Sheikh Maulana Fazlur Rahman al-Anshari

In Guru Kita by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Sheikh Maulana Fazlur Rahman al-Anshari adalah seorang ulama Islam, guru dan pembimbing spiritual yang menghabiskan seluruh hidupnya berjuang untuk tujuan suci demi menyebarkan Islam di dunia yang pada intinya menjadi tidak ber-Tuhan. Kerja kerasnya demi tujuan suci itu telah membawanya pergi berkeliling dunia beberapa kali untuk tur ceramah Islam mulai tahun 1950-an hingga 1970-an. Dia berangkat dari rumahnya di Karachi (dia pindah dari India saat Pakistan terbentuk pada 1947) dan pergi ke belahan bumi barat, dan kembali ke rumahnya beberapa bulan kemudian dari belahan bumi timur.

Maulana Anshari adalah seorang lulusan Aligarh Muslim University, India, di mana dia belajar Filosofi dan Agama. Dia mendapatkan filosofi Islam dan pemikiran spiritual dari ulama Islam, Dr. Muhammad Iqbal. Iqbal adalah penulis karya besar, “The Reconstruction of Religious Thought in Islam” (Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam). Hasil karya besar Maulana Ansari yang berjudul “The Qur’anic Foundations and Structure of Muslim Society” (Dasar-dasar dan Stuktur Masyarakat Muslim Berdasarkan Al-Qur’an) berisi tanggapan terhadap panggilan Iqbal tentang “rekonstruksi pemikiran religius”.

Dia mendapatkan bimbingan spiritual dari Maulana ‘Abdul ‘Aleem Siddiqui, seorang ulama Islam, Sheikh Sufi, dan penjelajah penyebar agama Islam. Intinya, dia mendapatkan epistemologi sufi Iqbal dan Maulana Siddiqui lalu menyampaikannya kepada para muridnya. Epistimologi sufi mengenali bahwa jika Kebenaran dipeluk (Islam diterima) dan hidup dengan keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT, maka Kebenaran itu pun memasuki hati (Islam tumbuh menjadi Iman). Dalam Hadits Qudsi dilaporkan bahwa Allah SWT menyatakan: “Langit dan bumi-Ku terlalu kecil untuk memuat Aku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman dapat memuat Aku.” Hadits ini dengan jelas menggambarkan dampak masuknya Kebenaran (al-Haqq) ke dalam hati.

Saat Kebenaran memasuki hati, maka cahaya Tuhan (Nurullah) pun memasuki hati, dan cahaya itu membuat orang beriman memiliki kekuatan pengamatan dan ilmu batin firasat spiritual yang dapat menembus penampilan ‘eksternal’ dari berbagai hal untuk mencapai kenyataan ‘internal’-nya. Pada tahap pertumbuhan Kebenaran di hati ini, orang beriman melihat dengan dua mata – mata kepala ‘eksternal’ dan mata batin ‘internal’ (Dajjal, al-Masih palsu hanya melihat dengan satu mata – yang ‘eksternal’). Orang beriman yang melakukan Jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Allah) diberkahi dengan pertumbuhan Iman ke tahap Ihsan.

Maulana-Ansari-1950

Hanya dengan cahaya di dalam hati orang beriman yang sejati, Tanda-tanda Allah yang terus-menerus terungkap di dunia dapat dilihat dan dikenali, dengan demikian hanya dengan cahaya itulah dunia saat ini dapat dipahami dengan benar. Orang-orang yang memahami kenyataan dunia saat ini mengetahui bahwa kita hidup di zaman Fitan, yakni zaman akhir atau zaman al-Qiyamah (yang akan mencapai puncak berupa akhir sejarah dengan kemenangan Islam, kemudian akhir dunia materi dan perubahannya menjadi dunia yang baru).

Maulana Ansari mencurahkan sepuluh tahun terakhir dalam hidupnya (1964- 1974) untuk mendirikan perguruan tinggi Aleemiyah Institute of Islamic Studies di Karachi. Dia berjuang di Aleemiyah untuk melatih generasi baru ulama Islam yang secara spiritual dan intelektual mampu menggunakan Al-Qur’an dan Hadits untuk memahami zaman modern yang misterius, kemudian menanggapi tantangan-tantangan besarnya dengan tepat. Dari kerja kerasnya muncul para ulama seperti Dr. Waffie Muhammad dan Imran N. Hosein (Trinidad, West Indies), Dr. Abul Fadl Mohsin Ebrahim, Dr. Abbas Qasim (marhum), Muhammad Ali Khan dan kawan-kawan (Durban, Afrika Selatan), Siddiq Ahmad Nasir, Raouf Zaman dan Muhammad Saffie (Guyana, Amerika Selatan), Ali Mustafa (Suriname, Amerika Selatan), Basheer Ahmad Keeno (Mauritius), dan banyak ulama lainnya yang lulus dari perguruan tinggi Aleemiyah Institute of Islamic Studies, Karachi, Pakistan.(*)

Leave a Comment