Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 3)

In Akhir Zaman by Hamba Allah0 Comments

Kampungmuslim.org – Apa itu fasad?

Ya’juj dan Ma’juj digambarkan sebagai mufsidun fil ard (Qur’an, Al-Kahfi 18:94). Saya dengan longgar menerjemahkan frase ini sebagai “para pelaku kerusakan di Bumi.” Mari kita lihat lebih dekat.

Mufsidun adalah kata jamak dari bentuk pelaku aktif, mufsid. Ini berarti “kaum yang secara kolektif melakukan sesuatu.” Dalam kasus ini, berarti kaum yang memiliki profesi atau gaya hidup kolektif yang menyebabkan kerusakan jenis tertentu yang disebut fasad. Kedua istilah itu, fasad dan mufsidun, berasal dari akar kata “fa sin dal” (bunyinya “f s d”). Jadi, fasad itu kerusakan jenis apa?

Allah menggunakan istilah-istilah yang berasal dari akar ini (yufsiduna, yufsidu, yufsida, tufsidu, al-mufsidin, dan lain sebagainya) dalam banyak ayat Al- Qur’an bersama dengan jenis perilaku tertentu. Di bawah ini adalah beberapa contoh ayat yang menggunakan rumus fasad. Tolong perhatikan bahwa kata kerja bentuk jamak menunjukkan aktivitas sosial atau kolektif. Juga, sandangan al dan struktur tata bahasa tertentu menunjukkan bentuk komprehensif atau totalitas. Ini mirip dengan “semuanya” atau “seluruhnya.”

  1. Fasad religius. Pelanggaran dengan terang-terangan seluruh Perjanjian Tuhan oleh suatu kaum yang telah bersungguh-sungguh melaksanakan perjanjian itu (yanquduna ‘ahda Allaahi min ba’di mitsaaqihi . . . wayufsiduna fil ard, Qur’an, al-Baqarah 2:27). Ketika suatu sekte yang memiliki disiplin ketat atau agama ortodoks secara sistematis melanggar hukum dalam kitab suci mereka sendiri, ini disebut fasad. Perilaku ini menghancurkan kehidupan Akhirat kaum tersebut.
  2. Fasad hubungan keluarga. Pemisahan secara sistematis seluruh hubungan keluarga (yaqta’una ma amara Allahu bihi an yusala wa yufsiduna fil ard, Qur’an, al-Baqarah 2:27). Ini berarti memisahkan istri dari suami, anak dari orang tua, saudara dari saudara lainnya, dan sebagainya.
  3. Fasad genosid. Pembunuhan massal (yufsidu fiha wa yasfikud-dimaa’, secara harfiah berarti, “menumpahkan seluruh darah,” Qur’an, al-Baqarah 2:30).
  4. Fasad pertanian. Perusakan atau peracunan sistematis seluruh hasil panen (li yufsida fiha wa yuhlika al-harts, Qur’an, al-Baqarah 2:205). Ini termasuk, misalnya, merusak seluruh sistem pertanian atau rekayasa genetik dan memasukkan racun ke dalam benih.
  5. Fasad kepada keturunan (nasl). Perusakan sistematis seluruh reproduksi manusia atau pembunuhan massal seluruh anak (li yufsida fiha . . . wa yuhlika . . . an-nasl, Qur’an, al-Baqarah 2:205).
  6. Fasad ekonomi. Suatu sistem perdagangan yang membolehkan pihak yang kuat dapat membayar orang-orang pekerja di bawah harga yang pantas atau menolak hak-hak mereka (fa awful kayla wal mizaana wa la tabkhasu an- naasa ashya’ahum wa la tufsidu fil ardi ba’da islaahiha, Qur’an, al-A’raaf 7:85).
  7. Fasad sodomi. Penerimaan praktik homoseksualitas secara sosial (ta’tuna ar-rijaala . . . al-mufsidin, Qur’an, al-‘Ankabut 29:29-30). Ini mencapai puncak dengan “pernikahan gay” dan meruntuhkan sistem pernikahan yang sebenarnya.

Maka, Fasad berarti perusakan kehidupan manusia secara sengaja dan sistematis dengan pembunuhan massal atau dengan perusakan kunci unsur kehidupan, termasuk kehidupan akhirat. Ya’juj dan Ma’juj disebut mufsidun, namun tidak ditentukan jenis fasad secara khusus. Maka, mereka adalah suatu kaum dengan profesi atau gaya hidup kolektif menciptakan dan mempraktikkan semua jenis fasad. Mereka sungguh mendapat murka Allah dan layak dibakar di dalam Neraka. Mereka adalah jenis masyarakat yang disebut sebagai almaghdubi ‘alayhim (orang-orang yang mendapat murka Allah) dalam surat al-Fatiha.

Telah banyak jenis fasad yang dapat diamati dan dalam skala global, dan fasad genosid adalah salah satu yang telah meningkat dalam beberapa abad terakhir, ini tentunya adalah hasil perbuatan Ya’juj dan Ma’juj. Namun, bagaimana mereka berhasil mengajak manusia untuk mengikuti perbuatan-perbuatan individu dan kolektif yang mengerikan itu?

Profil Ya’juj dan Ma’juj dan kelompok-kelompok fasad yang mereka kendalikan

Pada permulaan Al-Qur’an Surat al-Baqarah, Allah melukiskan sekelompok masyarakat yang secara kolektif melakukan fasad. Dia menggambarkan pernyataan misi palsu, keyakinan aneh, modus operandi, struktur organisasi, dan Dia bahkan menamakan dalang rahasia mereka. Pada akhirnya, ayat-ayat ini menggambarkan Ya’juj dan Ma’juj dan kelompok fasad lain yang bekerja untuk mereka.

  1. Front agama palsu. Kelompok ini dengan tipu daya berpura-pura beriman kepada Allah dan Hari Akhir (wa minan naasi man yaqoolu aamanna billahi wa bilyawmil aakhiri wamahum bi mu’minin, yukhaadi’una Allaha walladzina aamanu . . . Qur’an, al-Baqarah, 2:8-9, 14).
  1. Kepercayaan kuat yang tidak biasa. Kelompok ini terlalu sombong untuk berbagi keimanan dengan orang-orang biasa yang mereka anggap “bodoh” (wa idza qila lahum aaminu kamaa aamanan naasu qaalu anu’minu kamaa aamanas sufahaa’, Qur’an, al-Baqarah 2:13).
  1. Gangguan secara mental. Anggota kelompok ini memiliki penyakit mental dan spiritual (penyakit hati) yang dibuat Allah menjadi lebih parah (fi qulubihim maradun fazaadahumu Allahu maradaa, Qur’an, al-Baqarah 2:10). Ini mungkin termasuk logika bengkok, ritual-ritual aneh, dan perilaku seksual yang tidak wajar.
  1. Pernyataan misi positif. Kelompok ini dengan sesat mengklaim memiliki misi positif, konstruktif untuk masyarakat (wa idzaa qila lahum la tufsiduna fil ardi qaalu innamaa nahnu muslihun . . . Qur’an, al-Baqarah 2:11-12).
  1. Pertemuan-pertemuan rahasia, konspirasi. Pemimpin-pemimpin kelompok ini secara rutin mengadakan pertemuan rahasia dengan pimpinan atas untuk memperbarui aliansi dan membahas berbagai kegiatan (wa idza khalaw ilaa shayaatinihim qaalu innaa ma’akum . . . Qur’an, al-Baqarah 2:14, lihat juga 2:76 dan Ali ‘Imraan 3:119-120).
  1. Pimpinan atas mereka adalah “para setan”. Pemimpin-pemimpin kelompok melapor kepada pimpinan atas yang diidentifikasi Allah sebagai para setan (wa idza khalaw ilaa shayaatinihim . . . Qur’an, al-Baqarah, 2:14). Ini adalah penyebutan pertama istilah “setan” dalam Al-Qur’an. Hal itu terjadi dalam bentuk jamak. Dalam dua bagian selanjutnya, saya akan membahas siapa para setan ini dan bagaimana mereka merekrut, memotivasi, dan memimpin kelompok-kelompok fasad yang bekerja untuk Ya’juj dan Ma’juj.

