Tentang Golongan (Madzhab) dalam Islam Hari Ini

In Metodologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Ketika kita mengatakan kita golongan ini atau golongan itu dan kita bekerja untuk golongan ini/ itu, kita telah memecah belah Islam. Selama masih ada banyak golongan-golongan, selama itulah Islam akan lemah dan tidak bisa memberikan respon positif terhadap gerakan yang menghancurkan Islam dari dalam maupun dari luar yang begitu menghisap dunia bagai pasir hidup.

Islam adalah Islam, bukan ini dan bukan itu, sepatutnya yang harus kita pikirkan adalah:

Hudhaifah Ibn Al-(RAA) mengatakan: “Orang-orang biasanya menanyakan kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengenai hal-hal yang baik tapi aku biasa bertanya kepadanya tentang hal yang bathil supaya aku dapat mengantisipasi keburukan (di masa depan).

Jadi aku berkata: “Ya Rasulullah, kami telah tinggal dalam ketidaktahuan dan keadaan yang (sangat) buruk (jahiliyah), dan Allah membawa kami kebaikan ini (yaitu, Islam); apakah akan ada kebathilan (jahiliyah) setelah kebaikan ini (yaitu, Islam)?

Dia berkata: “Ya.”

Aku berkata: “Apakah akan ada kebaikan setelah kebathilan itu?”

Dia menjawab: “Ya, tapi itu akan tersamar (yaitu , tidak murni ).”

Aku bertanya: “Apa yang akan menjadi nodanya?

Dia menjawab: “(Akan ada) beberapa orang yang akan membimbing ummat (tetapi) tidak sesuai dengan bimbingan saya. Kalian (ummat) akan menyetujui beberapa perbuatan mereka dan menyetujui beberapa (perbuatan) orang lain (Yahudi & Nasrani).”

Aku bertanya: “Apakah akan ada kebathilan apapun setelah kebaikan itu?”

Dia menjawab: “Ya , (akan ada) beberapa orang yang memanggil orang lain (ummat) di gerbang Jahannam di mana mereka akan mengusir orang-orang yang menanggapi (melawan) mereka.

Aku bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam untuk menggambarkan mereka kepada kami dan dia berkata:

“Mereka akan dari orang-orang kita sendiri dan akan berbicara seperti kita.

Aku bertanya apa perintah Beliau kepada saya jika itu hal itu terjadi pada waktu saya, dan dia menjawab:

“Kamu harus mematuhi Jama’ah (yaitu, komunitas Muslim yang dijalankan sebagai Jama’ah) dan Imam (yaitu, Amir atau pemimpin Jama’ah yang kewenangannya dibentuk melalui tindakan Bai’at) . 

Aku berkata: Bagaimana jika tidak ada Jama’ah atau Imam? 

Beliau berkata: “Kemudian berpalinglah dari semua Firaq (yaitu, kelompok/ golongan/ organisasi/ partai Muslim sesat yang telah gagal untuk membentuk diri mereka sebagai Jama’ah dengan Ameer/ Imam yang kewenangannya dibentuk melalui tindakan Bai’at) bahkan jika kamu harus makan akar pohon sampai kematian menyusul kamu saat kamu berada di negara itu . 

(Bukhari dan Muslim)

 


Ketika kita mengaku golongan ini atau golongan itu, apakah kita telah memiliki amir/ jama’ah? apakah kita telah menggunakan mata uang sunnah (dalam hal ini dinar emas/ dirham perak) yang digunakan oleh para aslaf? apakah kita sudah menjalankan aturan hukum dengan hukum yang telah di contohkan oleh para aslaf (Hukum Allah)? 

Jawabannya hanya satu yaitu kembalilah ke Al-Qur’an, kita harus kembali ke Al-Qur’an agar menjadi umat yang Satu, bukan golongan ini bukan golongan itu. Islam bukanlah sebuah produk dan betapa hinanya kita yang telah memperlakukannya seperti sebuah produk, dengan memasang brand (merek) tersendiri hanya untuk mempelihatkan eksistensi dan arogansi diri sebagai manusia yang paling alim, paling baik dan paling benar di hadapan Allah.


“Banyakmu dalam perpecahan,tak akan pernah lebih baik dari sedikit dalam kebersamaan.”

Inilah umat Islam hari ini. Realita yang harus diterima dengan lapang dada. Mereka jumlahnya sangat banyak namun kekuatannya sangat ringan bagai buih-buih kapas, yang hanya dengan sekali kipas akan tercerai berai oleh arogansi dan penyakit wahn (cinta dunia & takut mati).

Inilah kaum Dajjal hari ini. Realita yang harus diterima dengan lapang dada. Mereka jumlahnya sangat sedikit namun memiliki kekuatan kebersamaan yang sangat besar dan solid dalam melakukan penindasan dan penipuan serta pembodohan massal, sehingga kita selaku korbannya menawarkan diri bahkan menjual jati diri dan harga dirinya demi kenyamanan dunia dan impian semu yang mereka tawarkan.

 

ummahloosing

Dan sebaik-baiknya jalan ialah hanya dengan melepaskan arogansi dan wahn yang ada di dalam diri, jadilah kaum fakir dunia yang menjalankan strategi sunnah meski dalam jumlah sedikit namun solid dan kokoh dalam kebersamaan yang hanya bersandar, tunduk, patuh, dan taat kepada Allah melalui petunjuk sebenar-benarnya petunjuk yang menjadi mukjizat bagi kita semua yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

“Sebatang lidi tidak akan pernah mampu untuk membersihkan debu-debu kotoran dunia yang mengelilingnya kecuali mereka berkumpul dengan sesamanya dan mengikat dirinya dalam tali persaudaraan yang berjalan harmonis dan penuh dengan cinta dan kasih sayang.”


Umar radiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

“Jadilah dalam satu Jamaah dan hindarilah firqah (Muslim sesat yang gagal/ acuh dalam mendirikan Jama’ah sebagai Jama’ah yang otentik) karena setan itu suka seseorang yang sendirian (tidak berjama’ah) dan jauh dari orang yang berdua (dan membentuk Jama’ah). Barangsiapa yang menginginkan harumnya surga haruslah membentuk Jamaah.” (Tirmidhi)

Ibnu Umar radiallahu ‘anhu menyatakan bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

“Perlindungan Allah hanya kepada Jama’ah. Barangsiapa yang keluar dari Jama’ah, akan dimasukkan ke dalam neraka.” (Tirmidhi)

Umar  radiallahu ‘anhu mengatakan:

“Tidak ada Islam tanpa Jama’ah; dan tidak ada Jama’ah tanpa kewajiban mendengarkan; dan tidak ada mendengarkan tanpa kewajiban untuk mentaati (Mishkat).”

Abu Daud menambahkan: “tidak ada Jama’ah tanpa adanya Amir.”

Harith Al-Ash’ari radiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

“Saya perintahkan kepada kalian untuk melakukan 5 hal: Dirikan Jama’ah, Mendengar, Mematuhi, Hijrah dan Jihad di jalan Allah. Barang siapa yang meninggalkan Jama’ah walaupun hanya sejengkal, telah melepaskan perlindungan Islam dari lehernya, kecuali jika dia kembali lagi (ke Jama’ah). Dan barang siapa yang menyerukan panggilan Jahiliyyah, seperti debu Jahannam. Walaupun jika dia puasa dan shalah dan oleh karena itu menganggap dirinya beriman (dia tetap akan masuk neraka).” (Ahmad Tirmidhi)

Abdulah Ibnu Umar (RAA) mengatakan bahwa Rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

“Barangsiapa yang melanggar sumpah setia dia akan bertemu Allah di Hari Qiyamat tanpa bukti (bahwa dia beriman); dan barangsiapa mati tanpa Bai’ah di lehernya, telah mati dengan status Jahiliyyah.” (Muslim)

Ibn Umar (RAA) menyatakan bahwa Rasul Allah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata;

“Barangsiapa mati dan terlepas dari Jama’ah, maka matinya adalah mati Jahiliyyah.” (Hilli, Tabarani)

Kebenaran hanya akan bisa diterima oleh hati yang baik, yang mampu melihat dan memahami, yang penuh dengan kesederhanaan diri dan kerendahan hati dalam menjalani peranannya sebagai makhluk yang bepikir.

Leave a Comment