The Silk Road Economic Belt and the 21st-century Maritime Silk Road

In Geo Politik & Strategi by Rio Esvaldino0 Comments

Hubungan antar negara di seluruh dunia setiap saat mengalami berbagai dinamika yang terjadi dikarenakan semakin beragamnya kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh setiap negara tersebut. Suatu aktor hubungan internasional seperti negara tidak selamanya dapat melakukan hubungan yang harmonis dengan aktor-aktor lainnya, karena suatu saat interaksi yang dilakukannya sangat mungkin memunculkan suatu konflik. Itulah berbagai dinamika yang terjadi dalam suatu pola interaksi dalam dunia hubungan internasional.

Pola-pola interaksi yang terjadi dalam hubungan antar aktor-aktor internasional tersebut memungkinkan munculnya suatu sistem yang disebut dengan sistem internasional. Sistem internasional adalah sebuah sebutan dari para pengkaji Hubungan Internasional untuk menggambarkan situasi dan kondisi dari dunia politik internasional. Berbagai dinamika politik internasional yang berkembang telah membuat sistem internasional yang ada berubah dari waktu ke waktu. Hal tersebut karena sistem internasional berjalan mengikuti perkembangan dari situasi dan kondisi hubungan internasional terkini.

Pandangan mengenai sistem internasional terdapat dalam beberapa perspektif hubungan internasional. Pandangan yang paling dikenal dan sudah menjadi tradisi dalam berbagai literatur dalam studi HI berasal dari kaum realis serta turunan-turunannya seperti neorealis yang menganggap sistem internasional bersifat anarki karena tidak adanya pemerintahan dunia serta negara adalah aktor utama dalam sistem internasional tersebut. Lebih lanjut kaum realis juga memperkenalkan konsep polaritas dalam hubungan internasional yang berkaitan dengan sistem internasional yang ada. Terdapat sistem polaritas yang disebut dengan unipolar, bipolar dan multipolar.

Dalam sistem bipolar, terdapat dua negara yang paling kuat di dunia. Sistem bipolar erat kaitannya dengan konsep balance of power atau perimbangan kekuatan yang dikemukakan oleh Kenneth Waltz dalam bukunya Theory of International Politics di mana dengan hanya ada dua negara berkekuatan besar, keduanya dapat diharapkan bertindak untuk memelihara sistem. Contohnya adalah ketika era Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Dalam sistem unipolar, hanya terdapat satu negara yang paling kuat dan berpengaruh di dunia di mana suatu negara melancarkan hegemoninya terhadap negara-negara lain. Sistem unipolar terwujud setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, yang membuat Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara superpower, berpengaruh di dunia. Amerika Serikat mendominasi dunia melalui kekuatan ekonomi, budaya, sosial, teknologi, militer dan kekuatan politik di mana negara-negara dunia berkiblat ke Amerika Serikat. Sementara pemimpin negara lain mengeluh akibat situasi ini, karena mereka menjadi lambat untuk bertindak secara signifikan agar negara mereka bisa mengimbangi Amerika Serikat. Read more … Dunia Unipolar atau One World Gevernment

“… What is at stake is more than one small country; it is a big idea: a new world order, …”President AS, George H. W. Bush, 29 Januari 1991

Sedangkan sistem multipolar adalah sistem yang terdapat banyak negara yang kuat dan berpengaruh di dunia. Inilah yang menjadi motivasi geopolitik Presiden Rusia Vladimir Putin. Melalui pidatonya yang legendaris di Munich tahun  2007, Vladimir Putin secara terbuka menentang sistem unipolar yang dioperasikan oleh pihak Barat, dan segera mengakhiri sistem dunia unipolar. Putin berkata dalam pidatonya:

1034688653

“… Dunia unipolar yang dicanangkan setelah Perang Dingin pun tidak terjadi.

Sejarah kemanusiaan telah melewati periode unipolar dan melihat aspirasi-aspirasi menuju supremasi dunia. Lalu apa saja yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia?

Namun, apakah yang dimaksud dengan dunia unipolar? Sebagus apa pun istilah ini diperindah, pada akhirnya kata itu mengacu pada satu jenis situasi, yaitu satu pusat kewenangan, satu pusat kekuatan, dan satu pusat pengambilan keputusan.

Ini adalah dunia yang hanya ada satu penguasa, satu kedaulatan. Dan pada akhirnya hal ini jelas berbahaya dan tidak hanya bagi setiap pihak yang berada dalam sistem tersebut, tapi juga kedaulatan itu sendiri sebab ia merusak dari dalam.

Dan hal seperti ini jelas tidak ada kesamaan apapun dengan demokrasi. Karena, seperti yang anda tahu, demokrasi adalah kekuatan mayoritas dengan mempertimbangkan kepentingan dan pendapat minoritas.

Secara kebetulan, kami – Russia – secara terus-menerus diajari tentang demokrasi. Tapi, entah kenapa mereka sendiri, yang mengajari kami, tidak mau mempelajarinya.

Saya pikir model unipolar ini bukan hanya tidak dapat diterima namun juga mustahil di dunia saat ini. Dan alasannya bukan hanya karena bila ada kepemimpinan individual di dunia saat ini – lebih tepat lagi pada hari ini – maka sumber daya militer, politik dan ekonomi tidak akan mencukupi. Yang lebih penting lagi adalah model itu sendiri mempunyai kekurangan, sebab pada dasarnya tidak ada dan tidak boleh ada landasan moral bagi peradaban modern.

Sejalan dengan hal tersebut, yang tengah terjadi di dunia saat ini – dan kita baru saja mulai membahasnya – adalah upaya untuk memperkenalkan konsep tersebut ke dalam masalah-masalah internasional, konsep dunia unipolar.

Dan apa hasilnya?

Aksi-aksi secara sepihak dan sering tidak sah tidak pernah memecahkan satu masalah apa pun. Lebih jauh lagi, aksi-aksi itu telah menyebabkan tragedi kemanusiaan baru dan menimbulkan pusat ketegangan baru. Silahkan anda nilai sendiri: perang serta konflik lokal dan regional tidak berkurang. Bapak Teltschik telah menyinggung masalah ini dengan amat halus. Selain itu tidak kurang jumlah korban jiwa dalam konflik-konflik tersebut – bahkan lebih banyak meninggal dari sebelumnya. Jauh, jauh lebih banyak!

Saat ini kita menjadi saksi mata dari penggunaan kekuatan yang berlebihan dan hampir tak terkendali – kekuatan militer – dalam hubungan internasional, kekuatan yang membawa dunia ke dalam liang konflik permanen yang tak berujung. Akibatnya, kita tidak lagi mempunyai cukup kekuatan untuk menemukan solusi yang komprehensif bagi konflik manapun. Menemukan penyelesaian politik pun menjadi suatu hal yang mustahil.

Kita menyaksikan sikap tak acuh yang semakin jelas terhadap prinsip-prinsip dasar hukum internasional. …”

Pidato Vladimir Putin dan Diskusi di Konferensi Munich tentang Kebijakan Keamanan (10 Februari 2007)

Jelas bahwa sistem unipolar tidak bisa diterima oleh dunia karena sistem ini sangat tidak adil dan merusak tatanan kehidupan manusia, bahkan suatu saat akan memiliki dampak kerusakan yang sangat mengerikan bagi dunia. Oleh karena itu, bukan hanya Negara Federasi Rusia, Negara Republik Rakyat Tiongkok pun enggan untuk tunduk dan patuh dalam sistem unipolar tersebut.

Serangan terhadap Rusia pun dilancarkan, mulai dari mendikte negara-negara Teluk produsen minyak untuk menurunkan harga migas agar ekonomi Rusia terpuruk. Kedua, menghancurkan sekutu Rusia di Suriah, dan jika dilihat dari kacamata geopilitik, ekonomi dan militer, Suriah seperti benteng terakhir bagi Rusia, karena di sana terjadi perang Petrodollar (Baca: Uang Kertas, Bretton Woods, Petrodollar, Suriah, dan Perang Dunia Ketiga). Ketiga, terjadi konflik di Ukraina akibat intervensi politik dari AS-NATO yang hendak menjadikan Ukraina sebagai anggota NATO. Tentu saja Rusia tidak akan tinggal diam ketika Barat hendak menguasai Ukraina, sebab Ukraina berbatasan dengan Rusia, dan ini akan mengancam kedaulatan Rusia itu sendiri apabila dilihat dari kaca-mata militer. Keempat, setelah Krimea bergabung dengan Federasi Rusia tahun 2014 melalui referendum, AS, Kanada, Australia, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa dan Ukraina menerapkan sanksi ekonomi dan lainnya terhadap Rusia. Jelas ini merupakan tindakan perang terhadap Rusia.

Untung saja Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin mampu menghadapai tekanan sedemikian rupa tersebut. Vladimir Putin tentu tidak sendirian dalam menghadapi mereka-mereka yang arogan tersebut. Bersama rekan-rekannya di dalam negeri yang loyal kepadanya, yakni Silovik, serta rekan-rekannya yang ada di luar negara Rusia, yakni Republik Rakyat Tiongkok dan yang lainnya, Putin mampu meyerang balik dan mematahkan serangan Barat sebagaimana serangan balik dalam seni bela diri Judo. Hasilnya? Putin mampu menggagalkan agenda AS dan Barat (serta sekutu mereka di Semenanjung Arab) di Suriah dan menyerang balik dengan menghancurkan teroris di Suriah dan menerapkan KesepakatanOil Freeze“. Tidak itu saja, Rusia dan Tiongkok menandatangani kesepakatan transaksi gas alam antar dua negara tersebut selama 30 tahun ke depan, dan tentu saja tidak menggunakan USDollar, melainkan menggunakan mata uang masing-masing.

57f7782ac36188051f8b45c0

Tiongkok juga memainkan perannya dalam melemahkan kekuatan jahat yang berpusat di Barat, dengan ide yang gemilang, yakni menghidupkan kembali agenda ekonomi Jalur Sutera kuno menjadi Jalur Sutera modern. Agenda tersebut disebut sebagai One Belt, One Road.

One Belt, One Road (OBOR)

photo_2016-12-02_22-12-07

Hampir enam tahun yang lalu (yakni, 2010), Presiden Putin menawarkan kepada Jerman “pembentukan sebuah komunitas ekonomi yang harmonis yang terbentang dari Lisbon ke Vladivostok”.

Gagasan ini menunjukkan sebuah emporium perdagangan besar yang menyatukan Russia dan Uni Eropa, atau, seperti kata Putin, “pasar benua bersatu dengan kapasitas yang bernilai triliun dollar.”

Singkatnya: Eurasia integration (penggabungan Eurasia).

Washington langsung jadi panik. Catatan menunjukkan seperti apa visinya Putin – meskipun sangat menggoda para pengusaha Jerman – namun akhirnya tergelincir karena penghancuran (demolition) Ukraina yang dikendalikan oleh Washington.

Tiga tahun yang lalu (2013), di Kazakhstan dan kemudian Indonesia, Presiden Xi Jinping mengembangkan visinya Putin, dengan mengusulkan One Belt, One Road, alias New Silk Road (Jalur Sutra baru), yang memperkuat integrasi geo-ekonomi Asia-Pasifik via jaringan luas jalan tol, rel kecepatan tinggi, jalur pipa, pelabuhan dan kabel fiber-optik.

وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ …﴿

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ ﴿

“… dan Dia menjadikan jalan-jalan di atas bumi untukmu agar kamu mendapat petunjuk.” Ayat 10

“Dan yang menciptakan semua berpasang-pasangan dan menjadikan kapal untukmu dan hewan ternak yang kamu tunggangi,” Ayat 12

Q.S Az Zukhruf, 43:10 dan 12

Singkatnya: sebuah versi Eurasia integration yang bahkan lebih ambisius, diuntungkan dengan 2/3 populasi dunia, ekonomi dan perdagangan.

One Belt, One Road adalah strategi dan kerangka yang diusulkan oleh pemimpin tertinggi Tiongkok Xi Jinping yang berfokus pada konektivitas dan kerjasama antar negara terutama Republik Rakyat Tiongkok dan Eurasia, yang terdiri dari dua komponen utama, “Silk Road Economic Belt” (SREB) yang berbasis darat dan “Maritime Silk Road” yang berbasis laut. Strategi ini mendorong Tiongkok untuk mengambil lebih besar dalam urusan global, dan diperlukan kapasitas kerjasama di berbagai bidang seperti manufaktur baja.

Saat ini, OBOR adalah proyek infrastruktur ekonomi rill terbesar di dunia, yang bukan sekedar pembangunan jalur kereta cepat untuk mempercepat waktu pengiriman barang dari Tiongkok melintasi Eurasia menuju Eropa. Ini juga tentang mengubah salah satu daerah yang sebelumnya tertinggal menjadi negara yang hidup dan berkembang dengan ruang ekonomi yang baru, dan ini juga tentang bagaimana membawa teknologi dan industri ke dalam beberapa daerah yang sangat terpencil di Asia Tengah yang juga kebetulan memiliki kadar mineral terbanyak di dunia. Tanpa infrastruktur transportasi modern, mineral tersebut dan kekayaan lainnya tidak bisa di eksploitasi.

﴾وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاء مَاء بِقَدَرٍ فَأَنشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ﴿

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran (yang diperlukan), lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).” Ayat 11

Q.S Az Zukhruf, 43:11

photo_2016-12-02_22-10-22

Bagi Tiongkok, OBOR merupakan sebagai bentuk baru dari Silk Road kuno. Silk Road (Jalur Sutra) sudah lama menjadi rute kuno perdagangan 2000 ribu tahun yang lalu yang diprakarsai oleh Dinasti Han (207 SM – 220 M), dimana rute daratnya melintasi Eurasia, dan rute lautnya melintasi Asia Tenggara, Timur Tengah hingga Venesia dan Eropa. Dinasti Han membentang rute perdagangan beberapa bagian Asia Tengah sekitar tahun 114 SM, hal ini sebagian besar karena misi dan eksplorasi seorang duta kekaisaran Tiongkok, Zhang Qian. Tiongkok sangat tertarik dalam keamanan produk perdagangan mereka dan memperpanjang Tembok Cina demi menjamin perlindungan rute perdagangan.

photo_2016-12-02_22-10-24

Perdagangan yang menyusuri Silk Road memainkan peran penting dalam perkembangan peradaban Tiongkok, anak benua India, Persia, Eropa, Tanduk Afrika (kini Somalia, Djibouti, Etiopia dan Eritrea), Arabia, Mesir, Yunani, Roma dan bahkan Inggris, yang membuka hubungan politik dan ekonomi jarak jauh antar peradaban.

mata uang chinaBangsa Tiongkok pada saat itu merupakan peradaban yang lebih maju dibandingkan Eropa, bukan hanya sudah lebih dulu menemukan kertas, mereka juga menemukan konsep uang lembaran (Banknote) yang terbuat dari kulit pada masa Dinasti Han. Juga, tercatat bahwa penggunaan uang kertas di Tiongkok sudah ada pada abad ke-7, namun penggunaan uang kertas tidak menyebar luas di Eropa selama hampir 1000 tahun. Mereka (bangsa Tiongkok) juga sudah lama menemukan mesiu, dan catatan formula (rumus) mesiu tersebut muncul dalam bentuk naskah pada masa Dinasti Song abad ke-11.

Kain Sutra, merupakan komoditas andalan Tiongkok yang sangat dirahasiakan cara pembuatannya oleh Dinasti Tiongkok, dan paling diminati oleh Mesir, Yunani, dan terutama Roma. Silk Road juga memungkinkan pertukaran budaya yang luas antar masyarakat dalam bidang seni, agama, filsafat, teknologi, bahasa, ilmu pengetahuan, dan arsitektur. Setiap aspek peradaban saling bertukar melalui Silk Road ini, dan bersamaan dengan barang perdagangan yang diangkut dari negara ke negara.

One Road

Penting untuk mengetahui sejarah agar mengetahui tentang pengaruh Tiongkok dalam menyusun warisan budaya yang kemudian melahirkan Silk Road baru, yakni ‘One Belt, One Road’. Beberapa Proyek Infrastruktur Besar baru Tiongkok ini sangat penting, tidak hanya untuk perekonomian Tiongkok, tapi juga perekonomian negara-negara lain, termasuk negara-negara berkembang di Asia Tenggara yang selama ini sangat sulit untuk tumbuh karena terus didikte oleh peradaban Barat.

Pada bulan Mei 2015, Tiongkok membentuk Gold Investment Fund yang dikelola negara untuk membuat sebuah pool, awalnya $16 miliar, membuatnya menjadi dana emas fisik terbesar di dunia. Ini akan mendukung proyek-proyek pertambangan emas di sepanjang Economic Silk Road. Tiongkok menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk membuat negara-negara Eurasia di sepanjang Silk Road mampu meningkatkan dukungan emas untuk mata uang negara mereka masing-masing. Negara-negara di sepanjang Silk Road yang memiliki sumber daya alam dan manusia, sama sekali tidak independen sebagaimana yang ditawarkan Barat.

Pertambangan emas Tiongkok meluas hingga ke Rusia, yang saat ini merupakan penggerak mitra strategis terdekat Tiongkok. Tiongkok National Gold Group Corporation telah menandatangai perjanjian dengan grup pertambangan emas Rusia, Polyus Gold, grup pertambangan emas terbesar di Rusia, dan salah satu dari 10 terbesar di dunia, untuk mengeksplorasi sumber daya emas yang merupakan cadangan emas terbesar Rusia di Natalka, bagian timur jauh Distrik Kolyma, Magadan. Meskipun tidak banyak dikenal di luar industri pertambangan emas, saat ini Tiongkok merupakan negara tambang emas terbesar di dunia setelah menurunnya produksi Afrika Selatan beberapa tahun yang lalu. Rusia nomor tiga di dunia. Kazakhran dan negara-negara Asia Tengah lainnya yang kini berada di atas Silk Road mimiliki cadangan emas yang cukup besar yang belum pernah dimanfaatkan dan akan menjadi ekonomis jika dilengkapi dengan link infrastruktur rel kereta.

OBOR saat ini didukung dengan keuangan yang besar, via Silk Road Fund, yakni Asian Infrastruktur Investment Bank (AIIB), New Development Bank (NDB) milik BRICS, dan ofensif komersial yang habis-habisan di seluruh Eurasia, dan masuknya yuan dalam Special Drawing Rights IMF secara resmi; yaitu, penetapan yuan sebagai mata uang utama yang bernilai sementara oleh setiap bank sentral pasar tunggal.

Pada pertemuan G20 di Huangzou, Presiden Xi Jinping menunjukkan secara jelas bagaimana OBOR benar-benar penting bagi visi Tiongkok bagaimana globalisasi seharusnya dilanjutkan. Beijiing berani bertaruh bahwa sebagian besar negara-negara di seluruh Eurasia lebih suka berinvestasi yang sama-sama menguntungkan (skema win-win) dalam proyek pembangunan ekonomi daripada terjebak dalam permainan strategis antara AS dan Tiongkok yang tidak akan ada manfaatnya.

Dan itu merupakan Empire of Chaos, yang benar-benar terkutuk.  Bagaimana mungkin membiarkan Tiongkok menang melalui Permainan Besar Baru pada abad ke-21 di Eurasia dengan membangun New Silk Road?

Dan jangan lupakan Silk Road di Suriah

Beberapa pihak yang ada di Barat telah memperhatikan, seperti yang dilaporkan oleh RT, bahwa G20 telah diawali dengan Forum Ekonomi Timur di Vladisvostok. Pada intinya, masih tahap awal de facto integrasi Eurasia, yang melibatkan Russia, Tiongkok , Jepang dan Korea Selatan.

Dan integrasi wilayah penting lainnya akan segera terjadi melalui Uni Ekonomi Eurasia yang dipimpin oleh Russia – di mana merupakan New Silk Road-nya Russia.

Semua ruas jalan ini menghasilkan konektifitas total. Anggap misalnya, kereta kargo yang kini menghubungkan Guangzhou secara teratur, yang merupakan pusat utama di Tiongkok tenggara, dengan pusat logistik di kawasan industri Vorsino dekat Kaluga. Pengiriman barang hanya membutuhkan waktu dua minggu – menghemat waktu satu bulan jika dibandingkan dengan pengiriman barang via kapal, dan menghemat biaya sekitar 80% jika dibandingkan dengan kargo udara.

Guangzhou-kawasan industri Vorsino (Kaluga)

Inilah tahap awal New Silk Road-style yang menghubungkan Tiongkok dan Eropa via Rusia. Dan yang lainnya, yang jauh lebih ambisius, akan ada ekspansi rel kereta berkecepatan tinggi Transiberian; Siberian Silk Road.

Kemudian integrasi wilayah yang lebih dekat dengan Tiongkok dan Kazakhtan – yang juga merupakan anggota EEU (Uni Ekonomi Eurasia). Pembebasan bea cukai jalur kereta api telah berlaku, dari Chongqing di Sichuan, melintasi Kazakhtan, Russia, Belarus dan Polandia sampai Duisburg di Jerman. Beijing dan Astana sedang mengembangkan sebuah zona perdagangan bebas bersama di Horgos. Dan secara paralel, Zona Kerjasama Ekonomi Lintas-Batas Tiongkok-Mongolia yang bernilai $135 juta mulai dibangun bulan lalu (september 2016).

Bahkan Kazakhtan menarik perhatian dengan gagasan ambisius-nya, yakni Kanal Eurasia dari Kaspia ke Laut Hitam dan kemudian dilanjutkan ke Mediterania. Cepat atau lambat, perusahaan kontraktor Tiongkok akan datang untuk studi kelayakan.

Agenda Washington nyaris tak terlihat di Suriah – yang terintegrasi dengan obsesi Pentagon yang tidak mengizinkan gencatan senjata, atau untuk mencegah gugurnya “pemberontak moderat” di Aleppo – untuk memecah pusat New Silk Road.

Tiongkok sudah lama terhubung dengan Suriah secara komersil sejak Silk Road kuno, jalur yang berliku-liku melalui Palmyra dan Damaskus. Sebelum terjadinya “Arab Spring” di Suriah, kehadiran pengusaha Suriah di Yiwu sangat vital, selatan Shanghai, pusat grosir terbesar produk-produk jadi berukuran kecil di dunia, di mana mereka (pengusaha Suriah) membeli produk dalam jumlah besar untuk dijual kembali di Levant.

The “American lake”

Para Neocon/neoliberal yang ada di Washington, benar-benar lumpuh (hilang akal) dalam hal menanggapi – atau paling tidak membuat usulan serangan balik – terhadap integrasi Eurasia. Setidaknya, membutuhkan IQ yang lebih untuk memahami bahwa “ancaman” yang ditimbulkan Tiongkok bagi AS adalah semua hal tentang kekuatan ekonomi. Anggap saja dendam mendalam Washington kepada penopang-Tiongkok, yakni AIIB (Asia Infrastructure Investment Bank).

Kita pasti sudah gila jika menyetujui TPP – yang tidak mengikutsertakan Tiongkok, sebuah kesepakatan kerjasama perdagangan bebas yang dibantu oleh NATO yang berporos di Asia yang merupakan kue manis dari kebijakan ekonomi global Obama. Namun TPP bisa dibilang sudah mati.

Rincian kondisi geopolitik saat ini adalah Angkatan Laut AS bersedia untuk menghentikan Tiongkok dari mendominasi Pasifik secara strategis, sementara TPP dikerahkan sebagai senjata ekonomi untuk menghentikan Tiongkok mendominasi Asia-Pasifik.

Berporos pada Asia merupakan alat untuk “menghalangi agresi Tiongkok”. Apa yang dibutuhkan AS adalah; industri kunci, finansial, komersial yang menghubungan titk-titik di Asia untuk membangun kembali ekonominya, bukannya menghalangi Tiongkok.

Ketika terjadi krisis ekonomi di AS, pada Maret 1949, MacArthur bersukacita, “the Pacific is now an Anglo-Saxon lake”. Bahkan setelah berakhirnya Perang Dingin, Pasifik menjadi danaunya Amerika secara de facto; AS melanggar wilayah laut dan udara Tiongkok sesuka hatinya.

Sebaliknya, kini Akademi Perang AS dan Seluruh Think Tank-nya sulit untuk tidur setelah hadirnya rudal canggih Tiongkok yang mampu menolak akses Angkatan Laut AS menuju Laut Tiongkok Selatan. Danau-nya Amerika? Tidak lagi.

