Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 2)

In Akhir Zaman, Epistimologi by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Yajuj dan Majuj: bangsa yang memiliki kekuatan menghancurkan dan berkemampuan menjadi satu-satunya adikuasa.

Imperium Nabi Dzulkarnain a. s adalah adikuasa yang tak terkalahkan dengan teknologi yang tak terbatas (innaa makkanna lahuu fil ardi wa aataynahu min kulli shay’in sababaa, Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:84). Dia mengalahkan semua bangsa yang ada saat itu, dari ujung Barat sampai ujung Timur, dimana ia menghargai mereka-mereka yang shaleh dan menghukum mereka-mereka yang menindas (tidak adil) dan tidak bermoral (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:85-91). Ketika dia sampai di suatu tempat, di sebuah celah di barisan gunung tinggi yang membatasi dua wilayah bumi (assaddain, Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:93), penduduk di daerah itu meminta dia untuk menolong mereka.

قَالُواْ يَـٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِنَّ يَأۡجُوجَ وَمَأۡجُوجَ مُفۡسِدُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَهَلۡ نَجۡعَلُ لَكَ خَرۡجًا عَلَىٰٓ أَن تَجۡعَلَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَهُمۡ سَدًّ۬ا

“Mereka berkata, ‘Wahai Dzulkarnain, [bangsa] Ya’juj dan Ma’juj adalah pelaku kerusakan di bumi [atau pelaku perusakan global, mufsiduuna fil ard]. Apakah kami harus menetapkan pajak untuk kamu agar kamu merubah (taj’ala) apa yang kini berada diantara kami dan mereka [barisan gunung tinggi, assaddain, yang memiliki celah diantara keduanya, sehingga tidak menjadikan barisan gunung itu satu kesatuan penghalang] menjadi sebuah penghalang [saddan, satu penghalang tanpa celah]?”

(Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:94)

Seseorang mungkin berpikir bahwa Dzulkarnain a. s akan menyerang Ya’juj dan Ma’juj dan menaklukan mereka seperti apa yang ia lakukan terhadap para penindas lainnya yang telah ia taklukan. Tetapi, dia tidak melakukannya dan menyetujui permintaan untuk merubah barisan gunung itu menjadi penghalang untuk Ya’juj dan Ma’juj dengan menambal celah yang terdapat di barisan gunung itu (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:95). Ini berarti bahwa Dzulkarnain a. s mengetahui bahwa Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat dikalahkan oleh manusia, walaupun oleh dirinya sendiri sebagai adikuasa dunia yang memiliki teknologi unggul yang tak terbatas. Ini juga berarti bahwa Ya’juj dan Ma’juj memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjadi satu-satunya penguasa dunia di kemudian hari. Di dalam Bab Empat buku ini (baca: Pandangan Islam tentang Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern), Sheikh Imran Nazar Hosein memasukkan keterangan ini dalam penjelasannya mengenai sifat dan profil dari Ya’juj dan Ma’juj.

Al-Radm: penghalang Ya’juj dan Ma’juj yang terdiri dari barisan gunung dan celah diantaranya yang ditambal oleh Dzulkarnain

Ya’juj dan Ma’juj hanya dapat bergerak keluar dari lingkungan mereka melalui celah yang berada diantara dua barisan gunung yang tinggi dan berbentuk seperti tembok penghalang (assaddain, Al-Qur’an, Al-Kahfi 18:93) dan menyerang tetangga mereka yang terletak di bagian lain dari dua barisan gunung penghalang itu.

Masyarakat yang menjadi korban ya’juj dan Ma’juj meminta Dhul Qarnain untuk merubah (taj’ala) celah memisahkan mereka dengan Ya’juj dan Ma’juj (baynana wa baynahum, barisan gunung yang memiliki celah sebagai jalan tembus) menjadi sebuah penghalang (saddan, Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:94). Dia menjawab: “aj’al baynakum wa baynahum radman,” saya akan menambal celah diantara kalian dan mereka (Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:95). Dzulkarnain a.s menutup celah di barisan pegunungan itu dengan besi yang dipanaskan dan dicairkan yang kemudian sesudah mengering dilapisi dengan perunggu yang dipanaskan dan dicairkan. Penghalang bagi Yajuj dan Majuj terdiri dari barisan gunung dan tambalan celah yang dibuat oleh Dzulkarnain a. s (Al-Radm).

Jika seseorang menggunakan sepatu yang ada tambalannya, kita mengatakan bahwa dia memakai radman (sesuatu yang ditambal). Karena kalimat, “aj’al baynakum wa baynahum radman” (saya akan merubah apa-apa yang berada diantara kalian dengan mereka menjadi sesuatu yang ditambal), akan sangat keliru jika kita menganggap radman adalah tambalannya saja. Tata bahasa yang keliru telah mengakibatkan banyak ulama dan peneliti mengambil kesimpulan yang salah. Klarifikasi di atas memungkinkan adanya ta’wil yang benar.

Di dalam Bab Lima buku ini (baca: Pandangan Islam tentang Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern), berdasarkan ta’wil dari Al-Quran, Surah Al Kahfi, 18:93-97 Sheikh Imran Nazar Hosein menunjukkan letak geografi lokasi dari radman ini. Barisan gunung bercelah itu terletak dibagian Timur dan Barat Pegunungan Kaukasus, yang dipisahkan oleh celah sempit yang disebut Daryal Gorge. Barisan Pegunungan Kaukasus membentang dari Laut Hitam di Barat dan Laut Kaspia di Timur.

Sebelum Islam, telah tercipta lubang besar – sebuah celah lebar terbentuk akibat dari merosotnya ujung pegunungan itu ke dalam Laut Kaspia

Allah menyatakan bahwa Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat memanjat tembok penghalang yang diciptakan Dzulkarnain itu (famastaa’uu an yazharoohu wa mastataa’uu lahuu naqba, AL-Qur’an, Al-Kahfi, 18:97). Dzulkarnain a. s mengetahui bahwa penghalang itu hanya bisa dijadikan perlindungan sementara. Dia berkata, atas kehendak Allah, “Penghalang ini [Al-Radm, barisan pegunungan yang ditambal] adalah rahmat dari Allah, namun ketika janji dari Allah datang, maka dia akan membuatnya menjadi dakkaa’ [dakkaa’ = ‘runtuh’ atau ‘hancur’]” (qaala haadha rahmatun min rabbii, fa idha jaa’a wa’du rabbii ja’alahuu dakkaa’, Al-Qur’an, Al Kahfi, 18:98).

Allah menjanjikan kepada setiap Nabi yang diutusNya bahwa Nabi yang terakhir diutusNya akan membawa Hukum terakhir (Al-Qur’an). Di dalam Taurat, hal ini disebut sebagai, ‘Janji Allah’. Janji Allah yang disebutkan oleh Dzulkarnain a. s adalah Dar Al-Islam. Beberapa dekade sebelum lahirnya Nabi terakhir, yaitu Muhammad (s. a. w), sekitar 550 M, ujung dari Pegunungan Kaukasus, yaitu di bagian Timur, merosot ke dalam Laut Kaspia sehingga terjadilah celah besar di sana. Yajuj dan Majuj menggunakan celah ini untuk menyerang Persia sebelum Islam. Umar (r. a) melancarkan invasi militer terhadap Ya’juj dan Ma’juj melalui celah ini juga.

Konfirmasi dari ‘Janji Allah’ adalah Islam terdapat di banyak Hadist, dimana disebutkan bahwa Islam dan khususnya Bangsa Arab akan menjadi target (wailun lil ‘arab) karena telah tercipta celah di radm (penghalang bertambal). Yang membuat takut Rasulullah (s. a. w) adalah besarnya lubang ini, yaitu: 90 satuan, atau 90 farsakh (1 farsakh = 3.5 mil). Celah ini cukup besar untuk menampung gelombang besar Ya’juj dan Ma’juj untuk keluar dan menghancurkan Jazirah Arab. Nubuah Allah terpenuhi: “Dan pada saat itu [ketika penghalang terbuka], Kami akan membuat mereka (Yajuj Majuj), bertabrakan satu sama lain seperti ombak di lautan (wa taraknaa ba’dahum yawma idhin yamuuju fii ba’d, Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:99).

Dalam ayat lain, Ya’juj dan Ma’juj dijelaskan, “keluar dari segala bukit/ ketinggian’ (min kulli hadabin yansiluun, Al-Qur’an, Al-Anbiya, 21:96). Penggunaan kata bukit (hadabin) dalam kontek ini sangat pas sekali dengan makna dari dakkaa’= reruntuhan bukit.

Celah besar di pinggir laut ini membuat tambalan Dzulkarnain a. s, menjadi tidak begitu penting. Tambalan ini akhirnya runtuh di kemudian hari dan celah sempit Daryal Gorge akhirnya terbuka. Ya’juj dan Ma’juj telah lepas untuk melakukan kehancuran dan kejahatan massal kepada umat manusia di akhir zaman ini.

Jamannya Yajuj dan Majuj

Ketika Allah menyatakan, “dan pada hari itu, Kami akan membuat mereka bertabrakan satu sama lain seperti ombak di lautan (wa taraknaa ba’dahum yawma idhin wamuuju fii ba’ad, Al-Qur’an, Al-Kahfi, 18:99), apa yang dimaksud Allah sebagai “hari itu”?

