Sektarianisme dalam Islam

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Saat ini ada banyak orang yang menabuh genderang sekte mereka dengan kegeraman, sementara menggambarkan diri  mereka sebagai satu-satunya golongan kaum beriman yang mendapat petunjuk dengan benar. Mereka juga suka mengungkap sekte saingan-saingan mereka, khususnya kaum Tasawuf, sebagai sekte sesat, sementara mereka terlalu banyak menaruh perhatian pada perbedaan-perbedaan yang tidak penting dan menyambar isu-isu yang kepentingannya tidak mengena pada intinya. Buku (“ya’juj ma’juj dalam dunia modern) ini mengarahkan perhatian pada persaingan berbagai sekte dengan klaim dogmatik mereka atas kebenaran, dan menantang sekte-sekte tersebut untuk memproduksi hasil karya ilmiah tentang ‘Tanda-tanda Hari Akhir pada Zaman Modern’ yang di dalamnya terkandung Dajjal juga Ya’juj dan Ma’juj.

Akan ada beberapa pembaca yang barangkali tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang sektarianisme dalam Islam, maka dari itulah perlu di sediakan informasi sedikit mengenai beberapa sekte tersebut. Kemudian akan ada beberapa pembaca lain yang masih ingin tahu tentang identitas sekte-sekte Islam. Karena Nabi Muhammad (sallalahu ‘alaihi wa sallam) sendiri meramalkan kemunculan sektarianisme dalam Islam dan memperingatkan umat muslim agar menjauhi sekte-sekte itu, umat muslim butuh kriteria yang dengan itu mereka dapat mengidentifikasi sekte-sekte tersebut. Topik ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ dan metode menanggapi ‘Tanda-tanda Hari Akhir menyediakan kriteria tersebut. Dajjal juga Ya’juj dan Ma’juj tentunya ada dalam ‘Tanda-tanda Hari Akhir’, demikianlah relevansi topik ini dalam menanggapi fenomena sekterianisme dalam Islam.

Sekte Syi’ah

Sektarianisme dalam Islam muncul dalam beberapa dekade setelah kematian Nabi saat sekte Syi’ah lahir. Hal paling menggembirakan dari semua kepercayaan mereka ada pada ramalan tentang seorang keturunan Nabi (sallalahu ‘alaihi wa sallam) yang dikenal sebagaiImam al-Mahdi  pada akhirnya akan muncul dan memimpin umat muslim menuju kemenangan atas pihak-pihak yang memerangi Islam. Nabi sendiri dengan jelas meramalkan bahwa hal itu akan terjadi dan baik Suni maupun Syi’ah mempercayai ramalan ini. Kaum Syi’ah juga percaya bahwa kedatangan Imam al-Mahdi akan mengesahkan klaim sekte mereka atas kebenaran dalam Islam.

Meskipun begitu, Nabi Muhammad (sallalahu ‘alaihi wa sallam) dengan jelas menentukan kedatangan Imam al-Mahdi terjadi pada suatu waktu yang akan berdekatan dengan kembalinya al-Masih asli, ‘Isa putra Maryam:

“Bagaimana kalian (yakni betapa hebatnya suatu waktu untuk kalian nanti) saat putra Maryam turun ketengah-tengah kalian dan Imam kalian (yakni Imam al-Mahdi) akan muncul dari (kalangan) kalian.”

(Sahih Bukhari)

Ramalan mengenai suatu waktu saat Imam (pemimpin) umat muslim ini berasal dari dalam kalangan mereka sendiri menandakan bahwa untuk beberapa waktu sebelum peristiwa itu terjadi mereka dipimpin oleh kaum non muslim. Dengan kata lain, dunia Islam kehilangan kebebasannya untuk memimpin diri sendiri. Barangkali seluruh bekas wilayah Khilafah Suni saat ini dipimpin (melalui pemimpin boneka) oleh penguasa dunia Kristen-Yahudi Eropa. Mereka memaksa pihak yang disebut sebagai pemerintah-pemerintah muslim menjadi patuh sehingga negara-negara itu menjadi negara boneka Barat. Hampir tidak mungkin bagi masyarakat muslim Suni saat ini dapat melepaskan diri dari genggaman jahat mereka dan memulihkan kepemimpinan mandiri yang membebaskan mereka dari pengaruh dan kendali politik dan ekonomi Kristen-Yahudi.

Syi’ah Iran, di lain pihak, telah mengklaim bahwa keberhasilan revolusi Islam bangsa Iran telah membawa negara itu keluar dari lingkup pengaruh dan kendali penguasa dunia dari kaum non muslim. Selama Syi’ah Iran terus berhasil menentang Barat (Imam al-Khomeini melaknat AS, memang tepat demikian, sebagai “Setan Besar”) sementara mempertahankan klaim terpercaya atas kepemimpinan mandiri, kaum Syi’ah harus mengakui bahwa seorang Imam atau pemimpin yang sah harus berasal dari komunitas mereka. Implikasi ini jelas yang timbul dari klaim Syi’ah atas kebenaran dalam konteks Hadits di atas mengenai kedatangan Imam al-Mahdi dan kembalinya ‘Isa (‘alaihi al-Salam).

Hadits di atas juga menjelaskan bahwa kedatangan Imam al-Mahdi tidak dapat terjadi hingga waktu kembalinya ‘Isa (‘alaihi al-Salam) semakin dekat. Tetapi ‘Isa tidak dapat kembali hingga Dajjal al-Masih palsu menyelesaikan misinya menyamar sebagai al-Masih asli. Dan Dajjal tidak dapat menyelesaikan misi penyamaran itu hingga Tanah Suci dibebaskan untuk umat Yahudi dan kaum Yahudi Bani Israel dibawa kembali dari pengasingan ke Tanah Suci untuk memilikinya lagi.

Al-Qur’an sendiri telah menyatakan dalam Surat al-Anbiyah, 21:94-5 bahwa kembali ke “kota” asal mereka diusir (kami mengenali kota itu adalah Jerusalem) dapat terjadi hanya setelah dua hal telah terjadi:

  • Ya’juj dan Ma’juj dilepas, dan
  • Mereka telah menyebar ke segala arah.

Sekarang, Bani Israel telah kembali untuk memiliki Tanah Suci lagi, seharusnya jelas bahwa klaim sekte Syi’ah yang mewakili Islam sejati tidak dapat disahkan tanpa demonstrasi pemahaman dan pendalaman topik Ya’juj dan Ma’juj juga Dajjal. Dunia terus menunggu hasil karya ilmiah ulama Syi’ah mengenai penjelasan topik-topik yang berpengaruh kuat di dunia modern ini.

Ahmadiyah

Meski demikian, posisi kebanggaan dalam galaksi sekte-sekte sesat dalam dunia Islam kontemporer miliki, secara misterius, oleh sekte yang paling di sayangi peradaban Barat sekuler dan Negara Israel, yakni Gerakan Ahmadiyah. Ciri menonjol yang sangat nyata dan berbahaya dari sekte sesat ini adalah pendirinya, seorang lelaki bernama Mirza Ghulam Ahmad, dengan benar menentukan Ya’juj dan Ma’juj ada dalam bangsa-bangsa peradaban Barat modern. Sesungguhnya Nabi palsu ini secara menakjubkan benar dalam beberapa isu penting lainnya. Meski demikian, walau dia begitu mengekspos bangsa-bangsa Eropa modern, namun gerakannya masih terus memberikan manfaat bagi mereka. Mirza Ghulam Ahmad dengan tipu daya menyelewengkan topik ‘Tanda-tanda Hari Kiamat’ yakni dengan salah mengidentifikasi Dajjal al-Masih palsu danYa’juj dan Ma’juj.

Mirza Ghulam Ahmad pun mengejutkan dunia dengan klaim yang juga keliru, bahwa ramalan Hadits mengenai kembalinya al-Masih asli, ‘Isa putra Maryam (‘alaihi al-Salam), terwujud oleh dirinya. Bahkan sementara dia menerima kebenaran dalam ramalan Nabi yang diberkahi mengenai kembalinya al-Masih asli, dia berargumen bahwa ‘Isa meninggal di Kashmir, dikuburkan di sana, dan dia sendiri tidak akan kembali. Melainkan, dia mengklaim, Nabi Muhammad sebenarnya menunjuk dirinya, yakni Mirza Ghulam Ahmad, saat dia membuat ramalan itu. Mirza membuat klaim sesat itu dalam penyangkalan tanpa rasa malu terhadap fakta bahwa dia adalah putra dari seorang wanita Punjabi sedangkan Nabi Muhammad dengan jelas mengidentifikasi al-Masih yang akan kembali adalah putra perawan Maryam:

