Respon dan Sikap Kita Dalam Menghadapi Perang Besar (Al Malhamah)

In Hijrah by Hamba AllahLeave a Comment

Kampungmuslim.org – Respon pertama saya mengenai tema ini adalah sebagai berikut. Hal pertama yang harus dipahami terlebih dahulu adalah bahwasanya seorang muslim sejati tidak pernah takut dalam menghadapi kematian, maka jika kamu masih memiliki rasa ketakutan terhadap kematian di dalam hatimu dan kamu berusaha mencari tempat di berbagai sudut bumi ciptaan Allah dimana kamu bisa bertahan hidup dan selamat dari kematian, maka ada satu hal yang tidak beres atau tidak benar di dalam hatimu.

Karena seorang muslim sejati tidak akan pernah takut akan kematian!

Hal kedua adalah seorang muslim sejati memiliki keyakinan di dalam hatinya bahwa tiada seorangpun atau tiada sesuatu yang dapat merebut (merenggut) nyawa mereka tanpa seizin dari Allah azza Wajalla. Tidak seorang pun! Dan jika Allah menakdirkan dia untuk menemui ajalnya, maka tiada suatu hal apapun yang dapat dia lakukan untuk menghindar dari ajalnya.

Maka seorang muslim sejati haruslah secara totalitas bersimpuh dan berserah diri kepada Allah.

“Jika Allah memberkahi kehidupan untukku maka aku akan hidup, sebaliknya jika Allah menghendaki ajalku maka aku siap menemui kematianku.”

Di saat perang nuklir berlangsung, ketika hatimu berada di tempat yang benar dan kamu yakin sepenuhnya akan kehendak (takdir) Allah akan peran dan kontribusi yang telah kamu lakukan di dunia ini dan kamu tidak takut mati, kemudian kematian datang padamu sebagai dampak dan resiko dari peperangan tersebut. Maka mati syahid adalah sebaik-baiknya berkah untukmu. Itulah kabar baiknya.

Dan di dalam Al-Qur’an Surah Ar Rahman yang juga berkaitan tentang perang besar yaitu Al Malhamah, disitu kamu akan melihat bagaimana Allah menginterpretasikan mereka yang akan dibangkitkan di hari penghakiman dengan wajah yang bercahaya sebaliknya ada juga diantara mereka yang dibangkitkan dengan wajah yang gelap dan kusam.

Inilah respon pertama atau opsi pertama yang saya dapat saya sampaikan mengenai tema yang berkaitan dengan perang besar (Al Malhamah) yang akan segera hadir di hadapan kita.

Respon kedua atau opsi kedua dimana hal ini telah berulang kali saya sampaikan di setiap kuliah eskatologi saya, adalah kamu memiliki sebuah tanggung jawab besar dan kewajiban besar untuk meninggalkan kota-kota besar di dunia ini, terutama kota yang telah melegalkan homoseksual dan lesbianisme, sebelum perang besar tersebut terjadi. Buatlah keputusan untuk hijrah atau berpindah tempat tinggal ke daerah di luar kota seperti pedesaan, perkampungan atau di daerah pedalaman. Karena seorang muslim, memiliki tanggung jawab besar dan kewajiban besar untuk melindungi diri mereka, keluarga mereka dan generasi penerus mereka dari bencana yang akan tiba. Tentu saja dengan syarat dan kondisi yaitu untuk melanggengkan ilmu kebenaran Allah dan untuk mempersiapkan diri dan generasi penerus kita dalam menghadapi perjuangan besar selanjutnya. Jadi bukan sekedar menyelamatkan diri belaka karena rasa takut akan kematian.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari (bencana) api nerakayang bahan bakarnya dari manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar, keras, lagi tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(Qur’an Surat 66 (At-Tahrim): ayat 6)

Jika Allah akan menghancurkan sebuah negeri yang telah menghalalkan pria menikah dengan pria dan mendapatkan sertifikat/kartu pernikahan, maka sewajibnya kamu meninggalkan negeri tersebut. Jika kamu tidak memiliki kemampuan dan kapabilitas untuk meninggalkan negeri tersebut, maka tinggalkan kota-kota besarnya dan hijrahlah ke pedesaan/perkampungan/pedalaman. Dan ketika kamu telah berhasil pindah ke pedesaan/perkampungan/pedalaman tersebut, maka hiduplah dengan membentuk komunitas kecil dimana tidak ada garis pemisah seperti ras dan agama di dalamnya selain hanya garis antara yang baik/benar dan yang jahat/zalim. Jadi siapapun bisa bergabung dengan komunitas kamu, baik itu Nasrani, Yahudi, Hindu ataupun Budha, selama mereka memiliki hati nurani yang baik dan benar. Hiduplah bersama mereka dalam satu komunitas yang saling menghormati, menghargai, teposaliro, tenggang rasa, gotong royong dan saling tolong menolong diantara sesamanya.

Jika kamu tetap memutuskan untuk hidup di kota-kota besar, tentu saja ketika perang besar telah tiba, kerusuhan akan terjadi dimana-mana dan mereka akan saling bermusuhan (saling bunuh) satu dengan yang lainnya karena urusan lapar dan dahaga. Sedang mereka yang hidup berkomunitas di pedesaan/pedalaman, mereka akan saling berbagi satu sama lain dengan apapun yang mereka miliki. Maka belajarlah untuk bertani, berkebun, beternak dan menambak dll untuk keperluan bertahan hidup.

Oleh  Sheikh Imran Hosein

Credit Subtittle & Editorial oleh Awaluddin Pappaseng Ribittara

Catatan Tambahan

Artikel di atas adalah dua respon atau opsi yang disampaikan oleh Maulana Imran Hosein kepada murid-muridnya dalam hal ini para pembelajar eskatologi Islam. Jadi jika kita bijak menanggapinya, maka beliau sebenarnya telah menyampaikan dua jalan yang tentu saja keduanya adalah baik dan benar untuk kita semua selama tujuannya adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dari sudut pandang gambar besarnya dan atau dalam sekala globalnya.

Individu yang kuat dan teguh akan menciptakan keluarga yang kuat dan teguh. Keluarga yang kuat dan teguh akan menciptakan komunitas masyarakat yang kuat dan teguh. Masyarakat yang kuat dan teguh akan menciptakan negara dan bangsa yang kuat dan teguh.

Jika kita memiliki kapabilitas dan kemampuan untuk terjun langsung berperan dan berkontribusi dalam perjuangan orang-orang yang sedang menegakkan kebenaran dalam melawan kezaliman demi terciptanya kebaikan dan kedamaian dalam kehidupan ini, maka jalankahlah atau lakukanlah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing dan tiada kata takut akan kematian di sepanjang proses perjalanannya.

Namun jika kita memang mendapatkan firasat bahwa peranan dan kontribusi yang bisa kita lakukan adalah dengan hijrah ke pedalaman untuk membentuk atau merintis dari bawah sebuah kehidupan komunitas yang akan menciptakan masyarakat yang kuat dan teguh. Maka buatlah perencanaan yang matang dengan visi dan misi yang benar, lalu berjalanlah dengan segenap kekuatan diri untuk berjuang di Jalan Allah.

Sehingga apapun yang kita putuskan, apapun yang kita lakukan saat ini dan di hari esok, semuanya adalah bagian dari peranan dan kontribusi bagi diri kita masing-masing dalam mendirikan pondasi kedatangan Imam Mahdi dan Nabi Isa [as].

Insya Allah.

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment