Revolusi Berwarna: Pergantian Rezim Made in USA

In Opini by Hamba AllahLeave a Comment

Washington mulai membiayai partai-partai politik di luar negeri, komunitas dan grup orang-orang berpengaruh di luar negeri, dimana mereka ini rela dan dapat mengakomodasi agenda Amerika Serikat di negara mereka, menjadikan negara mereka “propinsi” dari USA.

Pendanaan melalui yayasan-yayasan milik pribadi seperti, Albert Einstein Institute (AEI), National Endowment for Democracy (NED), International Republican Institute (IRI), National Democracy Institute (NDI), Freedom House yang kemudian bernama International Center for non-Violent Conflict (ICNC), dan mungkin disini kita mengenal Foxindonesia, Kontras, ICW atau puluhan organisasi berlabel “Islam”.

Dibalik semua yayasan dan organisasi ini adalah US Agency for International Development (USAID) atau Biro Departemen Luar Negeri AS untuk Pengembangan Internasional. USAID menjadi tumpuan bagi cabang-cabang keamanan, intelijen, dan pertahanan di Pemerintah Amerika Serikat. Misi USAID adalah untuk memaksakan kehendak, agenda dan kepentingan AS ke seluruh pelosok bumi sebagai bagian dari operasi intelijen. USAID bekerja dibidang reformasi, rekonstruksi, manajemen konflik, pengembangan ekonomi, dimana pemerintahan dan demokrasi menjadi alasan bagi aliran dana milyaran Dollar kepada partai-partai politik, organisasi mahasiswa, lsm, ormas, dan organisasi keagamaan yang mempromosikan agenda AS. Dimana ada demontrasi, kudeta, revolusi berwarna, atau pergantian rejim yang menguntungkan kepentingan AS, maka USAID dan aliran Dollarnya berada disitu.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Resepnya selalu sama, demontrasi pelajar dan mahasiswa akan menjadi pembukanya, dengan wajah muda mereka, semangat muda mereka, menarik elemen masyarakat yang lainnya untuk bergabung dengan aksi mereka. Aksi ini selalu “berwarna”, yaitu berlogo, sebagai bagian dari strategi pemasaran. Di Serbia, grup OTPOR yang memimpin penggulingan Slobodan Milosevic, turun ke jalan-jalan dengan mengenakan kaos, poster, spanduk, yang bergambar kepalan tangan berwarna hitam dan putih, sebagai simbol perlawanan mereka. Di Ukraina, logonya tetap sama, namun warnanya dirubah menjadi orange. Di Georgia, berwarna mawar, sedangkan di Venezuela, bukannya gambar kepalan tangan, namun gambar tangan yang terbuka, sekedar menambah sedikit variasi.

Revolusi berwarna selalu terjadi di negara dengan nilai strategis seperti; sumber daya alam, pangkalan militer, lokasi jalur perdagangan internasional atau kepentingan geopolitik lainnya. Dan juga selalu terjadi di negara-negara beridiologi sosialis, anti imperialist, dan yang warganya fanatik terhadap agama. Gerakan yang dipimpin oleh agen-agen AS di negara-negara tersebut biasanya anti komunis, anti sosialis, pro kapitalis dan pro imperialist, sesuai dengan agenda perdagangan bebas dan globalisasi.

Demontrasi dan aksi destabilisasi selalu direncanakan disekitar jadwal pemilu, untuk menaikkan ketegangan dan kemungkinan kecurangan terhadap proses pemilu, untuk mendiskreditkan pemilu jika calon yang dikehendaki AS terancam kalah, seperti itulah kecenderungannya. Agen-agen AS selalu ada disana, membiayai, melatih dan menasehati; USAID, NED, IRI, NDI, AEI, dan ICNC. AEI dan ICNI adalah ahli dalam melakukan demontrasi pergantian rezim dalam pergerakan mahasiswa yang “anti anarkis”.

Strateginya adalah untuk menghancurkan sistem koordinasi dari pilar-pilar negara, menetralisir angkatan bersenjatanya, menciptakan sensasi ketidaktertiban dan ketidakstabilan. Direktur AEI, Kolonel Robert Helvey, menjelaskan bahwa tujuannya adalah tidak untuk menghancurkan angkatan bersenjata dan kepolisian, namun untuk “merubah” mereka dan meyakinkan mereka untuk meninggalkan pemerintah yang sekarang, “membuat mereka mengerti bahwa akan masih ada tempat bagi mereka di pemerintahan yang akan datang”. Wiranto dan Prabowo, adalah contohnya. Pemuda dan mahasiswa akan digunakan untuk memprovokasi pihak keamanan, membuat mereka sulit di lapangan untuk melakukan tindakan represif selama aksi demontrasi. Srja Popovic, Sekjen OTPOR mengatakan bahwa Halvey mengajarinya, “…bagaimana untuk memilih orang didalam sistem seperti pejabat kepolisian dan angkatan bersenjata, kemudian menasehati mereka bahwa mereka dan kami adalah sama-sama sebagai korban, bahwa bukan tugas mereka untuk menangkap demontrans yang berusia 13 tahun…”

Sebuah strategi yang telah direncanakan dengan matang, yang ditujukan kepada pejabat publik, angkatan bersenjata, dan rakyat secara umum, dengan komponen perang psikologi, dan realitas dijalan-jalan umum, yang memberikan penampilan sebuah negara diambang revolusi.

