Pembekuan Minyak Dunia oleh Arab Saudi dan Russia

In Geo Politik & Strategi by Hamba AllahLeave a Comment

Sebelumnya, harga minyak dunia dikontrol/dimonopoli oleh AS, dengan mengusai OPEC melalui perjanjian Petrodollar, menguasai perusahaan-perusahaan minyak internasional, jalur distribusi minyak, dan pasarnya. Petrodollar adalah negara-negara di dunia ini tidak boleh membeli minyak dunia selain dengan Dollar AS, dengan demikian AS memiliki hak untuk mencetak Dollar sebanyak-banyaknya.

Oleh karena itu, karena banyaknya Dollar yang sudah dicetak, atau hyperinflation, harga barang naik drastis dan ekonomi berhenti. Berhentinya ekonomi artinya, negara tidak bisa membangun apa-apa yang diperlukannya.

Dalam sisi strategis, bagi AS dan Barat, mereka tidak bisa memodernisasi militer mereka, memasok kebutuhan militer [minyak adalah salah satu penggerak mesin perang modern], dll, sementara itu, Russia dan China ber-ekspansi besar-besaran.

Untuk mengatasi hal itu [inflasi], AS dan Barat menurunkan harga minyak sebesar-besarnya. Harga tersebut yang kita pakai dari 2008 hingga saat ini. Di seluruh dunia. Sekitar 30 sampai dengan 40 Dollar per-barrel.

Jadi selama ini semua orang, termasuk kita, di dalam ekonomi, produksi barang dan jasa, harga barang dan jasa, menggunakan harga yang tidak sebenarnya. Atau harga yang sudah ditekan, serendah-rendahnya. Contoh, harga sebungkus rokok sebenarnya adalah 25 ribu Rupiah. Demikian pula di AS dan di Eropa, tentunya dengan penyesuaian kurs, dimana mereka dapat yang lebih murah.

Jika melihat agama, khususnya al-Quran, ini adalah pelanggaran keadilan atau kezaliman dan fassad di bidang ekonomi. Dan Al-Quran adalah pihak yang paling keras menentang kezaliman. Riba bukan hanya hutang berbunga, kecurangan perdagangan/ekonomi termasuk riba. Penekanan harga minyak merugikan negara-negara penghasil minyak. Harga produksi mereka lebih mahal daripada harga jualnya. Itulah mengapa negara-negara OPEC dan Arab Saudi tidak bisa berkembang. Ekonomi mereka kerdil.

Waktu terus bergulir dan mereka terus mencetak Dollar, sekarang kita masuk di saat dimana kelajuan pencetakan Dollar, tidak bisa ditahan lagi dengan harga minyak yang rendah itu. Untuk diketahui, pencetakan mata uang lain [non Dollar/soft currency] adalah berdasarkan dengan laju pencetakan Dollar. Harga rendah minyak dunia tidak bisa menahan laju inflasi dan ekonomi berada di ambang keruntuhan.

Oleh karena itu mereka sekarang meningkatkan pajak, menjual aset-aset negara, mengetatkan pengeluaran negara. Ini terjadi di seluruh pengikut AS, termasuk AS dan Eropa. Contohnya adalah Tax Amnesty/Pengampunan Pajak/Zakat Mal, jaringan pengaman sosial, pemutihan sertifikat tanah, leasing kendaraan bermotor, swastanisasi institusi pendidikan, menaikkan harga rokok [cukainya kan 50% dari harga], dll. Sebagai langkah tambahan selain menurunkan harga minyak dunia. Namun hal ini juga tidak bisa menahan laju inflasi.

Respon Russia dan China untuk menghindari keruntuhan ekonomi global adalah dengan menghabiskan deposit Dollar yang mereka miliki. Tidak seperti negara lain, mereka tidak mengeluarkan deposit Dollar yang mereka dapatkan dari perdaganan dengan Barat, dengan menyalurkannya ke produk-produk keuangan internasional, seperti saham dan bursa efek yang pusatnya di New York, AS.

Inipun tidak cukup, sehingga Russia berinisiatif mengembalikan harga minyak dunia ke harga pasaran. Upaya ini sudah di mulai dari Tahun 2015, dengan melobi OPEC dan negara-negara pengekspor minyak. Yang paling sulit adalah Arab Saudi yang terikat dengan perjanjian Petrodollar dengan AS.

Karena pentingnya implikasi perjanjian Petrodollar, yakni hak AS mencetak Dollar, dimana Arab Saudi berfungsi sebagai inti dari hal tersebut, negara pengekspor minyak terbesar di dunia yang hanya menerima Dollar dalam penjualan minyaknya, AS menjamin keamanan Keluarga Saud, artinya, keluarga Saud dan negara Arab Saudi dilindungi AS, mereka tidak bisa dijatuhkan oleh negara lain secara militer. Ya, AS menempatkan pasukannya di Arab Saudi.

Mengapa Arab Saudi akhirnya menyetujui inisiatif Russia? Karena Russia telah berhasil mengenyahkan ISIS dari Suriah. ISIS adalah invasi militer AS, NATO dan Turki ke Jazirah Arab. Dan jika melihat dari sudut pandang Arab Saudi, selanjutnya setelah Suriah mereka kuasai, mereka akan menginvasi Arab Saudi. Dengan keberhasilan Russia di Suriah, Arab Saudi telah yakin bahwa Russia mampu menghalau AS, NATO dan Turki, dari Jazirah Arab, dan mungkin, Putin telah meyakinkan bin Salman, bahwa Russia-pun berani berhadapan dengan AS dan NATO dalam perang terbuka, ini terlihat dalam ucapan Putera Mahkota, bin Salman di pertemuan itu,

“Russia adalah negara berkekuatan global, bukan, salah satu kekuatan global yang terbesar [seperti ditunjukkan di Suriah], dan saya sangat khawatir dengan keamanan di Timur Tengah, apalagi, Kerajaan kami adalah pusat dari Timur Tengah!”

Implikasi pembekuan minyak dunia oleh Russia dan Arab Saudi adalah sebagai berikut:

  1. Arab Saudi telah meninggalkan AS dan beralih ke Russia dalam minyak bumi dan juga keamanan di Timur Tengah. Raprochement Russia dan Arab Saudi. Oleh karena itu, kini, Barat kini mengirim Turki untuk menginvasi Suriah. Militer Turki telah masuk ke Suriah dan menguasai Jarablus.
  2. Harga minyak dunia akan naik. Implikasinya adalah hancurnya sistem moneter dunia. Atau harga emas akan melampaui USD 2000 per troy ounce. Begitupun dengan harga-harga lain, alias, nilai nominal uang kertas akan hilang, sedemikian sehingga nilai menjadi sekedar kertas toilet. Hal ini akan terlihat di awal tahun 2017. Inflasi yang ada sekarang mungkin akan terlihat seperti sebutir atom.
  3. Potensi munculnya perang terbuka antara Russia dengan AS dan NATO semakin besar. Khususnya di Suriah, dengan masuknya militer Turki ke wilayah Suriah dengan alasan mengejar ISIS.

Dan tidak selang beberapa lama kemudian, pada pertemuan OPEC Rabu 28 September 2016, Arab Saudi dan Iran mencapai kesepakatan pada pemotongan produksi minyak, memicu lonjakan harga minyak mentah. Kesepakatan ini diharapkan bermanfaat bagi Rusia, AS dan perusahaan minyak multinasional, seperti Total, Exxon Mobil, Shell dan BP.

Dan kebenaran itu bagaikan butiran bintang di langit yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya untuk menjadi menjadi petunjuk arah bagi para manusia. Tidak akan ada kebengkokan dalam sebuah kebenaran dan tentu saja hanya hati yang bisa melihat, hati yang mendengar dan hati yang berusaha untuk memahami, yang akan dapat mengenal dan menemukan kebenaran tersebut dibalik fitnah dan penipuan ilusi peradaban modern (fitnah dajjal) yang mereka anggap sebagai sebuah kemajuan.

Semoga Tuhanku menyempurnakan petunjukNya yang lurus kepada kami agar kami lebih dekat (kebenarannya) daripada ini semua. Insya Allah

 Angkoso Nugroho

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment