui bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang jarang tidur, jarang makan, dan jarang berbicara. Orang yang jarang tidur pasti tidurnya nyenyak, walaupun demikian beliau masih saja mengurangi tidur yang nyenyak itu dengan alas tidur dari susunan tambang. Demikianlah keteguhan beliau dalam menolak apa-apa yang dapat ditawarkan oleh kehidupan dunia.

Tindakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dengan membuat alas tidur dari susunan tali tambang menunjukkan jati diri alamiahnya beliau, yaitu manusia biasa seperti anda dan saya. Hal yang sama juga ditunjukkan pada Hadist yang menyatakan bahwa Allah menawarinya emas sebesar gunung dimana sebelum menjawab, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepada di hadapan Jibril dan memerlukan waktu selama 1 jam untuk memikirkannya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia seperti anda dan saya, sehingga kita tidak dapat menyatakan diri kita sebagai pengikutnya, sebagai umatnya sebelum kita mengupayakan apa-apa dalam kehidupan kita seperti Rasulullah (saw) mengupayakan apa-apa dalam kehidupannya. Tawaran emas sebesar gunung tentunya menjadikan kehidupan di masa beliau dan kehidupan kita di masa kini relatif sama. (*)

Qadi ‘Iyad Ibn Musa al-Yahsubi

image_pdfimage_print

Leave a Comment