Riba & Etika Bisnis dalam Islam

In Perdagangan by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Dalam Islam, kebiasaan jual beli dilakukan dengan kontan (cash). Kebiasaan yang jarang dilakukan adalah transaksi kredit, dimana uang dibayar dengan tambahan waktu, namun perlu dimengerti, bahwa dalam transaksi kredit itu, harga kontan sama dengan harga kredit, sehingga, mereka-mereka yang melakukannya untuk menolong orang yang pada saat itu tidak punya uang untuk membayarnya. Oleh karena itu, dalam Islam, harga pasar adalah harga kontan. Sehingga harga komoditas yang tidak sesuai dengan harga pasar tidak boleh diberlakukan.

Pada suatu hari, Umar, ra, mendatangi pasar dan mendapatkan seorang penjual yang menjual komoditasnya dibawah harga pasar. Umar, ra, berkata, “Pergilah dari sini, kau merusak harga pasar!” Mengapa demikian? Dengan menjual barang lebih rendah dari harga pasar, pedagang ini berniat untuk mengalahkan pedagang-pedagang lain, dan setelah ia menang, tentunya ia akan menaikkan harganya kembali. Inilah yang ditentang oleh Allah, SWT, dan haram hukumnya:

“….. jangan mengambil dari orang-orang apa-apa yang menjadi milik mereka dengan cara menurunkan nilainya (Qur’an Al Araf:75, Hud:85, Al Shuara:183).

Yang dilarang Umar, r. a, dapat dilihat dengan jelas saat ini yang dilakukan oleh IMF dan negara-negara adikuasa terhadap negara-negara lainnya, yang mana makhluk paling kejam didunia ini, yaitu pemerintah negara-negara berkembang dan dunia ketiga, mengamininya. Yaitu penetapan mata uang kuat dan lemah oleh IMF kepada negara-negara berkembang dan negara-negara dunia ketiga, dimana Barat dengan mudah mencuri di siang bolong kekayaan bumi ini.

Contoh, jika 1 USD = Rp. 8000 dan harga 1 kg beras adalah Rp. 8000, maka Barat dapat mencuri beras seharaga Rp.7999, setiap kilogram beras. Hal ini diharamkan Allah, SWT, karena 1 USD seharusnya sama dengan Rp. 1. Inilah yang dimaksud perbudakan dan kemerdekaan itu hanyalah ada di tong sampah.

Kembali kepada transaksi kredit. Maka yang disebut riba itu adalah ketika harga kontan tidak sama dengan harga kredit karena dispensasi waktu. Sehingga mereka karena waktu, tanpa bekerja, mendapatkan uang atau keuntungan, time is money.

Allah, SWT, menerangkan dalam Quran bahwa musuh Islam adalah Yahudi dan Nasrani dalam Surah Al Maidah:53.  Dan kebetulan mereka-mereka inilah yang mengamalkan riba dalam peperangannya terhadap Islam. Dari 10 orang Muslim, mereka berhasil mendapatkan 6 orang Muslim ke riba. Dan mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan 4 orang sisanya. Jadi dengan apa mereka melakukannya? Dengan apa yang disebut sebagai Bank Syariah. Mereka menyamarkan riba dengan apa yang disebut sebagai murabahah, yaitu dimana, riba dimasukkan dalam jual beli.

Contoh,

Harga rumah Rp. 60.000.000,- dimana seseorang tidak mampu membelinya maka Bank Syariah membelikannya seharga Rp. 60.000.000,- dan menjualnya kembali kepada orang itu dengan tangguh waktu 20 tahun seharga Rp.180.000.000,-. Terlihat bahwa harga kontan tidak sama dengan harga kredit karena adanya waktu penangguhan. Inilah riba, namun mereka menyebutnya murabahah karena pelanggan dan bank mengetahui keuntungan bank dan menyepakatinya.

Rasulullah, SAW, mengutuk para pelaku riba dalam shahih hadist, dengan mengatakan, kelima pelakunya memiliki kesalahan yang sama besar, yaitu;

  1. Penerima Riba.
  2. Pembayar Riba.
  3. Pencatat Riba.
  4. Dua orang saksi transaksi Riba tersebut.

Implikasi hadist tersebut bahwa kelima orang ini akan menerima hukuman yang sama, yaitu yang Allah, SWT, katakan dalam Quran;

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba [yang belum dipungut] jika kamu orang-orang yang beriman. (278) Maka jika kamu tidak mengerjakan [meninggalkan sisa riba], maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat [dari pengambilan riba], maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak [pula] dianiaya. (279)

– Surah Al Baqarah

Mereka akan diperangi Allah, SWT, dan para Rasulnya. Siapakah yang diperangi Allah SWT, dan Rasulnya? Ialah mereka Orang-orang zalim, dan mereka-mereka yang disebutkan dalam Surah Al Maidah ayat 51 sampai dengan 53. Dan hukumannya adalah api jahannam.

desire


Islam menegaskan untuk berpijak pada pasar yang bebas dan adil. Apakah dibenarkan  di dalam Islam menggunakan perdagangan sebagai senjata untuk kepentingan sepihak? Bolehkan kita sebagai muslim membenarkan apa yang telah dilakukan oleh kaki tangan dewan kemanan PBB? Yaitu membatasi atau memboikot ekonomi perdagangan/ bisnis dalam sebuah negara? Apakah kita sebagai muslim dibenarkan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Presiden US Obama? Ketika dia berbicara mengenai Rusia sebagai Negara yang jahat, dan melakukan boikot/ pembatasan ekonomi terhadap Rusia? Bolehkah kita melakukan apa yg telah di lakukan oleh kaki tangan DK PBB yang mereka lakukan sekarang dalam mengenakan sangsi ekonomi/ pembatasan terhadap Iran dan juga Korea Utara?

Semua muslim akan mengangkat tangan mereka dan berkata mari kita boikot barang barang dari Amerika dan Israel. Tapi jawabannya adalah Tidak!

Islam tidak membenarkan penggunaan perdagangan sebagai senjata, Tidak!!!

Inilah masa akhir zaman dimana kita wajib untuk mengajarkan pada umat mengenal “Din” kita. Islam tidak menggunakan perdagangan sebagai senjata . Islam membenarkan/ memperbolehkan kita berdagang walaupun dengan musuh , tapi kita tidak dibenarkan/ dilarang berdagang senjata perang dengan Musuh. Jadi jika ada laki laki yang menyembah Allah yang satu menjual sebuah produk di pasar dan ada laki laki lain yang menyembah berhala/ dewa dan dewi, yang juga menjual produk yang sama di pasar tersebut, dan ada seseorang dari Inggris berkata “Saya tidak menyembah Tuhan manapun” dan dia juga menjual produk yang sama, maka:

“Kamu tidak boleh menentukan pembelian produk itu berdasarkan atas apa kepercayaannya. Pasar bebas dalam Islam yang adil tidak seperti itu.”

Tidak! Melainkan yang harus kamu lihat adalah kualitas, manfaat, sumber dan tata pengelolaan dan pertimbangan harga dari produk tersebut, dan lakukanlah penilaian jual beli.

Jadi ketika kamu sebagai para pelanggan/ pembeli yang muslim, lalu ada seorang pedagang yang menjual produk dan dia adalah seorang muslim, kamu tidak harus membeli darinya (pedagang muslim itu) hanya karena dia seorang Muslim. Mengapa?

  1. Karena jika kamu melakukan itu, kamu akan memberi contoh bahwasanya “saya hanya akan membeli dari seorang muslim, karena dia adalah saudara muslim saya, jadi kemungkinan esok harinya dia (pedagang muslim itu) akan menjual kepadamu produk yang kualitasnya kurang bagus dan kamu dirugikan, sementara pedagang lain yang bukan muslim menjual produk yang kualitasnya lebih bagus, sementara kamu terlanjur menegaskan “saya hanya akan membeli dari seorang muslim, karena dia adalah saudara muslim saya.”
  2. Kamu memberikan contoh yang tidak baik, bukan hanya kamu yang akan rugi, kamu telah meberikan contoh yang tidak baik karena Orang kristen akan berkata,”Saya hanya akan membeli dari orang kristen saja” dan Orang Yahudi akan berkata “Saya hanya akan membeli dari orang yahudi saja” dan orang Hindu akan berkata ” Saya hanya akan mebeli dari orang hindu saja.” Dan seterusnya, lalu dimana pasarnya?
  3. Islam menginginkan pasar yang bebas dan adil yang mana semua umat manusia boleh datang, semuanya… dan pasar tersebut tidak mendeskriminasikan, antara yang berkulit cerah dan gelap, antara yang tinggi dan yang pendek, antara yang menyembah Tuhan yang satu dan yang menyembah batu. Islam melakukan transaksi perdagangan/ bisnis atas dasar kualitas barang dan harga barang tersebut, dan tanpa membedakan apa agama dan golongan dari pedagang tersebut dan lain-lain. (*)

 

Oleh Sheikh Maulana Imran Nazar Hosein

 

Leave a Comment