Rusia dan Islam, menghubungkan titik-titiknya dan memahami masa depan

In Akhir Zaman, Islam, Kristologi by Rio Esvaldino1 Comment

Di media barat dan media takfiri lainnya, Rusia sering disebut sebagai “Kekaisaran Mordor” yang mana Rusia dianggap sebagai dalang dari segala kejahatan dan keburukan di dunia ini, termasuk kemenangan Trump atas Hillary Clinton dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat, dan tentu saja intervensi Rusia di Suriah dan di Baltik, Polandia atau bahkan di semua negara Eropa Barat. Opini seperti inilah yang berusaha dibangun oleh media perstitusi barat serta media-media lainnya.
Pertama, beberapa poin penting:

1. Intervensi Rusia di Suriah

Ada begitu banyak aspek akan intervensi militer Rusia di Suriah yang harus dipelajari secara hati-hati. Dengan jatuhnya Aleppo dan sekarang langkah terakhir Suriah-Hizbullah-Rusia untuk memotong pasukan yang dikendalikan AS yang direncanakan untuk dipindahkan ke perbatasan Irak, maka hal tersebut terlihat sangat buruk bagi para teroris. Di area yang dikuasai Hizbullah-Rusia-Suriah, kehidupan berangsur-angsur kembali normal dan orang-orang Rusia memberikan sejumlah besar bantuan (makanan, obat-obatan, pembersihan tambang, teknik rekayasa, dll) ke daerah-daerah yang dibebaskan. Ketika Aleppo berada di bawah kendali Takfiri, kota ini langsung menjadi pusat perhatian media barat, namun setelah kota ini dibebaskan, tidak ada yang mau mendengarnya karena mereka tidak ingin orang-orang mendengar tentang kesuksesan Rusia.

Dan yang lebih mengesankan lagi adalah pasukan Rusia yang berada di Tartus, dan terutama di Khmeinim. Saluran TV militer Rusia “Red Star” baru-baru ini menayangkan dua dokumenter panjang tentang fasilitas Rusia di Suriah dan dua hal yang jelas: pertama, orang-orang Rusia akan berada di sana untuk waktu yang sangat lama, dan kedua, Rusia telah meningkatkan Suplai dan infrastruktur tambahan yang tidak hanya bisa menampung pesawat ukuran kecil dan menengah dan kapal, tapi juga bahkan An-124 yang sangat besar. Rusia telah melakukan banyak hal, sangat dalam, dan mereka akan berjuang dengan sangat keras jika diserang. Yang terpenting, mereka sekarang memiliki sarana untuk mendatangkan lebih banyak kekuatan, termasuk alat berat, dalam waktu yang sangat singkat.

Satu lagi, ketika Rusia berada di dalam Suriah, Suriah tetap tidak bisa dikuasai atau dikendalikan AS dan sekutunya, sementara para Takfiri keluar dan perang telah berakhir.

Ini artinya: Amerika Serikat kalah dalam perang, seperti yang dilakukan Kerajaan Arab Saudi, Qatar, Israel, Perancis, Inggris dan yang lainnya yang menyebut diri mereka sebagai “teman-teman Suriah”. Sedangkan Iran, Hizbullah dan Rusia menang dalam perang tersebut.

Jadi apa artinya semua ini?

Akibatnya, Rusia kembali ke Timur Tengah. Bukan hanya kembali (pulang kampung) tapi juga kembali berkuasa. Meskipun Iran melakukan banyak hal untuk menyelamatkan Suriah, namun intervensi Rusia yang terbilang lebih kecil dibandingkan apa yang dilakukan Iran, namun jauh lebih terlihat dan jelas seperti “Rusia menyelamatkan Assad”. Kalimat “Rusia menyelamatkan Assad” seharusnya diganti dengan “orang-orang Suriah, Hizbullah, Iran dan Rusia menyelamatkan Suriah”, tapi begitulah kebanyakan orang akan melihatnya, untuk yang lebih baik atau lebih buruk. Tanpa intervensi Rusia di Damaskus, Suriah mungkin akan jatuh ke tangan ISIS yang gila dan semua denominasi Kristen atau Muslim lainnya sedikit banyak akan hilang.

Keberhasilan Rusia sangat menakjubkan bila dibandingkan dengan serangkaian kekalahan AS yang tampaknya tak berujung di: Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, Libya, Pakistan dan terakhir berantakan akan blokade Saudi melawan Qatar – orang Amerika tidak terlihat bisa menyelesaikan sesuatu. Kontras antara cara AS mengkhianati Hosni Mubarak dengan bagaimana Rusia berdiri di belakang Assad adalah pesan kuat untuk semua pemimpin daerah sekitar: lebih baik berada di pihak Rusia daripada Amerika.

2. Bagaimana Rusia merubah Turki yang sebelumnya musuh berpotensi menjadi sekutu

Mengetahui kalau Turki adalah sekutu penting AS dan anggota penting NATO adalah sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh. Untuk satu hal, Turki memiliki tentara terbesar ke-2 di NATO (tentu saja AS menjadi yang terbesar). Turki juga memegang kunci Laut Tengah, sayap selatan NATO dan Timur Tengah utara. Turki memiliki perbatasan yang sama dengan Iran dan batas maritim dengan Rusia (di Laut Hitam).

Pesawat Rusia SU-24 yang jatuh ditembak pesawat tempur Turki

Ketika Turki menembak jatuh pesawat bomber SU-24 milik Rusia (dengan keterlibatan AS) situasinya menjadi begitu tegang sehingga banyak pengamat khawatir bahwa perang skala penuh akan terjadi antara kedua negara, dan mungkin, dengan aliansi NATO. Awalnya, tidak ada yang terjadi, orang-orang Turki mengambil sikap keras, namun setelah kudeta terhadap Erdogan (juga dengan keterlibatan AS), orang-orang Turki tiba-tiba melakukan hal yang menakjubkan 180 derajat dan berpaling ke Rusia untuk meminta bantuan. Rusia senang membantu, tentu saja.

Kita tidak akan pernah benar-benar tahu peran apa yang dimainkan Rusia dalam menyelamatkan Erdogan, tapi cukup jelas, bahkan dengan kata-katanya sendiri, bahwa Putin melakukan sesuatu yang sangat penting. Apa yang tak terbantahkan adalah bahwa Erdogan tiba-tiba pindah dari Amerika Serikat, NATO dan Uni Eropa dan beralih ke Rusia di mana Rusia segera menggunakan hubungan antara Turki dengan para Takfiri untuk mengeluarkan mereka dari Aleppo. Kemudian mereka mengundang Turki dan Iran untuk menegosiasikan kesepakatan tiga arah untuk mengakhiri perang saudara. Sedangkan Amerika, bahkan tidak diajak berkonsultasi.

Turki adalah contoh dari ilustrasi sempurna tentang bagaimana Rusia mengubah “musuh menjadi netral, netral menjadi teman dan teman menjadi sekutu”. Dan pastinya, Erdogan adalah karakter yang tidak dapat diprediksi dan tidak stabil. Amerika dan NATO masih berada di Turki, dan Rusia tidak akan pernah melupakan dukungan Turki pada para Takfiri di Chechnya, Krimea dan Suriah, atau serangan Turki terhadap SU-24 mereka. Tapi mereka tidak akan menunjukkan tanda-tanda eksternal itu. Sama seperti dengan Israel, tidak ada pesta cinta antara Rusia dan Turki, tapi semua partai sangat pragmatis dan semua orang tersenyum.

Mengapa hal ini terjadi?

Karena ini menunjukkan betapa canggihnya orang-orang Rusia, bagaimana alih-alih menggunakan kekuatan militer untuk membalas SU-24 mereka, sebagaimana yang akan dilakukan orang Amerika, mereka diam-diam namun dengan tekad dan usaha keras melakukan apa yang harus dilakukan untuk “melunakkan atau meredakan” Turki dan “membalikkan” keadaannya.
Sehari setelah serangan yang dilakukan Turki, Putin memperingatkan bahwa Turki tidak akan “lolos hanya dengan beberapa tomat” (mengacu pada sanksi Rusia terhadap impor Turki). Kurang dari setahun kemudian, dinas militer dan keamanan Turki hampir sepenuhnya terlibat dalam pembersihan menyusul kudeta terhadap Erdogan dan Erdogan sendiri terbang ke Moskow untuk meminta agar diterima oleh Kremlin sebagai teman dan sekutu. Cukup mengesankan.

3. Rusia dan “model Chechen” sebagai kasus unik di dunia Muslim

Vladimir Putin dan Ramzan Kadyrov

Banyak pengamat kagum pada keajaiban yang dilakukan Putin dan Ramzan Kadyrov di Chechnya: setelah wilayah tersebut benar-benar hancur oleh dua perang ganas dan brutal dan setelah menjadi “lubang hitam” untuk berbagai macam teroris dan penjahat umum, Chechnya berubah menjadi suatu daerah paling aman di Rusia (bahkan saat tetangganya, yakni Dagestan masih menderita kekerasan dan korupsi). “Model Chechnya” yang dimaksud adalah: Chechnya telah menjadi daerah Muslim Sunni yang sangat keras dan tradisional. Tidak hanya itu, salah satu yang pada dasarnya secara komprehensif tidak hanya mengalahkan Wahabi itu sendiri tapi juga ideologi Wahabinya. Dengan kata lain, Chechnya saat ini unik karena daerah tersebut adalah daerah dengan budaya Muslim Sunni yang sangat Islami namun tidak memiliki risiko terkena virus Wahabi.

Pada tahun 1990-an sebagian besar dunia Muslim mendukung pemberontakan Wahabi di Chechnya. Ini sebagian besar merupakan hasil propaganda Anglo-Zionis yang sangat canggih yang ditujukan pada dunia Muslim yang benar-benar menyimpangkan kebenaran tentang konflik yang terjadi di sana (hal yang sama terjadi di Bosnia). Namun saat ini, “contoh dari Chechnya” menarik banyak perhatian di dunia Muslim dan kepribadian Ramzan Kadyrov perlahan menjadi pahlawan. Bahkan orang Saudi yang membiayai pemberontakan Chechnya dan yang mengancam Rusia dengan serangan teroris selama Olimpiade Sochi, sekarang harus sangat sopan dan “bersaudara” dengan Ramzan Kadyrov. Namun sebenarnya adalah bahwa orang-orang Saudi secara langsung terancam oleh “model Chechnya” karena ini membuktikan sesuatu yang ingin ditolak oleh orang-orang Arab dalam kategori: Islam tradisional dan keras TIDAK harus menjadi Wahabi, apalagi Takfiri.

Anggap saja: ancaman terbesar bagi Saudi tentu saja adalah Iran, karena Iran adalah Republik Islam yang kuat, sukses dan dinamis. Tapi setidaknya Iran adalah Syiah, dan bahwa di benak beberapa orang Sunni, Syiah adalah ajaran sesat yang mengerikan dan hampir merupakan bentuk kemurtadan. Tapi orang-orang Chechen berpotensi lebih berbahaya bagi ideologi Saudi – mereka anti-Wahabi (mereka menyebutnya “para syaitan” atau, secara harfiah, “setan”) dan mereka bersedia untuk berperang di manapun di dunia Muslim untuk melawan “teroris” baik yang didukung oleh CIA maupun Dinasti Saud. Berkali-kali, Ramzan Kadyrov, dan banyak pemimpin dan komandan Chechen lainnya, telah mengulangi bahwa mereka bersedia berjuang untuk Rusia “dimanapun di planet ini”. Mereka telah ditempatkan di Georgia, Lebanon, Novorusia dan sekarang mereka bertempur di Suriah. Setiap waktu dengan efektifitas yang menghancurkan. Mereka adalah pahlawan Muslim sejati, yang diakui bahkan oleh orang Rusia yang non-Muslim sekalipun, dan mereka sama sekali tidak ingin melakukan apapun (misalnya bekerjasama) dengan Wahabi yang mereka benci dengan penuh semangat. Akibatnya, semakin banyak orang di dunia Muslim mengekspresikan kekaguman mereka terhadap model Chechnya.

Komandan Polisi Militer Rusia, yang merupakan orang Chechnya (Muslim Sunni), yang sedang bertugas di Suriah. Lihat: video

Model Chechnya juga diperhatikan dan diperdebatkan dengan hangat di dalam Rusia. Orang-orang Liberal Rusia benar-benar membencinya, dan seperti kurator barat mereka, mereka menuduh Kadyrov melakukan kejahatan yang tak dapat diungkapkan. Penemuan terbaru mereka adalah bahwa homoseksual dipenjara dan disiksa oleh petugas keamanan Chechnya. Cerita semacam ini mungkin dianggap serius di San Francisco atau Key West, tapi propaganda tersebut tidak lagi laku di mata publik Rusia.

