Tentang Dzikr dan Fikr

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Allah Maha Bijaksana akan mengangkat Hijab atau pembatas hanya bagi orang-orang yang berusaha mencari ilmu dengan memeluk dua instrument yaitu Dzikr (yakni selalu mengingat Allah dimanapun dan kapanpun) dan Fikr (yakni berpikir secara mendalam/kontemplasi).

Saat mereka melakukan hal tersebut, pada akhirnya mereka akan diberkahi oleh Allah untuk mengenali kehadiran Kebenaran (al-Haq) dan cahaya (Nur) dalam semua ciptaan Allah dan tentu saja akan dengan sangat mudah mengenali dan menolak Kebatilan (kezaliman) kapanpun dimanapun dan bagaimanapun bentuk rupa dari wajah kebatilan tersebut. Hal ini khususnya penting saat Kebatilan didandani seakan tampak seperti Kebenaran dan begitupula dengan sebaliknya.

Mereka dengan mudahnya akan mengenali dan tidak akan mudah unutk tertipu dengan Jalan yang menuntun ke Jahannam yang dihiasi oleh bumbu bumbu kehidupan dunia dihiasi layaknya keindahan surga.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (berpikir), [dan] yang mengingat Allah saat mereka berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya) berkata, “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakaan semua ini tanpa makna dan tujuan; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab api neraka.

Al Qur’an Surah Ali-Imran (3) Ayat 190  – 191

Kita seharusnya berhati-hati dalam memperhatikan bahwa saat Dzikir dan Fikr dilakukan secara simultan, Dzikr haruslah mendahului dan menembus Fikr.

Yang menjadi masalah utama dalam kehidupan mayoritas umat muslim saat ini adalah bahwa pengamalan Dzikir tampaknya telah meninggalkan Fikr. Sehingga sekularisasi pendidikan modern dan revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi telah berhasil memisahkan antara Dzikir dan Fikr.

Hal inilah yang menjadi penyebab utama mengapa Wudhu, Shalat, Zakat dan Sedekah dalam siklus kehidupan umat muslim hari ini tidak memiliki substantsi sama sekali. Mereka tidak lagi sanggup untuk membedakan mana yang salah (bathil) dan yang benar (haq). Sehingga virus whan (penyakit cinta dunia dan takut mati) telah mewabah di dalam hati sanubari mereka. Setiap hari aktifitas keagamaan tetap dijalankan namun arah dan tujuan semakin tidak jelas karena konsentrasi dan fokus telah berubah yang mengarahkan mereka untuk hidup lebih ke arah kesuksesan duniawi melainkan kesuksesan di hari akhir. Mereka terus menunjukkan superioritas mereka sebagai makhluk yang paling spesial yang layak masuk surga sehingga dengan mudahnya menuduh kafir kepada manusia lainnya yang berlainan agama, lalu apa yang membedakan sifat seperti ini dengan sifat Iblis yang begitu sombong dan arogannya merasa makhluk paling spesial di antara semua makhluk ciptaan Allah? Apa bedanya sifat seperti ini dengan bani Israil yang begitu sombong dan arogan mengklaim diri mereka sebagai manusia spesial dari semua suku bangsa yang ada di kalangan manusia saat ini?

Dengan Dzikir dan Fikir secara simultan terus menerus di setiap saat, di setiap hembusan nafas kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini yang diselumuti dengan kesabaran yang tinggi dan dengan penuh kerendahan hati kepada Allah dan seluruh makhluk ciptaan-Nya maka tunggulah dengan penuh kebahagiaan karena ketetapan Allah dalam membuka Jalan-Nya dengan tuntunan Cahaya-Nya akan mengisi setiap langkah dan keputusan kita dalam mengarungi ruang waktu yang sedang kita jalani saat ini, terutama dalam menyambut momen bersejarah dalam trilogi kisah Inti Dunia Akhir Zaman yang berada di hadapan kita saat ini.

Semoga Tuhanku menyempurnakan petunjukNya yang lurus kepada kami agar kami lebih dekat (kebenarannya) daripada ini semua. Insyaa Allah.

Dikutip dan dikembangkan dari ceramah Guru kami Sheikh Maulana Imran Nazar Hosein

image_pdfimage_print

Leave a Comment