Inti permasalahannya adalah bahwa Tiongkok membuat taruhan yang sangat besar dengan membangun infrastruktur – yang jika diterjemahkan menjadi koneksi kelas-satu semua orang – sebagai dunia bersama abad ke-21, cara yang lebih penting daripada “keamanan”.

Memecah dan mengatur rival-rival “musuh”.

Nah, hal yang tidak banyak berubah sejak Dr. Zbig “Gran Chessboard” Brzenzinski bermimpi pada akhir 1990an tentang perpecahan Tiongkok dari dalam, yang merupakan jalan mulus bagi Strategi Keamanan Nasional Obama tahun 2015, yang tidak lebih dari sekedar nostalgia retorika sia-sia tentang membendung Russia, Tiongkok dan Iran.

Jadi, mitos-mitos seperti “kebebasan bernavigasi” – adalah istilah halus (tipu muslihat) Washington yang terus-menerus mengendalikan jalur laut, yang merupakan rantai pasokan Tiongkok – serta propaganda berlebihan “agresi Tiongkok” yang tak henti-hentinya, ditambah dengan propaganda “agresi Rusia”, setelah semuanya, integrasi Eurasia yang berbasis kemitraan strategis Beijing-Moskow harus dihancurkan dengan segala cara.

Kenapa? Karena hagemoni global AS harus selalu dianggap sebagai sesuatu yang tidak boleh dipindahkan dari alam, seperti ajal dan pajak (kecuali Apple di Irlandia).

24 tahun setelah Panduan Perencanaan Pertahanan Pentagon, pola pikir yang sama terjadi:

“Tujuan utama kami adalah mencegah munculnya kembali rival baru … untuk mencegah kekuatan musuh mendominasi sebuah wilayah yang memiliki sumber daya, di bawah kendali konsolidasi, yang cukup untuk menghasilkan kekuatan global. Wilayah tersebut adalah Eropa Barat, Asia Timur, wilayah bekas Uni Soviet dan Asia tenggara”Dr. Zbig “Grand Chessboard” Brzezinski

Uuups. Bahkan kini Dr. Zbig “Grand Chessboard” Brzezinski ketakutan. Bagaimana Pentagon membendung jalur sutra ini dengan “ancaman eksistensial” Tiongkok dan Russia yang tepat berada di jantung-aksi mereka? Pemecahan dan Aturan – apa lagi?

Demi kebingungan Brzezinski, AS seharusnya “membuat sebuah kebijakan di mana, paling tidak menjadikan mitra salah satu dari dua negara yang berpotensi mengancam negara dalam upaya untuk menciptakan stabilitas regional dan kemudian global secara luas, dan jadi dengan sedikit membendung sesuatu yang terprediksi, namun kemungkinan besar berpotensi membuat rival melampaui batas. Saat ini, kemungkinan besar yang melampaui batas adalah Rusia, tapi dalam jangka panjang adalah Tiongkok.”

Semoga menikmati mimpi buruk.

Hybrid Wars : The Balkans

map-of-the-balkans

Saat ini, Balkan adalah wilayah yang paling penting di Eropa secara geostrategis, dan kebenaran terungkap, orang-orang di Balkan telah memegang peran ini selama berabad-abad sebelumnya, meskipun apakah Kekuatan Besar mengakui peran tersebut pada saat itu. Tujuan kajian ini adalah bukan untuk menganalisa masa lalu, tetapi untuk menilai keadaan sekarang dan memprediksi masa depan. Titik puncak pentingnya kontemporer mereka adalah untuk melayani sebagai fasilitator geografis demi dua megaproyek Rusia dan Cina yang bertujuan untuk menembus ‘unipolar benua’ dengan pengaruh multipolar yang tak tergoyahkan, dan di sinilah alasan mengapa Balkan menjadi pihak kedua yang paling mungkin untuk menjadi korban hybrid War. Semua ini benar-benar akan dijelaskan dalam bagian dan seksi lain, tapi sebelum ke titik itu, diperlukan bagi pembaca untuk mengkonsep-ulang pemahaman mereka tentang Balkan dalam rangka untuk lebih memahami logika strategis di balik rencana geo-ekonomi ambisius Moskow dan Beijing.

Pentingnya geo-historis

Balkan telah memainkan peran penting seperti dalam sejarah Eropa terutama karena mereka adalah jembatan darat yang menghubungkan Eropa Tengah dan Eropa Barat dengan Turki dan Timur Tengah. Dengan demikian, dua kekuatan sudah bisa menggunakan wilayahnya untuk mempengaruhi di arah manapun, dengan orang-orang Romawi yang memperlakukan Yunani sebagai batu loncatan untuk penaklukan lebih lanjut ke arah timur, sedangkan Ottoman memanfaatkan daerah bagian daratan untuk menyerang secara klimatis ke jantung Eropa sebelum kekalahannya selama Pertempuran Vienna. Dengan demikian, hal ini menjadi jelas bahwa Semenanjung Balkan memiliki pengaruh terhadap Eropa dan Timur Tengah satu sama lain, tapi ada faktor lain yang perlu disebutkan, dan itulah link peradaban Rusia dengan wilayah tersebut.

Sebagian besar Balkan memiliki ikatan dengan Rusia melalui hubungan mesra berdasarkan agama, bahasa, etnis, dan ikatan sejarah, yang terakhir diperkuat melalui kampanye pembebasan Tsar Alexander II di wilayah tersebut tahun 1877-1878. Seperti yang terakhir tadi, desain geopolitik yang dimiliki Rusia pada saat itu benar-benar sangat kontroversial dan diluar fokus analisis ini, tapi hal relevansi dalam bagian ini adalah bahwa Timur Balkan (Rumania, Bulgaria) berperan sebagai jembatan dalam menghubungkan Rusia dengan Timur Tengah (Turki) secara fisik, dimana pasukan Rusia mencapai desa San Stefano yang hanya beberapa mil dari luar Konstantinopel.

The Balkans before and after Russo-Turkish war 1877-1878

The Balkans before and after Russo-Turkish war 1877-1878

Pentingnya Geo-Ekonomi

Di era kontemporer, Balkan memiliki lebih dari sekedar ekonomi integrasional. Dengan pemikiran ini, seseorang dapat mengkonsepkan wilayah tersebut sebagai ruang yang relatif terputus antara ekonomi besar Jerman, Rusia, dan Turki. Namun itu hanya relevan secara fungsional yang menghubungkan Jerman dan Turki, karena sebagian besar perdagangan Rusia dengan kedua negara berjalan melalui Eropa Timur dan Laut Hitam. Mengingat kembali “Drang nach Suden” (Bergerak ke Selatan) yang diprakarsai Uni Eropa dan NATO, jelas bahwa AS dan Jerman ingin mengkonsolidasikan wilayah Balkan dibawah kendali mereka sehingga bisa membangun kembali infrastruktur penghubung era-Yugoslavia yang sengaja dihancurkan selama perang tahun 1990-an.

Kerjasama Strategis Rusia-Tiongkok yang Bergerak Menuju Eropa

Dalam sebuah kerangka yang mirip secara konsep seperti apa yang terjadi di Asia Tengah saat ini, Rusia dan Tiongkok juga memiliki sebuah visi strategi yang digunakan untuk Balkan sehingga melibatkan proyek infrastruktur yang saling melengkapi yang menghubungkan jalan bagi sebuah transformasi geopolitik regional. Bagaimanapun, perbedaan utama antara Asia Tengah dan Balkan adalah jejak hubungan secara fisik dengan dua kekuatan besar tersebut (Rusia dan Tiongkok) sementara negara-negara Balkan tidak berbatasan langsung dengan Rusia-Tiongkok. Hal ini membuat Balkan jauh lebih rentan diakal-akali dari luar sejak Rusia atau Tiongkok tidak mampu melindungi kepentingan mereka secara langsung pada titik ini, dan sebagai gantinya harus mengandalkan skill manuver diplomasi, janji ekonomi yang jelas, dan kemitraan strategis yang efektif dalam rangka untuk memastikan bertahannya beberapa proyek masing-masing negara. AS, yang jangkauannya luas, tokoh dan aktor yang berada di Uni Eropa, yang khawatir terhadap rencana Rusia dan Tiongkok karena mereka cemas kehilangan pengaruh di wilayah yang geostrategis ini di mana wilayah ini berperan sebagai jembatan multipolar menuju pusat benua.

Tujuan geopolitik

Di sini lah tabiat geopolitik apa yang berusaha dicapai oleh dua Kekuatan Besar Eurasia (Rusia-Tiongkok), dan ini merupakan angan-angan mereka tentang proyek penghubung transnasional yang berubah menjadi magnet bagi kampanye multipolar. Gagasannya adalah bahwa mereka ingin memikat dukungan regional di tengah masyarakat melalui keuntungan positif yang mereka sediakan untuk setiap negara-negara transit. Sejajar dengan hal tersebut, pembangunan infrastruktur menuju Eropa akan memberikan jalan bersama bagi pengaruh Rusia dan Tiongkok untuk mengikuti dan menggabungkan tiap-tiap penghujung logistik bersama-sama dengan komunitas kepentingan ekonomi. Dengan ini, negara-negara multipolar bisa memiliki ikatan yang lebih dalam dengan Eropa, dimana pada akhirnya akan menggeser tekanan unipolar yang saat ini diterapkan AS kepada mereka.

Berbicara secara konsep, interaksi ekonomi yang lebih banyak yang dilakukan Rusia-Tiongkok dengan rekan mereka di Eropa, mungkin sekali kemitraan bilateral mereka bisa meluas hingga ke bidang lainnya dan pada akhirnya melakukan langkah yang bersifat strategis-politik. Ketika ini terjadi, AS akan kehilangan cengkramannya atas Eropa secara berangsur-angsur, dimana secara geopolitik tidak dapat diterima karena AS bergantung pada kekuasaan mutlak terhadap semenanjung Eurasia Barat agar AS mampu mengendalikan urusan mereka di sekitar Eurasia.

Dari sudut pandang geostrategis Amerika, Eropa adalah daerah yang begitu penting bagi grand-strategi mereka di Timur Tengah dan Asia Timur, dan Rusia-Tiongkok saat ini memukul balik di kedua daerah tersebut (Timteng dan Asia Timur). Akibatnya, AS tidak akan tinggal diam kehilangan sekutu Eropa mereka ke Rusia-Tiongkok dan secara agresif AS menyerang balik dengan dua struktur yang didesain untuk mencegahnya, yaitu dengan menyulut Perang Dingin Baru yang sengaja dilakukan Washington.

  • Struktur pertama: NATO

Pertama adalah ekspansi NATO yang merata dengan kedok “membalas agresi Rusia”, dan berdasarkan apa yang disampaikan oleh Sekretaris Negara (Menlu) AS, John Kerry, melalui pernyataannya yang busuk pada bulan Februari 2015 ketika dia bersenda gurau bahwa “Serbia, Kosovo, Montenegro, Macedonia, dan negara-negara lainnya – Georgia, Moldova, Transnistria, mereka berada dalam garis api” antara Amerika Serikat dan Rusia. Tidak sepenuhnya benar karena Rusia tidak memiliki siapapun dalam “garis api”, meskipun AS memang memilikinya dan secara jelas membuat daftar target-target geopolitiknya demi Perang Hybrid yang akan terjadi pada tahun-tahun selanjutnya. Setelah pernyataan Kerry tersebut, beberapa bulan kemudian, ekspansi infrastruktur NATO lebih mendekat pada tiap-tiap negara dan itu merupakan langkah pertama secara struktural untuk menakut-nakuti negara-negara tersebut (tidak termasuk Kosovo, karena Kosovo sudah menjadi bagian dari Provinsi Serbia) dan senjata kuat untuk menjauhkan mereka dari potensi kerjasama yang menguntungkan dengan Rusia. Dan langkah itu berhasil dalam beberapa kasus seperti Georgia namun gagal pada yang lainnya seperti Serbia dan Macedonia, meskipun belakangan mendapat tekanan baru dari pusat komando NATO yang ada di Romania dan Bulgaria.

