Tazkiyah dan Kepemimpinan Islam

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Dasar dari masyarakat Islam adalah etika keagamaan. Oleh karena itu, sesungguhnya semua orang yang hendak menjadi pemimpin Muslim untuk mencapai tujuan yang ditentukan di dalam Al Qur’an harus memiliki kepribadian yang tersusun oleh dimensi spiritual, moral dan intelektual. Ini adalah keinginan Al Qur’an dan juga keinginan dari sejarah Islam.

Tapi bagaimana kepribadian seperti ini bisa dibangun? Dengan hanya mengandalkan sisi emosional? Dengan hanya mengandalkan mistis? Hanya berlandaskan faktor intelektual? Atau dengan ritual-ritual? Dengan hanya puritanisme formal? Atau berdasar dari segi eksternal dan legal? Dengan hanya membawa dakwah dan ritual? Atau sebatas faktor politik belaka dalam nama Islam? Tidak. Seribu kali, tidak!

Satu-satunya reaksi kimia yang bisa membentuk kepribadian manusia menjadi emas murni adalah kedisiplinan keras dari tazkiyah, pelatihan spiritual yang berat yang sesuai dengan tujuan yang hendak diperoleh. Ini adalah ajaran yang dicontohkan (Sunnah) oleh Nabi Muhammad (dimana Allah SWT telah memilihnya untuk berada di sisiNya), dan hal ini juga telah dipraktekkan dan dicontohkan sepanjang sejarah Islam oleh mereka yang benar-benar memahami dinamisme kepemimpinan Islam dan mampu memperoleh tujuan mereka di dalam sejarah (takdir) sesuai kehendak Allah.

Salah satu contohnya adalah Abdul Qadir Jaelani dari Baghdad, yang membangun dirinya dengan kepribadian yang berisi kekuatan spiritual yang dinamis, dengan tanpa kekuatan politik, namun berhasil menghancurkan para Assassin (ISIS pada masa kini) di satu pihak dan di pihak lain menghancurkan para Sabilis Barat (Eropa Barat, Amerika Serikat dan Israel pada masa kini) yang merangsek ke Tanah Suci dengan kedok jihad (Perang Salib).

Nabi (saw) telah lahir sebagai Rasulullah (Utusan Allah), dan telah ditentukan olehAllah SWT pada saat penciptaan beliau (III: 81). Oleh karena itu beliau tidak memerlukan pelatihan spiritual untuk menduduki posisi tersebut? Namun kita menyaksikan beliau menarik diri ke pedalaman, selama lima belas tahun sebelum memproklamirkan diri sebagai Utusan Allah. Kemudian, dimasa pemerintahan beliau (Medinah bukan sekedar kota dan beliau menjadi utusan Allah itu untuk menegakkan HukumNya yang konsekuensinya adalah beliau harus menjadi kepala negara), kegiatannya di dalam dimensi transendental dengan meluangkan waktu dimalam hari untuk berdoa (shalah) dan di siang harinya beliau berpuasa dan shalah, sembari melakukan tugasnya sebagai kepala negara yang mengerjakan semua bidang yang terkait dengan revolusi gemilang dan menyeluruh di sepanjang sejarah manusia; lalu dengan kesederhanaannya yang bersinar di dalam moral yang tertinggi; dan juga dengan berkah multi dimensional yang berasal dari kepribadiannya– semua yang beliau kerjakan ini menjadi Sunnah bagi Muslim dan pemimpin Muslim dimasa depan.

Sama seperti halnya Nabi (saw) yang menarik diri dari masyarakat ke gua Hira, Abdul Qadir Jaelani juga melakukannya selama pendidikan formal beliau. Di sore hari setelah belajar beliau menarik diri ke hutan dan pedalaman, disiplin tinggi dalam Tazkiyah telah membawa beliau yang tidak hanya memiliki personalitas seperti Nabi (saw) namun juga merubah jalannya sejarah.

Namun hari ini banyak ulama, pemimpin dan cendikiawan Muslim yang meninggalkanTazkiyah. Mereka tidak bisa memberikan manfaat bahkan bagi Muslim, apalagi untuk kemanusiaan? Dunia Islam saat ini mempertontonkan kehancuran nilai-nilai Islam secara massal, mereka membawa nilai-nilai sekulerisme dalam baju Islam dan menyerang masyarakat Muslim tanpa henti seperti rayap.  Dunia Islam harus kembali lagi menerapkanTazkiyah sesuai dengan norma yang dikehendaki oleh Al Qur’an dan Sunnah, dimana pemimpin sekelas Muhammad (saw) dapat diciptakan dan memenuhi cita-cita Islam.

Melihat permasalahan dari kepemimpinan religius Islam saat ini, tidaklah mereka yang sufi atau mereka yang anti tassawuf, tidak pula mereka para ahli debat, dan politikus diantara ulama, tidak pula mereka yang para Muslim ‘profesional’ pendakwah dan penulis buku, akan memiliki kesempatan untuk selamat dalam melawan kekuatan jahat di dunia ini.

Teknik menyelesaikan masalah eksternal

Konflik antara kebenaran dan kesesatan tidak hanya terjadi di sisi dalam manusia saja namun juga di sisi luar, yaitu fenomena social kemasyarakatan. Konflik tersebut di masyarakat harus diselesaikan jika pengembangan moral individu manusia secara umum ingin dibangun. Hal ini karena manusia adalah makhluk sosial, dan di dilahirkan dan dibesarkan di dalam masyarakat, dimana kebenaran dan kesesatan memiliki pengaruh yang besar dalam pengembangan jati dirinya. Oleh karena itu, tatanan sosial harus dirubah menjadi sebuah tatanan moral, jika seorang individu ingin menjadi manusia yang bermoral. Oleh karena itu Allah (swt) memerintahkan Muslim untuk merubah tatanan sosial kemasyarakatan menjadi sebuah tatanan moral, AlQur’an 3:111.

Untuk merubah sebuah masyarakat menjadi sebuah tatanan moral adalah tanggung jawab semua individu yang ingin merubah tatanan hatinya (mendapatkan nur dari Allah). Sehingga semua Muslim telah diperintahkan dan berkewajiban untuk memenuhi tantangan ini dan melancarkan perjuangan (jihad) apapun pengorbanannya untuk menghancurkan kebatilan dan memahkotai kebenaran. Al Qur’an mengatakan:

“Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri (Al Wasilah) kepada-Nya,dan berjihadlah pada jalan-Nya (secara moral, Tazkiyah, yang memiliki implementasi sesuai kehendak sunnah), supaya kamu berhasil.” (*)

Maulana Fazlur Rahman Al Ansari (ra)

Diambil dari Buku: Dasar dan Struktur Masyarakat Islam Menurut Al Qur’an

image_pdfimage_print

Leave a Comment