Peringatan Tentang Perang Besar

In Al Malhamah, Geo Politik & Strategi by Hamba AllahLeave a Comment

Kampungmuslim.org – Ini adalah bagian kedua dari Esai Sheikh Maulana Imran Hosen yang berjudul Al’Qur’an dan Perang Besar dimana bagian pertamanya telah kami muat dalam tulisan sebelumnya.

Allah yang Maha Tinggi adalah Tuhan yang Maha Adil, dan itu adalah konsekuensi dari standar Keadilan Ilahi-Nya bahwa Dia telah menyatakan bahwa Dia tidak pernah menghukum manusia tanpa terlebih dahulu mengirim seseorang hamba-Nya untuk memperingatkan mereka:

 

.  .  .وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً

(Qur’ān, al-Isra’, 17:15)

“. . . Kami tidak pernah menghukum orang sampai Kami mengirim utusan untuk memperingatkan mereka.” (Al Qur’an Surah Al Isra;17 Ayat 15)

Semenjak Nabī Muhammad (صلي الله عليه و سلم) menyatakan bahwa dia adalah Nabi yang terakhir, dan bahwa Al-Qur’an adalah yang terakhir dari kitab suci yang diwahyukan, Muslim yang mengikuti Nabi tidak dapat mengharapkan bahwa seorang utusan yang ditunjuk-Ilahi saat ini, akan muncul di dunia untuk memperingatkan kehancuran serta hukuman yang mengerikan yang akan terjadi dalam Perang Besar.

Esai ini menyatakan bahwa adalah peran dan fungsi Al-Qur’an untuk menyampaikan peringatan yang telah dinyatakan oleh Allah Maha Tinggi yang Dia akan kirim sebelum Perang Besar terjadi.

Jika pandangan kami benar, maka esai ini, sebagaimana esai lain yang berkaitan dengan subjek ini yang telah ditulis oleh para peneliti lainnya, dengan demikian dianggap sangat penting, dan karenanya memerlukan perhatian yang besar dalam eksposisi untuk memastikan bahwa peringatan Al-Qur’an dapat disampaikan secara akurat.

Agar peringatan Al Qur’an tersebut dapat disampaikan kepada dunia secara akurat, kita perlu menentukan seperti apakah ciri dari kota-kota yang akan dihancurkan oleh Allah. Mereka yang hidup dalam kota-kota seperti itu namun melakukan penolakan terhadap kefasikan dan kezaliman di kota-kota tersebut, sebaiknya harus berusaha untuk melakukan perubahan terhadap profil yang zalim dari kota dimana mereka berada, atau melakukan Hijrah, yaitu berimigrasi (berpindah tempat tinggal) ke bagian belahan bumi lainnya dimana mereka mampu menerapkan sistem kehidupan yang jauh dari kefasikan dan kezaliman.

Kota Manakah yang Harus Dihancurkan?

Ketika Allah yang Maha Tinggi menghancurkan kaum Sodom dan Gomora karena penyimpangan seksual yaitu homoseksual dan lesbian, Dia meninggalkan peringatan bahwa Dia akan kembali dengan hukuman-Nya untuk menghancurkan orang-orang yang kembali menerima dan menghalalkan penyimpangan seksual seperti itu. Hanya orang tuli, bisu dan buta yang akan gagal mengenali bahwa mereka yang mengendalikan kekuasaan di Peradaban Barat modern, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, secara aktif mempromosikan legalisasi pernikahan antara seorang pria dengan pria lain, dan seorang wanita dengan wanita lain. Implikasinya adalah bahwa semua kota baik yang besar maupun yang kecil yang telah mengikuti gaya hidup (berkiblat) kepada gaya Barat modern tersebut, telah memenuhi syarat untuk kehancuran Ilahi, karena janji Allah bahwa Dia akan menghancurkan kembali semua manusia yang menerima (menghalalkan) dan mempromosikan agenda penyimpangan seksual (homoseksual dan lesbianisme).

Al-Qur’an bertanya, sebelum kehancuran Ilahi menimpa kota Sodom dan Gomora:

أَلَيْسَ مِنكُمْ رَجُلٌ رَّشِيدٌ

(Qur’ān, Hūd, 11:78)

“Apakah tidak ada seorang pun yang dibimbing dengan benar di antara Kamu?” (Al Qur’an Surah Hud`11; Ayat 78)

Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada mereka yang mempraktekkan penyimpangan seksual homoseksualitas, namun juga ditujukan kepada mereka yang baik secara diam-diam menerima (menghalalkan) penyimpangan tersebut dengan tidak pernah sedikitpun menentang ataupun mengutuknya.

Ketika Allah yang Maha Tinggi menghancurkan kota Sodom dan Gomorah akibat dari penyimpangan seksual homoseksualitas mereka, Al Qur’an juga memperingatkan bahwasanya kejadian tersebut adalah merupakan tanda peringatan dari Allah yang Maha Tinggi:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

(Qur’ān, Shūrah, 26:174)

“Sesungguhnya pada hukuman ilahi ini terdapat sebuah Tanda (Peringatan): namun kebanyakan manusia tidak percaya pada Tanda ini bahwasanya Allah akan kembali dengan hukuman-Nya jika manusia kembali kepada penyimpangan seksual ini.” (Al Qur’an, Shūrah`26; Ayat 174)

Kesimpulan pertama yang dapat kami ambil dari sudut pandang eskatologi Islam yaitu bahwa Perang Besar yang akan datang akan mengakibatkan dampak kerusakan (kehancuran) pada Peradaban Barat Modern sedemikian bijaksana sehingga apa yang tersisa dari peradaban Barat tersebut setelah Perang Besar tidak akan memainkan peran lebih lanjut dalam urusan dunia global.

Al Qur’an juga telah memperingatkan bahwa Allah yang Maha Tinggi serta Rasul-Nya  (صلي الله عليه و سلم) akan menyatakan perang kepada para pemberi pinjaman uang yang menerapkan Riba (yaitu meminjamkan uang berbasis bunga, atau transaksi yang berbasis pada penipuan yang menyengsarakan masyarakat). *Baca Larangan Riba dalam Al Qur’an dan Sunnah

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ

(Qur’ān, al-Baqarah, 2:278-9)

“Wahai orang-orang beriman! Takutlah kepada Allah dan tinggalkan segala bentuk riba dan perbudakan, jika kamu orang-orang yang bertakwa; karena jika kamu tidak melakukannya maka terimalah pernyataan perang dari Allah dan Rasulnya…” (Al Qur’an Surah Al Baqarah`2; Ayat 278-9)

Nubuah ilahi ini telah terpenuhi dimasa hidup Rasulullah Muhammad  (صلي الله عليه و سلم) ketika kaum Muslimin pada saat itu berhasil memberantas praktek Riba dari sistem perekenomian masyarakat (umat). Namun peringatan yang disampaikan dalam Surah Al Isra` adalah bahwa Dia (Allah) akan melakukan hal yang sama kembali setiap kali Riba berkumandang dan merajai sistem perekonomian dalam sejarah. Peradaban barat telah membesarkan dirinya dengan Riba dan berkembang pesat sambil menghisap darah semua manusia di belahan bumi melalui sistem perbankan dan sistem keuangan internasional yang dibangun berbasis Riba. Oleh karena itu, Janji Allah tentang perang terhadapnya akan segera terjadi. Karenanya, Allah yang Maha Tinggi akan turut campur tangan pada Perang Besar yang akan datang, untuk mendukung mereka orang-orang yang beriman, orang-orang baik yang berjuang dan membela dirinya melawan penindasan, dan mereka yang telah menjadi korban dari sistem perekonomian barat yang berbasis Riba, untuk menghukum mereka yang telah menggunakan Riba sebagai alat kendali yang tidak adil atas kekayaan dunia. Adalah untuk melawan orang-orang seperti itu maka Dia (Allah) telah menyatakan perang, dan mereka akan segera mengalami perang yang akan dilancarkan terhadap mereka!

Akhirnya kami dapat mencatat bahwa Allah yang Maha Tinggi menghancurkan Firaun dan kaumnya karena kefasikan dan penindasan yang mereka lakukan terhadap kaum Israel yang beriman pada saat itu. Ketika Firaun tenggelam dia menyadari bahwa dia bukanlah Tuhan dan karenanya dia telah salah arah, dan  dia kemudian menyatakan keyakinannya kepada Tuhannya kaum Israel. Allah Yang Maha Tinggi kemudian merespon untuk menyatakan bahwa Dia akan melindungi tubuh fisik Firaun sehingga suatu hari kelak (di akhir zaman) akan berfungsi sebagai Tanda bagi orang-orang untuk mengejarnya (mengikuti gaya hidup Firaun). Tanda itu, tentu saja, bahwa jika mereka, juga telah melakukan Dhulm (penindasan, kezaliman dan kefasikan) yang dilakukan Firaun, mereka akan mengalami nasib yang sama seperti yang telah dialami oleh Firaun dan kaumnya. Jasad Firuan telah ditemukan tepat pada saat gerakan Zionis secara resmi terbentuk di kota Basel di Swiss pada tahun 1897, dan semenjak itu hitungan mundur untuk berlakunya kembali sejarah yang akan berulang telah dimulai dimana pertemuan epik yang memuncak dalam kehancuran Ilahi bagi orang-orang yang jahat.

Perang Besar yang sekarang membayangi dunia mungkin sekali menjadi sebuah kesempatan ketika para pengecut itu pulang ke rumah mereka untuk merencanakan dan mengeksekusi serangan teroris 9/11 yang jahat di Amerika dan kemudian dengan jahatnya menyalahkan orang lain. Mereka bersalah atas banyaknya aksi teror bendera palsu yang mereka timpakan pada pihak lain, berkali kali pada pihak yang tidak bersalah. Je suis Charlie sebanding dengan Je suis Firaun!

Al Qur’an telah menyatakan bahwa kefasikan seperti itu akan berdampak kepada kehancuran Ilahi, dan bawah momen untuk hukuman Ilahi akan hal tersebut telah ditetapkan. Esai ini menunjukkan bahwa waktu telah habis bagi para penguasa Barat yang tidak mengenal Tuhan di dunia, dan bahwa waktu untuk takdir kehancuran Ilahi telah ditetapkan dengan adanya Perang Besar.

Nabi Muhammad (صلعم) bernubuat bahwa Perang Besar akan terjadi di antara dua pihak yang bertikai yang sama-sama memiliki keyakinan  agama yang sama.

 

حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ وَتَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ وَدَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ

Abu Hurairah melaporkan banyak Hadits dari Rasul Allah dan salah satunya adalah ini: Akhir Zaman tidak akan datang sampai kedua pihak yang bertikai saling berhadapan dan terjadi pembantaian dalam skala besar di antara mereka, dan mereka berdua berada dalam keyakinan agama yang sama.

(Sahih Bukhari)

Kami mengarahkan perhatian pada apa yang seharusnya diklaim sebagai fakta yang tidak terbantahkan, yaitu bahwa Perang Besar yang akan segera terjadi, akan diperangi, terutama demikian, oleh dua kekuatan besar yang berlawanan satu sama lain dimana keduanya adalah kaum Nasrani. Para kritikus kami, tentu saja, akan berbeda dengan pendapat kami; mereka selalu demikian adanya. Rusia, yang memimpin di satu sisi dalam perang yang akan datang, adalah negara Kristen (Nasrani) Ortodoks yang baru saja berhasil melepaskan diri dari cengkraman berbisa Uni Soviet yang keras dan kejam. Sedang di pihak lawan yaitu Amerika Serikat, dimana sekarang sedang memimpin sebuah kubu Kristen (Nasrani) Barat yaitu NATO yang terus mengobarkan perang terhadap Kristen Rusia selama berabad-abad dan sekarang sedang bernafsu untuk mewujudkan perang lainnya, juga merupakan negara Kristen dengan jumlah besar yang menganut Kristen Barat (santa klaus) daripada Kristen Ortodoks.

Bagaimana kedua kelompok Kristen ini berbeda satu sama lain?

Ada perbedaan penting antara dua kubu Kristen yang berlawanan, dan ini adalah masalah yang sangat penting, bagi mereka yang mencari petunjuk tentang hal ini dari Al-Qur’an, kita dapat menyelidiki dan mengenali perbedaan yang ada di antara dua kubu Kristen yang berlawanan. Ini dapat terjadi karena Al-Qur’an telah membuat perbedaan yang sangat penting antara dua jenis Kristen yang berbeda. Menurut Al-Qur’an akan ada kaum Kristen yang akan paling dekat dalam cinta dan kasih sayang kepada Muslim (al-Māidah, 5:82). Orang Kristen semacam itu akan muncul, tidak hanya pada saat Al-Qur’an diturunkan, tetapi juga di masa yang akan datang. Dan benarlah adanya, Raja Kristen Abyssinia di Afrika benar-benar menunjukkan cinta dan kasih sayang bagi orang-orang Muslim yang menjadi budak dan semi-budak di Mekah yang kafir dan fasik, dan yang telah melarikan diri dari penganiayaan dan perang terhadap Islam untuk mencari suaka di Abyssinia. Raja Kristen Abyssinia menolak permintaan Mekah untuk mengekstradisi budak mereka dan semi-budak mereka dan meyakinkan Muslim bahwa mereka dapat hidup dalam damai dan keamanan di wilayah Kristen Abyssinia selama yang mereka inginkan. Dia juga menunjukkan rasa hormat yang besar terhadap Islam sambil memberikan komentar yang baik tentang agama Islam. Ketika berita sampai kepada Rasulullah  (صلي الله عليه و سلم) bahwa Raja Kristen telah meninggal di Abyssinia, Nabi Muhammad (صلي الله عليه و سلم) melakukan doa pemakaman baginya di Yathrib (sekarang disebut Madīnah al-Nabi).

Tetapi Al-Qur’an juga mengakui orang Kristen lainnya, berbeda dari yang disebutkan di atas, yang pada suatu hari akan berdamai dengan orang Yahudi dan membangun persahabatan dan persekutuan (aliansi) dengan mereka. Hal ini tidak hanya melarang umat Islam untuk menjadi teman dan sekutu terhadap orang Kristen yang membangun persahabatan dan persekutuan dengan orang Yahudi (yaitu, aliansi Yahudi-Kristen), tetapi melanjutkan dengan menyatakan bahwa umat Islam tersebut akan diakui telah menjadi bagian dari Aliansi Yahudi Nasrani, dan dengan demikian kehilangan identitas agama mereka sebagai Muslim (Lihat Surah Al-Māidah, 5:51). Jadi ketika para malaikat datang untuk menanyai mereka di kuburan mereka, mereka akan menemukan keheranan mereka dan cemas bahwa klaim mereka sebagai Muslim akan ditolak, dan mereka akan dihakimi bersama, dan sebagai bagian dari, teman-teman dan sekutu mereka di Aliansi Yahudi Nasrani.

Marilah kita sekarang mencoba untuk menggambarkan perbedaan yang ada di antara dua kubu Kristen yang saat ini akan membawa dunia ke perang nuklir (perang dunia III) yaitu Perang Besar .

Orang Kristen Ortodoks tidak pernah ingin berperang dengan Barat, dan tidak pernah mengobarkan perang terhadap orang Kristen Barat. Tetapi orang-orang Kristen Ortodoks telah membuatnya sangat jelas bahwa mereka tidak takut perang – bahkan jika itu adalah perang nuklir. Kamp Aliansi Yahudi-Kristen Baratlah yang telah mengobarkan perang tanpa akhir di Kristen Ortodoks Rusia, dan sekarang semakin bernafsu untuk berperang kembali dengan orang Kristen Ortodoks; dan Barat selalu mengobarkan perang dengan penipuan dan dengan segunung kebohongan.

Yang paling penting dari perbedaan atau perbedaan yang memisahkan kedua kubu Kristen ini adalah hubungan mereka dengan orang Yahudi dan dengan gerakan Zionis Yahudi. Dimana Kekristenan Barat telah berdamai dengan Yudaisme atas penolakan Yahudi terhadap Yesus (عليه السلام) sebagai Mesias, dan peran Yahudi dalam menuntut penyaliban-Nya, dan telah bergerak untuk membangun aliansi Yahudi-Kristen Zionis yang menawarkan dukungan carte-blanche kepada Negara Israel, dunia Kristen Ortodoks belum bergerak ke arah itu, dan, sebaliknya, mempertanyakan klaim eksklusif Yahudi terhadap Yerusalem. Hampir seluruh dunia Kristen Ortodoks menentang keputusan Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Satu-satunya Kristen Ortodoks yang tidak menentang keputusan Amerika adalah mereka yang telah bergabung dengan NATO.

Perbedaan penting lainnya antara kedua kubu tersebut adalah adopsi oleh kubu Barat tentang penerimaan sosial dan hukum moral dari sebuah revolusi feminis yang ditolak dunia Kristen Ortodoks dengan penuh semangat. Orang-orang Kristen Barat senantiasa memajukan agenda feminis yang membuatnya legal bagi seorang pria untuk menikahi lelaki lain dan mendapatkan akta nikah. Mereka juga melarang pernikahan sebelum usia 18 tahun ketika mempertimbangkan seks pra-nikah dan kehilangan keperawanan sebelum menikah menjadi tahap alami dari proses pertumbuhan. Umat Kristen Ortodoks, di sisi lain, dengan tegas menolak agenda homoseksual dari saingan Barat mereka dan menganggapnya sebagai tanda yang paling nyata dari penghujatan Barat terhadap aturan Tuhan. Terminologi dalam Islam untuk hujatan ini adalah Kufur. Nabi Muhammad (صلي الله عليه و سلم) memperingatkan bahwa kata KĀFIR (kafir) akan ditulis di dahi Anti-Kristus.

Sementara kubu Kristen Barat yang dipimpin oleh AS memiliki agenda arogan untuk memaksakan dominasi spektrum penuh – politik, ekonomi, moneter, militer, dll, pada semua umat manusia, dunia Kristen Ortodoks sekarang yang dipimpin oleh Rusia tidak memiliki agenda kekaisaran seperti itu. Tentu saja benar bahwa sementara Rusia berada di bawah kendali beberapa orang Czars, saat itu jelas merupakan kekuatan imperialis yang mengobarkan perang yang tidak adil terhadap umat Islam. Tetapi hal ini tidak berlaku untuk Rusia hari ini.

Kekristenan Barat telah memeluk sekularisme, sebagai konsekuensinya adalah agama tidak lagi menjadi identitas utama dari orang Kristen Barat. Sebaliknya, identitas agama kini telah digantikan oleh identitas nasional. Dunia Kristen Ortodoks belum begitu sekuler dan, sebagai akibatnya, identitas utama orang Kristen Ortodoks tetap pada  keimanan Kristen mereka!

Dunia Kristen Ortodoks telah mempertahankan agama sebagai institusi sosial paling penting dalam peradaban mereka, dan sebagai konsekuensinya, imamat dan monastisisme masih memainkan peran yang sangat penting dalam agama Kristen Ortodoks. Agama dan cara hidup religius dengan cepat menghilang sebagai institusi penting dalam peradaban Kristen Barat. Monastisisme sebagian besar telah hilang di Kekristenan Barat dengan gereja-gereja dan biara-biara menjadi semakin dijual ke MacDonald Hamburger dll, atau kepada Muslim untuk dikonversi ke Masjid atau sekolah-sekolah Islam.

Bukti ini sangat jelas bahwa Al-Qur’an mengacu pada dunia Kristen Ortodoks ketika menyatakan bahwa akan ada orang Kristen yang akan paling dekat dalam cinta dan kasih sayang kepada Muslim, dan sebaliknya Al Qur’an mengacu pada Kekristenan Barat ketika melarang umat Islam menjalin persahabatan dan bersekutu dengan orang Kristen dan Yahudi tertentu yang saling bersekutu satu dengan yang lainnya. Mereka yang dengan keras kepala menolak penjelasan Al-Qur’an di atas sebagai salah, dan tidak dapat menawarkan penjelasan lain untuk menggantikan apa yang disajikan di atas, memiliki status sebagai pengganggu dan harus diabaikan (ditinggalkan).

Oleh Sheikh Imran Nazar Hosein dalam Esai: Al Qur’an dan Perang Besar (Al Malhamah) dan Dunia Barat.

Alih bahasa oleh: Awaluddin Pappaseng Ribittara

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment