Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 1)

In Epistimologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Saat ini kita sedang menyaksikan penghancuran dunia dalam skala global. Merupakan sebuah kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan penjelasan dan pemahaman mengenai hal ini dan apa-apa yang dapat kita lakukan. Oleh karena itu cendekiawan-cendekiawan dan sarjana-sarjana agama sedang berkompetisi untuk menyediakan jawabannya. Agama yang dapat menyediakan jawaban yang benar dan berguna akan menjadi legitimasi kebenaran agama itu bagi orang-orang yang mencari kebenaran.

Sarjana Muslim menempatkan Islam dalam posisi yang terpuruk karena memberikan alibi terhadap tersangka pelaku perusakan ini. Mereka mengatakan bahwa Yajuj dan Majuj, sebuah kekuatan perusak yang tak terkalahkan, masih terkungkung di balik sebuah penghalang.

Kepercayaan ini membuat Muslim terlihat sebagai orang yang paling bodoh, rumahnya akan segera roboh karena rayap telah menggerogoti dindingnya. Masih saja, orang ini dapat tidur di malam hari, berterima kasih kepada Allah karena laporan dari pembasmi hama yang mengatakan bahwa tidak ada satu rayap pun di rumahnya.

Allah subhanahu wata’aala berjanji akan menjaga Al-Qur’an. Namun Allah tidak berjanji untuk menjaga Hadist (laporan mengenai ucapan Muhammad SAW) atau tafsir(terjemahan/pengartian Al-Qur’an). Kebingungan mengenai Ya’juj dan Ma’juj (Gog and Magog) berasal dari dua sumber:

  1. Menerima kesalahan dan kekeliruan tafsir
  2. Menerima Hadist palsu atau kekeliruan penafsiran Hadist dimana Hadist itu berkontradiksi dengan Al-Qur’an.

Masalah yang kedua dapat diselesaikan dengan menggunakan prinsip bahwa Hadist yang benar hendaklah sesuai dan berdasarkan kepada Al-Qur’an. Sheikh Al-Islam Ibn Taymiyya (ra) adalah seorang sarjana Islam dibidang Al-Qur’an dan Al-Hadist. Beliau menghafalkan Al-Qur’an dan Al-Hadist, dan dapat mengeluarkan semua Hadist dan dasarnya di Al-Qur’an pada semua subjek. Beliau menggunakan dua prinsip diatas sebagai fatwanya dan dapat memberikan satu atau dua dasar di Al-Qur’an terhadap Hadist yang beliau sebutkan. Rasulullah SAW akan membacakan Hadist terhadap suatu permasalahan (yang merupakan keputusan, arahan, atau penilaian) kemudian membacakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai dasarnya. Para sahabat (ra) juga menggunakan prinsip yang sama.

Di lain pihak, tafsir mengenai Yajuj dan Majuj telah mengandung begitu banyak kesalahan dan salah penafsiran sedemikian rupa sehingga tidak ada satu kemungkinan-pun bahwa Yajuj dan Majuj belum terlepas ke dunia. Bagaimana tanggapan Al-Qur’an mengenai hal ini? Sebaiknya kita mulai meneliti hal ini dari awal, Sheikh Imran Nazar Husein telah melakukannya.

Di dalam buku ini, (baca; Pandangan Islam Mengenai Ya’juj Wa Ma’juj di Zaman Modern) – Sheikh Imran Nazar Husein menantang sarjana-sarjana Muslim yang beranggapan bahwa Yajuj dan Majuj belum terlepas ke dunia. Dia menunjukkan bahwa- walaupun anggapan itu berdasar pada satu Hadist, kepercayaan ini berkontradiksi dengan Al-Qur’an. Dia menunjukkan bahwa Yajuj dan Majuj telah lama terlepas di muka bumi ini, dia menunjukkannya dengan pengamatan dan fakta-fakta sejarah yang dia hubungkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Selama 25 tahun, saya telah melakukan penelitian tersendiri mengenai sifat dari penafsiran Al-Qur’an (semantik Al-Qur’an). Saya mendukung metodologi Sheikh Imran Nazar Husein dalam memahami Al-Qur’an di Bab Tiga pendahuluan ini. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia harus dipahami dengan ta’wil Al-Qur’an. Ta’wil adalah penggunaan pemahaman analogis dari ayat-ayat Al-Qur’an dalam hubungannya dengan data politik dan sejarah. Penglihatan ta’wil Sheikh Imran Nazar Husein yang begitu berharga bukanlah didapat dari kegiatannya yang bergelut dengan data-data tersebut, namun diperoleh karena adanya dengan nur di dalam hatinya yang didapat dari Allah SWT secara terus menerus. Sheikh Imran memiliki pandangan yang benar, bahwa ta’wil alegori harus ditelaah dengan serius dalam memahami masalah spiritual yang tidak memiliki data fisik.

Dalam bagian di bawah ini saya akan menunjukkan kepada anda prinsip-prinsip dari ta’wil dan semantik Al-Qur’an. Lalu saya akan menggunakan ta’wil ini untuk mengembangkan ta’wil yang baru dalam ayat-ayat mengenai Ya’juj dan Ma’juj serta pola dan karakter mereka. Sebagian besar ta’wil saya ternyata sama dengan dengan ta’wil dari Sheikh Husein mengenai perihal yang sama. Kedua ta’wil itu menunjukkan bahwa jika kita menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dalam memahami realitas, maka, dapat disimpulkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj telah lama terlepas ke dunia.

Yajuj-wa-Majuj

Royal Arcade Ya’juj Wa Ma’juj di Melbourne Australia

Ta’wil: prinsip-prinsip semantik Al-Qur’an

Untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an, orang harus mengetahui, bahwa Allah SWT, dan bukannya orang Arab, yang menciptakan bahasa Arab. Inilah mengapa orang-orang Arab tidak dapat membuat sebuah ayatpun yang dapat menyaingi ayat-ayat Al-Qur’an, bahkan jika hanya sebuah Surah yang pendek.

Cara Allah menggunakan bahasa Arab di dalam Al-Qur’an sangatlah berbeda dengan cara orang-orang Arab dalam menggunakan bahasa Arab. Bangsa Arab selalu membuat kesalahan dalam menggunakan termin-termin dalam bahasanya sendiri. Bahkan sastrawan-satrawan Arab, leksikografer (pembuat kamus), dan mufassirun (penafsir Al-Qur’an) sering salah faham, dan  salah pengertian dalam menggunakan bahasa Arab. Di lain pihak, Allah SWT, menggunakan bahasa Arab dengan sempurna dan jelas, suatu bahasa yang mengartikan dirinya sendiri (wa haadha lisaanun ‘arabiyyun mubiin, Al-Qur’an, An-Nahl, 16:103).

Oleh karena itu, pembelajaran penafsiran Al-Qur’an, semantik Al-Qur’an, harus berdasarkan kepada Al-Qur’an itu sendiri. Saya sudah lama mengembangkan teori-teori semantik Al-Qur’an. Baru-baru ini saya mengetahui bahwa, Dr. Fazlur Rahman Ansari (r. a) (guru dari Sheikh Husein), memiliki keyakinan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an membentuk sistem makna yang secara konsisten menghubungkan ayat-ayat itu satu sama lain, dan masing-masing berfungsi menjelaskan satu sama lain. Hal ini juga merupakan pengalaman yang sering saya temui.

Satu ayat yang diartikan dengan mandiri dan berdiri sendiri seringkali ambigu dan memiliki multi arti. Contoh, daraba berarti memukul, mengajukan argumen, memaksa, berjalan menuju, dan lain-lain. Semua arti-arti ini adalah rumus-rumus yang dapat digunakan dalam berbagai cara untuk membentuk sebuah model situasi (pukul batu itu dengan tongkat kamu, malaikat memukul muka mereka). Basis dari kecerdasan manusia adalah fleksibilitas dua dimensi seperti ini (multi arti, masing-masing dengan rumusan yang multi guna). Hal ini menyebabkan pikiran mengelana, menyelami dan meneliti. Inilah kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada Adam (a. s), dan karena kekuatan ini Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam (a. s) tanpa mempertimbangkan hormat.

Untuk membuat sebuah termin menjadi berguna (daraba), maka harus terjadi dua hal:

  1. Letakkan termin tersebut pada sebuah kontek yang akan membatasi maknanya. Letakkan termin ini pada sebuah kalimat (kontek). Sebagai contoh, wa daraba lanaa mathalan… (dia mengajukan argumen kepada kita dengan cara analogi [perumpamaan], Al-Qur’an, Yasin, 36:78). Isi kontek sering akan membatasi pilihan makna, dan mungkin hanya satu (mengajukan argumen). Namun dalam tahap ini, satu makna adalah rumusan yang luas dengan banyak tujuan kemungkinan aplikasinya (argumen yang belum diketahui tujuannya). Dalam tahap ini biasanya terlalu abstrak untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat.
  2. Hubungkan makna dari rumusan tadi kepada realitas (ta’wil). Dengan ijin Allah, seseorang dapat menghubungkan makna dari rumusan tadi sesuai dengan konteknya dengan realitas dan kenyataan di lapangan. Ayatnya kemudian mengatakan: wa nasiya khalqahu qaala man yuhyil ‘idhaama wa hiya rameem (dia lupa bagaimana penciptaan dirinya sendiri; dia berkata, “siapa yang dapat membuat tulang yang berserakan menjadi hidup (manusia)?”. Dengan menghubungkannya dengan situasi sebenarnya, rumusan makna (mengajukan argumen) menjadi bermanfaat. Sekarang kita dapat menggunakan rumusan yang baru untuk menjelaskan realitas (seseorang yang lupa akan penciptaan dirinya, mengajukan argumen analogis, mengenai mengubah tulang berserakan menjadi manusia), dan kemudian untuk menanganinya (memahami analogi tersebut dan menjadi jelas bahwa hal itu adalah salah). Hubungan antara rumusan makna dan realitas inilah yang disebut sebagai realisasi dari rumusan makna atau ta’wil.

Rumusan makna biasanya memungkinkan ditariknya ta’wil analogis: menghubungkan suatu hal di dunia realitas yang memiliki persamaan dengan rumusan makna. Inilah dasar dari pemahaman analogis yang merupakan alat utama dalam pemikiran dan jurispudensi. Dalam situasi realitas yang berbeda, rumusan makna yang sama bisa menghasilkan ta’wil yang berbeda, tergantung dari panduan yang kita terima dari Allah (nur).

Tergantung dari konteknya, ta’wil alegori merupakan pilihan yang tepat untuk digunakan: menghubungkan kepada sesuatu hal yang memiliki persamaan dengan rumusan makna namun memiliki realitas yang berbeda. Mimpi yang nyata dan rumusan makna spiritual seringkali merupakan sebuah alegori. Realitas spiritual berbeda dengan realitas fisik. Lagi pula, ta’wil alegori menjadi hal yang penting karena realitas dunia ini yang menipu dan tidak final (tidak dalam realitas akhirnya, mataa’ul ghuroor: melihat dan mengalami tipu daya). Realitas hanya dapat menjadi absolut faktual dan final di akhirat.

Namun Allah dapat menghalangi hubungan antara rumusan makna dan realitas sebenarnya. Ayat “fa darabna ‘alaa aadhaanihim fil kahfi sineena ‘adadaa” (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:11) diterjemahkan sebagai: Oleh karena itu, kami membuat mereka “tidur” di dalam gua untuk waktu yang lama (tahun) dengan melakukan “daraba”, sesuai yang tidak dijelaskan, yang terjadi pada telinga mereka. Ta’wil dari rumusan makna yang mustahil. Kita tidak diberitahu mengenai realitas (apa yang Allah lakukan) yang terjadi terhadap telinga mereka. Kita tidak dapat menghubungkan rumusan makna (darabnaa ‘alaa aadhaanihim, kami “memukul” atau “menutup rapat” atau “menempatkan sesuatu” pada telinga mereka) dan realitas tentang apa yang Allah lakukan kepada telinga mereka. Ayat seperti ini disebut mutashabih (memiliki realitas yang tidak sama dengan realitas kita). Hanya Allah yang mengetahui ta’wil dari ayat-ayat seperti ini. Ketika orang yang keras hati mengejarnya, mereka hanya dapat menebak-nebak saja, tebakan mengenai akhirat, sehingga mereka menciptakan sekte, dan konsep-konsep palsu atau kenabian palsu.

Semua topik-topik penting di dalam Al-Qur’an ditetapkan dalam suatu kontek atau beberapa kontek (ayat-ayat mengenai suatu topik) yang membatasi pilihan makna, dan memungkinkan kita untuk menghubungkan rumusan makna dengan situasi kenyataan atau realitas. Disinilah ta’wil menjadi mungkin. Bagian di bawah ini yang berjudul “Apa itu Fassad?” menjelaskan pendekatan ini.

Jika sebuah ayat memiliki ta’wil baik analogis maupun alegoris, maka ayat tersebut disebut muhkam (berarti: kokoh, Al-Qur’an, Al-Imran, 3:7). Makna dari ayat-ayat yang muhkam seringkali menimbulkan ta’wil analogis, dan sebagai konsekuensinya, kelanjutannya adalah pemahaman analogis. Namun dibeberapa ayat-ayat muhkam, hanya bisa dilakukan ta’wil alegori.

Ayat-ayat muhkam adalah dasar dari Al-Qur’an (ummul kitab). Ayat-ayat ini adalah bagian dari janji Allah yang akan menjaga Al-Qur’an. Ayat-ayat ini adalah kerangka kerja, sistem makna, yang menjaga dan mengatur ta’wil dari pesan-pesan dan peraturan-peraturan penting yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Allah menginginkan masing-masing Muslim, bukan hanya sarjana dan ulama, untuk menggunakan ayat-ayat muhkam dalam melakukan ta’wil, menghubungkan ayat-ayat itu kepada realitas kehidupan kita, dengan berdasarkan pada kamampuan mental kita, dan dengan cahaya (nur) dari Allah, dan dengan pertolonganNya (taufik), dalam rangka menilai realitas yang telah ditetapkan Allah (hukm bi maa anzalallah). Ini termasuk seluruh aspek realitas, tidak terbatas pada apa yang terdapat di kitab fiqih (penafsiran hukum).

Seperti apa yang telah diutarakan banyak sarjana Islam, pemegang kekuasaan Muslim, diharapkan dapat mengaplikasikan ayat-ayat muhkam kepada realitas politik dan sosial, dimulai dari masa Dinasti Umayyah. Oleh karena itu, seharusnya, saat ini sudah banyak tafsir yang harus disensor.

Jika Ya’juj dan Ma’juj di lepaskan di bumi sesaat sebelum masa Islam, bukankah mereka sudah akan mulai berusaha menghancurkan kekuatan Muslim? Rasulullah (SAW) mengatakan bahwa Umar (ra) adalah seperti pintu gerbang yang tertutup rapat diantara Muslim dan gelombang-gelombang fitnah (perlawanan terhadap kebenaran yaitu Islam, Yajuj dan Majuj), dan bahwa gerbang ini suatu saat ini akan dihancurkan dan tidak dapat ditutup kembali. Bukankah  Ya’juj dan Ma’juj telah menghancurkan pintu gerbang itu dengan membunuh Umar (ra)? Bukankah mereka akan mensensor semua diskusi dan literatur Islam mengenai Ya’juj dan Ma’juj seperti halnya Zionist mensensor semua diskusi, literatur dan media massa yang membicarakan mereka dengan menyebut hal itu sebagai anti semit?

Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 2) Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 3)

Oleh Dr. Tammam Adi

image_pdfimage_print

Leave a Comment