Satu ‘hari’ (yaum) dari waktu Allah-Hari Ilahiah-bukanlah 24 jam, namun sebuah masa yang berlalu selama seribu tahun kalender bulan atau lebih. Hari-hari suci memiliki tempo yang berbeda-beda, namun dalam pengertian umum, satu hari suci berlangsung 1000 tahun kalender bulan, satu millenium (wa inna yauman ‘inda rabbika ka alfi sanatin mimmaa ta’udduun, Al-Qur’an, Al-Hajj, 22:47). Di dalam Bab Tiga buku ini (baca: Pandangan Islam tentang Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern), Sheikh Imran N. Hosein mendiskusikan klasifikasi hari-hari suci. Al-Qur’an sendiri mengklasifikasikan dalam 3 hari suci, yaitu:

  1. Hari suci yang berlangsung selama 50.000 tahun kalender bulan dimana malaikat-malaikat naik ke hadapan Allah (Al-Qur’an, Al-Ma’aarij, 70:4). Surah Al-Ma’aarij menjelaskan apa yang terjadi di masa yang lama ini. Diantaranya adalah, orang-orang mereka bangkitkan dan mereka masukkan ke dalam neraka. Beberapa Mufassirun menyebutnya sebagai Yaumul Qiyamah, atau Hari Pembangkitan.
  2. Siklus manajemen suci yang terdiri dari dua hari suci: sebuah manajemen milleniumdimana Allah mengatur dan menjalankan perintahNya, dari tempatNya ke bumi, yang diikuti dengan akuntansi millenium dimana malaikat-malaikat menghadapNya untuk melaporkan mengenai perintah-perintah yang telah mereka jalankan sehingga manusia dapat dinilai dengan benar (yudabbiru al-amra minas samaa’I ilal ardi thumma ya’ruju ilayhi fii yaumin kaana migdaruhu alfa sanatin mimmaa ta’udduun, Al-Qur’an, As-Sadjah, 32:5)

Seperti apa yang telah dijelaskan tadi, munculnya Islam dan dilepaskannya Ya’juj dan Ma’juj ke dunia (sekitar 550 SM), keduanya terjadi di terbitnya satu hari suci. Dengan demikian, dapat diartikan sebagai satu manajemen millenium. Maka, millenium ini telah berakhir lima abad yang lalu dan saat ini kita berada di masa perhitungan/akuntansi millenium yang selalu mengikuti setiap manajemen millenium. Manajemen millenium telah di mulai 1.460 tahun kalender matahari atau 1.505 tahun kalender bulan yang lalu. Hanya Allah yang tahu kapan ‘jam terakhir’ (tahun-tahun akhir) akan datang. Mungkin pada saat perhitungan millenium, mungkin juga setelahnya.

Ya’juj dan Ma’juj saat ini menjadi adikuasa dunia, namun pada akhirnya mereka akan di hancurkan

Setelah 1.500 tahun lebih menyatu dengan Ya’juj dan Ma’juj seperti ombak di lautan, umat manusia saat ini ada yang mengadosi cara hidup mereka atau sekedar mengikuti mereka seperti hanyut di ombak yang deras. Saat ini sangatlah sulit untuk mengetahui siapa yang menjadi Ya’juj dan Ma’juj asli atau siapa yang sudah bergabung dengan mereka. Inilah dasar dari Hadist 999 dari setiap 1000 manusia di neraka adalah golongannya Ya’juj dan Ma’juj.

Ya’juj dan Ma’juj sudah keluar dari setiap ketinggian dan sudah menguasai setiap kedudukan penting, kedudukan yang memiliki kekuasaan (min kulli hadabin yansiluun, Al-Qur’an, Al-Anbiya, 21:96). Mereka sekarang adalah adikuasa di bumi. Adikuasa ini dibalik penampilannya adalah peradaban yang zalim (qaryatin zaalimatin), dan seperti peradaban yang zalim lainnya, akan dihancurkan menjelang datangnya jam ‘j’ atau tahun-tahun mendekati peralihan manajemen millenium (Al-hajj, 22:45-48).

Ya’juj dan Ma’juj mengerti betul arti namanya dalam bahasa Arab Ya’juuj wa Ma’juuj. Kata-kata ini adalah bentuk aktif dan pasif dari akar kata “hamza jiim jiim” (suara dari “a j j”). Satu-satunya kontek yang sama di dalam Al-Qur’an yang sesuai dengan akar kata ini, adalah penggunaan kata ujaaj yang berarti rasa dari asinnya air yang terbakar. Sehingga Yajuj dan Majuj adalah mereka yang membakar yang lainnya (Ya’juuj) dan mereka sendiri terbakar (Ma’juuj).

Mengapa Allah mengutuk Ya’juj dan Ma’juj dan juga seluruh umat manusia yang mengikuti gaya hidup mereka-yaitu untuk terbakar di neraka? Bagaimana seseorang mengenali gaya hidup Yajuj dan Majuj? Insya Allah, bagian selanjutnya akan dijelaskan dengan menggunakan ayat-ayat yang muhkam.(*)

Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 1) Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 3)

Oleh DR.Tamam adi

image_pdfimage_print

Leave a Comment