Suratul Fatihah dan Perjalanan Spiritual Islam

In Epistimologi by Hamba Allah0 Comments

Nabi Muhammad [saw] memperingatkan akan adanya sebuah zaman yang akan datang, zaman penindasan, penindasan terhebat dari seluruh zaman yang dialami manusia, sejak Adam [as] turun ke bumi. Hanya sedikit orang yang akan selamat di zaman itu. Dalang kemungkaran ada dibalik zaman itu, Allah SWT, juga memperingatkan kita; Allah SWT, berfirman:

 

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ (١) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (٢)

 

Dalang kemungkaran itu akan memaksakan kemungkarannya (mengkufurkan seluruh dunia), diktator penindasan seluruh dunia, dan menipu umat manusia. Dalang kemungkaran itu akan memiliki gelar S3 dalam penipuan. Bahwa di zaman itu, semua hal bukanlah apa yang terlihat, segala hal akan selalu . Bahwa yang tampak dan kenyataannya bertolak belakang. Bahwa dia akan menuju surga dan membuatnya tampak menuju neraka. Dan bahwa dia akan menuju jahannam dan membuatnya tampak sedang menuju surga.

Mereka yang melihat hanya dengan pengetahuan eksternal; yaitu; S2 dari AL Azhar atau Universitas Indonesia, tidak akan dapat menembus tipuannya. Mereka akan menilai dengan dasar pengetahuan eksternal; dari observasi eksternal; akan tertipu; mereka akan percaya bahwa mereka dalam perjalan ke surga; yang pada kenyataan mereka menuju jahannam dan mereka tidak tahu itu. Tujuan dari perjalanan spiritual, tujuan utamanya didunia, dari halaqatul zikr, adalah untuk bisa melihat, hal-hal yang tak terlihat.

Oleh karena itu, tujuan utama dari perjalanan spiritual Islam adalah untuk memperoleh pengetahuan spiritual (bukan untuk dunia ataupun penebusan dosa). Pengetahuan spiritual datang ketika pengetahuan eksternal dan pengetahuan internal bersatu dengan harmonis. Allah, SWT, menyatakan dalam Qur’an tentang orang yang tidak memiliki pengetahuan internal; yang tidak melakukan perjalanan spiritual; atau yang melakukan perjalanan spiritual namun tidak sadar apa tujuan dari perjalanan spiritual itu.

Yang percaya bahwa perjalanan spiritual hanyalah untuk mendapatkan karamah, yaitu mukjizat seperti yang didapatkan para Nabi; dan tidak mengerti bahwa tujuan utama dari perjalanan spiritual itu adalah untuk memperoleh pengetahuan internal. Allah, SWT, menyatakan bahwa orang-orang tersebut buta spiritual, dalam al Araaf (Ketinggian), ayat 179;

 

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ ڪَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ‌ۖ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ لَّا يَفۡقَهُونَ بِہَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٌ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ بِہَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٌ۬ لَّا يَسۡمَعُونَ بِہَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡغَـٰفِلُونَ

 

Mereka punya hati namun tidak mengerti

Mereka punya mata namun tak melihat

Mereka punya telinga namun tak mendengar

[Mereka seperti ternak]

Orang-orang seperti ini sangat banyak jumlahnya di akhir zaman, mereka memiliki status sama dengan ternak. Bahkan dengan S3 atau PhD atau gelar Master yang didapatnya dari Al Azhar maupun Universitas Indonesia! Ya! Mereka sama dengan ternak.

[Tidak, bahkan mereka lebih buruk dari ternak!]

Mereka itu lebih tersesat dari ternak. Oleh karena itu, inilah yang hendak dicapai, inilah tujuan utama dari perjalanan spiritual. Dalam hadistnya Rasulullah [saw] bersabda, dan guru saya Dr. Muhammad Fazlur Rahman Anshari sangat suka dengan hadist ini. Apa yang dinyatakan Rasulullah [saw]? Beliau bersabda:

Ittaku firasatal mu’min fa innahu yanzuru bi nurillah

Takutlah pada pengetahuan internal; pada intuisi, penglihatan spiritual seorang mukmin, karena ketika dia melihat, dia melihat dengan nur Allah, SWT.