Para Setan: Pemimpin-pemimpin Kharismatik dengan gaya bicara yang manis dan menipu

Selain Setan (Iblis, leluhur bangsa jin), penipu hebat (al-gharur), Allah menunjuk para setan dari bangsa manusia dan jin sebagai dalang yang menentang para nabi (wa laqad ja’alnaa likulli nabiyyin ‘aduw-wan shayatina al-insi wal- jinn, Qur’an, al-An’am 6:112). Para setan ini menginspirasi (yuhi, berbicara secara rahasia atau secara tidak langsung) satu sama lain dengan bahasa emas (zukhrufal qawli) yang digunakan sebagai alat penipuan (ghurura). Hati dan pikiran (qulub) orang-orang yang tidak beriman kepada Akhirat (al-aakhirah) akan mendengarkan bahasa tersebut, menerimanya, dan sebagai akibatnya melakukan dosa apapun yang mereka lakukan (Qur’an, al-An’aam 6:113).

Siapa para dalang fasad ini?

gog-magogwars

Pimpinan atas Ya’juj dan Ma’juj dan kelompok-kelompok aliansi fasad berasal dari Sebagian Bani Israel

Dalam deskripsi lain pertemuan-pertemuan rahasia kelompok fasad, para pemimpin kelompok dan pimpinan atas (para setan) diidentifikasi milik kelompok yang sama (“saat mereka mengadakan pertemuan rahasia dengan satu sama lain,” wa idzaa khalaa ba’duhum ilaa ba’d qaalu atuhadditsunahum bimaa fataha Allahu alaikum . . . Qur’an, al-Baqarah 2:76).

Siapakah kelompok ini?

Konteks di sini adalah suatu kelompok yang berkonspirasi menolak Islam meskipun Taurat mendeskripsikan dengan tepat tentang nabinya. Kelompok ini diidentifikasi sebagai Bani Israel yang perilaku fasadnya tidak berubah sepanjang zaman (Qur’an, al-Baqarah 2:40-73) dan tidak akan berubah hingga masa yang akan datang (hati telah manjadi batu, tidak akan pernah beriman kepada Qur’an, al-Baqarah 2:74-75). Perilaku konspirasi mereka dicirikan dengan insiden sapi (Qur’an, al-Baqarah 2:67-73): Allah memerintah mereka untuk menyembelih seekor sapi lalu memukul tubuh korban dengan bagian sapi yang telah disembelih itu. Sang korban kembali hidup untuk sementara waktu lalu menyebutkan para pembunuhnya (qataltum nafsan, kalian [bentuk jamak] telah membunuh seseorang). Seluruh masyarakat Bani Israel telah berkonspirasi untuk menutupi siapa pelaku pembunuhan itu (wallahu mukhrijun ma kuntum taktumun, dan Allah akan mengungkap apa yang kalian [bentuk jamak] tutupi).

Dalam Al-Qur’an, Bani Israel (Banu Israil) pun disebut sebagai umat Yahudi (al-yahud) atau Ahli Kitab (ahl al-kitab). Istilah terakhir ini pun berlaku untuk umat Kristen. Kadang-kadang konteks Al-Qur’an menentukan umat mana yang dimaksud, namun kadang-kadang istilah itu dimaksudkan untuk kedua umat. Allah pun memberitahu kita bahwa “sekelompok di antara Ahli Kitab” (konteks di sini berarti bahwa kelmpok ini adalah seluruh umat yahudi atau sekelompok di antara mereka) meninggalkan Taurat dan sebagai gantinya menganut lantunan-lantunan para setan dari bangsa jin (ma tatlu ash-shayaatin, Qur’an, al-Baqarah 2:101-102). Lantunan-lantunan ini mungkin dimasukkan ke dalam kitab Talmud, salah satu kitab suci Yahudi.

Lebih dari itu, Allah memberitahu kita bahwa seluruh umat Yahudi (al-yahud) secara kolektif bekerja keras (yas’awna, bentuk jamak) untuk menciptakan fasad (wa yas’awna fil ardi fasadan, Qur’an, al-Ma’idah 5:64). Ini termasuk fasad religius dan semua jenis fasad lainnya. Ahli Kitab yang saleh (orang-orang yahudi yang saleh), sebagai pengecualian dalam ayat ini, adalah orang-orang yang menerima Al-Qur’an (Ali ‘Imran 3:113-115).

Berdasarkan argumen-argumen di atas, saya menyimpulkan bahwa para setan dari bangsa manusia yang memimpin Ya’juj dan Ma’juj dan kelompok-kelompok fasad yang bekerja untuk mereka pasti berasal dari Bani Israel yang mengikuti lantunan-lantunan para setan dari bangsa jin. Dalam bagian sebelumnya, saya telah menegakkan dasar hubungan antara Ya’juj dan Ma’juj berdasarkan Al-Qur’an. Hubungan ini penting untuk pembahasan kumpulan ayat-ayat kedua yang menyebutkan Ya’juj dan Ma’juj.

Yajuj dan Majuj telah berhasil membawa Banu Israel kembali ke “kota mereka” yaitu Jerusalem

Di dalam Surah Al-Anbiya, ayat 21:95-97, Allah menyebutkan sebuah kota yang berhubungan dengan Yajuj dan Majuj.

وَحَرَٲمٌ عَلَىٰ قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَـٰهَآ أَنَّهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ (٩٥)  حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتۡ يَأۡجُوجُ وَمَأۡجُوجُ وَهُم مِّن ڪُلِّ حَدَبٍ۬ يَنسِلُونَ (٩٦)  وَٱقۡتَرَبَ ٱلۡوَعۡدُ ٱلۡحَقُّ فَإِذَا هِىَ شَـٰخِصَةٌ أَبۡصَـٰرُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَـٰوَيۡلَنَا قَدۡ ڪُنَّا فِى غَفۡلَةٍ۬ مِّنۡ هَـٰذَا بَلۡ ڪُنَّا ظَـٰلِمِينَ (٩٧)

Kota itu telah dihancurkan dimana Al-Qur’an menyatakan bahwa penduduk kota itu dilarang kembali ke kota itu sampai syarat-syarat berikut ini terpenuhi:

  1. Ya’juj dan Ma’juj telah dilepaskan ke bumi.
  2. Ya’juj dan Ma’juj telah menyebar ke seantero bumi. “Min kulli hadabin yansiluun” yang setidaknya memiliki realisasi berikut ini:
  • Ya’juj dan Ma’juj telah beranak pinak dengan keturunan setiap keluarga bangsawan, raja-raja, atau elit penguasa di muka bumi.
  • Ya’juj dan Ma’juj telah menyusup ke dalam setiap organisasi (hadab = struktur yang ditinggikan, organisasi).
  • Ya’juj dan Ma’juj turun dengan cepat dari setiap ketinggian atau bukit, konteks ini berarti (melakukan serangan atau melakukan peperangan di semua penjuru bumi).

Prasyarat ini telah menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj telah membantu orang-orang dari kota yang telah dihancurkan itu untuk kembali ke kota itu lagi. Di dalam Bab Enam, Sheikh Imran Husein berhasil menghubungkan ayat-ayat ini kepada sejarah Jerusalem modern. Dia menunjukkan bahwa Banu Israel telah kembali ke Jerusalem dimana dahulu kala mereka telah terusir dari Jerusalem, ketika kota itu dihancurkan, dan mereka dikejar-kejar di seluruh penjuru bumi. Sehingga ayat-ayat ini menjelaskan mengapa Negara Yahudi Israel diciptakan dan kenyataan bahwa Banu Israel dipaksa untuk kembali ke Jerusalem. Sheikh Husein dengan benar beragumen bahwa mereka yang telah berkonspirasi membawa kembali Banu Israel ke Jerusalem adalah Yajuj dan Majuj.

Fakta bahwa pemimpin dari Yajuj dan Majuj adalah sebagian dari Banu Israel menjelaskan motivasi ini.

Ketika Yajuj dan Majuj telah menyelesaikan misi khusus ini, maka, Janji Kebenaran (Al-Wa’ad Al-Haqq, atau jam ‘j’, hari pembalasan) telah dekat. Ini berarti kembalinya Yesus atau Isa (as) untuk yang kedua kalinya setelah ditolak bahkan direncanakan untuk disalib oleh Banu Israel. Maka jika saat itu tiba, mereka yang tidak beriman pada misi Yesus akan menatap dia dengan mata terbuka lebar pada kebenaran (shaakhisatun absaarul ladhiina kafaruu) dan menyadari bahwa sudah terlambat bagi mereka untuk menghindari murka Allah.

Argumen Sheikh Imran Husein bahwa kota itu adalah Jerusalem berdasarkan kepada yang berikut ini. Allah telah menyatakan bahwa Banu Israel akan menguasai bola bumi sebanyak dua kali dan sebanyak dua kali pula melakukan fasaad (Al-Qur’an, Al-Isra, 17:4-8). Saat pertama kali mereka berkuasa telah lama terjadi (wa kaana wa’dan maf’uula: dan ini adalah sebuah nubuah yang sudah dilaksanakan). Saya mengajukan kepada anda pada kenyataan bahwa saat ini kita akan menyaksikan Banu Israel menjadi penguasa bumi untuk yang kedua kalinya (kalimat “wa’dul aakhirati” di dalam ayat ini berarti “pemenuhan janji yang terakhir [naik menuju kekuasaan]”). Seperti dinubuahkan ayat berikutnya ketika ‘naik menjadi penguasa’ untuk yang kedua kalinya terjadi, Banu Israel akan dibawa ke Jerusalem dari berbagai negara oleh ‘pihak lain’ (fa idhaa jaa’a wa’dul aakhirati ji’naa bikum lafiifa, Al-Qur’an, Al-Israa, 17:104).

Dajjal (Mesiah Palsu), pemimpin tertinggi Yajuj dan Majuj

Saya telah beragumen sebelumnya bahwa pemimpin dari Yajuj dan Majuj pasti berasal dari golongan Banu Israel yang berkitab buatan setan dari golongan jin. Salah satu dari mereka pastinya menjabat sebagai pemimpin yang tertinggi. Hadith mengkonfirmasi hal ini dan merujuk pada personifikasi Yahudi yang dikenal sebagai Al-Masih (Mesiah) Ad-Dajjal (Pembohong, Peniru, Mengaku-aku) atau Mesiah Palsu (mereka menolak Mesiah yang asli yaitu Yesus atau Isa alaihissalaam). Rasulullah (saw) menemukan dan mengidentifikasi dia sebagai Ibn Sayyad, seorang pemuda Yahudi yang bermukim di Medinah. Hadith juga memberitahu kita bahwa Dajjal saat itu juga berada di tempat lain, yaitu di sebuah pulau tertentu. Menjadi jelas bahwa Dajjal tampil dalam berbagai bentuk, tahapan dan berbagai dimensi waktu. Di dalam bukunya, “Jerusalem di Dalam Al-Qur’an” Sheikh Husein menjelaskan tahapan-tahapan yang dilalui Dajjal di bumi.

Yajuj dan Majuj sudah menyusup ke golongan-golongan agama

Berdasarkan penjelasan di Al-Qur’an mengenai karateristik dan struktur dari kelompok-kelompok pelaku fasaad, Ibn Mas’ud (ra), sahabat Rasulullah (saw) mengatakan bahwa golongan-golongan Islam yang muncul pada masa beliau sebagai “Yahudinya Islam”. Yang beliau maksud adalah bahwa karateristik yang ditunjukkan oleh golongan-golongan Islam itu menyerupai dan sama persis dengan karateristik-karteristik kelompok-kelompok pelaku fasaad dari Banu Israil. Hadist memberitahu kita bahwa semua golongan-golongan Islam itu akan masuk neraka. Hanya mereka yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang akan selamat.