Eskalasi aksi bagi rezim yang memang susah dijatuhkan juga direncanakan. Dalam awal hingga aksi selesai media mainstream memegang peranan penuh dalam menciptakan kesadaran faktual tentang apa yang terjadi, sebagai kipas yang menjaga suhu politik agar tetap panas. Setelah aksi damai gagal, maka insurgensi dimasukkan. Sniper dan penembak gelap akan membabi buta tanpa pandang bulu, dimana kambing hitam akan diarahkan kepada angkatan bersenjata dan kepolisian. Media akan memberitakan penanganan represif dari pemerintah terhadap demontrasi damai. Setelah itu jika jalan ini tidak berhasil, masa didatangkan dari daerah atau dari luar negeri, seperti kejadian Libya dan Suriah saat ini, dalam jumlah yang besar, dan bersenjata, sebuah pemberontakan bersenjata skala besar melawan pemerintah tentunya akan menjadi perhatian dunia. Disinilah PBB dan organisasi internasional mengambil alih komando. Resolusi dibuat, sangsi ditegakkan, pasukan PBB dikirimkan, dan pergantian rezim atau pembentukan negara boneka dapat berjalan tanpa gangguan.

Venezuela

Di Tahun 2003, AEI mendarat di Venezuela. Kolonel Halvey memberikan kursus kilat 9 hari mengenai bagaimana oposisi dapat menegakkan demokrasi dengan menggulingkan rezim yang berkuasa. Berdasarkan laporan tahunan AEI, partai politik oposisi, NGO, aktivist, dan organisasi buruh ikut nimbrung dalam kursus dan pelatihan itu. Ini terjadi satu tahun setelah mereka gagal meng-kudeta Presiden Chavez. Setelah aksi damai, yang diikuti oleh demontrasi anarkis, dan upaya-upaya destabilisasi yang konstan, pihak oposisi akhirnya berhasil mengupayakan referendum dimana mereka kalah 60-40, dan tetap ngotot bahwa mereka dicurangi. Klaim mereka ini tidak berdasar. Ratusan pengamat internasional mengatakan bahwa tidak ada kecurangan pada referendum itu.

Maret 2005, oposisi Venezuela dan AEI bersekutu kembali, namun kali ini pemimpin parpol sudah digantikan oleh mereka-mereka yang muda, para mahasiswa yang turun kejalan di Tahun 2003. Mantan pemimpin OTPOR Serbia didatangkan dari Belgrade untuk melatih mereka, Slobodan Dinovic dan Ivan Marovic. Dana dikucurkan dari USAID dan NED sebesar USD 9 juta. Freedom House membuka posko di Venezuela untuk yang pertama dan terakhir kalinya, bekerjasama dengan USAID dan NED untuk mengkonsolidasikan oposisi untuk pemilu tahun 2006. ICNC, yang dipimpin oleh Peter Ackerman, datang untuk melatih pergerakan pemuda dan mahasiswa, menyediakan kursus intensif dan pelatihan dalam hal teknik mengganti rezim.

Di tahun yang sama, para pemuda yang baru dididik ini melancarkan demontrasinya. Tujuannya adalah untuk mempercepat penghitungan suara (quick count) dan menciptakan skenario kecurangan, namun mereka gagal. Chavez menang pemilu, dan unggul 64%, sebuah kemenangan tipis. Di Tahun 2007, pergerakan mahasiswa kembali diluncurkan, untuk memprotes kebijakan Chavez yang membredel TV lokal, RCTV, medianya para oposisi. Mahasiswa turun kejalan dengan logo mereka, dibantu media mainstream untuk menarik perhatian dunia.

Saat ini, mahasiswa yang sama menjadi para pemimpin partai-partai politik oposisi Venezuela, menjadi bukti hubungan mereka dengan politik masa lalu, juga bukti kebohongan dari pergerakan mereka. Revolusi berwarna di Georgia dan Ukraina juga ikut pudar. Rakyat di negara itu kini melihat sendiri dan kecewa kepada mereka-mereka pemimpin reformasi itu ketika mereka melihat demontrasi yang benar-benar murni yang membuat mereka menyadari bahwa mereka telah ditipu.

Parpol, ormas, lsm, lembaga pemilu, organisasi keagamaan, organisasi mahasiswa, media massa, badan intelijen, dan lain-lain, adalah tangan-tangan Dajjal di seluruh negara-negara di dunia untuk mengkondisikan pemerintah di negara itu, melalui mekanisme demokrasi, seluruh agenda dan rencana Dajjal di seluruh dunia. (*)

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment