Memahami Penetapan Waktu Shalat, Sahur dan Berbuka Puasa

In Islam, Metodologi by Hamba AllahLeave a Comment

Tema ini sebenarnya sudah kami bahas dan diskusikan sejak 4 tahun yang lalu, namun admin belum sempat mendokumentasikannya dalam bentuk artikel sehubungan dengan proses pembuktian yang kami lakukan di lapangan dan di realitas kehidupan yang kami jalani selama dalam proses implementasi dari Ilmu Akhir Zaman yang kita pelajari ini.

Selama ini, dalam melaksanakan ibadah Shalat dan Puasa, serta penanggalan Islam dalam bentuk kalender hijriah dan penanggalan umum dalam bentuk kalender masehi, mayoritas dari kita hanya menerima apa-apa yang disuguhkan oleh sistem yang sedang berjalan otomatis di sekitar kita. Dimana hal tersebut sangat berpengaruh pada penentuan waktu shalat, sahur dan berbuka puasa kita yang cenderung berbasis kepada jam mekanis yang diatur oleh pihak yang ditunjuk oleh pemerintah, yang intinya adalah jadwal dari waktu yang kita terapkan harus disesuaikan dengan kalender matahari, kalender Islam, jam mekanis, dll. Sedangkan Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya petunjuk bagi mereka yang berpikir, dan Al-Qur’an telah memberikan pemahaman bagi kita semua bahwa penanggalan dalam Islam tidak bisa dikalenderkan secara default (tetap) dan penentuan waktu shalat, sahur dan berbuka puasa kita, juga tidak bisa ditentukan oleh jam mekanis.


Mengapa demikian?

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu… 

Al-Qur’an Surah At Taubah ayat 36

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).


Al- Qur’an Surat Ibrahim ayat 33-34.

Ayat diatas menjelaskan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia sehingga sebagai orang yang beriman, kita harus mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu memegang peranan yang penting dalam kehidupan sehingga Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban dari setiap manusia untuk waktu yang telah diberikan Allah SWT kepada setiap hamba-Nya.  Dari sini sudah jelas bahwa setiap insan memiliki tanggung jawab masing-masing dalam dirinya untuk mengenal dan memahami segala hal yang berhubungan dengan waktu itu sendiri.


Kalender Hijriah (Lunar Calendar)

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari.

Penentuan dimulainya sebuah hari dan tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (BulanBumi dan Matahari).

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal. Dan rukyat hilal ini bisa disaksikan dengan kasat mata.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. 

Jadi, kesimpulan sementara yang dapat kita ambil dari penjelasan di atas adalah waktu yang digunakan Islam tidaklah tetap dan dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi alam dan tentu saja letak geografis dari wilayah (daerah) dimana kita berada. Itulah mengapa rukyat hilal kasat mata adalah sebaik-baiknya ukuran bagi kita dalam menentukan waktu. Namun umumnya yang terjadi saat ini adalah, penetapan kalender hijriah umumnya tidak lagi mengikuti hilal kasat mata tersebut, melainkan mengikuti ketetapan global yang ada, sedang kita berada di wilayah yang jarak waktunya tentu saja berbeda beda.

Rukyat Hilal Kasat Mata Ramadhan 1440H yang tampak pada waktu Magrib 6 Mei 2019 di pesisir barat Lampung.

Di gambar di atas kita bisa saksikan bagaimana hilal mulai muncul pada waktu Magrib 6 Mei 2019 yang menandakan bahwa kita telah memasuki awal bulan Ramadhan dan puasa kita pun dimulai pada hari selasa 7 Mei 2019, sedang pemerintah kita melalui Kementrian Agama mengumumkan bahwa versi mereka adalah awal bulan Ramadhan ditetapkan pada tanggal 6 Mei 2019. Namun semua yang berhubungan dengan hal ini tergantung dari keyakinan yang kita pahami dan juga tergantung dari keputusan yang kita tentukan kepada pihak manakah yang akan kita ikuti dalam penentuan waktu bulan hijriah ini. Dan tentu saja mengenai kepastian akan kebenarannya, semuanya tidak terlepas dari kebijaksanaan Allah yang Maha Kuasa. Kami di sini hanya menyampaikan sebuah opini yang berbentuk opsi sederhana bahwasanya kita telah diberikan kemampuan oleh Allah untuk memahami dan melihat serta mengukur sendiri penetapan waktu yang ada di dalam kehidupan kita.


Tentang Waktu Shalat, Sahur dan Berbuka Puasa

Berdasarkan Al-Quran, waktu Subuh atau Fajr, dan waktu Maghrib dilihat dengan bahasa simbolis dari perbedaan antara benang hitam dan benang putih.

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.

Al-Qur’an Surah Al Baqarah ayat 187

“Sesungguhnya maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang”


[HR. Al-Bukhari IV/113, Muslim no.1090]

Benang putih dari benang hitam yakni Fajar, sebaliknya benang hitam dari benang putih adalah Magrib. Secara kontras benang hitam itu berbeda dengan benang putih yang menggambarkan siang dan malam. Selang antara waktu keduanya adalah Fajar dan Maghrib. Ketika gerakan reformasi Islam yg mengikuti kaidah-kaidah modern, mereka menentukan waktu Fajar dan Maghrib. Dan ini berdasarkan alat yakni jam mekanis. Padahal pembagian waktu siang hari dan malam hari sesungguhnya tidak dalam periode waktu yang sama. 12 jam itu tidak sama, di hari kemarin, sekarang dan besok. Belum lagi di daerah belahan bumi yg lain. Jadi setiap daerah (wilayah) itu memiliki ketetapan waktu yang berbeda-beda. Contoh, Palangkaraya dan Makassar yang dikategorikan dalam waktu Indonesia Tengah, telah ditetapkan bahwa jam 18.00 adalah memasuki waktu magrib, sedang benang hitam dan benang putih justru belum tampak di wilayah Palangkaraya, meski di Makassar telah tampak.

Terminologi astronomi untuk Fajar adalah Pseudo atau False Dawn dan True Dawn. Yaitu Fajar Palsu dan Fajar Asli. Di langit fenomena Fajar Palsu disebut cahaya zodiak dimana cahaya matahari terpancar ke langit, namun mataharinya tak tampak, yakni di balik atau di bawah horizon, di langit gugusan bintang terlihat jelas, dan latar belakang alam semesta berwarna biru kehitaman. Lihat gambar di bawah ini

Pseudo atau False Dawn (Fajar Palsu).

Momen ini belum masuk Subuh, melainkan masih malam atau benang hitam dan ini adalah akhir malam. Makanya disebut Fajar Palsu atau Pseudo Dawn. Terjadi kurang lebih 1 jam sebelum waktu fajar asli. Cahaya zodiak adalah cahaya putih samar, difus, dan berbentuk segitiga yang terlihat di langit malam dan tampak memanjang dari arah Matahari dan sepanjang zodiak, mengangkangi ekliptika. Sinar matahari yang disebarkan oleh debu antarplanet menyebabkan fenomena ini.

Lalu kapan waktu Fajarnya (Subuh)? Yaitu ketika latar belakang langit semesta sudah hilang, gugusan bintang dan debu bintang sudah hilang, dan langit berwarna oranye dan cahaya matahari mendominasi namun matahari masih di balik cakrawala. Lihat gambar di bawah.

True Dawn (Fajar Asli).

Ketika langit sudah mulai terang, dan matahari telah muncul dari garis horizon, itu tandanya sudah masuk ke wilayah benang putih, alias menuju waktu siang. Sebaliknya ketika matahari mulai tergelincir ke bawah garis horizon, itu tandanya sudah masuk ke wilayah benang hitam, alias menuju waktu malam. Momen inilah yang disebut magrib bagi umat Islam. Perhatikan gambar di bawah.

Untuk memahami posisi matahari dalam 24 jam yang berkaitan dengan waktu shalat, sahur (sebelum fajar/subuh) dan berbuka puasa (magrib) kita, silahkan perhatikan gambar di bawah ini:

Dari sini, kita semua seharusnya mulai menyadari bahwasanya tidak saja selama ini kita melanggar waktu puasa, juga waktu shalat kita setiap hari karena terbiasa untuk mengikuti jam mekanis. Seringkali adzan berkumandang dan ramai umat shalat berjamaah Magrib di saat matahari masih berada di atas garis horison, hanya karena aturan jam mekanis yang menentukan bahwa telah masuk waktu Magrib, begitupula dengan Subuh (Fajr) dan lainnnya. Sedang Allah dengan segala Kebijaksanaan-Nya telah memberikan akal dan kemampuan bagi diri kita masing-masing untuk mengetahui mekanisme waktu yang tepat dalam menjalankan Shalat dan Puasa kita, yang bisa kita dapatkan melalui pengamatan eksternal (kasat mata) kita. Dan tahukah kita, bahwasanya Allah telah menciptakan alam semesta dan seluruh makhluk hidup di dalamnya ini dengan sebaik-baiknya dimana semuanya dapat berkomunikasi dan melakukan shalat yang berjalan sesuai dengan fitrahnya masing-masing?

Ayam jago ketika memasuki waktu Fajr (subuh), ia akan berkokok dan burung kutilang mulai berkicau. Ketika memasuki waktu Dhuha, Zuhur, dan Ashar, Ayam jago juga akan berkokok, sedang ketika waktu magrib tiba, ia akan masuk kandangnya dan burung-burung walet ramai berkicau. Silahkan lakukan penelitian sendiri tentang hal ini. Ketika memasuki waktu Isya, hewan-hewan malam mulai bernyanyi, seperti jangkrik dan lain-lain. Dan di waktu malam ayam jago berkokok 2 kali, membagi waktu malam menjadi 3 bagian, tanda waktu untuk Shalat Tahajjud dan berdzikir. Inilah ecosystem engineering yang diberikan Allah kepada kita sebagai salah satu jalan untuk mengenal dan memahami waktu kita. Alam di sekitar kita yang sebaik-baiknya petunjuk waktu. Bukan jam mekanis yang ada di smartphone atau di di dinding rumah, atau di tangan kita. Dan sayangnya ketika kita tinggal di tengah keramaian kota tentu saja sulit untuk bisa menemukan petunjuk waktu tersebut. Karena polusi cahaya akan mempengaruhi kemampuan dari hewan-hewan tersebut.

Kesimpulan: Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah memberkahi kita dengan memberikan akal dan kemampuan bagi kita semua untuk berpikir sehingga dapat mengenal dan memahami ketetapan waktu yang bergulir di sekitar kita, yang bisa kita saksikan dengan kasat mata kita dan juga dengan bathin kita yang berusaha untuk memahami bagaimana Allah berkomunikasi dengan kita melalui siklus ekosistem Alam yang ada di sekitar kita.

Tambahan: Trik nenek moyang kita dahulu juga bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk menentukan waktu Fajr (Subuh) dan Magrib. Yaitu dengan menggunakan benang hitam dan benang putih. Benang hitam digunakan pada saat menentukan waktu Fajr (Subuh) yaitu ketika benang hitam mulai tampak terlihat oleh kasat mata kita, maka kita telah memasuki waktu fajr (subuh). Sebaliknya benang putih digunakan pada saat menentukan waktu Magrib yaitu ketika benang putih mulai pudar dan menjadi hitam (gelap), maka kita telah memasuki waktu magrib.

Semoga ilmu dan informasi ini menambah khasanah dari wawasan kita dalam mengenal dan memahami petunjuk Al-Qur’an yang mampu untuk menjelaskan segala sesuatu di sekitar kita. Dan tentu saja hanya Allah semata yang memiliki Superioritas yang Maha Sempurna lagi Maha Bijakasana dalam menentukan sebaik-baiknya petunjuk kebenaran bagi umat manusia yang berusaha dan berjuang dengan keteguhan hatinya dalam menemukan kebenaran itu sendiri.


Insya Allah…

Sebarkan Kebaikan dan Kebenaran:

Leave a Comment