Tasbih Golongan-golongan Islam

In Metodologi, Sejarah by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Golongan-golongan, madhab, aliran, sekte dari Islam adalah bulir-bulir yang merangkai dan menyusun untaian tasbih. Pendiri sekolah Safei, Hanbali, Maliki, dan lain-lain, menjadikan ajaran mereka sebagai salah satu bulir dalam untaian tasbih. Satu bulir itu ‘tidak merepresentasikan’ keseluruhan untaian tasbih. Tasbih itulah Islam, dan bulir-bulir tasbih adalah bagian dari Islam. Masing-masing bulir adalah bagian dari Islam, dan ajaran mereka adalah bagian dari Islam, bukan Islam secara keseluruhan.

Ketika Yajuj Majuj menyebar keseluruh penjuru bumi, menguasai umat manusia dengan cara menduduki seluruh posisi sosial kemasyarakatan, dari yang terendah sampai yang tertinggi. Dengan kapasitas mereka, sebagai institusi yang menguasai penciptaan uang kertas, dan mengeluarkan uang kertas itu kedalam sirkulasi ekonomi penduduk bumi, mereka juga menguasai bulir-bulir tasbih itu.

 

وَحَرَٲمٌ عَلَىٰ قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَـٰهَآ أَنَّهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ (٩٥)  حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتۡ يَأۡجُوجُ وَمَأۡجُوجُ وَهُم مِّن ڪُلِّ حَدَبٍ۬ يَنسِلُونَ (٩٦)

 

Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali ke negeri itu, hingga apabila telah dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.

(Al-Qur’an, Al-Anbiya, 21:95-96)

 

Penduduk: Banu Israel 

Negeri: Israel

Hingga:  1948, sebelum 1948 Yajuj Majuj telah terlepas di dunia (telah dibukakan).

Mereka turun dari seluruh tempat yang tinggi: Menguasai Dunia Dengan Globalisasi.

 

Ketika mereka (Yajuj dan Majuj/Peradaban Eropa Modern) menguasai bulir-bulir tasbih itu, mereka memberikan warna masing-masing bulir, dimana bulir yang satu dan bulir yang lainnya memiliki warna yang berbeda. Sehingga kini kita mendapatkan ‘Tasbih Islam’ yang memiliki bulir yang beragam warna. Ada yang merah, hijau, coklat, kelabu, dan lain-lain. Dengan kata lain, golongan-golongan Islam saat ini, ajaran mereka telah terkontaminasi kebatilan, yang bertujuan untuk menyesaatkan Muslim, sehingga Muslim tidak bersatu, terpecah dalam keabadian, sehingga agenda musuh Islam dapat terlaksana melalui kamuflase dan tipu daya ketika Muslim saling menuduh Muslim lainnya melakukan bid’ah.

Golongan-golongan Islam yang tadinya jernih, kini menjadi keruh, dalam artian, masing-masing golongan memiliki ajaran yang benar sekaligus memiliki ajaran yang salah. Oleh karena itu, Muslim yang memilah kebenaran dan kebatilan, dan kemudian memilih yang benar, dan melakukan hal yang sama pada golongan yang lainnya (memilih yang benar dari golongan itu), dia tidak akan mengatakan dirinya seorang sufi, atau salafi, atau ahli sunah, dan lain-lain, namun dia akan mengatakan dirinya seorang Muslim. Konsekuensinya dia akan menjadi umahnya Muhammad (saw) walaupun seorang diri, dan akan dimusuhi dan diperkusi oleh golongannya maupun golongan lainnya.

Bagaimana memilih kebenaran itu? Bagaimana memilih jalan yang lurus? Apa yang menjadi jalan yang lurus di bumi ini? Jawabannya adalah Kitabullah dan Sunahnya Rasulullah (saw).

 

قَدۡ جَآءَكُم بَصَآٮِٕرُ مِن رَّبِّكُمۡ‌ۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦ‌ۖ وَمَنۡ عَمِىَ فَعَلَيۡهَا‌ۚ وَمَآ أَنَا۟ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٍ۬ (١٠٤)

 

“Bukti-bukti nyata telah datang kepadamu dari Tuhanmu. Jika ada yang dapat melihatnya (dan memahaminya) itu untuk (kebaikan) hatimu sendiri. Dan jika ada yang buta (kepada bukti-bukti itu) itu akan mencelakai dirinya sendiri. Dan Aku tidaklah disini untuk menjaga dirimu.”

(Al-Qur’an, al-An’am, 6:104)

 

وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ۬ شَهِيدًا عَلَيۡهِم مِّنۡ أَنفُسِہِمۡ‌ۖ وَجِئۡنَا بِكَ شَہِيدًا عَلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ‌ۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ تِبۡيَـٰنً۬ا لِّكُلِّ شَىۡءٍ۬ وَهُدً۬ى وَرَحۡمَةً۬ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ (٨٩)

 

“… Dan Kami telah menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab (yakni Al-Qur’an) yang menjelaskan semua hal, Panduan, Belas Kasih, dan Kabar Gembira bagi semua Muslim.”

(Al-Qur’an, Al-Nahl, 16:89)

Perpecahan dan penggolongan dalam internal satu agama bukanlah hal yang baru. Musuh Islam adalah orang yang sama semenjak jamannya Nuh (as), yaitu mereka yang memerangi Allah SWT, mereka yang memperbudak umat manusia agar mereka tidak bekerja, tidak berkeringat, namun dapat hidup lebih nyaman, lebih sejahtera dari mayoritas manusia lainnya. Perpecahan ini sudah terjadi dalam Nasrani satu milenium yang lalu, dan juga pada Judaisme 2 milenium yang lalu, padahal semenjak Ibrahim (as), hanya ada satu agama yang benar untuk seluruh umat manusia. Islam sebagai agama untuk seluruh umat manusia, bukanlah dimulai saat Muhammad (saw) menyiarkannya, namun dimulai saat Ibrahim (as) menyiarkannya.

 

۞ وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ رَبُّهُ ۥ بِكَلِمَـٰتٍ۬ فَأَتَمَّهُنَّ‌ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً۬ا‌ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ (١٢٤)

 

dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia“. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim (musuh Allah)”.

(Al-Qur’an, Al-Baqarah, 2;124)

Imam bagi seluruh manusia: Al-Qur’an menolak pengertian bahwa semua agama itu benar, bahwa ada agama yang diperuntukkan untuk masyarakat tertentu. Agama yang benar adalah agamanya Ibrahim (as) yaitu Islam untuk seluruh umat manusia, dan Tuhan yang Satu adalah Tuhannya Ibrahim (as), Allah SWT.

Yang terjadi adalah, musuh Allah, telah merubah Islam menjadi Judaisme dan Nasrani (dengan merubah text Taurat dan text Injil), dan kemudian karena Al-Qur’an tidak bisa dirubah tulisan aslinya, mereka, melalui ulama pencinta hubud dunia, merubah arti dan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an sedemikian sehingga mereduksi keimanan Muslim menjadi ‘Murtad Tanpa Sadar.’

 

وَمَڪَرُواْ وَمَڪَرَ ٱللَّهُ‌ۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَـٰكِرِينَ (٥٤)

 

“Dan mereka melakukan makar (merancang dan berencana dengan sembunyi-sembunyi), dan Allah pun juga merancang dan berencana, dan Allah adalah perancang dan perencana yang terbaik.”

(Al-Qur’an, Ali Imran, 3:54)

 

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ ڪَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ‌ۖ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ لَّا يَفۡقَهُونَ بِہَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٌ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ بِہَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٌ۬ لَّا يَسۡمَعُونَ بِہَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡغَـٰفِلُونَ (١٧٩)

 

dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat , dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.

(Al-Qur’an, Al-Araaf, 7:179)

Muslim telah diberikan Al-Qur’an, namun mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di bumi, dan pada khususnya apa yang terjadi di dalam lingkungan atau masyarakat mereka sendiri, yang berlainan atau tidak sejalan dan berkontradiksi dengan Al-Qur’an. Mereka ini Muslim yang murtad tanpa sadar, bahkan lebih dari itu.(*)

Oleh Angkoso Nugroho

Leave a Comment