Permaculture dalam Islam

In Permaculture by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Hampir semua nilai-nilai yang dibicarakan dalam permaculture adalah nilai-nilai yang Islami, didalam Islam sendiri kita diperintahkan untuk mencari ilmu sampai kenegeri Cina sekali pun (pada saat nabi menasehati hal ini disamping amat jauh dan sulit juga belum ada umat muslim di cina ) dan mencari ilmu (terutama ilmu yang di Ridhoi oleh Allah) dalam Islam adalah wajib hukumnya.

Apa yang dibicarakan dalam permaculture adalah upaya untuk mengembalikan sistem-sistem kehidupan pada tatanan kehidupan sesuai Sunnatullah, Allah menciptakan semua dalam keadaan seimbang dan adalah maksud Allah agar kita manusia menata kehidupan di muka bumi ini sesuai dengan contoh-contoh sunah-Nya tersebut.

Dalam tatanan masyarakat tradisional, seperti masyarakat di zaman Nabi Muhammad saw hubungan antara manusia dan alam sekitar masih amat erat terjalin (khususnya masyarakat pedalaman seperti Beduin) meninggalkan tatanan dan ketentuan-ketentuan alam sama saja dengan kematian. Di dalam masyarakat modern yang dimulai kira-kira 200an tahun terahir ini dan zaman yang dipersenjatai dengan bahan bakar fosil (yang tidak terbarukan dan mencemari) terjadilah perubahan yang amat dominan dalam sikap hidup manusia terutama dalam hubungan manusia dengan alam. Manusia diajarkan untuk memisahkan diri dari alam, mengexploitasi (pen:mendzolimi) sumber-sumber alam diluar batas ukuran dan keseimbangan (mengingkari Sunnatullah). Bukankah jelas di dalam Al Quran kita di ingatkan; bahwa manusia amat berkecendrungan merusak dan bahwa Allah menciptakan seluruh alam ini dalam keseimbangan dan dalam ukuran-ukuran yang amat terukur dan pasti. Bukankah tuntunan ini mempunyai konsekwensi yang amat mengikat: Pertama kita menjadi wajib untuk selalu mengukur sesuatu yang akan kita ambil/pakai dari alam dengan pertimbangan tidak akan mengambil/merusak hak Allah yang berwujud dalam keseimbangan dari tatanan yang diciptakan Nya. Kedua karena ukuran-ukuran yang amat terukur dan pasti dalam ciptaan Allah tersebut maka kita harus selalu mengukur berapa yang menjadi hak-hak mahkluk-mahkluk lain dan berapa bagian yang menjadi hak kita sebagai manusia.

Bukankah ini sebuah wujud panduan dalam Islam yang amat jelas, akan keharusan kita untuk hidup secara sustainable (sesuai Sunnatullah), menghormati hak Allah dan menghargai hak-hak mahkluk ciptaan Allah lainnya, dan bukankah hanya dalam tatanan atau kondisi seimbang dan penuh kebaikan seperti inilah Rahmat dan Berkah Allah akan mewujud dalam kehidupan kita ?. Dengan kata lain kehidupan yang Sustainable sama dengan Rahmat Allah yang pada ahirnya menghasilkan Berkah.

Pertanyaan ini amat penting dan mendasar yang pada ahirnya bila sungguh-sungguh didalami dan dipertimbangkan akan berdampak amat besar pada keseharian kehidupan kita di zaman modren ini.

Permaculture sebenarnya di samping mewakili sebuah kesadaran juga menyangkut ilmu-ilmu praktis dalam mekanisme menata kembali lingkungan, agar kita dapat kembali hidup sesuai dengan Sunnatullah (sustainable). Kalau dalam tatanan kehidupan tradisional nilai-nilai ini kita warisi langsung dari orang tua-orang tua kita, di zaman ini kita harus secara lebih sadar, bersunguh-sungguh dan systematis berupaya mengembalikan sumber-sumber keberkahan dalam tatanan lingkungan keseharian kita yang umumnya sudah amat rusak dan relatif amat tercerabut dari sumber-sumber keberkahan alam.

Mengikatkan kembali keseharian kehidupan kita pada sumber-sumber yang membawa keberkahan adalah sebuah keharusan, karena sumber-sumber tersebutlah yang akan memberikan kekuatan yang mendasar dan hakiki bagi kelangsungan kehidupan manusia (Dunia dan Ahirat). kesadaran dan upaya inilah yang akan memberikan kita kemuliaan di hadapan Allah dalam rangka mendapatkan Ridho Nya. Hanya dengan upaya ini (hidup sesuai Sunnatullah) kita dapat menjamin kelangsungan kehidupan umat manusia dan akan menghindarkannya dari kepunahan/kehancuran (murka Allah).

Apa itu Permaculture ?

Permaculture (pertanian permanen) adalah sebuah pengetahuan dan kesadaran dalam menata (design) dan pemeliharaan terhadap sebuah ekosistem pertanian produktif yang di dalamnya terdapat keberagaman, daya tahan dan stabilitas. Dalam intergrasi yang penuh harmoni ini, intergrasi antara landscape dan manusia mewujud menjadi sebagai penyedia bagi makanan, energy, perumahan (penaung), kebutuhan-kebutuhan materi lainnya dan kebutuhan non materi, dan semua ini terjadi dalam sebuah tatanan yang sustainnable (berkesinambungan). Tanpa pertanian permanent akses kita pada sumber-sumber yang berkah akan terputus dan tidak mungkin ada stabilitas keteraturan dalam masyarakat.

Tatanan (design) permaculture adalah sebuah system yang mengabungkan komponen-komponen konseptual, material dan strategi dalam pola-pola (pattern) yang berfungsi dalam kegunaannya dan pada ahirnya bermanfaat bagi kehidupan dalam semua wujudnya.

Philosophy di belakang permaculture adalah kerjasama antara manusia dengan alam, bukan menentang alam; melakukan sesuatu dengan pengamatan mendalam dan tidak terburu-buru di bandingkan dengan tindakan-tindakan yang terburu-buru dan tidak dipikirkan lebih dahulu: tentang melihat pada sebuah lingkungan (system) dengan semua fungsi-fungsinya dari pada hanya meminta satu jenis panen (hasil) saja; dan membiarkan alam menjalankan (mewujudkan) kesempurnaannya sendiri

Permaculture didalam landscape dan masyarakat

Dikarenakan dasar dari permaculture adalah kemanfaatan dari sebuah tatanan (design), ini menyebabkannya dapat ditambahkan (digunakan) pada semua pelatihan etika kepribadian (ethical), juga pengetahuan keterampilan, dan mempunyai potensi untuk diterapkan pada semua relung-relung kehidupan manusia. Dalam landscape yang luas, permaculture berkonsentrasi pada daerah daerah yang sudah dimukimi dan daerah-daerah pertanian yang sudah digarap. Hampir semua dari kawasan-kawasan ini memerlukan perbaikan (rehabilitasi) yang drastis dan pemikiran kembali. Satu hasil yang langsung dari pengunaan keterampilan manusia adalah pengabungan antara sumber-sumber pangan dengan permukiman, untuk menangkap (menyimpan) air dari atap-atap rumah, dan menyediakan daerah2 didekat permukiman sebagai kawasan (zona) hutan sebagai sumber bahan bakar, menjadi penerima limbah dan penyedia energi, melakukan pembebasan daerah2 dibumi ini untuk digunakan sebagai kawasan rehabilitasi bagi system system dan kehidupan alami. Ini tidak boleh dilihat hanya sebagai “kawasan terlarang bagi manusia” tetapi lebih dalam arti luas adalah untuk kepentingan kesehatan global (menyeluruh)
Perbedaan yang utama dari ekosistim kawasan hasil olahan manusia dan sebuah system alami adalah yang mana kebanyakan jenis (species) kehidupan dan juga biomass dalam ecology kawasan olahan di niatkan untuk kegunaan manusia dan hewan peliharaannya. Kita manusia hanya sebagian kecil dari tatanan keberagaman mahkluk-mahkluk di alam ini, dan hanya sebagian kecil dari hasil yang dihasilkan (yield) yang menjadi tersedia langsung bagi kepentingan kita (manusia). tapi di kebun (tanah olahan) kita setiap tanaman dipilih untuk memberikan atau menunjang kebutuhan untuk manusia melewati hasil panennya. Pola (design) rumah tinggal secara prinsipil selalu berhubungan dengan kebutuhan manusia; oleh karenanya menjadi berpusat pada manusia (anthropocentric).

Ini adalah tujuan yang valid untuk sebuah design permukiman, tapi kita juga memerlukan panduan etika yang berpusat pada alam untuk kepentingan konservasi hutan. Pada intinya kita tidak dapat melakukan banyak untuk alam bila kita kita tidak menguasai/menghilangkan kerakusan kita, dan bila kita tidak dapat mengadakan (supplay) kebutuhan hidup dari lingkungan kawasan permukiman kita sendiri. Bila kita dapat berhasil melakukan tujuan ini, kita dapat mengembalikan banyak dari daerah-daerah pertanian kita sebagai daerah2 konsevasi alam.

Daur ulang pada nutrient-nutrient dan energi di alam adalah bagian dari fungsi banyak jenis-jenis kehidupan (species-species). Didalam kebun (pertanian) yang kita tata, adalah tanggung jawab kita untuk mengembalikan sampah (melewati pembuatan kompos dan mulsa) kembali pada tanah dan tumbuh-tumbuhan. Kita secara aktif menciptakan tanah dikebun kita, yang didalam lingkungan alamiah fungsi tersebut dilakukan oleh jenis-jenis kehidupan lainnya. di lingkungan tinggal kita dapat menangkap air untuk kebutuhan kebun kita, tapi kita juga akan selalu bergantung pada hamparan hutan-hutan alamiah yang melewati daun-daunnya menambah kelembaban, membentuk awan dan hujan yang ahirnya menjaga sungai-sungai tetap mengalirkan air yang jernih, menjaga atmosphere global, dan mengkunci gas-gas polutant yang kita hasilkan. Jadi, biarpun manusia-manusia yang pada dasarnya anthropocentric dapat diberikan wawasan kesadaran untuk pada ahirnya memusatkan perhatiannya dan upaya-upaya terhadap konsevasi pada hutan-hutan alam dan mahkluk-mahkluk yang hidup di dalamnya. Ini semua akan memberikan tempat dan kemulian bagi manusia di alam ini.

Kita telah melakukan kerusakan pada bumi (tanah) dan menebarkan sampah (keburukkan) ditempat-tempat yang kita sebenarnya tidak pernah butuhkan semua ini dalam lingkungan pertanian dan permukiman kita. Bila pada akhirnya kita perlu membuat sikap dan aturan-aturan etika dalam hubungan manusia dengan tatanan system alamiah, maka inilah wujudnya bersikap tegas menentang dan tidak berkompromi (tidak tergoyahkan) pada upaya-upaya melakukan gangguan dan kerusakan pada sisa-sisa hutan-hutan di mana makhluk-mahkluk masih hidup dalam keseimbangan.

Upaya rehabilitasi yang bersunguh sunguh pada sistem sistem alam yang rusak dan menjadikannya kembali pada keadaan yang stabil.

Penciptaan sistem-sistem tanaman/ternak untuk kebutuhan hidup dengan mengunakan sesedikit mungkin jumlah tanah yang dibutuhkan dalam menunjang eksistensi kehidupan manusia.

Membatasi diri dengan kehidupan sederhana dan membatasi diri dari kehidupan konsumtif yang menjadi dasar dari kerakusan dan kerusakan.

Pembuatan daerah-daerah perlindungan bagi tanaman-tanaman dan binatang-binatang yang terancam kepunahan.

tumblr_mn5t5vN2Fi1rhu2gao1_500

Jalan Cinta dan Permaculture

Dalam kehidupannya, manusia dihadapkan pada bermacam kebutuhan. Ada kebutuhan biologis, seperti kebutuhan akan makanan, perlindungan-keamanan, dan seks; ada kebutuhan sosial, seperti identitas peribadi, pengakuan kelompok, persahabatan, peran serta, dan harga diri. Dan ada kebutuhan khas sebagai manusiawi seperti kebutuhan akan pengetahuan, keindahan, etika, dan keruhanian atau spiritualitas.

Kebutuhan itu terususun secara hierarkhis. Didalam hierarkhi itu kebutuhan khas kita sebagai manusia, yaitu makhluk yang berbeda dengan hewan , terletak paling atas dan menjadi penyantun bagi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Artinya, dalam kebutuhan-kebutuhan biologis maupun sosial, perilaku kita disantun oleh kebutuhan-kebutuhan kita untuk menjadi makhluk yang manusiawi. Dengan demikian, perilaku seksual kita yang bersifat biologis itu, setelah disantun oleh kebutuhan kita akan susila dan agama menjadi perilaku cinta kasih, yang mengatasi perilaku hewaniah. Kekuasaan sebagai kebutuhan sosial dengan santuan kebutuhan susila (etika) dan spiritual menjadi Wibawa. Dalam pergaulan sosial kitapun menjaga silaturahmi karena perilaku sosial kita itu disantun oleh kebutuhan lain yaitu kebutuhan spriritual-religius, dan sebagainya.

Dengan santunan kebutuhan-kebutuhan yang menduduki bagian atas hierarkhi itulah hidup kita menjadi manusia.
Pada sebagian manusia lebutuhan spiritualitas itu menjadi amat kuat, menjadi sesuatu yang tidak tertawarkan, bahkan menjadi sebuah obsesi. Dalam memenuhi kebutuhan yang kuat itu terdapat tiga jalan yang ditempuh, yaitu jalan akal seperti yang ditempuh para filosof, jalan syariat bagi para ahli hokum, dan jalan cinta yang menjadi pilihan para sufi.

Tanpa mengesampingkan pemikiran, dan jalan syariat, para sufi lebih menekankan pendekatan keindahan, kerinduan dan cinta kasih. Tuhan sang maha Cinta adalah wujud yang mencintai. Naluri manusia yang peka akan cinta kasih Tuhan membalasnya dengan cinta kasih pula. Pengalaman cinta kasih ini bersifat horizontal antara manusia-manusia, manusia dengan alam sekitarnya, dan secara vertical manusia dengan Tuhan.

Menghayati cinta kasih Tuhan, mencintaiNya dan mencintai semua makhluk ciptaannya adalah peluang untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Inilah gairah sejati para pejalan cinta. Sedangkan perilaku mencintai, diantaranya diwujudkan sebagai upaya untuk menyenangkan sasaran cinta itu sendiri. Oleh karenanya bagi para pejalan cinta senantiasa berusaha menyenangkan Tuhan dengan menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan berbuat baik, adil, sabar, belas kasih, sedekah, dan sebagainya. Menghindari perilaku yang merusak, rakus, tamak dan serakah. Menjalankan perintah Tuhan melalui firman-firman-Nya dan tuntunan Rosulullah tidak berhenti pada tekstualnya, namun menggali makna yang tersirat dib alik ayat-ayat, yang ditemukan sebagai cinta kasih, dan terus berusaha mewujudkannya dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Mencnitai sesuatu berarti berhasrat untuk senantiasa bersama sesuatu itu, dan berupaya menyatukan diri dengan sesuatu.

Bagi pejalan cinta, menyatukan dan meleburkan diri kepada Tuhan ditafsirkan pula untuk menyatukan dan meleburkan diri pada semesta alam. Ego kecil manusia lebur dalam Ego besar Tuhan yang dimanifestasikan dalam keteraturan sempurna dari alam. Manusia hanya bagian kecil dari ekosistem alam, yang tidak pantas untuk mengeksploitasi guna pemenuhan kebutuhan egonya semata. Tindakan yang berlebihan melanggar otoritas kehidupan makhluk ciptaan Tuhan di ekosistem, untuk pemenuhan nafsu dan ego manusia pada saatnya pasti akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Inilah prinsip pejalan cinta dan inilah prinsip permaculture. Tindakan memakmurkan bumi, menebar benih cinta kasih, serta hidup harmoni sesama manusia dan seluruh makhluk ciptaan di alam semesta, adalah sarana untuk menggapai cinta sejatiNya.(*)

| Bumi Langit Institute

 

image_pdfimage_print

Leave a Comment