Persiapan mempelajari Al-Qur’an dengan cara membacanya terus-menerus setiap hari

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

“… karena itu, bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an …”

(Q.S Al Muzzammil, 73:20)

Salah satu keindahan nama-nama Tuhan (Asmaul Husna) yakni al ‘Alim, yang artinya adalah Maha Mengetahui. Oleh karena itu pengetahuan sejati berasal dari-Nya. Karena Al-Qur’an adalah Firman-Nya, maka Dialah Yang akan memberikan pengetahuan kepada murid yang ingin mempelajari Al-Qur’an. Hal ini berarti bahwa murid harus berpaling kepada-Nya untuk memperoleh bimbingan dan bantuan ketika mempelajari Al-Qur’an.

Kata yang paling pertama dari Al-Qur’an adalah Iqra! (artinya, bacalah) yang diwahyukan ke dalam hati Nabi Muhammad saw oleh-Nya! Inilah perintah Iqra yang berarti Kitab tersebut harus dibaca atau dihafal! Hal ini berarti bahwa bahwa Dia Yang menurunkan Al-Qur’an, ingin Kitab tersebut dibaca terus menerus dari awal hingga akhir selama menjalani kehidupan. Al-Qur’an memang memaktub perintah untuk membaca Kitab tersebut kepada Nabi Muhammad saw.

“Aku (Muhammad) hanya diperintahkan menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah) yang telah menjadikannya suci dan milik-Nya segala sesuatu, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang muslim,”

“dan agar aku membacakan (kepada manusia) Al-Qur’an. Maka barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya dia mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa sesat, maka katakanlah, “sesungguhnya aku (ini) hanyalah salah seorang pemberi peringatan” ”

(Q.S Al Naml, 27:91-92)

Sejak Allah menyatakan, penuh kasih sayang, bahwa umat Islam harus membaca Al-Qur’an sebanyak yang mereka bisa, Nabi Muhammad saw menganjurkan agar Al-Qur’an dibaca dari awal hingga akhir sebulan sekali. Hal ini harus dilakukan seumur hidup! Mereka yang ingin berbuat lebih banyak, diizinkan untuk membacanya seminggu sekali – tapi jangan lebih cepat dari itu:

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr:

Saya menghafal Al-Qur’an dan membacanya dalam satu malam. Rasulullah saw bersabda: ‘Aku khawatir bahwa engkau mungkin berumur panjang dan engkau mungkin akan bosan. Bacalah dalam sebulan.’ Aku berkata: ‘biarkan aku menikmati tenagaku di masamuda.’ Beliau bersabda: ‘Bacalah dalam sepuluh hari.’ Aku berkata: ‘Biarkan aku menikmati dari tenaga masa mudaku.’ Beliau bersabda: ‘bacalah dalam tujuuh hari.’ Aku berkata: ‘Biarkan aku menikmati tenaga masa mudaku,’ namun beliau menolaknya (tidak lagi membiarkannya).

(Sunan Ibn Majah)

Berikut Hadits lainnya:

Diriwayatkan Abdullah ibn Amr ibn al-‘As:

Yazid ibn Abdullah berkata bahwa Abdullah bin Amr bertanya pada Rasulullah saw: ‘Berapa lama aku harus membaca Al-Qur’an sampai selesai, ya Rasulullah?’

Beliau menjawab: ‘dalam satu bulan.’

Beliau bersabda: ‘Aku lebih energik menyelesaikannya dalam waktu kurang dari ini.’ Beliau terus mengulangi kata-kata tersebut dan mengurangi waktunya hingga beliau bersabda: ‘selesaikan bacaan dalam waktu tujuh hari.’

Beliau bersabda lagi: ‘aku lebih energik untuk menyelesaikannya dalam waktu kurang dari ini.’

Nabi saw bersabda: beliau menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari, namun tidak bisa memahaminya.

(Sunan Abi Daud)

Sejak Malaikat Jibris as mengharuskan Nabi Muhammad saw membaca Al-Qur’an dalam waktu satu bulan, yakni, setiap bulan Ramadhan, ini jelas bahwa Al-Qur’an harus dibaca dari awal hingga akhir sebulan sekali. Untuk alasan inilah kita mendapati Al-Qur’an terpisah menjadi 30 bagian (Juz). Jika satu bagian (Juz) dibaca dalam setiap hari, bacaan Al-Qur’an dapat diselesaikan dari awal hingga akhir dalam satu bulan (lunar). Metode bacaan Al-Qur’an ini juga memungkinkan kita mengetahui waktu lunar sebagai bulan lunar yang berlangsung dari bulan baru, ke bulan purnama yang indah, ke bulan yang hanya tampak sebagian seperti cabang kurma yang layu tua, hingga bulan menghilang dalam gelanya langit untuk memberi tempat bagi bulan yang baru dan bulan lainnya.

Sebaliknya, mereka yang ingin membaca Al-Qur’an seminggu sekali disarankan oleh Nabi Muhammad saw dengan memperhatikan porsi bacaan tiap hari, sebagai berikut:

Pada hari pertama mereka harus membaca 3 Surat pertama; hari kedua membaca 5 Surat; hari ketiga 7; hari keempat 9; hari kelima 11; hari keenam 13; dan hari ketujuh mereka harus membaca Al-Qur’an sampai selesai.

Bacaan terus menerus ini, dari awal hingga akhir, merupakan prasyarat penting untuk mempelajari Al-Qur’an. Barangsiapa yang menerima Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan Yang Satu namun tidak membacanya terus menerus, berarti mereka berada dalam ketidak patuhan terhadap kata pertama yang diwahyukan dalam Kitab tersebut, yakni Bacalah (Iqra)! Perbuatan yang seperti itu akan membuat mereka menjauh dan meninggalkan dari Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad saw sendiri yang akan mengeluh kepada Tuhannya terhadap pengikutnya yang demikian, berikut ayat Al-Qur’an:

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, “ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan” (Karena, di antara hal-hal lain, mereka tidak lagi membacanya terus-menerus)!”

(Q.S Al Furqaan, 25:30)

Para pembaca yang budiman, akan benar-benar takjub mengetahui bahwa ada banyak sekali umat Islam saat ini yang menghabiskan waktu berjam-jam semalam menyanyikan lagu-lagu yang memuji Nabi Muhammad (saw), namun tidak membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir dalam sebulan sekali.

Nabi Muhammad saw telah menyatakan bahwa jiwa kita akan ditanya oleh Malaikat dalam kubur. Di antara pertanyaan tersebut adalah: Siapa Nabi yang kamu ikuti? Jika jawabannya adalah Muhammad saw, maka Kitab yang diterima sebagai Firman Tuhan, dan yang seharusnya dibaca, dipelajari, dan diikuti adalah Al-Qur’an.

Sangat mungkin bahwa jika jiwa tersebut akan menerima salinan Al-Qur’an di dalam kubur, dan diperintahkan membaca Al-Qur’an. Ujian dalam kubur yang pertama ini akan menentukan apakah Muslim ini bersalah karena melalaikan dari Al-Qur’an, atau apakah dia sering membaca Al-Qur’an secara rutin. Jika jiwa tersebut bersalah karena melalaikan Al-Qur’an, maka mungkin hukuman di dalam kubur akan mendatanginya.

Ada beberapa dari mereka yang tidak mampu membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan mereka sering membacanya hanya dalam bahasa Perancis, Inggris, Urdu, Jerman, dan sebagainya. Mereka kemudian akan belajar untuk takut bahwa hanya ada satu Al-Qur’an, dan itu adalah dalam bahasa Arab, dan mereka tidak pernah berusaha membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Takdir orang Arab yang berbicara bahasa Arab, namun tidak bisa membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab, atau yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata pada kecepatan yang lebih lambat dari seekor kerbau, tidak akan enak untuk dilihat.

Seseorang yang baru saja menjadi Muslim, namun belum tahu bagaimana cara membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab, tentu saja, mengalami nasib yang sama, jika dia meninggal sebagai seorang Muslim yang menghabiskan hidupnya tanpa membaca Al-Qur’an secara rutin.

Kapan seharusnya Al-Qur’an dibaca?

Dia Yang menurunkan Al-Qur’an dan menyararankan bahwa waktu terbaik untuk membacanya adalah di pagi hari. Khususnya ketika Al-Qur’an dibacakan dalam shalat fajar (subuh):

“Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (bacalah) Al-Qur’an saat subuh. Sungguh, (membaca) Al-Qur’an itu disaksikan ”

(Q.S Al Israa’, 17:78)

Agar Al-Qur’an dibacakan pada shalat subuh, maka harus dibacakan dari ingatan, oleh karena menghafal ayat-ayat Al-Qur’an sangat diperlukan.

Pada akhirnya Allah SWT memerintahkan bahwa Al-Qur’an dibacakan dengan suara yang merdu. Berikut perintah tersebut:

“… dan bacalah Al-Qur’an itu perlahan-lahan”

(Q.S Al Muzammil, 73:4)

 

Sheikh Imran Nazar Hosein

image_pdfimage_print

Leave a Comment