“ . . . Pada saat itulah Allah akan mengutus al-Masih, putra Maryam. Dia akan turun di menara putih pada bagian timur Damaskus, memakai dua kain berwarna safron cerah dan menempatkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat. Saat dia menurunkan kepalanya, akan jatuh butiran-butiran keringat dari kepalanya, dan saat dia mengangkatnya, butiran-butiran seperti mutiara akan menyebar darinya. Setiap orang Kafir (yakni orang tidak beriman) yang mencium bau tubuhnya akan mati dan nafasnya akan mencapai sejauh dia dapat memandang . . . . ”

(Sahih Muslim)

Dalam Hadits lain, juga meramalkan peristiwa kembalinya yang penting itu, Nabi yang diberkahi menyebut nama ‘Isa (‘alaihi al-Salam):

“Hudzaifa bin Usaid Ghifari melaporkan bahwa Utusan Allah tiba-tiba mendatangi kami semua saat kami sibuk (dalam sebuah diskusi). Dia bertanya: “Kalian berdiskusi tentang apa?” Mereka (para Sahabat) berkata, “Kami sedang berdiskusi tentang Hari Kiamat”. Saat itu dia bersabda: “Itu tidak akan datang hingga kalian melihat sepuluh tanda” dan (dalam hubungannya dengan ini) dia menyebutkan ‘kabut asap’, ‘Dajjal’, ‘binatang buas’, ‘terbitnya matahari dari barat’, ‘turunnya ‘Isa putra Maryam’, ‘Ya’juj dan Ma’juj’, dan tenggelamnya bumi di tiga tempat, satu di timur, satu di barat, dan akhirnya satu di Arab di mana api akan dinyalakan dari Yaman, dan akan mendorong orang-orang ke tempat berkumpul mereka.”

(Sahih Muslim)

Klaim Ahmadiyah sebagai wujud Islam sejati seharusnya mendorong ulama-ulama Ahmadiyah untuk menanggapi ‘Jerusalem dalam Al-Qur’an’ yang telah diterbitkan sejak tahun 2002 lalu.

Sekte Wahabi

Di antara berbagai sekte aneh dan sesat, ada satu yang secara misterius muncul dari daerah Najd di Arab untuk menyatakan semua golongan muslim saingannya adalah Musyrikun(orang-orang yang mempersekutukan Tuhan Yang Maha Esa), dan lebih jauh lagi menyatakan kewajibannya untuk membunuh semua saingannya tersebut. Anggota-anggota sekte Najdi Wahabi bergabung membentuk aliansi dengan klan Saudi untuk memenangkan kekuasaan atas pertama, wilayah Najd, dan kemudian wilayah Hijaz yang merupakan jantung tanah Islam di Arab. Mereka merebut kekuasaan atas Hijaz untuk membersihkan wilayah itu dari hal yang mereka anggap Syirik (mempersekutukan Tuhan) dan dengan demikian untuk merestorasi keimanan yang sebenarnya. Saat mereka berhasil memenangkan kekuasaan itu, mereka pun membunuh ribuan umat muslim yang tidak bersalah.

Raison d’etre untuk kemunculan misterius aliansi Saudi-Wahabi dengan jelas terungkap saat kedua klan Saudi dan sekte Wahabi berkonspirasi dalam pembentukan negara di tanah Arab yang menjadi sahabat dekat Inggris-Amerika, mereka dengan berani menamakannya Saudi Arabia. Dalam proses menciptakan Negara sahabat itu mereka menghancurkan Dar al-Islamdan Negara Khilafah yang telah di dirikan sendiri oleh Nabi yang diberkahi. Mereka di tipuDajjal karena pengkhianatan mereka terhadap Islam sehingga Ya’juj dan Ma’juj dapat mewujudkan peran misterius mereka yang digambarkan Al-Qur’an (al-Anbiyah, 21:95-6).Aliansi Saudi-Wahabi juga lebih memilih bergabung dengan aliansi misterius Kristen-Yahudi Eropa daripada menjaga solidaritas persaudaraan dengan orang-orang yang memproklamirkan keimanannya dalam Islam.