  • Struktur kedua: TTIP

Kedua, upaya AS untuk mencegah Kemitraan Strategis Rusia-Tiongkok dari mempengaruhi perubahan multipolar di Eropa adalah melalui perjanjian TTIP, sebuah wujud dari imperialisme pasca-modern yang akan menempatkan Uni Eropa di bawah kendali ekonomi Amerika dan menghalangi formasi negosiasi perjanjian perdagangan bebas mandiri apapun yang tidak direstui Washington. Juga ada masalah “pemerintahan ekonomi”, dimana korporasi transnasion terbesar akan menerima hak legal dan politik, dampaknya adalah perusahaan-perusahaan terbesar Amerika akan diizinkan untuk memberikan pengaruh secara strategis pada pemerintahan boneka negara-negara Eropa.

Bagaimana hubungannya dengan Balkan? Sederhana – Jika ada beberapa mega-proyek ekonomi Rusia dan Tiongkok yang sukses terlaksana, maka langkah selanjutnya adalah negara-negara Balkan akan menjadi negara sahabat bagi Rusia-Tiongkok yang pada akhirnya akan masuk dalam hubungan perdagangan istimewa dengan Rusia-Tiongkok setelah beberapa saat kemudian, dan perkembangan kerjasama tersebut akan tersendat jika beberapa dari negara Balkan terlihat ingin bekerjasama dengan AS via Partisipasi TTIP. Bahkan jika hanya beberapa negara transit rekan-nya Rusia-Tiongkok terikat pada perjanjian tersebut, maka hal ini akan menghambat visi Rusia-Tiongkok yang lebih besar terhadap Balkan dimana Rusia dan Tiongkok membuat ikatan yang lebih dalam dengan seluruh negara-negara Benua, dan dengan demikian hal tersebut memberikan jeda bagi strategi AS untuk bernafas dan menyempurnakan proyek yang mematahkan Rusia-Tiongkok di masa depan.

Megaproyek Multipolar

Mempertahankan keselarasan Kemitraan Strategis Rusia-Tiongkok, rencana yang disiapkan Rusia adalah menjadi ujung tombak jalur pipa gas Balkan Stream (termasuk proyek Turkish Stream), sedangkan rencana yang disiapkan Tiongkok adalah membangun koridor rel kereta kecepatan tinggi Balkan Silk Road yang melalui wilayah tersebut.

Balkan Stream diperkirakan melewati bawah Laut Hitam dan mendarat di wilayah Thare Turki bagian timur, sebelum dilanjutkan ke Yunani, Republik Makedonia, Serbia dan Hungaria. Sedangkan Balkan Silk Road direncanakan untuk dilanjutkan sepanjang kordinat yang sama (sebagian besar), yang menghubungkan pelabuhan Yunani Piraeus (salah satu yang terbesar dan paling penting di Eropa) dengan Budapest melalui Skopje dan Belgrade. Bersama-sama, peran yang diharapkan dari Rusia adalah untuk menyediakan sumber energi yang mandiri sedangkan peran yang diharapkan dari Tiongkok adalah melakukan hal yang sama dengan perdagangan, dan mereka berdua sangat diharapapkan untuk menambah kemampuan pengambilan-keputusan independen pada mitra transit mereka dan membimbing mereka menuju multipolaritas.

Memblokir Balkan Stream

  • Dua percobaan, dua serangan:

Semua ini terdengar positif, namun jauh dari kepastian kalau proyek ini akan menjadi kenyataan, sebab AS, seperti yang dijelaskan sebelumnya, akan melakukan segala upaya untuk mencegah proyek-proyek tersebut terlaksana. Dalam semangat Perang Dingin Baru dan kesuksesannya menggagalkan South Stream, AS memfokuskan perhatiannya dalam upaya untuk menghalangi jalur pia Balkan Stream milik Rusia. Tantangan pertama muncul pada Mei 2015 saat upaya Color Revolution (Revolusi Warna) di Makedonia, yang untungnya ditolak mentah-mentah oleh warga patriotik negara. Selanjutnya, agenda de-stabilisasi adalah kekacauan politik yang mengancam Yunani dan setelah referendum austerity, dan gagasannya adalah jika Alexis Tsipras berhasil digulingkan, maka Balkan Stream akan digantikan dengan proyek US-friendly Eastring. Sekali lagi, Balkan terbukti tangguh, dan alur cerita Amerika dikalahkan, tapi itu adalah manuver antagonis ketiga dan secara langsung dimana sejak awal memotong proyek US-friendly Eastring dan menempatkannya pada posisi standby tanpa batas waktu.

  • Tiga nomor ‘Keberuntungan’

Aksi klimak terjadi pada 24 November 2015 ketika Turki menembak jatuh sebuah pesawat pembom anti-teroris Rusia yang beroperasi di atas langit Suriah, dan proyek yang baru lahir menjadi korban akibat reaksi berantai kemerosotan politik antara kedua belah pihak. Mengingat seberapa jelas akibat yang ditimbulkan dari insiden tersebut, maka kerjasama energi akan menjadi salah satu korban dari ketegangan yang membara antara Rusia dan Turki, maka bisa dipastikan bahwa AS sengaja menggunakan Turki dalam rangka untuk memprovokasi reaksi domina yang pada akhirnya akan menimpa Balkan Stream. Bagaimanapun, insiden tersebut semata-mata tidak membuat proyek tersebut dibatalkan.

  • Kekalahan Turki?

Seperti yang ditulis oleh Andrew Korybko bulan Oktober 2015 tentang pasukan Turki yang tersebar diantara operasi anti-Kurdi di tenggara, mengamankan daerah pedalaman dari serangan teroris ISIS dan ekstrim sayap kiri, kadang-kadang intervensi di Irak Utara, dan sisanya siaga diperbatasan Suriah. Keadaan ini sudah terlalu banyak untuk ditangani bagi militer, dan salah satu hal terakhir yang perlu ditanggung-jawab oleh pemimpinnya saat ini adalah keseimbangan melawan ‘ancaman’ Rusia oleh Erdogan yang sebenarnya sama sekali tidak perlu.