Pasukan Chechnya di bawah kepemimpinan Ramzan Kadyrov

Chechnya sangat ideal untuk mempengaruhi Kaukasus dan daerah Muslim lainnya di Rusia dan bahkan di Asia Tengah. Banyaknya orang Chechnya di pasukan operasi khusus Rusia juga membuat mereka begitu dipandang di media Rusia. Semua ini bermanfaat bagi visibilitas dan popularitas model Sunni tradisional yang layak yang merupakan kebalikan dari apa yang sedang terjadi di Uni Eropa. Mari bandingkan citra Muslim di Uni Eropa dan di Rusia.

Pertama, sebuah gambar tidak selalu sama cerahnya, terutama pada tahun 1990an ketika orang-orang Chechnya dipandang sebagai preman, penjahat, dan teroris ganas. Beberapa orang Rusia tidak melupakan atau memaafkan (dan tentu saja beberapa orang Chechnya masih membenci orang Rusia atas apa yang mereka lakukan terhadap Chechnya selama dua perang tersebut). Kedua, tabel perbandingan ini membandingkan apa yang disebut sebagai “etnis Muslim” di Eropa, yang berarti orang-orang yang berasal dari negara-negara Muslim atau beberapa keluarga tapi belum tentu memiliki kebenaran, saleh, atau Muslim sama sekali. Pada kenyataannya, sebagian dari mereka tidak begitu. Inilah sebabnya mengapa ditempatkan kata “Muslim” dalam tanda petik. Ketika tulisan ini menyebut tentang orang-orang Chechnya, di sini merujuk pada orang-orang Chechnya yang konservatif yang mendukung Kadyrov dan ketaatannya yang kuat terhadap nilai-nilai Islam. Jadi, di satu sisi, hal ini akan membandingkan antara apel dan jeruk, dan ini menunjukkan kontras terbesar dan bahwa apel dan jeruk ini memainkan peran penting dalam perkembangan masyarakat di tempat mereka tinggal sekarang.

Sekali lagi, ini bukan temuan ilmiah, namun tidak didukung oleh polling pendapat yang cermat dan membandingkan apel dan jeruk. Jadi, tidak sepenuhnya benar. Wallahu a’lam. Namun, tabel ini menunjukkan tren yang cukup dalam dan kontras di dalam masyarakat Uni Eropa dan Rusia: Uni Eropa sedang bertabrakan dengan dunia Islam sementara Rusia tidak. Sebenarnya, Rusia mewakili model bagaimana masyarakat Kristen (nominal) dapat hidup berdampingan dengan minoritas Muslim yang besar dengan kepentingan pada kedua komunitas. Rusia juga merupakan contoh unik tentang bagaimana dua agama yang sangat berbeda dapat berkontribusi pada perkembangan model peradaban * bersama *.

Sekarang mencoba untuk membedakan masa depan

Jadi mari kita hubungkan titik-titik (poin-poin) di atas: Pertama, Rusia bisa dibilang aktor paling penting di Timur Tengah, jauh melampaui Amerika Serikat. Kedua, Rusia telah berhasil membangun aliansi informal, tapi krusial dengan Iran dan Turki dan ketiga negara ini akan memutuskan hasil perang di Suriah. Ketiga, Rusia adalah satu-satunya negara di bumi di mana Sunni Islam benar-benar aman dari virus Wahabi dan di mana masyarakat tradisional Sunni masih ada tanpa campur tangan Saudi. Kombinasikan ketiga hal ini dan saya melihat potensi besar bagi Rusia untuk menjadi kekuatan yang paling efektif menentang kekuatan dan pengaruh orang-orang Saudi di dunia Muslim. Ini juga berarti bahwa sekarang Rusia adalah pemimpin yang tak terbantahkan dalam perjuangan untuk mengalahkan terorisme Takfiri internasional (dengan kelirunya, Trump menyebutnya sebagai “fundamentalisme Islam”).

Penguasa Anglo-Zionis di Kekaisaran Dunia ini sangat pandai, juga sangat picik: Pertama mereka menciptakan al-Qaeda, kemudian melepaskannya untuk melawan musuh mereka, lalu mereka menggunakan al-Qaeda/ISIS/Daesh untuk menimbulkan malapetaka pada beberapa rezim sekuler hanya untuk “membentuk kembali” sebuah “Timur Tengah baru” dan sekarang mereka akhirnya menggunakan al-Qaeda/ISIS/Daesh untuk mengatur Barat dalam sebuah tabrakan langsung dengan seluruh dunia Muslim (1,8 miliar orang!) yang mana akan mencegah para budak kekaisaran, yaitu kita semua, orang-orang biasa yang tinggal di Uni Eropa dan Amerika Serikat, dari yang melihat penyebab sebenarnya dari masalah yang kita hadapi, apalagi menyingkirkan kelompok setan yang berusaha menguasai dunia ini.

Jadi, kita melihat propaganda bodoh terhadap Islam dan umat Islam yang mana seolah-olah ada ancaman nyata dari Islam atau umat Islam. Tentu saja kenyataannya adalah bahwa semua umat Islam yang dianggap sebagai ancaman nyata bagi orang-orang di Barat selalu dikaitkan dengan dinas keamanan barat dan bahwa sejak 9/11, sebagian besar serangan teror merupakan false flag (serangan palsu). Benar, ada beberapa serangan “nyata” (yaitu: tidak diarahkan oleh layanan khusus barat), namun jumlah korban dalam serangan yang amatir itu sangat kecil dan tidak sesuai proporsi.

Sama seperti propaganda musikal “penjahat kehidupan” di Amerika Serikat yang mengakibatkan sejumlah besar orang kulit hitam AS terbunuh, kebanyakan saling menembak, sehingga histeria “teroris Islam” di media akan menghasilkan beberapa serangan teroris yang asli. Tapi jika anda menambahkan semua jumlah serangannya, anda segera menyadari bahwa histeria paranoid ini benar-benar tidak sesuai dengan bahaya sebenarnya.

Ada yang ingin kita semua takut, benar-benar takut.

Sayangnya, histeria ini telah banyak mempengaruhi, tidak hanya di media zionis resmi, tapi juga di media ‘alternatif’. Hasil? Sama seperti yang dibutuhkan para penguasa Kekaisaran (kelompok setan dunia), Barat dan dunia Islam sekarang berada dalam jalur yang akan bertabrakan. Siapa kelompok yang akan menambah pundi-pundi uangmu dalam bentrokan ini? Lihat saja badut milik para penguasa dan katakan bahwa Barat akan memenangkan yang satu ini!

Tentu saja Barat akan kalah dalam perang ini juga, tapi konsekuensi dari kekalahan ini bukanlah topik artikel ini. Yang ingin digambarkan di sini adalah bahwa Barat dan Rusia telah melakukan pendekatan yang berbeda secara radikal terhadap tantangan dunia Islam yang semakin berpengaruh.

Tapi ini bukan hanya tentang Barat lagi, ini tentang dunia multipolar yang akan menggantikan hegemoni Anglo-Zionis di dunia saat ini. Dalam konteks ini, salah satu proses yang paling menarik yang terjadi adalah bahwa Rusia menjadi pemain utama di dunia Muslim.

Hanya 10 sampai 15 persen orang Rusia beragama Islam, yang jumlahnya sekitar 10 juta orang. Sebagian besar negara Muslim memiliki jumlah yang jauh lebih besar. Dan karena 85 sampai 90 persen orang Rusia bukan Muslim, pengaruh Rusia di dunia Muslim tidak dapat diukur dengan angka yang relatif sederhana. Namun, ketika kita mempertimbangkan peran sentral yang dimainkan Muslim Rusia dalam kebijakan Rusia terhadap Kaukasus, Asia Tengah dan Timur Tengah, ketika kita mempertimbangkan bahwa kebanyakan Muslim Rusia adalah Sunni dan sangat terlindungi dari virus Wahabisme dan ketika kita ingat bahwa Islam Sunni tradisional mendapat dukungan penuh dari negara Rusia, kita dapat benar-benar merasakan kombinasi unik dari faktor-faktor yang akan memberi pengaruh Muslim Rusia jauh melebihi jumlah mereka yang relatif rendah.

Selanjutnya, Rusia sekarang berkolaborasi erat dengan Syiah Iran dan dengan (sebagian besar) orang yang bermadzab Hanafi di Turki. Sebagian besar orang Chechnya termasuk dalam tradisi Sunni Syafi’i dan sekitar setengahnya adalah orang yang mempraktikkan ajaran tasawuf. Mungkin karena Rusia bukanlah negara berpenduduk mayoritas Muslim, makanya Rusia menjadi tempat yang ideal untuk menciptakan kembali bentuk Islam non-denominasi, sebuah Islam yang akan menjadi konten Islam dan tidak perlu terbagi dalam persaingan, kadang-kadang bahkan bermusuhan, subkelompok.

Rusia hanya memiliki status pengamat dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) karena Rusia bukan negara mayoritas Muslim. Rusia juga merupakan anggota Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang mempertemukan China, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Rusia, Tajikistan, Uzbekistan, India dan Pakistan. Mari kita lihat perkiraan jumlah umat Islam di negara-negara SCO: China 40.000.000, Kazakhstan 9.000.000, Kyrgyzstan 5.000.000, Rusia 10.000.000, Tajikistan 6.000.000, Uzbekistan 26.000.000, India 180.000.000, Pakistan 195.000.000. Itu adalah jumlah total 471 juta Muslim. Tambahkan ke angka ini 75.000.000 orang Iran yang akan bergabung dengan SCO dalam waktu dekat (membuat jumlah total menjadi 546.000.000) dan anda akan melihat kontras yang menakjubkan ini: sementara Barat lebih kurang memiliki perang yang dilancarkan terhadap 1,8 miliar umat Islam, Rusia secara diam-diam telah membentuk aliansi dengan lebih dari setengah miliar umat Islam!

Kaum nasionalis Rusia (berlawanan dengan kelompok patriot Rusia) mencoba yang terbaik untuk menginfeksi Rusia dengan merek Islamofobia miliknya sendiri, namun gerakan tersebut dikalahkan oleh sikap yang benar-benar tanpa kompromi oleh Vladimir Putin sendiri yang mengemukakan bahwa:

“Saya harus mengatakan bahwa, seperti yang telah berulang berkali-kali saya katakan sebelumnya, sejak awal Rusia terbentuk sebagai negara multikonfesional dan multietnis. Anda sadar bahwa kita mempraktikkan agama Kristen Timur yang disebut Ortodoksi. Dan beberapa ahli teori agama mengatakan bahwa Ortodoksi dalam banyak hal lebih dekat dengan Islam daripada Katolik. Saya tidak ingin menilai seberapa benar pernyataan ini, namun pada umumnya koeksistensi agama-agama utama ini telah dilakukan di Rusia selama berabad-abad. Selama berabad-abad kita telah mengembangkan budaya interaksi tertentu, yang mungkin agak terlupakan dalam beberapa dekade terakhir. Kita sekarang harus mengingat akar nasional kita.”

Vladimir Putin

 

Jelas, selama Putin dan mereka yang mendukungnya tetap berkuasa, Islamofobia tidak akan memiliki masa depan apapun di Rusia.

Selanjutnya, Rusia kini telah menjadi anggota SCO paling berpengaruh yang mewakili kepentingan strategis lebih dari setengah miliar Muslim di seluruh dunia. Di Timur Tengah, Rusia telah melakukan comeback yang luar biasa – dari total kuasi menjauhnya Rusia pada tahun 1990an hingga menjadi pemain tunggal yang paling berpengaruh di wilayah ini. Rusia telah berhasil meyakinkan dua pesaing potensial yang sangat kuat (Iran dan Turki) untuk bekerja sama dan sekarang aliansi informal ini berada dalam posisi yang sangat kuat untuk mempengaruhi peristiwa di Kaukasus dan Asia Tengah. Pada poin ini sudah jelas bahwa apa yang kita lihat adalah sebuah proses jangka panjang dan tujuan strategis jangka panjang Rusia: untuk terlibat langsung dalam perjuangan untuk masa depan Islam.

Perjuangan bagi masa depan Islam

Dunia Islam menghadapi tantangan besar yang mengancam identitas dan masa depannya, yakni ideologi Wahabi-Takfiri. Ideologi itu, pada hakikatnya merupakan ancaman mematikan bagi bentuk Islam lainnya dan ancaman moral, secara harfiah, kepada setiap orang Muslim non-Takfiri yang tinggal di planet ini. Ideologi Takfiri juga merupakan ancaman eksistensial nyata bagi semua umat manusia, termasuk Rusia dan Rusia tidak bisa hanya duduk santai dan menunggu untuk melihat apakah Anglo-Zionis atau Khilafah Daesh yang akan menang, terutama karena keduanya juga dilumpuhkan dalam sebuah hubungan simbiosis yang aneh antara kelompok deep state barat dan layanan khusus serta para pemimpin Takfiri. Lebih jauh lagi, dengan asumsi Barat bersedia secara serius memerangi terorisme (dan sejauh ini tidak ada pertanda sama sekali) juga jelas bahwa Eropa tidak berguna dalam perjuangan tersebut (karena kurangnya otak, tulang belakang dan bagian tubuh lainnya) dan Bahwa Amerika Serikat, yang dilindungi oleh lautan besar, tidak menghadapi ancaman yang sama seperti negara-negara kawasan Eurasia. Oleh karena itu Rusia harus bertindak sendiri, dan dengan sangat terpaksa.

Ini bukan perjuangan yang akan ditentukan dengan cara militer. Ya, bersedia dan mampu membunuh para Takfiri itu penting, dan Rusia bisa melakukan itu, tapi pada akhirnya adalah ideologi Takfiri itu yang harus dikalahkan dan di sinilah Muslim Rusia akan memainkan peran yang sangat penting dalam perjuangan tersebut demi masa depan Islam. Status mereka sebagai minoritas di Rusia benar-benar berfungsi untuk melindungi Muslim Rusia hanya karena tidak ada sama sekali kemungkinan apapun bagi Wahabi untuk mendapatkan cukup daya tarik di Rusia untuk mengancam negara. Jika ada, dua perang di Chechnya adalah bukti terbaik bahwa bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun Rusia akan selalu memukul balik dan sangat sulit untuk menciptakan negara Wahabi di dalam, atau di samping Rusia. Presiden Putin sering mengatakan bahwa Rusia harus mengirim pasukannya untuk berperang di Suriah tidak hanya untuk menyelamatkan Suriah, tapi juga untuk membunuh ribuan warga Rusia yang saat ini bergabung dengan Daesh sebelum mereka kembali ke rumah: lebih baik melawan mereka di sana daripada melawan mereka di sini. Benar. Tapi itu juga berarti bahwa Rusia harus melakukan pertarungan ideologis ke seluruh dunia Islam dan menggunakan pengaruhnya untuk mendukung pasukan anti-Takfiri yang saat ini berjuang melawan ISIS & Perwakilannya di seluruh dunia.

Masa depan Rusia dan dunia Muslim saat ini saling terkait erat, mengingat dinamika bencana saat ini antara Barat dan dunia Muslim, dan ini adalah hal yang baik untuk semua orang. Sementara para pemimpin Kekaisaran Anglo-Zionis menggunakan Rusia dan dunia Muslim sebagai momok untuk menakut-nakuti subjek mereka agar tunduk pada plutokrasi internasional, dan Rusia harus menjadi tempat di mana mitos-mitos Islamofobia akan terbantahkan dan sebuah pembeda, benar-benar model peradaban multi-budaya, multi-agama dan multi-etnis yang ditawarkan sebagai alternatif bagi hagemoni monolitik yang mendominasi dunia saat ini.

Ideologi sekuler modern tidak memberi manusia apapun kecuali kekerasan, penindasan, perang bahkan genosida. Sudah saatnya menendang itu semua ke tumpukan sampah sejarah tempat mereka berada dan kembali ke model peradaban yang benar-benar toleran, berkelanjutan dan manusiawi yang berpusat di seputar nilai spiritual, dan tidak materialistis. Ya, kita tahu, bagi para zombie yang dicuci otaknya di luar sana memandang bahwa agama tidak terkait dengan gagasan toleransi dan kasih sayang, tapi itu hanya konsekuensi yang tak terelakkan, khususnya akibat dari bentuk agama yang sangat menjijikkan dan munafik. Itu karena kurangnya pendidikan dasar. Hal-hal ini bisa diatasi, dan jangan dengan memperdebatkannya karena memuakkan, tapi hanya dengan menciptakan model peradaban yang berbeda. Tapi untuk itu Rusia dan dunia Islam perlu melihat ke dalam diri mereka sendiri dan fokus pada penyembuhan sendiri (masih banyak) patologi dan disfungsi (terutama spiritual) untuk menciptakan alternatif berbasis spiritualitas semacam itu yang akan menyingkirkan “Pemujaan Terhadap Dollar” (Materialisme: cinta dunia). Dalam kalimat Santo Serafim Sarov, “milikilah semangat damai, dan ribuan di sekitar anda akan terselamatkan”. Ini adalah masa depan yang pantas diperjuangkan.

Keterangan: Tulisan ini hampir sepenuhnya diambil dari tulisan The Saker yang berjudul “Russia and Islam, connecting the dots and discerning the future”. . Beberapa kata disederhanakan agar mudah dipahami oleh para pembaca.

Comments

Leave a Comment