Penyempurnaan akhir dan formal dari hubungan dekat pusat jantung tanah Islam dengan aliansi Kristen-Yahudi sampai sedemikian penting sehingga Presiden Amerika harus pergi sendiri dengan kapal induknya untuk secara pribadi bertemu dengan Raja Saudi. Kapal USS Murphy secara rahasia membawa Raja Abdul Aziz Ibnu Saud dari pelabuhan Jeddah menuju Danau Great Bitter di Terusan Suez Mesir di mana kapal USS Quincy menunggu dengan Presiden AS Roosevelt di dalamnya. Kedua pemimpin bertemu pada tanggal 14 Februari 1945 untuk mengesahkan aliansi mereka. Sekte Saudi-Wahabi mendapat hasil pahit dari aliansi itu hanya setelah tiga tahun kemudian saat Negara Israel dilahirkan dan AS dengan bangga menjadi Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Israel.

Fakta bahwa aliansi Saudi-Amerika tidak hanya telah bertahan tetapi juga berkembang semakin makmur sejak perubahan besar yang terjadi pada tahun 1948 dengan jelas menandakan bahwa sekte Wahabi terlibat dalam pengkhianatan terhadap Islam.

Selama aliansi Saudi-Wahabi mempertahankan hubungan Negara-sahabatnya dengan aliansi Kristen-Yahudi Eropa yang menguasai dunia, maka tidak mungkin bagi kaum muslim atau kombinasi kaum muslim mana pun dapat merebut kekuasaan atas Hijaz, Haramain, danHajj dari tangan mereka. Hasil yang dapat di prediksi adalah sekte yang baru naik daun ini dengan klaim sebagai agama Islam yang benar sesungguhnya memainkan peran penting dalam memberi aliansi Kristen-Yahudi kemampuan untuk menguasai seluruh wilayah Islam.

Nabi Muhammad (sallalahu ‘alaihi wa sallam) dengan jelas memperkirakan pengkhianatan ini saat dia menyatakan Najd, dalam Hadits yang dicatat dalam Sahih Bukhari, bahwa dari sana akan muncul “gelombang besar ujian cobaan dan ‘Qarn’ (yakni zaman) Setan” (klan Saudi dan kepemimpinan sekte Wahabi keduanya berasal dari Najd). Ada banyak perdebatan dalam Islam generasi awal (tabiin) mengenai lokasi geografis Najd. Sebagian berargumen bahwa wilayah itu terletak di Irak bukan di Arab. Meskipun begitu,saat ini waktu cukup lama telah berlalu, bukti konkret yang kuat menegaskan bahwa ramalan Nabi yang diberkahi saat ini telah terwujud menjadi nyata. Kaum Islam pemberani di Irak melancarkan perjuangan bersenjata yang dahsyat untuk membebaskan wilayah itu dari pendudukan Amerika/Israel sementara pimpinan religius dan politik Najd di Saudi Arabia dengan setia seperti budak mempertahankan aliansi ‘sifat setan’ mereka dengan para penindas itu.

Ciri rasa ingin tahu pemikiran religius Wahabi pada dunia modern adalah tuntutannya pada penafsiran secara harfiah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an juga Hadits yang berkaitan dengan topik ‘Tanda-tanda Hari Kiamat’. Sebagai akibatnya ulama-ulama Wahabi (dengan beberapa pengecualian) masih terhalang dengan metodologi yang membuat mereka tidak mampu mendalami dan menafsirkan dengan tepat bahasa kiasan religius mengenai kenyataan pada topik Dajjal juga Ya’juj dan Ma’juj pada zaman modern. Di lain pihak, ulama-ulama Syi’ah tampak lebih ingin menafsirkan bahasa kiasan dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan dengan demikian kami harap mendapati mereka lebih mudah menerima berbagai penafsiran dalam buku ini daripada kaum lainnya.

Tableegh Jamaat (yakni Jama’ah al-Tableegh)

Sekte India yang aneh dan misterius lainnya adalah kaum Tabligh (yakni dakwah misionaris). Metodologi mereka menjangkau dan menuntun orang-orang kembali ke Sunah yang tidak strategis telah berhasil di banyak daerah tidak penting di wilayah Islam. Banyak dari anggota mereka adalah umat muslim taat yang menjalani hidup dengan penuh kesalehan. Dengan demikian, sangat misterius para anggota sekte non politik ini seringkali lebih suka menutup telinga mereka daripada bergabung dalam pembicaraan atau diskusi yang mempertanyakan kebenaran klaim sesat Pemerintah Amerika bahwa bangsa Arab dan umat muslim merencanakan dan melaksanakan serangan 9/11 terhadap Amerika.

Nabi yang diberkahi (sallalahu ‘alaihi wa sallam) memberi tanda yang sangat jelas bahwa umat muslim seharusnya menanggapi penindasan dengan berbagai cara yang berbeda. Dia menyatakan tentang Dajjal:

An-Nawwas bin Sam’an melaporkan bahwa Nabi bersabda (mengenai Dajjal): . . . Jika dia datang saat aku berada di antara kalian, aku akan berdebat dengannya demi kepentingan kalian (yakni menanggapi dengan berbagai argumen melawannya), tetapi jika dia datang saat aku tidak ada di antara kalian, maka setiap orang harus berdebat sendiri (yakni menanggapi dengan berbagai argumen untuk melawannya) . . . ”

(Sahih Muslim)

Para anggota sekte ini mengkhianati sekterianisme mereka dengan membentuk pengendalian eksklusif mereka atas Masjid-masjid Allah SWT kemudian dengan keras kepala melarang orang lain berdakwah atau mengajar di Masjid-masjid yang ada di bawah kekuasaan mereka. Mereka bersikeras menuntut untuk memonopoli pengetahuan yang ditanamkan di Masjid. Meskipun begitu, sekte ini menerapkan kebijakan ‘burung unta yang menyembunyikan kepalanya di pasir’ dalam menanggapi penindasan politik, ekonomi, dan bentuk penindasan lainnya yang ditimpakan kepada umat muslim oleh peradaban sekuler Barat modern. Hal itu tentunya tanpa keraguan lagi di sebabkan karena metodologi cacat sehingga para ulama sekte ini tidak mampu mendalami kenyataan Dajjal juga Ya’juj dan Ma’juj pada zaman modern, malahan topik ini di hindari sebagai masalah kebijakan dan prinsip, atau malah sebagai wabah penyakit.

Satu-satunya perhatian yang di sembunyikan musuh-musuh Islam berkenaan dengan sekte aneh dan misterius ini adalah ketakutan bahwa sekte ini dapat di rasuki oleh orang-orang muslim (terinspirasi oleh orang seperti Malcolm X) yang mengamalkan Sunah strategis dan menanggapi dengan berani dan tanpa rasa takut perang zalim aliansi Kristen-Yahudi Eropa terhadap Islam, dan penindasan dan rasisme mereka di dunia modern.

Dunia masih menunggu hasil karya ulama dari Tabligh Jama’at mengenai topik ‘Tanda-tanda Hari Akhir pada Zaman Modern’.

 

love of the wordl

Islam Modernisme

Ini adalah sekte kaum muslim sekuler yang terpikat dengan berbagai prestasi ilmu pengetahuan dan teknologi peradaban sekuler Barat modern dan dengan kekuatan politik dan militer serta kemakmuran ekonominya. Mereka mengakui dan menafsirkan kekuatan dan berbagai prestasi ini sebagai pengesahan klaim peradaban Barat sekuler atas kebenaran. Sesungguhnya sebagian dari mereka benar-benar mengklaim bahwa peradaban sekuler Barat modern muncul dari Islam dan merupakan perwujudan dari segala yang terbaik dalam Islam. Sekte ini memulai debutnya pada waktu setelah masa Khilafah Turki.

‘Penganut Islam modern’ ingin melihat dunia Islam di modernisasi sehingga umat muslim dapat dengan nyaman mengamalkan gaya hidup Barat lengkap dengan politik Syiriknya, ekonomi dan sistem keuangan Ribanya, revolusi feminisnya, dan sejenisnya. Penganut Islam modern biasanya berhubungan dengan Negara Israel dan memasuki lingkup persahabatan dan aliansi dengan negara itu. Aktivis Turki modern melakukannya, dan rezim modernis Musharraf di Pakistan berusaha melakukan hal yang sama. Penganut Islam modern lainnya merasa bijaksana mempertahankan sikap diam yang nyaman dalam merespon penindasan di Tanah Suci. Mereka menerima hak moral dan legal keberadaan Israel. Mereka melakukannya meskipun catatan penindasan Israel yang masih berlanjut dari momen pembentukannya yang zalim dan tidak bermoral dan keberadaannya yang menumpahkan darah. Sebagian penganut Islam modern bahkan mengkritik arus utama Islam dalam konfliknya dengan Gerakan Ahmadiyah. Sebagian lain mengidentifikasi diri mereka di pihak Barat sampai sedimikian sehingga saat mereka tinggal di AS, Inggris, Australia, Kanada, dll., mereka menjadi anggota-anggota kekuatan bersenjata AS dan Inggris yang melakukan pendudukan brutal di Irak dan Afganistan. Mereka berfungsi seperti spons yang siap menyerap semua hal yang mereka terima di altar Barat. Mereka dapat dengan mudah di identifikasi melalui pengutukan mereka terhadap Jihad dan pelaku Jihad yang mereka anggap jahat. Mereka menerapkan istilah “penganut Islam ekstrim” dan “Islamisme” dan melemparkan makian kepada “Mullah”, “Islam yang tidak jelas”, dan “Islam fundamental”. Contoh terkini, lulusan Oxford, Benazir Bhutto, adalah produk khas penganut Islam modernisme.

Mereka cepat menceramahi umat muslim agar tidak melakukan aksi terorisme tetapi dengan melakukannya penganut Islam modern ini sebenarnya memberikan pengakuan sesat yang tak terucap secara langsung bahwa umat muslim bertanggung jawab atas aksi terorisme seperti serangan 9/11 di Amerika. Dengan melakukannya mereka tanpa sadar mendukung agenda jahat aliansi Kristen-Yahudi yang sekarang mengendalikan kekuatan dunia. Mereka tidak pernah mengenali dan mengutuk Negara-teroris terbesar yang pernah diketahui dunia, karena jika mereka pernah  mengkritik Israel, AS, Inggris, dan Eropa atas aksi terorisme yang didukung negara dan atas pembantaian massal di Gaza yang diduduki di Tanah Suci contohnya, dan jika mereka sampai memberikan bantuan yang nyata kapada kaum Muslim dan Kristen Palestina yang ditindas, maka podium modernisme dan aliansi mereka dengan Barat tidak akan bertahan. Mereka menutup telinga dan mata mereka dan menolak bergabung dengan mayoritas masyarakat Amerika dalam menolak kebohongan penjelasan resmi pemerintah AS mengenai serangan teroris 9/11 di Amerika.

‘Penganut Islam modern’ sesat ini tidak memiliki kemampuan untuk mengenali bahwa alih-alih kedua peradaban saling mendapat keuntungan, malah dasar peradaban Barat modern adalah anti-tesis dari Islam. Agama Islam berdasarkan kebenaran, nilai-nilai moral absolut, dan penafsiran spiritual alam semesta yang melebihi dunia materi yang dapat dilihat. Di sisi lain, saingan Islam yang tidak bertuhan dan dekaden ini menolak kepercayaan padakenyataan apa pun di luar kenyataan materi, dan terus menciptakan nilai-nilai sekulernya sendiri yang di dalamnya, sebagai contoh, homoseksualitas dan lesbianisme tidak lagi dianggap buruk secara moral. Tidak mungkin ada perpaduan antara kebenaran di satu sisi, dan ketidak bertuhanan, dekadensi, relativisme etis, dan materialisme metafisika, di sisi yang lain, namun raison d’etre modernisme Islam berusaha untuk mengakui perpaduan itu.

Penulis mengenali Dajjal sebagai dalang yang bertanggung jawab atas pembentukan peradaban sekuler Barat modern, dan sama seperti Dajjal memiliki kata Kafir (tidak beriman) tertulis di antara kedua mata di dahinya begitu pula Kufur (tidak beriman) tidak dapat dihapus tercap di muka peradaban ini.

Modernisme Islam dengan sungguh-sungguh memasukkan diri ke dalam Barat modern di negara-negara seperti AS dan Inggris. Tetapi mereka juga mengangkat kepala jeleknya di dunia muslim, seperti peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di Malaysia contohnya. Perdana Menteri Ahmad Abdullah Badawi telah memenangkan pihak Islam Modernisme dengan gerakan Islam Hadari nya.

Hal biasa bagi semua sekte-sekte sesat ini adalah keengganan mereka untuk mengajarkan atau menulis tentang topik ‘Tanda-tanda Hari Akhir pada Zaman Modern’. Mereka juga berbagi dengan banyak pihak lainnya di dunia Islam hal yang aneh dan sangat disesalkan yaitu tidak memiliki minat dalam berusaha menemukan dinding penghalang besi Dzul Qarnain yang pasti masih berdiri jika Ya’juj dan Ma’juj belum dilepas ke dunia.

Juga hal biasa bagi sekte-sekte ini adalah penghinaan mereka kepada orang-orang muslim yang menekuni jalur otentik al-Ihsan atau Tasawuf (yakni spiritualitas Islam) meski fakta bahwa ini adalah jalur dan perjuangan yang pada akhirnya akan mendapatkan Nurullah(yakni cahaya dari Allah SWT) dan dengan begitu dapat melihat dengan dua mata (mata hati internal dan mata fisik eksternal) sedangkan Dajjal al-Masih palsu dan banyak murid-muridnya melihat hanya dengan satu mata (yakni mata fisik eksternal).

Dunia masih menunggu hasil karya ulama dari penganut Islam modern mengenai topik ‘Tanda-tanda Hari Akhir pada Zaman Modern’.

Kalangan Elite Sekte Sufi

Akhirnya kami harus menyebutkan kalangan elite Sufi modern tertentu yang memegang dan menggunakan pena ajaib dalam memproklamirkan spiritualitas Islam namun masih tetap luar biasa buta dan tidak mampu menyadari kenyataan dalam hal-hal yang telah dijelaskan di atas, atau secara misterius diam dalam hal-hal itu. Mereka tidak dapat menyadari bahwaHajj di Kerajaan Saudi-Amerika sekarang dikendalikan oleh musuh-musuh Islam dan maka dari itu telah kehilangan banyak validitasnya, tidak juga menyadari bahwa mata uang kertas modern yang tidak dapat di-redeem, juga uang elektronik non-tunai, adalah curang, licik, penipuan, dan dengan demikian Haram.

Mereka (kaum sufi) tidak dapat menyadari bahwa sifat palsu dari hal yang disebut Pendanaan Syariah Islam (yang disebut Murabaha, produk inti transaksi modern yang disebut pendanaan Syariah adalah, sebenarnya Riba yang disamarkan sebagai jual-beli), mereka pun tidak dapat menyadari bahwa memberikan suara pada pemilu Negara sekuler modern adalah perbuatan Syirik, dan daftar ketidak mampuan mereka pun terus berlanjut dan berlanjut. Meskipun demikian, hal yang paling signifikan adalah ketidak-ikut sertaan mereka, bahkan dengan pena, dalam perjuangan dunia kontemporer Islam untuk mendapat kebebasan dari penindasan politik dan ekonomi Barat. Namun banyak orang yang disebut Sufi ini mengangkat diri mereka sebagai kalangan elite muslim yang rendah hati sementara menyebut orang-orang lain yang ikut serta dalam sekte saingannya memiliki semangat nafsu.

Nasehat:

Dengan mendemonstrasikan kemampuan menggunakan Al-Qur’an dan Hadits untuk dengan akurat menjelaskan dunia aneh masa kini, ulama Islam tidak hanya dapat mengesahkan kebenaran dalam Islam tetapi juga membedakan diri mereka dari ulama Islam kalangan elite dan sektarian. Dengan menjelaskan topik ‘Tanda-tanda Hari Akhir pada Zaman Modern’, ulama Islam memberi nyala cahaya yang menerangi jalan yang bermanfaat bagi umat muslim yang berusaha membedakan antara banyak klaim sektarian sesat di satu sisi dan keimanan yang sebenarnya di sisi lain.

Akhirnya, biarkan kami mengingatkan para pembaca bahwa banyak ‘Tanda Hari Akhir’ secara langsung berhubungan dengan bentuk-bentuk penindasan terburuk yang terus bertambah parah di Tanah Suci. Umat muslim sejati dapat dikenali dan dibedakan dari saingan-saingan sekte mereka dengan perlawanan tekun mereka terhadap para penindas tidak bertuhan dekaden yang sekarang menguasai dunia demi kepentingan Negara Euro-Yahudi Israel gadungan. Komunitas muslim yang mendapat petunjuk yang benar (yakniJama’ah) adalah mereka yang diberkahi dengan kemampuan untuk menemukan penjelasan ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ dalam Al-Qur’an yang di berkahi dan Hadits yang menjelaskan peristiwa-peristiwa yang sekarang terungkap di Tanah Suci, dan yang memberi petunjuk dengan respon yang tepat. Mereka adalah orang-orang yang berani melakukan perjuangan untuk mewujudkan di Tanah Suci itu kemenangan kebenaran dan keadilan atas kebatilan, kezaliman, dan penindasan barbar.(*)

Oleh Sheikh Maulana Imran Nazar Hosein

Leave a Comment