Di dalam Bab Satu Sheikh Husein menantang semua golongan-golongan Islam untuk menjelaskan permasalahan Yajuj dan Majuj.Golongan-golongan tertentu dari Nasrani, Hindu, Budha, Atheis dan Politeist juga bermanifestasikan perilaku kelompok-kelompok pelaku fasaad.

Sehingga lumrah adanya jika golongan-golongan sub agama ini bersekutu dengan golongan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan tertinggi, yaitu kawanan Yajuj dan Majuj. Mungkin ketika kita berbicara saat ini, para pemimpin-pemimpin golongan-golongan itu sedang berkoordinasi dengan Dajjal.

Mungkin inilah alasan mengapa Allah melarang Muslim untuk berteman dan bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani. Allah memperingatkan bahwa mereka itu teman dan sekutu satu sama lain (ba’duhum awliyaa’u ba’d, AL-Qur’an, Al-Maidah, 5:51). Sheikh Imran Husein mengenali bahwa peradaban modern Eropa (Barat) saat ini adalah persekutuan dan aliansi dari Yahudi dan Nasrani yang dimaksud dan merupakan pertubuhan dan manifestasi dan jati diri dari Yajuj dan Majuj.

Implikasi

Sheikh Imran Husein menerawang secara spiritual yang dalam sekali mengenai konsekuensi politik, ekonomi, dan sosial dari keluarnya Yajuj dan Majuj ke bumi. Saya percaya pertanyaan penting yang harus dijawab saat ini adalah: Bagaimana kita dapat menolak ucapan manis yang keluar dari mulut setan untuk turut serta yang mereka lakukan yang tampak sebagai reformasi, perubahan dan kemajuan, namun pada realitasnya suatu kejahatan fasaad merusak aspek-aspek kehidupan manusia. Surah Al-Kahfi menawarkan jawaban: mundur dari kota-kota. Hadist juga menawarkan solusi yang sama. Di dalam Bab Tujuh, Sheikh Husein menawarkan konsep, “Kampung Muslim”.

Integritas kolektif Muslim sebagai kesatuan ummah dan jamaahnya Muhammad (saw), sudah lama dihancurkan. Kalifah Islam (pemerintahan pusat) tidak dapat didirikan kembali selama Yajuj dan Majuj memegang kekuasaan penuh di muka bumi. Surah As-Saff, 61:1-14, menjelaskan sejarah bumi dan peristiwa-peristiwa di masa yang akan datang. Mereka, yaitu bagian dari Banu Israil, yang telah melawan Musa (as) dan Isa (as) akan berusaha dan bersusah payah untuk memadamkan cahaya Allah. Mereka menawarkan Mesiah Palsu sebagai pengganti Isa (as). Pasukan Yajuj dan Majuj mereka telah menguasai seluruh kolong jagat. Namun Imam Al-mahdi (as) akan memulai perlawanan pertama, dan Isa (as) yang akan mengakhirinya. Kemudian dia akan memerintah bumi dari Jerusalem berdasarkan Islam.

(*)

Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 1) Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern (Bagian 2)

Oleh DR. Tammam Adi | Disadur dari pengantar buku Pandangan Islam tentang Ya’juj dan Ma’juj di Zaman Modern oleh Sheikh Imran Nazar Hosein

Buku Pandangan Islam tentang Ya'juj Ma'juj di Zaman Modern

Silahkan klik tombol di bawah ini untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang ilmu dan pemahaman Islam mengenai peranan Ya'juj dan Ma'juj di Zaman Modern yang telah diperingatkan oleh Allah dalam Kitab-Nya Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam.

image_pdfimage_print

Leave a Comment