  • Jalan ke depan:

Seperti yang telah disebutkan, pendekatan Rusia adalah untuk lebih fokus pada ekonomi, militer, dan diversifikasi politik yang seharusnya menyertai infrastruktur fisik berbasis energi yang direncanakan untuk dibangun. Alih-alih jalur pipa gas membentuk tulang belakang bagi New Balkan, malahan tampak seolah-olah rel kecepatan tinggi silk road akan mengambil peran ini, tapi walau bagaimanapun, ada mega proyek multipolar bagi pengaruh Russia. Dalam konfigurasi ini, Rusia memiliki sedikit pengaruh langsung dalam memutuskan jalannya pembangunan infrastruktur, tetapi pada saat yang sama, yang sedikit itu sangat diperlukan bagi Tiongkok. Ini artinya bahwa Tiongkok tidak bisa membangun proyek secara sendiri atau bahwa tidak ada dukungan yang sah di Balkan untuk insiatif tersebut, namun partisipasi Rusia di dalamnya akan meyakinkan elit lokal.

Harapan terakhir Balkan adalah Beijing

Sejauh ini, Kemitraan Strategis Rusia-Tiongkok dimaksudkan untuk merevolusi benua Eropa dengan infus pengaruh multipolar sepanjang koridor Balkan, dimana seharusnya mendukung Balkan Stream dan Balkan Silk Road. Bagaimanapun, untuk sementara AS berhasil mengerem Balkan Stream, dengan demikian Balkan Silk Road adalah satu-satunya megaproyek multipolar yang layak untuk dijalankan melalui wilayah Balkan. Oleh karena itu, Tiongkok lah, bukannya Rusia, yang membawa api obor multipolar yang melewati Balkan, meskipun tentu saja Beijing bergantung pada Rusia untuk mendirikan pengaruh di sana untuk membantu mengamankan tujuan geostrategis mereka secara bersama dan membantu dalam membuatnya menjadi kenyataan. Bagaimanapun, Balkan Silk Road ini bisa dibilang lebih penting daripada Balkan Stream untuk saat ini, dan dengan demikian, perlu perhatian ekstra untuk mengamati detail strategis dalam rangka untuk memahami mengapa Balkan Silk Road menjadi harapan terakhir multipolar di Balkan.

  • Yayasan institusional:

Konsep Balkan Silk Road lahir setelah beberapa tahun lahirnya kebijakan pembangunan infrastruktur penghubung seluruh dunia One Belt One Road (Silk Road Baru) yang diprakarsai oleh Tiongkok.  Upaya ini dianggap dalam rangka untuk memecahkan masalah ganda, yakni menciptakan peluang investasi keluar Tiongkok dan saling melengkapi membantu daerah geostrategis dalam mencapai multipolaritas. Berkaitan dengan daerah yang dikaji, Balkan Silk Road adalah manifestasi regional yang ideal, dan itu sebenarnya bagian dari keterlibatan Tiongkok yang lebih luas dengan negara-negara Eropa Tengah dan Eropa Timur.

Format interaksi multilateralnya disusun tahun 2012 pada KTT Tiongkok dan Negara-negara Eropa Tengah dan Eropa Timur (Tiongkok -CEEC) di Warsaw, dan dua tahun kemudian diikuti dengan peristiwa lahirnya gagasan yang berasal dari Belgrade, yakni proyek rel kereta cepat Budapest-Belgrade-Skopje-Athens (salah satu agenda Balkan Silk Road) yang bertujuan untuk memperdalam interkoneksi ekonomi kedua belah pihak. KTT tahun 2015 di Suzho menghasilkan sebuah agenda jangka-menengah selama 2015-2020, dimana di antara beberapa hal lainnya, mengusulkan pembentukan sebuah perusahaan pembiayaan bersama untuk memasok dana kredit dan investasi untuk proyek ini dan yang lainnya.

  • Konteks Strategi

Apa maksud dari semua ini adalah bahwa Cina telah mempercepat hubungan diplomatik, ekonomi, dan institusional dengan Eropa Tengah dan Timur dalam rentang waktu hanya beberapa tahun, dan yang paling mencengangkan adalah bahwa Tiongkok menjadi pemain utama di wilayah yang jaraknya hampir setengah dunia dari Tiongkok, dan sebagian wilayah tersebut adalah komponen formal blok unipolar. Hal ini bisa dijelaskan hanya dengan daya tarik ekonomi menarik yang ditawarkan Tiongkok pada CEEC dimana hal itu melebihi segala macam batas-batas politik, serta ambisi pelengkap dimana Asia Timur hadir di seluruh dunia. Namun AS begitu takut keterlibatan ekonomi Tiongkok dengan Eropa dimana AS berencana untuk meramu Hybrid Wars yang menghancurkan untuk menghentikan Tiongkok di Eropa Timur.

AS takut kehilangan posisinya di Uni Eropa karena Uni Eropa adalah rekan perdagangan mereka yang teratas. Dilihat dari sudut pandang sebaliknya, Balkan Silk Road adalah harapan terakhir Uni Eropa untuk memiliki masa depan multipolar yang independen dari kontrol Amerika, dan itulah mengapa perlunya meyelesaikan proyek bagi Rusia dan Tiongkok. Namun bentrokan Perand Dingin Baru tak terelakkan dan pertaruhan yang sangat tinggi dikerahkan, maka ini berarti bahwa Balkan akan tetap menjadi salah satu Flashpoint utama dalam perjuangan proksi yang berbahaya ini.

 

Bersambung … (Insya Allah)

 

 

 

Sumber:

Sistem Internasional

Speech and the Following Discussion at the Munich Conference on Security Policy (February 10, 2007) | en.kremlin.ru/events/president/transcripts/24034

Pepe Escobar – Why the New Silk Roads terrify Washington | https://www.rt.com/op-edge/361898-new-silk-roads-terrify/

F. William Engdahl – Eurasia Silk Road Economic Transformation | http://journal-neo.org/2016/04/25/eurasia-silk-road-economic-transformation/

Joshua J. MarkSilk Road | http://www.ancient.eu/Silk_Road/

Silk Road | https://en.wikipedia.org/wiki/Silk_Road

Andrew Korybko – Hybrid Wars: Breaking the Balkans (part 1) | http://www.globalresearch.ca/hybrid-wars-breaking-the-balkans/5523932

Andrew Korybko – Hybrid Wars: Breaking the Balkans. The Russian-Chinese Strategic Partnership Goes To Europe (part 2) | http://www.globalresearch.ca/hybrid-wars-breaking-the-balkans-the-russian-chinese-strategic-partnership-goes-to-europe/5525029

 

 

Leave a Comment