Sistem makna dalam Al-Qur’an tentang masalah hubungan Muslim dengan Nasrani, Yahudi, Kitab Taurat, Zabur, dan Injil

In Metodologi by Rio Esvaldino0 Comments

“… Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu  dijadikannya satu umat (saja) …”(Q.S Al Maa’idah, 5:48)
“Sesungguhnya, orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja (dia antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.”(Q.S Al Baqarah, 2:62)
“… dan katakanlah, “kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan (yang) diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu …”(Q.S Al Ankabuut, 29:46)

Al-Qur’an telah menyebutkan nama-nama kitab suci sebelumnya (yang diturunkan sebelum Al-Qur’an). Seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as, dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Tapi pada permulaan Al-Qur’an, Allah SWT menyatakan bahwa kitab ini diturunkan sebagai petunjuk kepada orang yang dalam hatinya takut kepada-Nya, Dia kemudian menjelaskan bahwa ada orang-orang yang beriman kepada Kitab Al-Qur’an dan juga kepada kitab-kitab sebelumnya:

“dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan (terhadap) akhirat mereka yakin(Q.S Al Baqarah, 2:4)

Al-Qur’an terus menyebut secara spesifik nama-nama Nabi dan Rasul serta kitab-kitab-Nya, yang sudah ada sebelum lahirnya Nabi Muhammad ﷺ dan diturunkannya Al-Qur’an, dan memerintahkan mereka yang mengikuti Nabi Muhammad ﷺ dan yang tunduk kepada hukum Al-Qur’an, untuk berkata bahwa mereka juga beriman kepada Nabi dan Rasul serta Kitab-kitab sebelumnya:

“Katakanlah, “kami beriman kepada Allah dan (kepada) apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishak dan Yakub dan anak cucunya dan kepada apa yang diberikan (kepada) Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami kepada-Nya berserah diri”(Q.S Al Baqarah, 2:136)

Tak lama setelah pernyataan pembuka ini (Q.S Al Baqarah, 2:4 dan Q.S Al Baqarah, 2:136), Al-Qur’an menyarankan orang-orang yang menerima kitab-kitab sebelumnya, untuk beriman kepada kitab yang baru (Al-Qur’an) yang membenarkan kitab yang mereka terima sebelumnya, dan mengingatkan mereka untuk tidak menjadi orang pertama yang menolak kitab baru ini (Al-Qur’an):

“Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, …”(Q.S Al Baqarah, 2:41)

Terakhir, Al-Qur’an (dalam Q.S Al Maa’idah, 5:48) menyatakan bahwa fungsi kitab baru ini (Al-Qur’an) adalah bukan saja membenarkan kebenaran yang ada pada kitab sebelumnya, yakni Taurat, Zabur, dan Injil, tapi juga menjaga dan melindungi kebenaran yang ada pada Al-Qur’an itu sendiri sehingga tidak pernah bisa didistorsi atau disesatkan. Tentu saja, Al-Qur’an bisa membuktikan bahwa ianya dilindungi oleh Allah dan tidak akan pernah dirubah-rubah dengan cara apapun, dan tidak pernah bisa disesatkan.

Allah Yang Maha Bijaksana telah menetapkan bahwa beberapa masyarakat (umat) beragama yang terpisah harus diwujudkan, meskipun Ayat Al-Qur’an (Q.S Al Maa’idah, 5:48) tetap mengakui bahwa Kebenaran adalah satu, dan setiap umat memiliki kode hukum dan jalan spritualnya masing-masih menuju satu kebenaran:

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (yaitu, Taurat, Zabur, dan Injil) dan menjaganya, maka putuskanlah perkara menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan yang telah datang kepadamu (yaitu) kebenaran. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu  dijadikannya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan,”(Q.S Al Maa’idah, 5:48)

Karena itu, Al-Qur’an diturunkan bukan untuk membatalkan dan menggantikan kitab suci sebelumnya, serta hukum-hukum dan jalan spritual yang ditentukan bagi sebagian besar umat agama Yahudi dan Nasrani. Meskipun benar bahwa Allahl kadang merubah hukum lama dan menggantinya dengan hukum yang baru yang hanya ditujukan untuk sebuah umat agama yang baru (umat Islam), dan penting untuk dicatat bahwa hukum baru tidak pernah berlainan dari hukum yang lama. Bahkan, hukum baru tersebut sebanding atau lebih baik dari hukum yang lama:

“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?”(Q.S Al Baqarah, 2:106)

Juga penting untuk dicatat bahwa hukum baru tidak membatalkan hukum lama yang digunakan oleh umat yang mengikuti hukum lama tersebut. Kadang hukum baru muncul dalam rangka membedakan masyarakat (umat) baru dari masyarakat yang lama. Hal ini sama persis dengan apa yang terjadi ketika Kiblat (arah Shalat) berubah dari Yerusalem (Masjid Al Aqsa) ke Kiblat baru, yakni Mekkah (Ka’bah).

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang kamu sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) mengetahui, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah benar dari Tuhan mereka. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”(Q.S Al Baqarah, 2:144)

Mereka yang mengkritik perubahan Kiblat dari Yerusalem ke Mekkah, dihardik oleh Allahl dalam Al-Qur’an dengan bahasa tajam yang tidak biasa, yakni dengan menyebut bodoh atau kurang akal:

“Akan berkata orang-orang yang kurang akal di antara manusia, “apakah yang memalingkan mereka (muslim) dari kiblat mereka yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?” Katakanlah (Muhammad), “Milik Allahlah timur dan barat; Dia memberi petunjuk (kepada) siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” ”(Q.S Al Baqarah, 2:142)

Al-Qur’an terus menjelaskan bahwa, setelah Nabi Muhammad ﷺ hijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau masih diperintahkan untuk menghadap ke Yerusalem dalam Shalat (Sebelum hijrah ke Madinah, beliau menghadap ke Baitul Maqdis sekaligus Ka’bah, yakni Ka’bah berada di tengah antara diri beliau dan Baitul Maqdis). Ini sungguh suatu hal yang berat bagi seorang Arab karena dia menghormati Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim di Mekkah sebagai pusat dunia sakral, dan telah berfungsi sebagai Kiblat selama berabad-abad. Jika dia menghadap Yerusalem, sementara berada di Madinah, maka beliau akan membelakangi Ka’bah di Mekkah.

Allah Yang Maha Bijaksana berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia membedakan orang-orang Muslim yang sungguh-sungguh mengikuti Nabi Muhammad ﷺ dari orang-orang yang menolak melakukan pemindahan kiblat itu (karena sulit bagi mereka untuk memalingkan muka mereka ke Mekkah):

“… Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul (dan) siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah kepada manusia Maha Pengasih, Maha Penyayang.”(Q.S Al Baqarah, 2:143)

Al-Qur’an terus menjelaskan dengan memberitahu Nabi ﷺ dan pengikutnya bahwa orang Nasrani dan Yahudi tidak akan memindahkan Kiblat mereka dari Yerusalem. Karena itu, ketika mereka menghadap ke Kiblat mereka, umat Islam harus tetap teguh menghadap ke Ka’bah. Dan baik itu mereka (Yahudi dan Nasrani) ataupun umat Islam, tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain:

“Dan walaupuun engkau (Muhammad) memberikan (kepada) orang-orang yang diberi Kitab (itu) semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai kepadamu ilmu, niscaya engkau termasuk orang-orang zalim”(Q.S Al Baqarah, 2:145)

Dengan kata lain, meskipun Allahl telah menetapkan Naskh (yakni, pembatalan atau pencabutan) dalam hal Kiblat lama (Yerusalem) dan menggantinya dengan Kiblat di Mekkah, orang Yahudi dan Nasrani tidak hanya diizinkan untuk tetap menghadap Kiblat di Yerusalem ketika sembahyang, tapi juga kedua umat tersebut dan umat yang baru (umat Islam) diperintahkan untuk menghormati Kiblat sebagian yang lain.

Implikasi dari keteguhan umat Yahudi dan Nasrani yang mempertahankan Kiblat mereka di Yerusalem, adalah Allah mengakui kalau mereka merupakan orang yang masih ada bagian Kebenaran bersama mereka. Inilah status umat Nasrani dan Yahudi yang harus kita perhatikan sekarang.

Apa status umat Nasrani dan Yahudi ketika dinilai oleh Al-Qur’an?

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan (kamu) mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”(Q.S Ali Imraan, 3:110)

Sebagai akibat dari pernyataan Allahl yang sangat jelas di atas yang mana Dia menegaskan bahwa diantara umat Nasrani dan Yahudi (Ahli Kitab) ada yang beriman, sedangkan sebagian besar banyak melakukan dosa, maka sistem makna dalam Al-Qur’an tentang subjek ini harus menjadi salah satu yang dapat kita gunakan untuk meidentifikasi dan menentukan batas dua kelompok tersebut, yaitu, mereka yang berperilaku konsisten dengan orang beriman, dan mereka yang berbuat dosa nyata.

Orang yang beriman kepada Allahl tidak akan memiliki kebencian di hati mereka. Orang beriman tidak akan berteman dan bersekutu dengan mereka yang hatinya penuh dengan kebencian. Karena itu mudah kita identifikasi siapa orang-orang Nasrani dan Yahudi yang tidak memiliki iman.

Al-Qur’an dengan tegas sekali mengidentifikasi umat Yahudi yang hatinya menampakkan kebencian yang sangat besar kepada Islam dan umat Islam. Orang-orang Yahudi ini ada di zamannya Nabi Muhammad ﷺ, dan sekali lagi menampakkan dirinya di zaman modern ini di mana orang-orang Yahudi tersebut telah menciptakan Gerakan Zionisme:

“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, (ialah) orang-orang Yahudi dan orang-orang yang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman (ialah) orang-orang yang berkata, “sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara mereka (terdapat) para pendeta dan para rahib, (juga) mereka tidak menyombongkan diri.”(Q.S Al Maa’idah, 5:82)

Berdasarkan ayat di atas, Al-Qur’an tidak hanya mengidentifikasi masyarakat Yahudi sebagai Ahli Kitab yang tidak beriman, tapi juga mengidentifikasi orang-orang (di antara Ahli Kitab) yang menampakkan cinta dan kasih sayangnya kepada umat Islam – dan karena itu, cinta dan kasih sayang yang ditampakkan itu adalah tanda penting dari keimanan. Mereka adalah orang yang menyatakan diri mereka bahwa: “Kami adalah orang Nasrani”.

Nasrani yang menampakkan cinta dan kasih sayangnya kepada Islam dan umat Islam, muncul pada zaman awal Islam ketika Raja Habasyah (kini Etiopia), yakni Najasyi menolak permintaan Mekkah untuk memulangkan umat Islam (yang budak atau semi-budak) yang melarikan diri dari penganiayaan dan penindasan yang terjadi di Mekkah, dan mencari suaka di Habasyah. Bahkan ketika Najasyi meninggal, dan berita kematiannya sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ di Madinah, beliau langsung melaksanakan shalat jenazah dari kejauhan (Shalat Ghaib) untuknya, dengan begitu dia (Najasyi) diakui sebagai orang Nasrani yang beriman kepada Allahl meskipun dia beragama Nasrani. Sama sekali tidak ada bukti dari Nabi Muhammad ﷺ, yang melakukan shalat jenazah, bahwa Najasyi telah meninggalkan keyakinannya terhadap Yesus sebagai anak Allah, atau dia berhenti menyembah Yesus sebagai Tuhan; ataupun kita tidak memiliki bukti apapun dari umat Nasrani yang dia pimpin. Apabila tidak ada bukti dari dua sumber utama ini, maka bukti yang berasal dari sumber sekunder yang arogan tidak memiliki nilai ilmiahnya.

Dapat dipastikan bahwa orang Nasrani yang seperti itu, sekali lagi akan muncul dalam proses sejarah, yang bersamaan dengan munculnya Yahudi Zionis yang menampakkan kebencian yang sangat luar biasa kepada Islam dan umat Islam. Kebencian mereka sangat kelihatan dalam penindasan barbar mereka kepada orang yang tidak bersalah di Gaza, Tanah Suci.

112900464_russian_president_vladimir_putin_speaks_at_the_unveiling_ceremony_of_a_monument_to_vladimi-large_trans0uhov7p1ulaso075cpe22otnwoev4dosx-ftqsquoew

Saint Vladimir Monument, di Moskow

Al-Qur’an memberikan tanda penting untuk mengidentifikasi orang Nasrani yang sangat dekat cinta dan kasih sayangnya kepada umat Islam:

  1. Mereka akan menjadi orang Nasrani yang mempertahankan lembaga kependetaan dan memiliki pendeta, mulai dari Patriarch (Imam terbesar) hingga Pendeta yang paling rendah, akan menunjukkan cinta dan kasih sayangnya kepada Islam dan umat Islam. Pastinya bukan termasuk Vatikan dan Katolik Roma, Gereja Anglikan (Inggris) dan semua gereja Kristen lainnya yang berada dalam naungan Kristen barat.
  2. Mereka akan menjadi orang Nasrani yang mempertahankan lembaga kebiaraan (monastisisme), dan para biarawannya akan menampakkan cinta dan kasih sayangnya kepada Islam dan umat Islam. Pastinya bukan termasuk Kristen barat yang hampir sepenuhnya mengabaikan monastisisme dan cara kehidupan monastik.
  3. Mereka akan menjadi orang Nasrani yang tidak berperilaku arogan (sombong/angkuh). Sekali lagi bukan termasuk Kristen yang menciptakan peradaban barat modern dengan agenda yang sangat luar biasa arogan, yang memaksakan aturan yang tidak adil dan menindas seluruh umat manusia dengan pedang yang berlumuran darah.
  4. Mereka akan menjadi orang Nasrani yang bangga mengidentifikasi diri mereka secara terbuka sebagai ‘Nasrani’. Tentu saja bukan termasuk Kristen sekuler peradaban barat modern, yang terutamanya me-ngidentifikasi diri mereka berdasarkan negara atau Bangsa, dan bukan berdasarkan agama mereka.
  5. Mereka tidak mungkin sebagian kaum Nasrani yang berpencar-pencar yang menyembah Allah seperti yang ditetapkan dalam Al Qur’an, yang tidak menyembah Nabi Isa (Yesus as) sebagai orang ketiga dalam trinitas/tritunggal; dan yang tidak menyatakan bahwa Allahl memiliki seorang anak, dll., sebaliknya mereka adalah sebuah masyarakat (komunitas/umat) Nasrani yang dilengkapi dengan pendeta (imam) dan biarawan mereka, dan oleh karena itu mereka mudah diidentifikasi. Seseorang tidak perlu mencari mereka di berbagai sudut dan celah dengan tusuk gigi yang terbagus sekalipun.
Processed with VSCO

Putin dan Patriarch

Al-Qur’an juga memberitahukan, dalam bagian Surat yang sangat penting yang dinamai dengan nama Surah Ar Ruum, bahwa bangsa Romawi, atau Kekaisaran Kristen Bizantium yang dikalahkan oleh Persia, akan segera membalikkan keadaan dan menang:

“Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa, Maha Penyayang”(Q.S Ar Ruum, 30:2-5)

Kemudian ayat Al-Qur’an di atas menyatakan bahwa pada hari kemenangan Bizantium itu, umat Islam akan merayakan kemenangan tersebut sambil mengakui bahwa kemenangan itu merupakan pertolongan dari Allah. Implikasi dari ayat di atas adalah bahwa orang Kristen Bizantium yang mempercayai Yesus sebagai anak Tuhan, dan menyembah Yesus sebagai orang ketiga dalam Trinitas, tidak menghalangi Muslim merayakan kemenangan Nasrani, ataupun menghalangi Allahl membantu orang-orang Nasrani untuk mencapai kemenangan itu.

Karena itu, bangsa Romawi dalam Surah Ar Ruum merupakan sebuah petunjuk terhadap apa yang dinyatakan Al-Qur’an bahwa akan ada umat Nasrani yang akan dekat cinta dan kasih sayangnya kepada umat Islam.

Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa ada orang Kristen yang berbeda dengan orang yang dekat cinta dan kasih sayangnya kepada umat Islam. Al-Qur’an menyebut orang Kristen (dan juga Yahudi) seperti itu tidak akan pernah puas hingga mereka berhasil membuat Muslim meninggalkan agama Islam, dan bahkan hingga mengikuti cara hidup mereka:

“Dan tidak akan rela kepadamu (Muhammad) orang-orang Yahudi dan Nasrani sebelum engkau mengikuti agama mereka. …”(Q.S Al Baqarah, 2:120)

Sikap arogan terhadap umat Islam ini, secara eksklusif ditemukan di antara Romawi barat, yakni Kristen yang berada di peradaban barat modern.

Terakhir, Al-Qur’an memberikan coup de grace kepada orang Kristen Barat modern (Romawi Barat) ketika melarang Muslim berteman dan bersekutu dengan orang Nasrani yang berteman dan bersekutu dengan orang Yahudi dalam aliansi Kristen-Yahudi:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani (sebagai) teman setia(mu); sebagian dari mereka adalah pelindung sebagian yang lain. Barangsiapa yang menjadikan mereka teman setia di antara kamu, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk (kepada) orang-orang yang zalim”(Q.S Al Maa’idah, 5:51)
14937261_1146068648795631_2818334177474119939_n

Penjelasan Q.S Al Maa’idah, 5:51 melalui gambar

Dengan sangat menyesal, kami harus menjelaskan, lagi, lagi dan lagi, penerapan metodologi yang tepat bisa menghasilkan makna (arti) yang sebenarnya dari semua ayat-ayat penting Al-Qur’an.

Mereka yang menerapkan metodologi yang salah dengan mempelajari sebuah ayat Al-Qur’an secara terpisah (berdiri sendiri) akan berkesimpulan bahwa ayat tersebut (Q.S Al Maa’idah, 5:51) menyatakan bahwa semua Yahudi dan Nasrani itu berteman dan bersekutu satu sama lain.

Respons kritis kami terhadap penjelasan tersebut adalah bahwa Yahudi dan Nasrani tidak pernah berteman dan bersekutu (atau pelindung, atau melindungi sekutu) satu sama lain sepanjang sejarah hingga zaman modern. Dapat dipastikan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh berteman dan bersekutu satu sama lain ketika Al-Qur’an diturunkan. Pada kenyataannya, persahabatan dan persekutuan Yahudi-Nasrani tidaklah erat setelah diadakannya Konsili Vatikan II (1962-1965) yang membebaskan orang Yahudi dari tuntutan atas penyaliban Yesus.

Oleh karena itu, mereka yang mengatakan bahwa semua Nasrani dan Yahudi berteman dan bersekutu atau melindungi satu sama lain adalah palsu. Sebaliknya, orang Nasrani membenci Yahudi karena telah menyalib Yesus, Tuhan yang mereka sembah. Di sisi lain, orang Yahudi menuduh Nasrani telah berbuat syirik karena mereka menyembah Yesus sebagai Tuhan, juga karena Nasrani menyatakan bahwa Tuhan punya anak, dan Tuhan adalah orang ketiga dalam Satu, dll.

Dalam menjelaskan ayat tersebut dengan cara yang mereka miliki, terjemahan dan penjelasan ini telah membuka jalan bagi pengkritik untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an telah membuat pernyataan palsu.

alaqsa-img_0065Kedua, bahkan sekarang telah muncul secara misterius aliansi Zionis Yahudi-Kristen, dan tidak semua Kristen dan tidak semua Yahudi bersekutu satu sama lain. Bahkan, sebagian besar orang Yahudi menentang Gerakan Zionis yang dibentuk oleh aliansi Yahudi-Kristen, dan sampai saat ini masih ada umat Yahudi yang menolak aliansi Yahudi-Kristen tersebut. Banyak orang Yahudi dibunuh karena mereka menolak tujuan aliansi Yahudi-Kristen tersebut yang menciptakan Negara Yahudi di Tanah Suci (Palestina). Juga banyak orang Kristen yang menolak bersekutu dengan Yahudi. Sebagian besar orang Kristen yang menolak itu dapat ditemukan di antara Kristen Ortodoks. Orang Yahudi dan Kristen yang menolak itu hampir bukan seperti yang dimaksud dalam Al-Qur’an tersebut (Q.S Al Maa’idah, 5:51), dan membuat pernyataan mereka (bahwa semua Nasrani dan Yahudi berteman dan bersekutu atau melindungi satu sama lain) menjadi palsu.

Ketiga, Allahl sendiri menyatakan bahwa akan ada orang Kristen yang dekat persahabatan dan persekutuannya dengan umat Islam. Ini sudah terjadi dalam sejarah, dan akan terjadi kembali pada saat (seperti yang disebutkan dalam Q.S Al Maa’idah, 5:82) ketika orang Yahudi akan kembali menampakkan kebencian terbesarnya kepada umat Islam. Al-Qur’an akan berkontradiksi sendiri jika melarang bersahabat dan bersekutu dengan orang yang paling dekat cinta dan kasih sayangnya kepada umat Islam.

Bahkan, ayat Al-Qur’an telah mengetahui sebelumnya bahwa akan ada rekonsiliasi misterius antara satu bagian dunia Kristen dan satu bagian dunia Yahudi yang kemudian membentuk aliansi Yahudi-Kristen di antara mereka. Tidak diragukan lagi kalau Al-Qur’an mengacu pada aliansi Zionis Yahudi-Kristen yang terletak di jantung wilayah peradaban barat modern. Gereja Katolik Roma, yang dipimpin oleh Vatikan, memainkan peran yang begitu penting dalam membentuk aliansi tersebut. Umat Islam di Bosnia, Kosovo, Macedonia, Albania, dll., tampaknya tidak menyadari fakta bahwa NATO adalah sayap militer aliansi Zionis Yahudi-Kristen.

Al-Qur’an melarang berteman dan bersekutu dengan Kristen dan Yahudi ini, dan tidak semua Kristen dan tidak semua Yahudi.

(Sebagai analisis pembanding tentang berbagai penjelasan ayat Al-Qur’an ini (Q.S Al Maa’idah, 5:51), oleh Hasbullah Bin Hithayathulah Shafi’iy, murid muda saya dan sarjana Islam yang sedang naik daun: http://www.imranhosein.org/articles/ understanding-islam/550-acommentary-to-maulana-imran-hoseins-interpretation-of-the-verse-.html)

Kami mulai dengan ayat Al-Qur’an tersebut yang menjelaskan sebagian besar Kristen dan Yahudi adalah orang yang banyak melakukan dosa. Karakter penuh dosa dari orang-orang yang memimpin (elit) Kristen barat, juga sebagian besar orang Kristen barat,  sangat jelas ketika dilegalkannya homoseksual oleh negara-negara Kristen barat. Ketika seorang pria bisa menikahi pria lain dan mendapatkan sertifikat pernikahan yang sah, dan tidak perlu lebih jauh lagi untuk mengetahui orang Kristen yang tidak memiliki iman.

Kami mengingatkan para pengkritik kami bahwa kami tidak perlu ikut serta dalam proses menelusuri untuk mengetahui orang Kristen seperti apa yang akan dekat cinta dan kasih sayangnya kepada umat Islam; sebaliknya kami akan mengetahui mereka ketika mereka menampakkan cinta dan kasih sayangnya. Kami juga mengingatkan para pengkritik kami bahwa bukan kita, umat Islam, yang akan menentukan apakah mereka benar-benar Nasrani atau bukan. Sebaliknya, Al-Qur’an menyatakan bahwa merekalah yang akan menyatakan diri mereka sendiri sebagai ‘Nasrani. Apabila itu terjadi, penulis akan mengetahui mereka sebagai Kristen yang disebutkan dalam ayat tersebut (Q.S Al Maa’idah, 5:82), merangkul mereka dalam aliansi Muslim-Kristen, dan bergerak dalam proses sejarah yang akan segera menyaksikan penaklukkan Konstantinopel, sambil mengacuhkan para pengkritik yang masih keras kepala.

Tanggapan Al-Qur’an tentang pernyataan Yahudi dan Nasrani yang memonopoli Kebenaran dan Keimanan

Ada penjelasan dalam Al-Qur’an tentang orang-orang Kristen dan Yahudi yang percaya bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan dengan memonopoli kebenaran, keimanan, berkah Ilahi dan masuk surga.

“Dan mereka berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaran jika kamu orang yang benar.”(Q.S Al Baqarah, 2:111)

Al-Qur’an tidak hanya menyatakan bahwa keyakinan seperti itu palsu, tapi juga meluruskan dalam ayat berikutnya dengan bantahan yang jelas mengenai siapa yang akan memasuki Surga. Surga tidak diperuntukkan secara khusus untuk orang Yahudi, Kristen, Muslim, atau siapapun; sebaliknya:

“Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan tidaklah mereka bersedih hati.”(Q.S Al Baqarah, 2:112)

Allahl menyatakan kepada orang-orang yang punya rasa takut kepada Tuhan dalam hati mereka (dan yang menerima Al-Qur’an sebagai Firman-Nya), dan yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul-Nya (atau Nabi-Nya), bahwa Dia akan memberkati mereka dengan kebijaksanaan-Nya, dan mematahkan klaim palsu tersebut (monopoli Surga). Dia berjanji kepada orang beriman bahwa Dia tidak hanya melipat-gandakan Rahmat-Nya (kebaikan dan kasih sayang) kepada mereka, tapi juga melakukan dua hal lebih untuk mereka:

  • Dia akan memberkati mereka dengan cahaya-Nya ketika mereka berjalan (yakni, mereka akan mampu membaca dunia, dan proses sejarahnya, sebagaimana cara yang dilakukan seorang astronomi atau seorang navigator kapal ketika membaca bintang);
  • Dia akan memaafkan dosa-dosa mereka:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,”

“agar mengetahui orang-orang Ahli Kitab itu bahwa mereka tidak akan mendapat sedikit pun karunia Allah, dan bahwa karunia itu (ada) di tangan Allah, Dia memberikannya (kepada) siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”(Q.S Al Hadiid, 57:28-29)

Sebagian ‘Cahaya’ Allah dalam memahami dan menjelaskan Al-Qur’an, diwujudkan dalam kehidupan orang-orang beriman, bukan di ruang kerjanya.

Sumber: Buku Sheikh Imran N. Hosein – Methodology for Study of the Qur’an

Leave a Comment