Sekarang mari kita kupas subjek ‘Nur’ Allah SWT, dan bagaiman nur itu memasuki hati yang orang beriman/mukmin. Yang pertama, nur tidak akan masuk ke hati kita jika kita masih memiliki haram di kantong kita. Jika kita memiliki deposit (uang) di bank, dan kita mengambil dan memakan bunganya. Kita mengambil hak milik orang lain (mencuri). Jika kita memperkerjakan orang di dapur rumah kita dan membayarnya dengan UMR. Jika kita memiliki sebentuk arogan dan kesombongan terhadap bentuk status yang kita miliki, jika kita memiliki rasa superioritas dari makhluk lainnya di dunia ini, maka tentu saja nur itu tidak akan masuk ke hati kita.

Hati harus disucikan terlebih dahulu. Hati kita suci jika kelakuan kita baik dan tidak tercela. Sehingga tazkiyah datang terlebih dahulu sebelum al-ihsaan.

Para Sahabat Rasulullah [saw], sedang dalam perjalanan, dan mereka lelah dan lapar,  dan pada saat itu hari sudah menjelang malam. Mereka sampai di suatu perkampungan yang bukan muslim. Mereka menyembah berhala, namun orang Arab terkenal dengan keramah tamahannya, oleh karena para sahabat mengharapkan keramah tamahan itu, namun mereka tidak dihargai karena suku dikampung itu tidak menyukai Ad Diin Al Islam yang baru tersiar di Arabia. Para sahabat akhirnya bermalam diluar perkampungan itu, karena tidak diijinkan untuk bermalam di dalam. Di malam hari, kepala suku perkampungan itu digigit ular berbisa, dan mereka tidak bisa menyembuhkannya. Kepala suku itu diperkirakan akan mati besok pagi. Oleh karena itu mereka akhirnya mendatangi para sahabat Nabi dan meminta mereka untuk menyembuhkannya. “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk menyembuhkan kepala suku kami yang digigit ular berbisa?” Para sahabat menjawab, “Karena kalian telah memperlakukan kami dengan buruk, kalian harus membayar konsekuensinya jika kami dapat menyembuhkan kepala suku kalian.” Mereka bertanya, “Berapa yang harus kami bayar?” Sahabat menjawab, “Seratus ekor domba.” Mereka pun menyetujuinya. Salah seorang sahabat mendatangi kepala suku dan membacakan Surah al Fatiha, dia meniup kepala suku itu yang akhirnya sembuh.

Lalu mereka membawa 100 ekor domba itu dan membawanya ke Madinah, dan langsung bertanya pada Nabi, “Ya Rasul Allah, SWT! Ini yang terjadi; bolehkah kami mengambil domba-domba itu”. Nabi berkata, “Ya! Kalian boleh mengambil domba-domba itu karena orang membayar untuk segala pekerjaan, ya seperti yang kalian lakukan.” Nabi berlanjut dan mengatakan bahwa didalam Suratul Fatihah, ada obat untuk segala jenis penyakit.


Jadi, Suratul Fatihah bukan saja Fatihatul Kitab, bukan hanya pembuka Qur’an, namun membuka lebih dari Qur’an itu sendiri. Al Fatihah membuka pintu nur-nya Allah SWT. Bagaimana Al Fatihah dapat membuka pintu nur-nya Allah SWT? Jika Al Fatihah adalah obat dari segala macam penyakit, maka secara logika, Allah SWT, secara langsung, menyembuhkan penyakit itu. Bukan rumah sakit, dan tentunya bukan dokter, hanya Allah SWT yang dapat menyembuhkan. Jadi, jika Suratul Fatihah sampai dihadapan Allah SWT, maka Suratul Al Fatiha dapat membuka pintu doa untuk dapat sampai dihadapan Allah SWT. Sehingga penyakit apapun dapat disembuhkan.

Ini bukanlah kata-kata saya, ini adalah kata-kata orang yang ditunjuk Allah SWT, untuk membawa Qur’an di bumi. Jadi bagaimana Suratul Al Fatihah dapat membuka? Ingat, ini Surah Al Fatihah, yang artinya; “that which open”, dalam Bahasa Indonesia, “yang dapat membuka”. Bagaimana dapat membuka? Membuka jalan Kepada Allah SWT?

Didalam Suratul Baqarah, ayat 29, Allah, SWT, berfirman:

 

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا

Dia yang menciptakan untuk kamu [sehingga kamu dapat menggunakannya] apapun yang terdapat dibumi [apapun, semuanya].

 

  ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ

Kemudian Allah (SWT), mengalihkan perhatianNya ke sam’a

 

فَسَوَّٮٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَـٰوَٲتٍ۬‌ۚ

Dan Dia membuat sam’a ini,  tujuh samawaat

 

Setelah menyelesaikan membuat tujuh samawaat, sehingga diantara dunia ini dengan arshy-nya Allah, SWT, terdapat tujuh samawaat. Allah SWT, kemudian melanjutkan menyatakan:

 

 وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ

Allah SWT tidak berkata kabiir; Namun Dia berkata:

 عَلِيمٌ۬

 ‘Aku melakukan ini, sehingga dalam ciptaanKu ini ada jalan menuju ilm (ilmu) dari ilm.

 

Sehingga dari bumi ke arshy ada 7 samawaat yang penuh dengan nur, karena dalam Surah An Nur, ayat 35 Allah SWT, menyatakan:

 

 ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ

Allah, SWT, melebihi semua cahaya di bumi dan di surga.

 

Sehingga ketujuh samawaat berisi penuh akan nur. Dan bukankan Allah, SWT, menyatakan hal ini di Surah Al Hijr, ayat 87?

 

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَـٰكَ سَبۡعً۬ا مِّنَ ٱلۡمَثَانِى وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ

“Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang[*] dan Al Quran yang agung.”

*Yang selalu dibaca berulang-ulang, Nabi Muhammad, SAW, memberitahu bahwa ayat yang diulang-ulang ini adalah Suratul Fatihah.

Mengapa Nabi Muhammad [saw], ketika beliau membaca Suratul Fatihah, beliau membacanya secara bertahap (terpisah-pisah)? Ayatnya dibaca satu persatu dan tidak pernah dilangsungkan.

Allah SWT, menyatakan didalam Al Qur’am Surah Az Zumar ayat 9:

 

 هَلۡ يَسۡتَوِى ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ‌ۗ

“Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui (berpengetahuan) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”.

Lalu mengapa Nabi Muhammad [saw], membaca ayat demi ayat dengan terpisah (dengan jeda) setiap membaca Suratul Fatihah? Ini adalah 7 ayat, dan ada 7 samawaat, sehingga Al Fatihah bukan saja fatihatul kitab namun juga sebagai fatihatus samawaat. Setiap ayat dari Al Fatihah membuka satu sam’a (dimensi ruang dan waktu) dan di akhir Suratul Fatihah ketika kita mengucapkan amiin, jika kita tidak menyimpan uang haram di kantong, dan jika kita membayar orang yang bekerja kita dengan upah yang adil (bukan UMR), dan kita tidak terlibat riba dan transaksi murabaha, jika kita tidak arogan/sombong/superior, bahwa ini halal namun dalam kenyataannya adalah riba dari pintu belakang seperti yang dilakukan bank-bank syariah, maka Suratul Al Fatihah kita akan mencapai arsy Allah SWT.

Ketika Al Fatihah datang di awal shalat, di awal rakaat dan kita membacakannya ayat demi ayat dengan penuh kesadaran, inilah psikologi jalan Allah SWT, dimana bacaan kita naik ke samawaat, sehingga kita tidak akan memikirkan kemacetan di jalan, kita tidak akan memikirkan pekerjaan kita, apa yang akan kita makan hari ini atau besok? Kita akan berkonsentrasi dalam setiap ayat Al Fatihah, menaikkkan Suratul Fatihah ke samawaat, dimana ketika mengucap amin, kita sudah sampai di arsy. Dalam suasana yang damai itu, rakaat kedua dan seterusnya dikerjakan dengan cara yang sama. Sekarang kita mengerti maksud ucapan Nabi Muhammad [saw] :

As salatu Mi’raajul Mu’mineen

Didalam setiap shalat ada mi’rajnya mukminin

Kemudian beliau menambahkan:

As salatu nur

Shalat itu nur

Shalat adalah pintu masuknya nur kedalam hati. Sehingga, nur turun dari arsh Allah SWT melalui samawaat kedalam hatinya orang-orang yang beriman. Ketika nur masuk kedalam hati, malaikat bertanya: “apa itu al ihsan?” Ingatkah anda? Oh anda tidak ingat? Saya akan ingatkan anda karena anda tahu subjek ini. Suatu tahapan terakhir dalam hidupnya Muhammad [saw].

Beliau telah menyelesaikan haji pertama dan terakhirnya, dan juga telah kembali ke Medinah (tidak di Mekah, Muhammad [saw], tidak ingin tinggal dan di kuburkan di Mekah, tanah kelahirannya) . Hidupnya tinggal 81 hari dan pada hari itu para sahabat sedang menemaninya ketika tiba-tiba, datanglah seorang laki-laki asing, masuk mendekati Nabi [saw], dia berbaju putih, berambut hitam, dan tubuhnya bersih sekali. Semua orang tidak mengenalnya, sehingga dia bukanlah penduduk Medinah. Jadi kalau dia bukan penduduk Medinah, maka berarti dia berasal dari luar Medinah. Tapi kenapa badannya bersih? Pada saat itu tentunya belum ada mobil, sehingga kalau berasal dari luar, kendaraannya pasti unta, dan jika naik unta, badannya pengendaranya pasti akan kotor diselimuti debu, di pakaian, jenggot, kumis dan rambutnya. Tetapi lelaki asing ini bersih sekali, dan dia bukan merupakan penduduk Medinah? Jadi dari manakah orang ini? Dari langit? Ada sesuatu yang misterius disini. Ada yang tidak beres, pikiran para sahabatpun melayang kemana-mana, mencoba memikirkan apa yang sedang terjadi! Laki-laki asing itu terus masuk, melewati kerumunan, melewati para sahabat, dan semuanya tertegun tidak bergerak. Orang itu mendekati Muhammad [saw] dan duduk didepannya sehingga lututnya dan lutut Muhammad [saw], saling bersinggungan. Inilah saat-saat yang sangat berbahaya, karena Muhammad [saw], adalah Nabi Allah SWT, dan mukmin baru saja menaklukkan Mekah! Seluruh suku-suku pagan Arabiapun sedang geram-geramnya. Mungkin laki-laki asing ini adalah pembunuh bayaran, dan mungkin dia dikirim dari Washington, dan jika dia memiliki pisau dibalik pakaiannya maka tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya membunuh Rasulullah [saw].

Kemudian orang asing ini mulai bertanya, pertanyaannya bukan mengenai naik turunnya valas atau berapa harga sembako, namun pertanyaan mengenai Islam. Dia bertanya, “Apa itu Islam? Apa itu Iman? Apa itu Ihsan? Kapan akhir jaman terjadi? Apa saja tanda-tandanya?.

Setiap Nabi menjawab, orang itu berkata, “Ya, benar, Muhammad!” Pada akhir pertanyaan kelima, orang itu berdiri dan meninggalkan Nabi [saw], juga orang-orang lainnya yang mulutnya terbuka lebar namun tak dapat berbicara! Nabi [saw] kemudian berpaling ke Umar [ra], dan berkata, “Itu tadi Jibril [as], dia datang untuk memberi arahan kepadaku dan kalian mengenai diin Allah SWT.” Peristiwa ini terjadi setelah Allah SWT, mengirimkan Surah Al Maidah ayat 3:

 

 ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌ۚ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu diin mu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi diin bagimu

Hari itu, tugas (pekerjaan Muhammad [saw] di bumi/hidupnya) selesai. “Aku sudah sempurnakan untukmu Diin mu.” Setelah itu, datanglah Jibril [as] dan memberikan pertanyaan terakhir. Jadi ini pasti adalah suatu hal yang sangat serius.  Sehingga Allah SWT, mengirimkan Jibril [as], setelah Ad Diin Al Islam disempurnakan.

Jangan mengisolasi hadith dan mempelajarinya dalam isolasi. Selalu melihat dari sudut pandang keseluruhan pengetahuan, hubungkan hadist-hadist itu, menjadi suatu kesatuan pengetahuan, carilah benang merah yang menghubungkannya dalam kesatuannya. Benang merah yang menyatukannya menjadi kesatuan adalah, “Sistem Arti”,  Ketika kita sudah menemukan dan mengetahui sistem artinya maka silahkan ke melihat masing-masing hadist dalam isolasi yang independent untuk mempelajarinya.

Sehingga kelima pertanyaan ini, kita lihat secara menyeluruh. Ketika kita melihatnya secara menyeluruh, dapat kita lihat bahwa kelima pertanyaan itu terbagi dalam 2 bagian. Bagian pertama, “Apa itu Islam? Apa itu Iman? Apa itu Ihsan?”, tiga tahapan Islam. Bagian kedua, “Kapan hari akhir datang? Apa saja tanda-tandanya?” dengan kata lain, hadist ini dan peristiwa turunnya Jibril [as], ini memberitahu kita kapan hari akhir (akhir zaman) dimulai yaitu ketika Dajjal menguasai dunia, ketika apa yang tampak bertolak belakang dengan kenyataannya. Ketika segala sesuatu yang terjadi bukanlah yang benar melainkan muslihat semata. Ketika Nabi [saw] mengangkat tangannya dan berdoa:

Allahumma arinal ashia’qa ma’i

Ya Allah, tunjukkanlah kebenaran segala sesuatu.

Artinya bahwa kita tidak akan tertipu oleh apa yang tampak. Ketika zaman itu datang dimana wanita akan berbusana tetapi telanjang; ketika jaman itu datang dimana wanita akan berbusana seperti lelaki, dengan celana panjang, jas, dan mungkin dasi; ketika zaman itu datang dimana ketika orang-orang berhubungan intim di depan umum seperti babi; ketika zaman itu datang dimana seluruh dunia menjadi beralkohol; ketika zaman itu datang dimana semua orang terkena riba sehingga kamu tidak akan menemukan satu orangpun didalam seluruh umat manusia, yang tidak terkena riba, jika orang yang berkata ”Saya tidak terkena riba,” maka debu riba akan mengenainya, jika ada orang yang berkata, ”Saya tidak terkena riba,” maka uapnya riba akan mengenainya. (Seluruh uang kertas yang beredar di Indonesia yang dikendalikan oleh bank sentral yang berasal dari pinjaman IMF dengan bunga tentunya Riba!)

Ketika zaman itu datang dimana waktu berjalan dengan begitu cepat; setahun berjalan seperti sebulan, sebulan berjalan seperti seminggu, seminggu berjalan seperti sehari, sehari berjalan seperti sejam…

Ketika zaman itu datang, yang bisa selamat dari jaman itu dan tidak tertipu, orang yang dapat menembus tipu muslihat dan melihat realitas yang benar dari semua yang terjadi, orang yang dapat membaca dengan nur dari Allah adalah orang yang telah berjalan dari iman ke ihsan. Sehingga ketika ditanya, “Apa itu Ihsan?” Nabi menjawab dan berkata:

an ta’budallaha ka annaka tara

Menyembah Allah seperti melihatNya.

Merasakan terpaan angin seolah-olah angin itu adalah sesuatu yang padat dan bisa dipegang. Seperti Syekh Siti Jenar, “Ana Al Haqq!” Kawulo Manunggaling Gusti, bukan Tuhan menyatu dengan manusia, namun, menjalankan dan menegakkan Qur’an seperti sedang diawasi oleh Allah SWT.

Surah Al Araaf Ayat 143;

 

أَرِنِىٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَ‌ۚ

Musa, “Allah, Perlihatkan diriMu, aku ingin melihatMu!”

Apa jawaban Allah SWT?

قَالَ لَن تَرَٮٰنِى

 Tidak Musa Kau takkan melihatKu (tidak dengan mata itu, takkan pernah)

 

Para sahabat Nabi [saw] bertanya,

“Ya Rasulullah! Bagaimana kita dapat melihat Allah SWT, di hari akhir (akhir zaman)?”

Rasulullah, yang menjawab,

”Apakah kamu kesulitan untuk melihat matahari di siang hari bolong?”

Mereka menjawab,

“Tidak”.

”Apakah kamu kesulitan melihat bulan saat purnama?”

mereka menjawab,”Tidak,”

Beliau [saw] berkata, “Begitulah caramu melihat Tuhanmu di hari akhir!”

Al Qur’an mengatakan bahwa kita tidak dapat melihat Allah SWT, namun hadist mengatakan, kita dapat melihatNya. Apa ini? Sebuah kontradiksi? Bagaimana kita melihat kontradiksi ini? Jika kita tidak dapat melihatNya dengan ‘mata ini’, apakah ada mata lain untuk melihatNya?

Tidak ada pertanyaan lain yang lebih penting tentang abad ini kecuali pertanyaan ini. Inilah pertanyaan yang paling penting. Banyak pertanyaan penting di zaman ini namun inilah yang terpenting.

Apakah kita memiliki mata lain selain mata ini? Inilah sebuah kata penting yang akan saya gunakan, ‘epistimology’. Apakah kita memiliki mata lain selain mata ini? Apakah kita memiliki telinga lain, selain telinga ini? Inilah pemahaman pengetahuan. Apa itu pengetahuan? Dari manakah pengetahuan berasal? Bagaimana anda mendapatkan pengetahuan?  Dajjal, yang akan menguasai dunia di akhir zaman menyatakan bahwa pengetahuan berasal dari sumber-sumber eksternal. Pengetahuan eksternal. Sedang Al Qur’an tentu saja tidak. Al Qur’an memberikan ‘epistimology.’

Suratul Hajj ayat 46, Allah SWT, menyatakan:

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ يَعۡقِلُونَ بِہَآ أَوۡ ءَاذَانٌ۬ يَسۡمَعُونَ بِہَا‌ۖ فَإِنَّہَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَـٰرُ وَلَـٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ

“Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

Inilah Suratul Hajj, jika anda tidak melihat Allah ketika naik haji, anda belum haji. Maka nur hanya turun ketika ada iman didalam hati. Ketika mulut kita mengucapkan,”Saya menyembah Allah! Saya beriman! Saya seorang mukmin!” namun didalam hati kita masih menyembah rekening bank, maka itu bukan iman, anda hanya sebatas muslim.

Ketika iman masuk ke hati, ketika kita dengan ikhlas menyembah Allah dan Allah akan mengetahui anda jika anda benar-benar menyembahNya.

Ketika Amerika Serika menyatakan perang terhadap Islam, kita akan tahu siapa yang lari dan bersembunyi.

“Jika aku menempuh jalan ini (Suratul Fatihah), aku tidak akan mendapatkan visa AS!”

“Jika aku menempuh jalan ini aku tidak akan mendapatkan kartu hijau!”

“Jika aku menempuh jalan ini (Suratul Fatihah) bisnisku akan terganggu!”

“Jika aku menempuh jalan ini aku akan dianggap teroris!”

“Tidak, bukan saya!” sama saja mengatakan pada Allah SWT, saya tidak berada dalam jalanNya (diin, itu bukan agama) yang mentaatimu.

Ketika ada iman sejati dalam hati anda, maka anda akan memiliki tulang besi, otot kawat, sumsum gegana bukan dari kertas daur ulang. Anda akan mengenakan celana panjang bukan celana pendek. Anda akan membiarkan jenggot anda dan tidak mencukurnya, anda tidak akan kawatir akan penampilan anda dan apa yang akan anda makan besok.

Perjalanan spiritual ini bertujuan untuk menghasilkan manusia yang terbuat dari besi bukan kertas daur ulang. Maka perjalanan spiritual ini adalah sebuah seni mekanik bukan dinamis. Ketika ada iman dihati, Allah akan memberikan ujian dan tantangan pada kita, ketika iman ada dihati kita dapat melihat dan tidak tertipu dengan presentasi dari apa yang tampak dihadapan kita.

Suratul Fatihah yang akan memulai perjalanan ini disetiap rakaat shalat. Apa yang terjadi jika nur ada didalam hati? Apa yang terjadi jika kita dapat melihat yang sebenarnya tidak terlihat?

Inilah contohnya: Anda tahu transaksi kredit? Dimana anda diberi waktu untuk membayarnya? Nabi Muhammad [saw], sering membeli barang dan Beliau tidak memiliki uang untuk membayarnya dengan cash dan beliau diberikan waktu oleh pemilik toko Yahudi; oleh karenanya transaksi kredit itu halal. Si pemilik toko tidak menaikkan harganya, ketika transaksinya adalah transaksi kredit. Harga cash dan harga kredit harus sama.

Karena jika dia (pemilik toko) menaikkan harga kredit maka nilai uangnya akan bertambah seiring waktu. Sederhana bukan? Saya harus menunggu uang saya karena seiring waktu uang saya akan bertambah, itulah RIBA! Anda tidak setuju dengan itu? Jika saya harus menunggu uang saya, dan anda sekarang harus membayar saya lebih karena saya hanya menunggu saja maka waktu itu adalah uang (time is money), itulah RIBA!

Intisari riba di Arabia adalah jika seseorang harus menunggu uangnya maka ia berhak mendapatkan penambahan (uang). Itulah riba yang ada di Mekah dan di Medinah sehingga dengan demikian harga kredit dan harga cash harus sama.

Nabi [saw] memperingatkan,

“Kau akan mengikuti mereka selangkah demi selangkah sedemikian sehingga jika mereka jatuh  ke lubang buaya kaupun akan jatuh ke lubang buaya!”

Dilubang buaya itulah dimana kita berada saat ini. Diseluruh jagat, bank-bank syariah meminjamkan uang dengan bunga dan menyelebunginga sebagai penjualan dan menyebut hal itu sebagai murabaha. Tidak, itu tidak murabaha, itu adalah RIBA! Bank-bank komersial meminjamkan kita uang dengan bunga dari pintu depan, dan bank-bank syariah meminjamkan kita uang dengan bunga dari pintu belakang, ini bukan murabaha tapi inilah RIBA!

Mereka menyebutnya murabaha, jika anda dalam tahapan awal perjalanan spiritual anda yaitu halaqa maka anda akan melihat yang sebenarnya tidak terlihat. Anda akan mengetahui bahwa ini bukan murabaha namun ini tetaplah riba.

Sebuah motor dijual seharga 19 juta dan saya hendak membelinya. 19 juta adalah harga pasar dimana semua orang mengetahuinya termasuk Supardi, Maman dan Buyung, kecuali manager banknya. Maka ketika saya masuk ke apa yang disebut bank syariah dan managernya akan berkata,”Oke tak masalah, kami akan membelikannya seharga 19 juta!” Dia berbohong! Sebuah kebohongan yang nista karena bank tidak akan membelinya dan bank tidak punya kuasa legal atas motor tersebut. Tidak akan punya! “Kami akan membelinya seharga 19 juta dan menjual kepada anda seharga 30 juta dan kami berikan anda waktu 8 atau 9 tahun untuk melunasinya.” Jadi harga kreditnya menjadi 30 juta. Berapa harga cashnya? 19 juta! Mengapa saya harus membayar 30 juta untuk sebuah motor seharga 19 juta? Jawaban pertanyaan itu adalah ketika perbedaan harga terjadi karena waktu, maka itu riba! Dapatkah anda bayangkan seluruh uang yang beredar di Indonesia, yang berada di dompet semua orang Indonesia adalah uang riba karena didapat dari pinjaman IMF yang berbunga?

Yang sungguh sangat-sangat mencengangkan adalah bahwa Ustadz, Imam, Habib dan Majelis Ulama memberikan fatwa bahwa itu halal! Nabi [saw] telah memperingatkan kita akan jaman ini bahkan Allah SWT, melalui Jibril [as], sebuah jaman fitnah dan muslihat, jaman kebutaan spiritual, jaman jahiliyah. Sehingga Ulama, Ustadz, Habib, bahkan Sheikh diseluruh dunia dengan kebutaan spiritual mereka akan menyatakan bahwa ini (sistem keuangan perbankan) adalah halal sedang hal itu pada kenyataannya adalah RIBA yang diperangi oleh Allah dan RasulNya!

Allahumma arinal ashia’qa ma’i

Ya Allah (SWT), tunjukkanlah kebenaran segala sesuatu, Insya Allah.

 

Maulana Imran Nazar Hosein

 

image_pdfimage_print

Leave a Comment